
"Sayang,mungkin sebaiknya kita kedokter sekarang" ucap Mic khawatir.Tubuh Shinta. sangat lemas.
"hallo,Will kau dimana?cepat balik kerumah dan antarkan istriku kerumah sakit"
"kurasa tidak perlu tuan.Aku sudah biasa begini"
"Tidak,kita harus tau kondisi janinnya sayang"
"terserah kau saja" sungut Shinta kesal.Dia masih membiarkan Mic yang terus mengelus perutnya yang masih rata.Dia mungkin selalu menolak sentuhan Mic,tapi bayi dalam kandungannya seakan sangat menginginkan sentuhan dady tampannya.Saat Tangan Mic menyentuhnya,seketika rasa mual dan pusing itu hilang.Shinta jadi merasa sangat sebal.
Michael masih tetap setia menuntun istrinya turun kebawah tanpa menggubris Shinta yang berulang kali menolak.Willy membuka pintu mobil dan menutupnya kembali saat dua sejoli yang sedang tidak akur itu masuk mobil.
"Aku ingin dokter wanita terbaik disini Will"
"Tapi tuan,dokter Anwar adalah spesialis kandungan disini"
"kau ingin laki-laki jelek itu menggerayangi tubuh istriku? sentak Mic geram.
" Dia dokter muda yang tampan tuan.Mirip dokter Adrian"
"diam!!pokoknya aku mau dokter wanita!" Willy hanya menggelangkan kepalanya lalu menyuruh anak buahnya mencari tau.Sesaat kemudian mereka membalas perintah dengan mengarahkan mereka kerumah sakit swasta terbesar dimana sang dokter berada.
Seulas senyum ramah dokter kandungan yang sudah berumur namun masih terlihat cantik menyambut mereka.Shinta dibaringkan diatas brankar untuk diperiksa dan memenuhi keinginan Mic untuk USG.
"kurasa ini tidak perlu tuan" ucap Shinta.Dia merasa aneh saja saat Mic tetap bersikeras ingin USG padahal kandungannya masih sangat muda.
"tuan?jadi,suaminya ibu yang mana?"
"saya suaminya dokter" tegas Mic geram.Dokter itu hanya diam melihat tatapan Mic yang tidak bersahabat.
"Bapak bisa lihat janinnya sudah mulai terbentuk itu.Belum bisa bergerak namun sudah ada detak jantungnya."
"Dia laki-laki atau perempuan dokter?"
"belum bisa dipastikan tuan"
__ADS_1
Michael meraba layar USG.Batin pria berusia awal tigapuluhan itu begitu terharu dan bahagia karena istri kecilnya akan memberikan keturunan bagi keluarga Maverich.
"nanti saya berikan obat pereda mual agar nyonya tidak merasa terlalu mual dipagi hari."
"ehmm dok.."
Dokter Indah mengalihkan pandangannya dari kertas resep yang ditulisnya saat mendengar Mic berdehem.
"iya tuan.."
"setelah triwulan pertama apa kami boleh melakukan hubungan?"
"owhh..sebenarnya boleh saja asal bisa mengontrolnya tuan.Kondisi kandungan nyonya juga sehat,jadi menurut saya tidak ada masalah." Sahut sang dokter itu.Mic melirik Shinta gemas,namun istrinya hanya melotot tajam dan meremas pahanya kasar.Dia sedikit meringis kesakitan namun tangan besarnya menangkap tangan halus Shinta dan menggengamnya erat.Shinta menunduk.Wajahnya memerah menahan malu.Untunglah dokter di depan mereka masih sibuk menulis resep baginya.
"Kurasa malam ini aku ingin minta hakku sayang" bisik Mic didekat telinga Shinta saat mereka keluar ruangan.Dia nekat melingkarkan lengannya dipinggang Shinta.Tidak peduli istrinya menahan malu dan marah dalam waktu bersamaan.Semua pasien yang mengantri memperhatikan pasangan yang terlihat bahagia itu.
"kau tidak keberatan kan sayang?aku sudah terlalu lama menahannya"
Merasakan gerakan Mic yang makin kurang ajar,Shinta segera menepiskan tangannya lalu menginjak keras kaki Mic sekuat tenaga hingga pria gagah itu menjerit dan melompat kesakitan.
"sayang tunggu aku" teriak Mic sambil berjalan terpincang menahan sakit.
******
Shinta akan naik ke kamarnya saat Stephanie pulang.Gadis itu tertawa lepas lalu merangkulnya.
"kenapa pulangnya malam banget Fan?"
"Aku harus menyelesaikan kegiatan dikampus baruku Ta.Bagaimana kabar keponakanku?apa dia sehat?"
"tentu saja.Dia akan lincah seperti bibinya"
ha..haa..haa...
"kau sudah makan?"
__ADS_1
Stephanie menganggukkan kepalanya lalu mereka naik tangga bersama.Saat pintu terbuka Shinta melirik Mic yang sedang menelepon seseorang di balkon.
"Baiklah,besok pagi aku kesana Nic.Kau handle dulu semuanya sampai aku datang".
Melihat bayangan Shinta,Mic buru-buru mematikan hpnya.Dia memeluk tubuh itu dari belakang dan menyesap aroma bunga rose yang menyegarkan dari pundak wanita cantik itu.
" Besok aku akan kembali ke singapura"
Tidak ada jawaban dari Shinta.Wanita itu tetap diam mematung.
"Ada sedikit masalah dengan Luxio.Aku harus segera menyelesaikannya". Ciuman Mic merambat ke leher Shinta yang putih dan jenjang,mengecupnya lama,namun tetap saja tidak ada reaksi apapun.Dia membalikkan tubuh Shinta lalu mengangkat dagu istri cantiknya.
" Apa aku boleh meminta hakku sebelum pergi?" tanya Mic memelas.Tapi Shinta tetap kokoh pada pendiriannya.Dia menatap mata Mic dengan kilat kemarahan dan wajah datar.Michael menarik nafas lalu meleapskan pelukannya.Di kecupnya pucuk kepala Shinta.
"Tidurlah,kau tidak boleh terlalu capek" ujarnya kemudian.Lalu memutari tempat tidur dan membaringkan dirinya disisi lain.Shinta berlahan menyusulnya,menarik selimut hingga menutupi kepalanya lalu tidur membelakangi Mic.Dia tau Mic begitu kecewa malam itu.Tapi itu belum seberapa dibanding sakit dihatinya.Mereka terlelap dalam alam mimpi masing-masing.
Saat Shinta terbangun dipagi hari,dia tidak melihat Mic disampingnya.Mengabaikan pusing dikepalanya karena baru terbangun,dia membuka pintu balkon dan melihat kebawah.Astaga,dia melihat Michael dan Willy yang sudah masuk kemobil diikuti beberapa bodyguard berpakaian serba hitam.Shinta menjerit dalam hati.Apa Michael akan meninggalkan rumah tanpa berpamitan padanya?
Shinta termenung ditepi ranjang,menata perasaanya yang sedih bercampur kecewa.Kenapa perasaan itu tiba-tiba ada saat Mic pergi darinya?Bukankah seharusnya dia bahagia dengan kepergian Mic yang tiba-tiba yang itu artinya dia bebas dari penjara Michael yang menyebalkan dimatanya?Tapi kenapa kesedihan itu membuatnya bimbang?
Ketukan dipintu terdengar,belum sempat menjawab Stephanie merangsak masuk lalu memeluknya erat.
"ada apa Steve?" tanya Shinta bingung.
"Dad baru saja telephon,Luxio dalam masalah besar.Kak Mic adalah target kelompok mafia yang bersaing dengannya
" a..apa?ma...mafia?"
"bos mafia itu ingin bertemu kak Mic kalau ingin Luxio bisa tetap selamat Ta.Mereka sudah menguasai kantor pusat Luxio semalam".
"u...untuk a..apa..mereka menginginkan Mic?"
"kak Mic dianggap menghianati mereka karena keluar dari perkumpulan.Dia bisa di bunuh Ta."
"ti...tidak!!" Shinta meneteskan air matanya lalu menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Mic..ohh..apa yang kau lakukakan?"Shinta masih menangis keras saat Stephanie juga melelehkan air matanya.Perasaanya begitu terluka saat dia tau Mic juga mengajak Willy ikut serta.Apa dia masih bisa bertemu dengan Willy nantinya?Apa masih belum terlambat baginya untuk mengakui perasaannya pada asisten tampan yang mencuri hati dan kewarasannya itu?Dia sangat ingin berlari memeluk Willy yang tidak menganggap kehadirannya saat akan berangkat tadi.Hati Stephanie perih.