Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Minta libur


__ADS_3

Sekretaris Nico duduk di sofa ruangan VVIP tempat Shinta melakukan tahap pemulihan. Matanya sesekali melirik istri cantiknya sedang menimang baby Zahra yang baru diberi asi momynya. Tangan istrinya terlihat terampil menggendong ataupu saat menepuk-nepuk punggung bayi mungil itu agar dapat bersendawa. Shinta sampai berulang kali menggodanya.


"Nah Er, kapan kalian berencana punya momongan? kau terlihat sudah sangat pas menjadi seorang ibu." goda Shinta saat melihat Erika tak henti-hentinya menciumi pipi Zahra.


"ini juga masih usaha Ta." balasnya malu-malu. Dia meletakkan baby Zahra diatas box bayi saat memastikan bayi cantik itu sudah lelap tertidur.


"Kalian usahanya kurang intens sih."


"Kami sama-sama sibuk."


"Sepertinya kalian butuh bulan madu. Nanti akan aku ajukan liburan untuk kalian bulan madu pada dadynya El."


"aahhh ..kurasa itu tidak perlu Ta. Nanti kalau Allah berkehendak, aku pasti hamil tanpa bulan madu juga." jawab Erika masih dengan senyum malu-malunya sambil sesekali melirik Nico yang juga menatapnya datar. Berbulan-bulan menikah, tapi suaminya itu tak pernah berubah. Wajah datar, jarang bicara, kaku dan tak ada romantis-romantisnya. Tapi Jangan pernah menanyakan soal olah raga malam...pria dingin itu akan bersikap lain saat diranjang. Dia seolah bukan Nicholas yang sekarang. Ahh...ngomong-ngomong soal ranjang, pipi Erika kembali bersemu merah.


Semua tak luput dari pandangan Shinta yang tersenyum kecil melihat interaksi pengantin baru tersebut. Nico sangat mirip dengan Michael saat pertama mereka bertemu. Dingin, angkuh dan keras. Siapa nyana, pria itu bisa berubah hangat dan penyayang seperti sekarang karena buruh migran yang pernah ditolongnya. Shinta Maverich...dirinya. Bedanya Nico tetap bersikap acuh pada Erika, jauh berbeda dengan Mic yang sudah tak punya rasa sungkan pada siapapun untuk mengumbar kemesraanya pada istri dan anaknya. Willy dan Stephanie lain lagi. Bisa dikatakan mereka memang pasangan paling sehat sejak awal bertemu. Interaksi mereka begitu kuat karena memang saling mencintai sebelum menikah.


"Kau kelihatan lelah Er." Netra Shinta menangkap rasa lelah pada tubuh Erika walau bibirnya selalu tersenyum,wajahnya juga masih sumringah. Tapi Shinta tau Erika sedang kecapekan saat ini.


"Ehhmm ya. Dari kemarin aku belum pulang kerumah karena harus beberapa kali melakukan operasi caesar termasuk Steve. Dia pasien terakhirku hari ini."


"Kenapa tidak langsung pulang? bukanya sudah pergantian Shift Er? kau butuh istirahat."


" Aku masih mau menengokmu dulu nyonya muda. Kau itu istri atasan suamiku. Apa kata orang nanti kalau aku tidak menjengukmu?" kelakar Erika membuat Shinta tertawa terbahak.

__ADS_1


" Bilang saja kau ingin menemani Nico disini." Seketika Erika menunduk dalam, menyembunyikan senyum malu-malunya.


"Apa kau mengusirku?" Belum sempat menjawab, pintu terbuka. Menampakkan Michael dengan wajah berseri dan langsung menuju brankar istrinya. Erika membuat jarak dan berdiri dari duduknya.


"Mas, bagaimana keadaan Steve dan bayinya?" tanya Shinta saat sang suami sudah berada di sampingnya.


" Dia sehat. Nama keponakanmu Nathasya." jawab Mic seraya mengelus kepala istrinya sayang.


"hmmmm...bolehkah aku minta sesuatu?/hadiah misalnya?"


"Katakan! aku akan berusaha memenuhinya sayang."


"Mas, aku ingin kau meliburkan Sekretaris Nico hingga senin." ujar Shinta enteng, namun disambut pelototan tajam suaminya. Sungguh, meliburkan Nico saat ini bukan ide baik untuknya. Apalagi masih ada dua hari efektif yang tersisa. Bukanya sekarang masih hari rabu?


"Sayang itu tidak mungkin. aku akan sering ada dirumah untuk kalian.Siapa yang akan mengurus perusahaan nantinya jika Nico diliburkan?" protes Mic dengan nada rendah, takut istrinya tersinggung. Ternyata tuan arogan satu ini juga tipe suami takut istri ya pemirsaaaa....


Shinta berpikir sejenak. Yang dikatakan suaminya benar. Ini bukan saat yang tepat untuk minta cuti. Willy juga masih fokus pada keluarga kecilnya saat ini. Mengandalkan Aira saja jelas tidak mungkin karena walau terhitung cerdas dan cekatan, adik Nico itu masih minim pengalaman.Tiga pilar mereka tidak bisa libur bersamaan. Nico masih sangat dibutuhkan perusahaan. Shinta menarik nafas.


" Tapi kau harus janji sesuatu mas."


"Apa?" tanya Mic yang merasa sedikit lega karena istrinya mau menerima masukannya dan bersikap dewasa.


" Beri mereka libur saat masa nifasku selesai. Aku ingin mereka bulan madu ke Bali. Anggap saja ini hadiah yang kuminta padamu karena sudah melahirkan Zahra untukmu." Final. permintaan Shinta sudah tidak bisa dia tolak lagi karena sudah membawa-bawa Zahra,putrinya yang baru lahir. Mau tak mau Mic mengiyakan meski dengan berat hati.

__ADS_1


" kenapa anda melakukan semua ini nyonya muda?" tanya Nico memecah keheningan. Dia benar-benar merasa tidak enak hati pada sang majikan yang sudah seperti kakaknya sendiri. Tidak ada keluhan apapun pada Nico saat menerima tugas dari Mic, walau darurat dan diluar jam kerja sekalipun. Dia dan Willy memang murni mengabdi sebagai bentuk balas budi. Tak ada hari libur baginya kecuali jika dia benar-benar sakit. Tapi sekarang? istri majikannya malah meminta suaminya meliburkan dirinya dengan dalih hadiah.


Mic menatap Shinta. Sama. Dia juga ingin penjelasan dari bibir istrinya. Kenapa tiba-tiba Shinta begitu perhatian pada keluarga Nico?


" Nic, kau dan Erika pengantin baru bukan? kaliam juga belum pernah bulan madukan?Kulihat Erika begitu mencintai anak-anak. Kau ini suaminya Nic, bikinkan dia anak dong, jangan hanya kerja..kerja dan kerja." omel Shinta dengan wajah kesal.


"Apa anda pikir bikin anak sama dengan membuat donat nyonya?kami sudah berusaha." protes Nico lirih, tak menghilangkan sikap sopannya.


" aku tidak mau tau Nic. Aku ingin kabar baik secepatnya. Terserah kau mau bikin pakai tepung, gula pasir atau apalah. Aku hanya ingin segera ada anak diantara kalian." Mic dan Nico menggelengkan kepalanya, berat. Dimana-mana perempuan memang minta jadi pemenang.


"Sayang jangan bicara ngaco. Anak itu urusan Tuhan kan?" bela Mic lirih. Dia bisa menangkap wajah gusar Nico saat itu.


"Tapi kita wajib usaha lho mas." Shinta tetap tak mau kalah.


"Aku tau.Sudah jangan diperpanjang lagi. Nico akan libur nanti." putus Mic melerai ketegangan antara istri dan sekretarisnya yang memang terlihat datar saja.


"Sungguh? ahh....terimakasih sayang." ucap Shinta lalu mencium pipi Mic mesra. Mic balas mengelus kepalanya sesaat.


"sekarang kalian pulanglah dulu. Besok saja kembali ke kantor.,"


"Tapi tuan..."


" ini perintah Nic!"

__ADS_1


" Baik tuan muda."


__ADS_2