Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Dia yang Mau


__ADS_3

Suasana ceria begitu terasa di ruang keluaraga kediaman Abraham.Baby El yang lucu dan montok menarik perhatian semua orang hingga Willypun gemas dibuatnya.Berulang kali tuan muda baru itu menciumi El yang mulai bisa tengkurap sempurna.Abraham dan Misca tentu pasangan kakek nenek paling bahagia sekarang.


"Lalu kapan kalian akan menyusul?" tanya Misca pada Stephanie yang asyik bicara ngalor ngidul dengan Shinta.


"itu lagi...itu lagi.Dulu bunda nanyanya kapan nikah?sekarang ganti kapan punya anak?udah usaha bun,tapi belum diberi ama Tuhan.Trus aku harus gimanaa??" protes Stephanie yang langsung dihadiahi gelak tawa semua orang.


"Will,jangan terlalu capek dikantor.Kau harus kerja lain." ujar Abraham


"kerja lain apa dad?"


"Ya membuatkan cucu untuk kami.Biar rumah ini rame dan aku tidak harus berebut El dengan anak nakal itu." tunjuk Abraham pada Mic yang hanya dibalas cebikan kesal oleh putranya.


Mic yang kesal lalu berbaring selonjor disofa panjang tempatnya dan Shinta duduk.Kepalanya langsung mendarat dipangkuan Shinta yang membuat istrinya itu salah tingkah.Mic tetap bersikap cuek meski Stephanie berulang kali mengoloknya.Dia malah menarik tangan Shinta untuk membelai kepalanya.


"tuh kan...anak manjanya berulah" ejek Stephanie lagi.


"hey dia istriku,ya suka-suka aku mau apa?" jawab Mic kesal.Kalau mereka berdua saja dikamar bisa dipastikan kalau Shinta tidak mau disentuh.Mic memanfaatkan situasi ini untuk bisa bermesraan dengan Shinta.


Stephanie menoleh saat Willy memberi kode padanya untuk masuk kamar.Dia lalu berpamitan lalu menggandeng lengan suaminya kelantai atas.Tak lama kemudian Abraham bersikeras membawa El tidur dikamarnya.Dia tetap tidak mau jauh dari El.Misca lalu membopong El dan membawanya masuk kekamara mereka.


Shinta yang hanya tinggal bersama Mic langsung melenggang pergi setelah meletakkan kepala Michael ke sofa tanpa rasa berdosa.Dia buru-buru memgambil bantal dan selimut untuk tidur disofa kamar yang terasa nyaman ditubuhnya.


Mic masih menggerutu kesal pada Shinta,apalagi saat dia mendengar suara-suara horor dari kamar Stephanie saat dia lewat tadi.Jiwa laki-lakinya meronta,bergegas masuk ke kamar dan.....kecewa lagi saat Shinta memilih tidur disofa.


"Sayang,kenapa tidur disini?" ujarnya sambil membelai kepala Shinta mesra.Tak ada jawaban.Setengah geregetan dia membalik tubuh istrinya dan ingin menciumnya denga berjuta rindu yang ada di dadanya.Tapi belum sempat bibirnya menempel,telapak tangan Shinta sudah lebih dulu menutup bibinya.


"Jangan coba-coba berbuat macam-macam padaku mas atau aku akan menghilang lagi darimu."

__ADS_1


"macam-macam bagaimana sayang,aku ini suamimu." ujar Mic sambil memegang erat tangan Shinta yang menutup bibirnya.


"pokoknya jangan dekat-dekat padaku.Pergi sana!"


"Kau akan berdosa jika menolak keinginan suamimu sayang." bujuk Mic lagi.


"Akan lebih berdosa suami yang membohongi istrinya dan berciuman dengan wanita yang bukan muhrimnya." ejek Shinta.


"sayang maafkan aku." Mic tetap memohon dengan nada memelas tapi tidak digubris sedikitpun oleh Shinta.


Lagi-lagi Shinta memekik kaget saat tubunya dibuat melayang dalam gendongan Michael.Berulang kali meronta tapi tidak ada gunanya.Mic membaringkan tubuhny dengan lembut keranjang lalu menyelimutinya.


"Aku tidak akan menyentuhmu jika tidak kau ijinkan.Tapi jangan buat aku merasa berdosa karena melihatmu tidur di sofa." ujarnya lalu berlalu kesisi ranjang yang lain dan merebahkan dirinya disana.Dipandanginya punggung Shinta yang tidur membelakanginya.Istrinya itu juga menaruh dua buah guling besar sebagai pembatas mereka.Mic hanya menghela nafas kasar lalu mencoba memejamkan matanya.Shinta memang masih marah padanya.


Pagi menjelang saat Shinta menggeliat mendekap guling yang terasa hangat baginya.Hawa dingin membuat dia makin erat memeluk gulingnya.Sekian lama bergelung dalam selimut baru membuatnya sadar jika gulingnya memiliki detak jantung.Shinta membuka matanya. yang langsung membulat sempurna saat dia tau jika dari tadi dia tidur dalam pelukan Michael.


Sedikit emosi Shinta bangkit,mencari-cari guling yang semalam sudah dia pasang untuk membatasi posisi tidur mereka,tapi hasilnya nihil.Mic pasti sudah membuang benda itu jauh-jauh dan menggantikanya dengan tubuhnya.'Dasar licik' gumam Shinta lalu menuju kamar mandi.Mic hanya tersenyum penuh kemenangan saat Shinta sudah masuk ke kamar mandi.Dari tadi dia hanya pura-pura tidur untuk mengelabuhi Shinta.


"apa yang kau lakukan mas?katanya kau tidak akan menyentuhku,tapi malah membuat leherku seperti ini." teriak Shinta kesal dan menunjuk kissmark di lehernya.Michael hanya mengangkat bahu.


"aku kan hanya berkata,tidak berjanji sayang."


"sama saja mas!!" teriak Shinta emosi.Tapi Mic tetap cuek.


"kalau kau mau kau bisa balas dendam padaku.Kau bisa membuat tanda itu juga dileherku!" sahut Mic santai sambil mendorong lehernya mendekati Shinta.


"Tidak mau!" bentak Shinta sambil memukul lengan Mic lalu keluar dari kamar mandi.Mic tertawa senang kemudian bergegas masuk untuk membersihkan diri.Menggoda Shinta pagi itu sudah hiburan tersendiri buatnya.

__ADS_1


Baby El langsung memeluk Shinta saat mereka bertemu di ruang makan.Shinta mencium pipi chuby putranya yang sudah bau harus habis mandi.El tergelak kecil saat Shinta mengajaknya berinteraksi.Misca mengahampiri keduanya.


"Apa Mic sudah bangun Ta?"


"sudah bunda,mungkin sedang mandi."


"ohh ya sudah,sebentar lagi kita sarapan."


"iya bunda."


Tak lama kemudian Willy turun,disusul Stephanie.Keduanya sudah rapi dengan seragam kerjanya.Mereka duduk santai ditempatnya sambil menunggu Mic yang belum turun.


Mic turun dengan bersiul-siul riang yang langsung menerima ledekan dari Stephanie.


"Kalihatannya ada yang bahagia nihh."


"ohh tentu saja." ucap Mic yakin.Stephanie langsung mengerling pada leher Shinta yang penuh kiss mark.Dia terus saja cekikikan.


"sampai segitunya...berapa ronde tuh?"


Shinta membelalakkan matanya ,namun Mic malah dengan santai menanggapinya.


"Hampir tiga bulan tidak bertemu,kakak iparmu minta jatahnya terus sampai aku hampir pingsan."


"ha..haa...haa...tapi kak..ada yang aneh"


"Apa?"

__ADS_1


"Shinta yang baik hati ini tidak memberikan tanda apapun dilehermu,berarti kau yang ingin terus kak,bukan Shinta ha..ha...." goda Stephanie yang tak urung membuat Mic dongkol.Tapi bukan Mic namanya jika tidak menang sendiri.


"Kau tau...dia memberi semua tanda di tubuhku tanpa ampun.Apa kau mau lihat?" jawabnya dengan nada yakin dan raut wajah serius.Belum sempat menjawab,Abraham sudah muncul dari kamarnya.Pria itu dituntun misca keruanga makan.Semua langsung hening,tak bersuara.


__ADS_2