
Ruang briefing pagi para pembantu sunyi senyap.Semua orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.Teh dan kopi pembuka pagi masih setia didepan pemiliknya masing-masing.Tidak tersentuh.Kejadian semalam masih meninggalkan ketakutan dibenak para pekerja.Bukti kongkrit kalau tuan muda mereka berhati kejam walau dermawan.Jangan pernah berkhianat jika masih mau selamat.
Willy muncul dengan setelan kerja formal yang menakjubkan.
"Kau dipanggil tuan muda keruang kerja singa kecil" Tak menunggu jawaban,asisten gaul itu melengang pergi.
Shinta berpamitan lalu berlalu menuju ruang kerja.Sebenarnya dari tadi dia merasa tak enak hati pada teman-temannya.Bagaimanapun Soraya lebih dulu mengabdi disini,nyaris tak ada keluhan.Dialah yang menyebabkan Soraya celaka dan pergi dengan tidak hormat.Dia tidak bisa menduga apa yang ada dibenak para pelayan.Jangankan minum kopi,menelan ludah sendiri saja terasa sulit baginya.
tok..tok...
"masuk"
Ada sekretaris Nic didalam sana.memegang ponselnya.Michael duduk dengan angkuh dikursi kebesarannnya.Shinta diam,mencoba menenangkan diri.
"ini ponselmu.Sudah ada nomer temanmu disitu.kau tinggal menghubunginya."
Tangan sekretaris Nic terulur.shinta menyambutnya dan menerima ponselnya kembali.Tumben orang ini bersikap baik.Kemarin waktu dia tanya dan minta baik-baik,malah jadi masalah besar dengan Willy.Padahal dia hanya ingin memastikan sahabatnya tak kurang suatu apa.'Dasar orang aneh' batin Shinta.
"Ada juga nomer tuan muda disana.Jika ada apa-apa kau tinggal dial saja" lanjutnya.Shinta menggeleng heran.Memangnya dia ada perlu apa dengan tuan besarnya.Dia tidak bekerja secara langsung seperti para pria yang mengawalnya.Kalaupun tuan muda perlu sesuatu,dia pasti menelepon rumah.Bibi Chun yang akan mengatur semuanya.
"Hari ini Stephanie akan memulai rehabilitasi dirumah.Kau harus terus menemani dan melaporkan padaku,kalau ada keluhan sekecil apapun." tukas Michael sambil memainkan bolpoin ditangannya.
"baik tuan"
"satu lagi,selama Stephanie menjalani rehabilitasi,tugas pagimu adalah menggantikannya menemaniku sarapan"
Waduh...ini lebih aneh lagi.Mana ada pembantu menemani majikannya sarapan satu meja?Shinta makin heran lagi.Hari ini dimulai dengan hal-hal aneh.
"tapi tuan,anda bisa sarapan dengan sekretaris Nico atau asisten Willy" tukas Shinta.
__ADS_1
"Aku majikannya.suka-suka aku mau pilih siapa!"
Skak mat!!
Orang kaya bebas saudara..........!!!
"kalau sudah tidak ada yang bisa saya lakukan,saya permisi tuan." Sedikit membungkukkan badannya,Shinta berpamitan.
"tunggu aku dimeja makan"
"baik tuan"
'dasar pria aneh.kalau mau punya teman makan,tidur,ngobrol,kenapa dia tidak menikah saja sih?Kalau saja dia bersikap baik,pasti banyak gadis atau janda yang antri ingin dinikahinya.Atau jangan-jangan.. dia tidak normal ya?' monolog Shinta sambil berjalan lambat keruang makan.
Shinta mengambil nampan berisi dua cangkir kopi dan roti yang sudah diolah oleh Sarla didapur.
"Shinta,biar aku saja.Kau duduklah disana menemani tuan muda" Bibi sarla segera merebut nampan itu.Takut kena marah Bibi Chun yang galak.
"Tentu saja,Kak Chun sudah diberi tau sekretaris Nic tadi.Nah,sekarang pergilah duduk sana"
"aduh bibi...aku bukan nyonya rumah ini yang harus kau layani.Aku ini juga pembantu sepertimu.Sudahlah,biar aku yang bawa.Nanti kalau Bibi Chun tanya,bilang aku yang suruh ya."
"Baik nyonya muda"
ha..ha...ha...seketika Shinta tergelak.Dia tau bibi sharla cuma bercanda.
"Shinta,kau gadis yang baik.Aku tidak keberatan kalau kau jadi nyonya rumah ini"
"bibi terlalu halu.Sudah ya..aku pergi dulu" kata Shinta sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Michael sudah duduk dimeja makan saat Shinta datang dengan nampannya.
"duduk" Shinta duduk diujung meja dengan tenang.Berharap acara makan cepat selesai dan tidak ada drama lagi.Michael menajamkan matanya.
"kau menggantikan Stev,jadi duduklah diposisi Stev."
'Dasar aneh' gumam Shinta.Tapi dia tau tidak ada gunanya berdebat.Lebih cepat lebih baik.Dia sudah muak menghadapi Michael yang suka merendahkannya.
"Makan"
"Tapi tuan,tugas saya hanya menemani,bukan ikut makan"
"disini aku tuannya,bukan kau."
Terpaksa Shinta memakan sarapan seperti yang Michael makan.Diam-diam dia melirik Michael yang sedang makan.Laki-laki golongan atas memang sangat sopan walau pada saat makan.Kharismanya tetap terasa,badannya tetap tegak,tangannya bergerak dengan luwes,tidak tergesa,juga caranya mengunyah seperti punya ritme tersendiri.Benar-benar elegan,tidak seperti dia yang hanya anak orang biasa dari kampung nun jauh disana.Ia biasa makan roti langsung dengan tangan.Tidak usah pakai piring,garpu dan pisau.Toh roti itu akan segera habis dua kali telan.Tapi melihat cara Michael makan,ia sudah tidak percaya diri.
Mencoba makan ala orang kaya memang merepotkan.Sudah berhasil memotong roti dengan pisau ditangan kanannya,ehh...saat akan disuapkan kemulut,roti yang diisi telur mata sapi dan selada itu jatuh kepiring.Bahkan ini sudah kedua kalinya.Shinta melirik Michael yang sudah selesai makan lalu menyecap kopinya.
Tiba-tiba Michael bergerak kebelakang kursinya .Pria itu memegang tangannya dari belakang.mengarahkannya cara menusuk makanan dan membawanya kemulut.Jantung Shinta seperti berhenti berdetak.Nafas harum Michael yang menerpa leher belakangnya langsung membuat bulu kuduknya meremang.Ia tak berani menoleh karena pipi Michael tepat berada dipipi kanannya.
'ohh Tuhan,siksaan apalagi ini?' batin Shinta.Dia berharap Michael tidak mendengar detak jantungnya yang seperti genderang mau perang.Saat suapan terakhir masuk kemulutnya,Michael berbisik ketelinganya.
"kenapa kau pura-pura tak bisa makan untuk memancingku mendekat hem?"
"bu...bu...bukan beg....." Belum sempat menjawab dengan benar,Michael sudah membungkam mulutnya, mendaratkan ciuman panas dibibirnya.Shinta langsung gelagapan.Tubuhnya kaku seperti es.Apalagi saat Michael berbisik lagi
"aku akan meneleponmu nanti siang." lalu pria itu beranjak pergi.
'aaahh...aq bisa gilaaa kalau terus begini' jerit Shinta dalam hati.Orang aneh itu kadang jadi malaikat, kadang jadi monster.Dia selalu mengaduk-aduk perasaan Shinta.
__ADS_1
'masa bodohlah.niatku kesini untuk bekerja.itu saja' batinnya menenangkan diri.
Pukul sembilan lewat seorang dokter memasuki rumah.Asisten Willy mengantarmya kekamar Stephanie.Dia dokter Frans,orang yang akan menjalankan rehabilitasi rumah bagi Stephanie yang tidak mungkin rehab keluar karena takut rumor tentang dirinya merusak repurtasi nama besar keluarga Abraham.Dokter itu memeriksa lalu memberikan berbagai pengarahan tahap awal pada Shinta karena dia tidak mungkin menunggui Stev terus.Ia akan datang tiap pagi dan sore untuk memantau kondisi Stephanie.Selepas itu,Shinta yang akan memonitor kondisi sang nona muda karena Michael tidak menginginkan ada orang lain lagi yang tau kondisi adiknya.