Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Kerinduan


__ADS_3

Stepanie mengerjabkan matanya saat merasakan tubuhnya melayang ringan.Sebuah tangan kokoh menopang tubuh tinggi semampainya.Harum parfum beraroma pohon pinus juga menyeruak pada indera penciumannya memaksanya mengendus pada kemeja yang melindungi dada bidang seorang pria yang menggendongnya.Stephanie mendongakkan kepalanya bertepatan dengan Willy yang menatapnya penuh cinta dan mendaratkan kecupan ringan di keningnya.Steve memejamkan matanya,menikmati setiap kelembutan yang Wily ciptakan.


"Apa aku tertidur sangat lama kak?" tanyanya sambil mengeratkan tangannya dileher Willy,membenamkan kepalanya lagi di dada suaminya.Sejak turun dari pesawat yang membawa mereka kembali kerumah,Steve memang sudah terlelap seperti orang yang tidak sadarkan diri karena terlalu lelah.


"Ya,tubuhmu juga sangat ringan sayang.Apa kau sangat merasa kehilanga n saat jauh dariku hingga kau tidak mengurus dirimu?" Steve mangangguk.Air mata jatuh membasahi pipinya.Seorang pelayan membukakan pintu kamar dan menutupny kembali saat keduanya masuk.Willy membaringkan tubuh Steve dengan hati-hati lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.


"ini masih siangkan?kenapa menyelimutiku?" Willy mengelus rambut Steve lembut,lagi-lagi dikecupnya pucuk kepala istrinya penuh perasaan.


"Kau harus banyak istirahat sayang,ada calon bayi kita disini.Kau tau,aku sangat mendambakan seorang anak yang lahir dari rahimmu,anak kita.Sungguh,aku akan menghujaninya denga kasih sayang agar dia tidak bernasib sama seperti papanya ini." Mata Willy berkaca-kaca saat mengatakannya.Dia tahu betul bagaimana menjadi anak yang terbuang ke panti asuhan.Steve mengenggam tangannya erat,mencoba menyalukan energi positif dan semangat dari sana.


"Bukankah dad juga memberimu dan sekretris Nico kasih sayang yang sama seperti yang diberikan padaku dan kak Mic?"


"ya,dad adalah pria terbaik yang pernah kutemui.Tanpa dad aku tidak akan seperti sekarang,jadi bagaimana mungkin aku bisa menyakiti putrinya?"


"jadi kau menikahiku karena balas budi kak?" sekarang mata Steve yang mulai berkaca.Willy tersenyum jenaka.


"Aku menikahimu karena aku mencintaimu,bukan balas budi.Aku bisa mengabdikan diriku pada keluarga Maverich seumur hidup tanpa menikahimu jika itu hanya masalah balas membalas kebaikan Steve."


"Lalu kau akan meninggalkanku lagi jika aku salah berkata lagi?"


"Never...aku akan selalu dibelakangmu sayang,menjagamu dan anak-anak kita nanti."


"No!!aku memintamu ada disampingku Kak,bukan dibelakangku...karena aku tidak sedang balapan lari bersamamu." Willy terkekeh,Steve memang nona muda yang punya selera humor dibalik sikap sombong dan keras kepalanya.Mungkin itu salah satu alasan yang membuat Willy jatuh cinta padanya.Steve yang anggun dengan berbagai gaya,menjuarai banyak lomba modelling dan ketangkasan,gadis periang yang supel dan ramah,serta tidak pernah memilih teman.Laura lah dalang dibalik semua perubahan buruk pada diri Steve.


"Aku akan balapan lari dengan putraku nanti."


"Bagaimana kalau dia perempuan?”

__ADS_1


"Apa bedanya?dia akan secantik mamanya.Laki-laki atau perempuan sama saja sayang.Aku tetap bisa mengajaknya lomba lari atau bermain boneka tiap hari" sahut Willy diplomatis.Steve memegang tangan kekarnya saat Willy hendak beranjak pergi.Wanita itu bangkit dari tidurnya dan memeluk tubuh suaminya erat.


"jangan tinggalkan aku lagi."


"tidak." Steve makin mempererat pelukannya saat Willy mencob mengurainya.Steve bahkan menghisap leher Willy kuat hingga meninggalkan bercak merah disana.


"Apa kau merindukanku?"


"sangat." lagi,Steve menyerang bibir tipis Willy dengan ciuman panas yang susah dihindari.Willy membalasnya tidak kalah ganas hingga.....


"maaf tuan Willy,saya mengantar pesanan anda." Seorang pelayan berdiri diambang pintu dengan muka merah padam sambil menundukkan wajahnya.Willy berdehem sebentar sambil mengusap bibirnya sebelum menoleh.


"kenapa tidak mengetuk pintu?" tanya Willy lirih,namun membuat pelayan wanita itu terlihat ketakutan.Tapi mau bagaimana lagi?sudah kepalang basah.


"saya sudah beberapa kali mengetuk tuan."


"Makanlah." Steve menggelengkan kepalanya kuat.


"aku tidak mau kak."


"Sayang,kau harus makan demi bayi kita juga.”


" tapi aku...." Willy menyendokkan makanan lalu menyuapkannya.Ragu,Steve mumbuka mulutnya,mengunyah lalu menelannya.Aneh....makanan itu terasa nikmat,tidak membuatnya mual.Dia terus menerima suapan demi suapan hingga habis tak bersisa.Willy mengusap bibirnya lalu menyerahkan gelas jus padanya.Lagi-lagi Steve menggeleng.Aroma jus apel itu membuatnya mual.Tapi Willy tetap memaksanya minum.


"kenapa semua yang kau suapkan kemulutku terasa lain kak?"


"maksutmu?"

__ADS_1


"entahlah,aku menyukai semua yang berasal dari tanganmu."


"Anak kita merindukan papanya." ledek Willy.


"mamanya juga." kata Steve tersenyum nanar.Willy mengusap pipinya.


"istirahatlah dulu." ujarnya lalu mengembalikan nampan dimeja.


"sepertinya hanya aku yang merindukanmu kak,kau bersikap sangat datar." keluh Stephanie sambil menekuk wajahnya.Memang dari tadi dialah yang selalu bersikap agresif karena telalu bahagia,berbanding terbalik dengan Willy yang bersikap sangat anteng dan adem.


Bersikap seolah tidak mendengar perkataan istrinya,Willy malah duduk di sofa dengan santainya lalu melepas sepatunya.Dia juga masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang menyegarkan.Berbalut handuk selutut pria gagah berotot itu keluar dari sana.Steve melengos,membuang pandanganya kearah lain saat Willy akan melewatinya menuju walk in closed untuk berganti pakaian.Pria itu berdiri mematung.


"Steve." panggilnya.Tidak ada sahutan,wanita itu memilih menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut.Suara ponsel berbunyi di atas nakas,Willy meraihnya lalu duduk disofa.Tak berapa lama ia menutup panggilan itu.Tubuh Steve menegang saat mendengar langkah Wily menuju pintu.Hatinya tiba-tiba terasa sakit.Pria yang dia cintai kembali mengabaikan dia.


"Pergi saja dan jangan kembali." teriaknya diiringi isakan keras saat terdengar pintu dikunci.Tubuhnya terguncang dalam isakan yang menyesakkan.


"Kau suruhpun,aku tidak akan mau pergi darimu." bisik Willy didekat telinganya.Steve langsung terdiam.Seja kapan Willy ada disana?lalu siapa yan keluar tadi?


"aku hanya mengunci pintu,tapi kau malah mengusirku sayang." bisik pria itu lagi dengan suara serak.Dia menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya lalu menindihnya tanpa basa basi,mendaratkan ciuman bertubi pada bibir dan leher istrinya tanpa ampun hingga Steve kehabisan nafas.


"kaaaakkk..." rengeknya saat Willy membuka kancing bajunya.


"kenapa?kau bilang aku tidak merindukanmukan?hanya dengan menyentuh kulitmu saja sudah membuatku kerepotan mengendalikan juniorku." jawab pria itu kembali denga suara serak penuh *****.Tangannya semakin cepat membuka tiap helai pakaian Steve dan melemparkannya kelantai.Willy bergerak seperti singa kelaparan yang tidak sabar memangsa buruannya.


"pelan kak...ada bayi kita disana." bisik Steve saat merasakan gerakan Willy berubah kasar.Pria itu berhenti lalu memagut bibirnya penuh kasih.


"maafkan aku sayang." ujarnya,mengurangi tempo permainan,memanjakan istrinya dengan kasih sayang hingga wanita itu terbuai dan mencapai puncaknya.Cengkeraman yang kuat dari inti sang istri membuatnya tak kuasa menahan lagi hingga membuatnya kembali bergerak liar dan menyusul Steve sampai ******* lalu membaringkan tubuh penuh peluhnya disamping istrinya,mengatur nafasnya sejenak kemudian memeluk tubuh Stephanie yang lunglai.Rindu yang terobati walau belum tau kapan akan usai.

__ADS_1


__ADS_2