Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Makan malam


__ADS_3

Michael berjalan dengan gagah memasuki Axel Mall.Setelan kerjanya sudah berganti dengan kemeja santai berwarna identik dengan gaun yang dipakai Shinta dipadu celana jeans hitam yang melekat pas dan kontras dengan kulitnya.Jam tangan mahal limited edition dari brand terkenal dunia melingkar ditangannya yang masih melingkar diperut rata Shinta.Gadis itu berjalan sedikit risih karena perlakuan Michael.Ia berusaha melepaskan tangan Michael,tapi pria itu malah mempererat pelukannya.


"Bersikaplah biasa saja kalau kau tak ingin nasibmu seperti soraya" bisik Michael.Tubuh Shinta langsung menegang.Dia ingat saat tangan dan kaki soraya dipatahkan didepan matanya.Ia sungguh ngeri,melawanpun tidak ada gunanya.Michael terlalu tangguh untuknya.Belum lagi dua orang pengawal gaul dibelakangnya.Keduanya punya kemampuan diatasnya juga.Jadi lebih baik baginya untuk jadi gadis penurut dan baik hati.


Sedikit mengambil nafas panjang,Shinta menegakkan badannya.Ia sedikit melenturkan tubuhnya untuk bisa mengimbangi bahasa tubuh Michael.Menikmati sentuhan Michael,menikmati aroma maskulin yang menguar dari tubuh athletisnya.Kapan lagi dia bisa mengulang kesempatan seperti ini?jadi Cinderela semalam.Mungkin nanti,saat pulang ke Indonesia dia bisa menceritakan kisahnya pada ayah,adik dan sahabatnya kalau dia juga pernah shoping dengan pria berwajah oppa korea,berpostur bule amerika dan dingin seperti antartika.


"pilihlah apapun yang kau mau"


"tapi saya tidak mau apapun tu...eh...Mic"


Michael melotot kearah Shinta


"buang kata saya andamu itu.aku tidak suka" hardiknya keras.Shinta mengangguk patuh.


"aku tidak ingin apapun.Bukankah dirumah semuanya sudah tersedia?"


"aku ingin kau belanja.Ambil apapun yang kau mau"


"maaf,aku tidak mau Mic.Tolong jangan paksa aku.Aku tidak butuh barang apapun.Aku cuma butuh gajiku utuh untuk ayah dan adikku dikampung" sahut Shinta memelas.Michael langsung meradang.


"kau pikir aku ini lelaki apa?aku tidak akan jaruh miskin hanya karena membelikanmu seluruh isi suwalayan ini.Nic,katakan padanya" perintah Michael yang tidak bisa menyembunyikan perasaan geramnya.


"Tuan adalah pemilik ribuan cabang Axel Mall diberbagai negara.Penolakanmu adalah penghinaan bagi tuan muda.Jadi bersikaplah manis dan turuti saja apa perintah tuan muda"


Merasa terpojok,tiba-tiba Shinta ingat sesuatu.


"Baiklah jika kau memaksa Mic,tapi bisakah aku menuliskan saja apa yang kuinginkan?biar Sekretaris Nico dan asisten Willy saja yang mengambilkannya untukku?"


"tentu saja" jawab Michael diplomatis.

__ADS_1


"baiklah.aku butuh beberapa pakaian anak usia dibawah lima tahun,susu formula dan selimut"


Michael terkejut


"apa kau sudah berencana punya anak denganku?" Shinta bergidik.


"aku ingin menyumbangkannya untuk panti asuhan"


Seketika duo tampan terkesiap.Mereka yang notebane anak panti saja tidak pernah berpikir untuk berkunjung dan menyumbang kepanti.Bagi mereka panti adalah masa lalu yang harus mereka kikis berlahan.Tapi gadia polos ini begitu tulus.Dia malah memikirkan orang lain saat diberi kebebasan belanja.


"ehmm...kalian dengar?segera lakukan permintaan Shinta"


"baik tuan" jawab mereka bersamaan lalu bergegas menuju konter pakaian.Michael menoleh kearah Shinta.Mengendus wangi rambutnya.


"ayo" ajaknya sambil berjalan menyusuri koridor.Semua pelayan berdiri dan mengangguk hormat pada mereka.


"karena aku yang menyuruh mereka mengosongkannya saat kau belanja"


Shinta masih diam hingga sampai didepan lift yang pintunya sudah terbuka.Michael membimbingnya masuk dan menekan tombol lantai sepuluh.Saat pintu terbuka terlihat ruangan luas yang remang-remang.Puluhan pelayan berjajar rapi dikanan kiri pintu.Mereka memberi hormat serentak saat Michael dan Shinta lewat.


Sebuah meja yang dihias cantik dengan beberapa lilin ditengahnya membuat Shinta takjub.Ia seolah berada dinegeri dongeng bersama pangeran tampan yang sangat mencintainya.Ia masih saja mengagumi semuanya saat Michael menarik kursi dan membawanya duduk.Sesaat kemudian menu makan malam mereka tiba.


Sepanjang sesi makan Shinta tak berkonsentrasi dengan makanannya.Ia masih fokus pada hayalannya sendiri.Pandangan matanya tak lepas dari sosok Michael.pangeran tampannya yang makan dengan anggun didepannya.Dalam hati dia membenarkan perkataan Stephanie.Michael memang pria sempurna,tidak ada celah dalam dirinya.Semakin dia mengagumi Michael semakin dia merasa kecil dan tidak pantas untuk tuan muda keluarga Maverich tersebut.


Shinta meneguk minumannya hingga kandas saat selesai makan.Sekarang ganti Michael yang tak lepas memandanginya.Dia menundukkan wajahnya.Michael berdiri menghampirinya,mengulurkan tangannya agar Shinta berdiri lalu membawanya ketengah ruangan.Seorang pria yang membawa biola tiba-tiba datang tidak tau asalnya.Dia memainkan lagu berirama lembut.


"Mic,aku tidak bisa berdansa"


"ada aku" jawab Michael lembut.Membawa Shinta dalam pelukannya.mengajarinya berdansa.Detak jantung Shinta tak beraturan,nafasnya sesak dan tubuhnya sedikit bergetar saat Michael mendekati wajahnya,memburu bibirnya dan mengecupnya lembut.Wajahnya merona dan ia menyembunyikannya didada Michael.Sungguh malam ini dia merasa jadi wanita paling beruntung dimuka bumi.

__ADS_1


"I love you" bisik Michael ditelinga Shinta mesra.Shinta sedikit menjauhkan wajahnya untuk menatap wajah Michael.Pria itu menatapnya dalam.Menatap bibir Shinta yang mengangga tak percaya lalu membungkamnya dengan ciuman panjang hingga keduanya kehabisan nafas.


"selamat ulang tahun sayang" bisiknya tepat di atas bibir Shinta.Lagi-lagi gadis itu terperanjat.Ia lupa kalau hari ini ulang tahunnya.Dia memang sudah melupakan segalanya sejak tiba disini.Seluruh waktunya hanya dihabiskan untuk bekerja.Tapi Michael tau dan meluangkan waktu untuknya.Shinta benar-benar tersanjung juga terharu.


"terimakasih Mic" gumamnya.


Tidak berhenti disitu,Michael mengambil sesuatu dari sakunya.Sebuah kalung berlian dengan liontin berbentuk bintang.Ia memutari tubuh Shinta dan memasangkannya.Shinta menitikkan air matanya.Ia sangat bahagia hari ini.Michael menghapus air matanya dan membawa Shinta dalam pelukannya.Dunia seakan berhenti berputar.


Hampir jam sepuluh malam saat keduanya meninggalkan Axel mall menyudahi makan malam romantis yang membuat hati Shinta berbunga-bunga.


Lain Shinta dan Michael,lain pula Nico dan Willy yang menggerutu tidak jelas sambil menenteng belanjaan pesanan Shinta.Mereka memasukkannya ke bagasi lalu menunggu kedatangan tuannya di lobi.


"Kurasa tuan Mic terlalu bucin sekarang" ujar Nico memulai pembicaraan.


"yaaa..dan apesnya...dia bucinnya dengan pembantu migran.level yang aku saja tidak berminat" sahut Willy sekenanya.


"kau bicara level hah?Orang sekelas tuan muda saja bisa bucin dengan pembantu apalagi level kita Will....bisa dapat pemulung kita" timpal Nico


"biarkan saja dia menikmati cinta pertamanya Nic"


"ya,aku setuju.anggap saja tuan muda sedang bermimpi.Karena saat bangun nanti,pasti tuan dan nyonya besar sudah menyiapkan jodoh baginya"


"seperti juga jodoh untuk Stephanie" gumam Willy sendu.Nico menepuk bahu sahabatnya itu.Dia tau Willy begitu mencintai Stephanie,ia hanya berusaha menguatkan hati Willy agar tetap kuat menghadapi cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Andai saja aku bisa menikmati cinta sesaat seperti tuan muda bersamanya....aku akan lebih rela melepaskannya Nic" ujar Willy menerawang.


"kurasa lebih baik tidak Will.kau akan semakin terluka.Dan itu lebih tidak baik bagimu"


Mereka tenggelam dalam percakapan panjang hingga Michael dan Shinta datang.

__ADS_1


__ADS_2