
"Selamat pagi nyonya,saya mengantarkan makanan untuk anda." Bibi Lun muncul di ambang pintu tepat saat Erika akan keluar dari kamarnya.Dokter cantik itu mengelus dadanya karena kaget dan tidak menyangka bibi Lun akan muncul dihadapannya dengan nampan berisi bubur ayam hangat dan susu hangat yang menggoda selera pagi itu.
"Kenapa mesti diantar sih bi?aku bisa turun untuk sarapan.Tidak perlu merepotkan bibi seperti ini." Bibi Lun mengangguk hormat.Erika bersikap sangat lembut dan ramah pada siapa saja,majikannya itu berbanding terbalik dengan suaminya yang kaku dan irit bicara.Rumah itu terasa hangat karena kehadiran istri majikannya itu.
"Tuan Nico menyuruh saya mengantarkannya kemari dan berpesan agar nyonya tidak kemana-mana hari ini."
"Baiklah bi,masuklah dan letakkan makanannya diatas meja.Apa mas Nico sudah berangkat?"
"Pagi-pagi sekali tuan sudah berangkat." jawab bibi Lun lagi.
"hmmm baiklah,bibi bisa melanjutkan pekerjaan lagi."
"Tuan menyuruh saya memastikan anda memakan sarapannya nyonya." sahut bibi Lun penuh hormat.Erika menghela nafas panjang lalu duduk di sofa.Dia menepuk tempat kosong disebelahnya,memberi isyarat agar asisten rumah tangga itu duduk.Bibi Lun yang ragu hanya tersenyum mengiyakan namun tidak kunjung duduk.Dia merasa tidak nyaman duduk berdua dengan istri majikannya,hal ini juga dianggap tidak sopan.
"Duduklah bi,kau akan capek menungguku makan." ucap Erika lembut.Wanita selembut dan sesopan ini?bagaimana bisa membantah keinginannya.
"tapi nyonya..."
"Duduk,atau aku tidak makan." suara lembut Erika berubah tegas serasa sentakan bagi perempuan paruh baya yang terlihat bugar itu.Pelan dia duduk sambil menundukkan kepalanya.Erika menyantap sarapannya dengan lahap,lalu meminum susunya hingga tandas.Sekarang dia mulai bertenaga lagi.Bubur dan susu jahe itu menyebarkan hawa hangat disekujur tubuhnya.
"Terimakasih bi,apa tadi mas Nico sudah sarapan?"
"Tuan tidak sarapan nyonya.Dia menyuruh kami hanya memasak untuk nyonya saja karena mulai hari ini tuan tidak sarapan di rumah." Erika mengrenyitkan dahinya.Nico bukan tipe pria yang suka makan diluar walau dia lebih dari mampu untuk melakukannya.Sejak menikah,dialah yang selalu memasak untuk Nico yang tidak pernah protes apapun yang dia hidangkan.Lalu kenapa Nico malah tidak sarapan?
"Apa mas Nico sakit?"
"sepertinya tidak nyonya.Tapi tuan terlihat sedikit lesu dengan mata pandanya." beber bibi Lun sedikit lirih.
__ADS_1
"Mas Nico kurang tidur." gumam Erika.
"Saya kurang tau nyonya.Semalam tuan tidur di ruang kerjanya." sahut asisten rumah tangga itu patuh.Ingin rasanya dia bertanya kenapa pengantin baru itu terlihat tidak akur dan melakukan perang dingin dan parahnya pisah
"hmmm baiklah bi,saya sudah selesai makan sekarang." Erika menyusun kembali piring dan gelasnya seperti semula,lalu menyerahkannya pada wanita yang masih setia menunggunya itu.
"saya permisi nyonya." Bibi Lun beranjak sambil membawa nampan bekas makan Erika turun.
Dari tempat lain,Nico memantau semua pergerakan istrinya dari kamera cctv yang terhubung dengan ponselnya di meja kerjanya.Bibir seksinya membentuk lengkungan sempurna saat melihat tubuh mungil Erika meraih tas kerjanya lalu mencari beberapa jenis obat dan meminumnya.Ternyata wanita itu begitu penurut dan sama sekali tidak membantahnya.Sekarang dia bahkan memilih merebahkan dirinya dan menyalakan televisi sesuai keinginannya.Ahh...betapa manisnya Erika.
"eeehhmmm..." Nico hampir saja berjingkat karena suara deheman Willy yang entah sejak kapan berada di depan mejanya,duduk sambil menyilangkan kakinya santai.
"Mau sampai kapan kau hanya akan memandangi ponselmu?memastikan istrimu itu baik-baik saja?Kenapa tidak segera pulang dan menyatakan cintamu padanya?atau....kau ingin semua menjadi terlambat dulu baru mengatakannya?" oceh sahabat karibnya itu dengan intonasi tajam.Nico terpekur.
"Kau tau...dalam hidupku,aku tidak pernah merasa jatuh cintakan Will?Kebencianku pada ibu yang membuangku membuat aku illfeel pada wanita."
"lalu Ayya?" tanya Willy menyelidik.
"Tapi Erika bukan Ayya Nic.Dia wanita dewasa yang mandiri dan cerdas.Dia juga bukan ibumu,tidak semua wanita seperti ibumu."
"Aku tau." balasnya singkat.
"pulanglah." perintah Willy,namun tidak mendapat tanggapan darinya walau dalam hati dia ingin menurutinya.
"Tapi ini jam kerja." bantah Nico.Dia memang sangat disiplin dalam hal sekecil apapun.
"Aku yang akan menggantikan tugasmu man.Kau sangat merindukan Erikamu.Pulang dan temani dia."
__ADS_1
"tapi...."
"Ini perintah Nic.Pulang dan rawat istrimu!" suar bariton yang mereka kenal membuat keduanya menoleh bersamaan.Michael berdiri diambang pintu ruang kerjanya sambil bersedekap.
"Baik tuan muda." sontak Nico berdiri dari duduknya dan memberi hormat.
"Aku memberimu cuti seminggu mulai dari sekarang!"
"Tuan muda saya..."
"Anggap ini sebagai kompensasi dariku.Sepuluh tahun menjadi sekretrisku,tapi kau tidak pernah liburkan?"
"Iya tuan muda."
"Sekarang pulanglah!" perintah Michael sekali lagi.Sangat riskan baginya untuk memberi Nico cuti saat Luxio sedang sangat padat proyek seperti sekarang,tapi dia juga punya hati nurani.Meski setelah ini dia juga yang akan repot karena walau ada Will dan Aira,mereka tetap tidak bisa mengerjakan sesuatu serapi pekerjaan Nico.
"Baik tuan muda.Terimakasih atas kebaikan anda." Nico membungkuk dihadapan Michael lalu menghampiri Willy yang masih berada di meja kerjanya.
"Will,jika kau butuh sesuatu...hubungi aku."
"Tentu saja man!nikmati liburanmu dan aku juga akan menikmati tugas lamaku.Aaaahh...kau tau betapa rindunya aku akan pekerjaan lamaku." celoteh Willy riang.Dia memang bosan bekerja di dalam ruangan terus menerus.
"Terimakasih Will." Nico dan Willy berpelukan sesaat.
"Aku tunggu kabar baik darimu." teriak Willy saat Nico hampir menghilang dipintu lift.
Sekretaris Nico keluar dari lift dengan langkah lebar.Setelan kerja berwarna abu-abu yang melekat pas ditubuh athletisnya bak magnet yang menarik mata siapa saja agar terkesima dan mengaguminya.Seluruh karyawan yang berpapasan dengannya mengangguk hormat.Meski dia bukan Michael atau Wily,pria tampan itu punya pengaruh dan kekuasaan yang besar di Luxio.Wajah dinginnya membuat banyak orang berdecih sebal dibelakangnya karena merasa diabaikan,tapi tidak sedikit dari mereka yang berteriak histeris dan berjingkrak bahagia karena berhasil menyapa sang makhluk es itu.
__ADS_1
Seorang pengawal menghentikan mobil miliknya tepat didepan lobi lalu segera turun dan memberi hormat padanya.
"Mobil anda sudah siap tuan sekretaris." lapornya.Nico mengangguk lalu masuk kedalam mobil itu.Sepanjang jalan pikirannya berkelana.Berulang kali dia melirik ponselnya memastikan Erika baik-baik saja.Ada yang berdesir dihatinya saat ini.Perasaan aneh yang dia tidak tau apa.