Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Berubah


__ADS_3

Pintu lift terbuka saat sekretaris Nico baru saja akan duduk dikursinya.Seketika dia berdiri lagi dan sedikit membungkukkan badannya saat Shinta tiba didepan mejanya.Dia sedikit merasa aneh karena Shinta ada ditempat itu tanpa pengawalan.Apa saja yang dilakukan Aira?harusnya adiknya itu memberitahunya lebih dulu jika Shinta hendak kemari.


"Apa mas Mic ada didalam?" tanya Shinta dengan nada menyelidik.Nico terkesiap.Dia melirik tajam pada Aira yang masih memasang wajah dinginnya,tanpa emosi.Dalam hati dia menggerutu dan memaki kebodohan adiknya itu.


"Tuan sedang makan siang diluar nyonya.Apa tidak sebaiknya anda menunggunya didalam?" balas Nic.


"Kenapa kau tidak ikut dengannya?bukankah tugasmu mengekorinya?dan bukankah dia akan lewat lift itu?kenapa kau menyuruhku masuk keruangannya?"Tidak biasanya Shinta bersikap sedemikian galak pada Nico .Sikap itu yang membuat Nico sedikit kaget dan memperhatikan nyonya mudanya.Tapi dengan cepat sekretaris kaku itu menguasai keadaan dan meminimalisir ekspresinya dengan kembali memasang wajah datar andalannya.


" Tuan juga punya privacy nyonya.Harap anda tau itu" ujarnya santai.


"dan kau juga harus tau kalau aku berhak tau dengan siapa suamiku makan siang hari ini." ujar Shinta tak kalah santai dari Nico.


"saya tidak tau mengenai itu nyonya.maafkan saya." Tidak ada sahutan lagi.Shinta tau orang seperti Nico pasti akan tetap tutup mulut jika itu menyangkut tuan mudanya.Pria itu memang dididik patuh dan setia.Percuma jika Shinta berharap akan dapat petunjuk darinya.


"Baik jika kau tidak ingin mengaku Nic.Sekarang tutup mulutmu dan jangan coba-coba menghibungi mas Mic karena aku akan menunggunya disini" kata Shinta ketus.


"tapi bagaimana dengan baby El nyonya?" tanya Nico untuk sedikit menyurutkan emosi Shinta.


"Dia anakku Nic,aku tau kapan dia membutuhkan aku atau tidak," Shinta segera mengambil tempat duduk disisi pilar besar yang tertutup tanaman hias hingga tidak begitu terlihat dari lift.Matanya lekat memandang kotak ajaib doraemon itu.


Nico menggelengkan kepalanya.Dulu Michael yang bersikap begitu,sekang istrinya yang biasanya kalem ikut-ikutan kembali ke performa awal saat mereka bertemu.Diam-diam Nico bertanya-tanya dalam hati...bagaimana watak baby El suatu hari nanti karena lahir dari keturunan papa yang arogan dan mamanya yang judes dan galak.Sekretaria tampan itu bergidik ngeri.


Hampir satu jam menunggu membuat Shinta merasa kesabarannya sudah habis.Andai saja dia tidak meninggalkan El dirumah,sampai besok pagipun dia akan tetap menunggu disini.Ia bersiap akan berdiri saat pintu lift terbuka.Michael keluar sambil merangkul pinggang seorang wanita.Darah Shinta mendidih seketika.Tangannya terkepal erat.Ketika dua orang itu sudah dekat dia bisa melihat wajah si wanita.Alicia Reeves.


Sekretaris Nico yang melirik padanya mendapat pelototan tajam dari Shinta.Michael masih asyik berbincang dengan Alicia hingga masuk ke ruangannya.Masih terdengar candaan dan tawa mereka.Berarti instingnya benar.Ada yang disembunyikan Michael darinya.


Shinta menahan sekretaris Nico yang akan memasuki ruangan presedir dan menggantikannya dengan dirinya.Pria kaku itu mundur sekangkah untuk memberi nyonya mudanya jalan.Shinta membuka pintu sedikit saat melongok kedalam dan disuguhi pemandangan yang cukup membuat matanya melebar.Disana Alicia menjangkau leher suaminya dan mencium pipinya lembut.Mata Shinta terpejam erat.Tangannya refleks menjangkau Nico yang membuat sekretaris itu melongok kedalam dan melihat pemandangan saat Michael dan Alicia berpelukan.Dia tetap menatap datar.

__ADS_1


"nyonya,saya rasa anda salah paham." Nico mencoba menjelaskan saat Shinta kembali menutup pintu dan membalikkan badannya.


"jangan mengatakan apapun pada suamiku Nic.Apa kau mengerti?"


"baik nyonya" Lalu Shinta berlalu dari sana tanpa ekspresi.Langkahnya lebar dan tidak menghiraukan karyawan yang menyapanya.Dia harus segera menemui Aira dan pulang kerumah.Bayangan El terasa sangat membuatnya cemas.


Hampir tengah malam saat sayup-sayup Shinta mendengar pintu kamar dibuka.Dia mengumpulkan kesadarannya lalu duduk dan menyapa Michael.


"Mas,kok baru pulang?dari mana saja?"


"Aku ada urusan tadi" jawabnya tanpa menoleh.Shinta yang hendak membantunya melepas pakaian menggantung tangannya diudara karena Mic sudah bergerak lebih dulu melepasnya.Pria itu juga langsung menuju kamar mandi tanpa bicara apa-apa lagi.perasaan aneh juga bercokol didada Shinta saat Mic langsung tidur tanpa menyentuh baby El seperti biasanya.Hati Shinta terasa diremas.


Pelan dia membaringkan tubuhnya disamping suaminya.Tangannya menggapai tubuh kekar itu dan mencoba memeluknya saat suara bariton suaminya membuat hatinya meluruh sakit.


"Jangan ganggu aku Shinta.Aku sangat capek." Cukup sudah pertahanan Shinta di uji.Air mata sudah menggenang dipelupuk matanya.Ia langsung membalikkan badan membelakangi Mic dan mengusap air mata itu dengan hati-hati.Setelah menikah hingga kini Mic tidak pernah menolak sentuhannya kecuali malam ini.Dia juga tidak pernah memanggil nama Shinta secara langsung dengan kesan frontal seperti tadi.Ada yang berubah disini.


Shinta baru terbangun keesokan harinya saat matahari sudah terang.Baby El yang semalam tidur dalam pelukannya tampak masih tertidur pulas.Shinta mengucek matanya lalu bangkit keluar kamar.Mia yang sedang bersih-bersih menyapanya.


"Selamat pagi nyonya.Tidak biasanya anda bangun kesiangan." canda Mia sambil tersenyum simpul.


"Apa mas Mic sudah berangkat?" tanyannya pada pembantu yang juga sahabatnya itu.


"Tuan muda sudah berangkat pagi-pagi tanpa sarapan nyonya.Sepertinya tuan terburu-buru." sahut Mia.


"Apa Nico ikut?"


"tuan Nico belum datang nyonya."

__ADS_1


"Mia,tolong suruh Aira menemuiku nanti ya."


"baik nyonya."


Setengah jam kemudian Nico dan Aira datang.Mia menyampaikan pesan Shinta pada Aira,sedangkan Nico langsung menuju ke kantor saat tau Mic sudah tidak ada dirumah.


"Selamat pagi nyonya.Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Aira setelah sampai didepan Shinta yang baru saja memandikan El.


"Sebentar lagi aku ingin ke LuXio.Antarkan aku kesana ya"


"baik nyonya."


"ingat,jangan beri tau Nico atau yang lain bahwa aku hendak kesana."


"baik nyonya."


Aira segera menyiapkan mobil sambil menunggu Shinta berganti pakaian.Mereka lalu masuk kemobil dengan membawa El turut serta.Aira melajukan mobilnya pelan membelah jalanan.Ia tidak ingin El terganggu.


Tiba di persimpangan dekat kantor Luxio mata Shinta terbelalak saat melihat Michael bergandengan tangan dengan Alicia memasuki resto favorit Mic.


"hantikan mobilnya Aira" mobil langsung berhenti dan menepi.Shinta bisa melihat dari kaca lebar diresto itu,mereka duduk berhadapan dan bercanda riang.Hatinya terasa memanas.


"Kita pulang Aira" ujarnya lemah sambil mendekap El yang kembali pulas dalam pelukannya.Aira mengangguk,dia tau nyonya mudanya sangat terluka.


"Aira,setelah ini kau sudah boleh kembali kekantor.Ingat,jangan mengatakan pada siapapun kalau kita ke Luxio tadi."


"baik nyonya.Saya permisi" Asisten cantik itu berlalu seiring tangis Shinta yang pecah tak bisa dikendalikan lagi.

__ADS_1


__ADS_2