
"papa...mama....." bisik Erika saat melihat kedua orang tuanya berdiri diambang pintu dan merentangkan tangannya.Erika berbalik arah dan berlari menuju pelukan papa mamanya meninggalkan Nico yang bengong menatap mertuanya.Hilang sudah harapannya menjadi orang yang pertama dipeluk Erika hari itu.Saat matanya bersitatap dengan Willy yang menggaruk tengkuknya,Nico menjadi mengikuti gerakan lucu itu.
"Selamat ulang tahun sayang..semoga semua harapanmu menjadi kenyataan." bisik Dokter Yusuf sambil terus memeluk putri kesayangannya.
"Terimakasih pa,kenapa kalian tidak memberi kabar kalau ingin kesini?" Yusuf tergelak dan melepas pelukannya.Dipeganganya bahu Erika.
"Tuan muda Maverich menjemput kami secara tiba-tiba juga kemarin hingga kamipun tidak membawa apapun kesini." jawab sang papa.Erika mengerjabkan matanya saat nyonya Misca menghampirinya dengan membawa kue ulang tahunnya.
"Kalian semua mengerjaiku."
"bukan mengerjai..tapi memberi kejutan padamu." sahut mamanya kemudian.Erika masih bersungut kesal,demikian pula Shinta dan Stephanie.Mereka bertiga terlihat sangat kesal.Para lelaki itu mengerjai mereka habis-habisan.Ketiganya menatap horor pada suami masing-masing yang mulai memasang wajah datar.
"Jelaskan semua ini mas." kata Shinta menuntut penjelasan pada suaminya.Michael sedikit salah tingkah menghadapi tatapan horor istrinya.
"Apa yang harus kujelaskan sayang?Nico benar-benar kecelakaan pagi ini.Seseorang menabraknya saat dia menyeberang hendak memesan kue dan bunga untuk ulang tahun istrinya.Lihat saja,lukanya masih berdarah dimana-mana."
"Lalu sandiwara kematian itu?" desak Shinta tidak sabaran.Dia merasa ditipu mentah-mentah oleh suaminya.
"Itu ide Willy." cetusnya diplomatis.Willy tergagap saat tatapan horor itu mengarah sepenuhnya pada dirinya.
"Itu karena aku tidak tahan melihat sekretaris bodoh itu terus bersedih dengan perasaan tak terucapkan pada dirinya.Kalian tahu bukan jika dia sangat kaku dan egois.Jangankan bertindak,mengakui perasaanya saja di tidak bisa.Dia benar-benar menyebalkan." jelasnya panjang lebar.Stephanie menyeringai.
"lalu kenapa jadi Erik yang kau jadikan sasarannya?" runtuk Stephanie.
"Sayang,dia juga sama saja.Sudah tau Nico itu tidak bisa berekspresi,seharusnya dia yang agresif.Ini malah dia ikut cuek.Kalau kita biarkan berlarut-larut kedua manusia saling mencintai tapi jaga image ini bisa bercerai beneran." jelas Willy panjang lebar.Dia sedikit bernafas lega saat istrinya ikut membenarkan ucapannya.Tentu saja dia tidak akan rela jika Nico dan Erika berpisah.
"Baiklah ..kali ini kau kumaafkan." ketus Stephanie.Nyonya Misca mengambil alih kue ulang tahun Erika dan membawanya mendekat.
__ADS_1
"Make a wish dan tiup lilinya sayang." ujarnya dengan senyum ramah.Erika memejamkan matanya lalu melafalkan doa.Dengan begitu antusias dia meniup lilinnya.Terdengar tepuk tangan diseluruh ruangan.Nyonya Mischa mencium kedua pipinya lalu mengucapkan selamat,demikian pula tuan Abraham dan yang lainnya.Erika sejenak melupakan kesedihannya tadi.Saat memotong kue pertama,Nico lagi-lagi dibuat cemberut karena Erika lebih memilih memberikannya pada Tuan dan nyonya Abraham,disusul papa mamanya.Erika seolah tidak menganggapnya ada.Dalam kekesalan,Nico membalikkan badannya lalu menutup matanya rapat.Berusaha tidur dalam kebisingan.Toh seluruh tubuhnya masih terasa sakit semua karena kecelakaan beberapa jam lalu.
"Nic!" panggil Michael agak lama setelah dia memejakan mata.Refleks Nico terduduk.
"Saya tuan muda."
"Dokter bilang kau harus istirahat dulu disini hingga kondisimu membaik."
"Tapi tuan muda,saya sudah baik-baik saja.Saya akan langsung pulang saja.Ada papa dan mama mertua saya juga tuan muda."
"Itu terserah kau saja Nic.Aku lupa jika istri dan mertuamu juga seorang dokter.Lakukan apa yang kau anggap benar.Kami akan kembali ke rumah."
"Terimakasih untuk semuanya tuan muda,Tuan besar." ujar Nico seraya mengangguk hormat pada keduanya.Abraham tersenyum.
"Cepatlah sembuh dan kembali ke Luxio son." pria itu lantas bersuara dengan penuh wibawa.
Erika menundukkan kepalanya saat tersisa mereka berdua diruangan itu.Nico yang masih kesal terus menatapnya dingin.
"ma..maafkan aku." hanya itu yang keluar dari bibir Erika.Nico tidak menjawabnya..membuat Erika makin merasa bersalah.Dia sudah mengabaikan suaminya tadi.
"Aku mau pulang." kata Nico singkat.Erika mengangguk lalu keluar mengurus administrasi,namun lagi-lagi dia menahan takjub karena Nico tidak mendapat tagihan apapun dari pihak rumah sakit karena rumah sakit itu berada dalam kepemilikan Maverich.Nico masuk dalam jajaran istimewa di Luxio maupun Maverich hingga seluruh tagihan ditanggung oleh perusahaan.Pantas saja mereka bisa menyelenggarakan kejutan untuknya tanpa protes pihak rumah sakit.Orang kaya memang berbeda.
Saat masuk kembali keruang perawatan,Erika melihat Nico terlibat perbincangan hangat dengan kedua orang tuanya.Entah untuk berapa kali hari ini dia dibuat takjub pada sesuatu.Suami esnya tertawa lepas dan terlihat sangat ramah.Jangan lupakan wajah tampannya yang berseri seindah mentari pagi.
"Kita bisa pulang sekarang pa..ma..." katanya kemudian.
"Kami akan menyusul kalian nanti Er.Kami harus menunggu pemeriksaan terakhir pada Win lee dan memastikan dia baik-baik saja saat kami bawa pulang ke Indonesia." jelas dokter Yusuf.
__ADS_1
"Jadi papa mama kesini untuk menjemput Win lee juga?"
"Untuk kalian juga sayang." tukas mamanya.
"Win lee cucu kami.Dia akan pulang bersama kami.Itu yang terbaik Er."
"Terserah papa saja."
"kalian pulanglah dulu.Nanti sopir Nico yang akan menjemput kami." kata Yusuf kemudian.
"pa....." panggil Nico.Yusuf menoleh padanya.
"Ada apa nak?"
"Beberapa waktu lalu aku sudah menjatuhkan talak pada Erika tanpa sengaja.Tapi aku sangat menyesalinya dan ingin menebus kesalahanku pa.Bisakah papa....." mata Yusuf berkaca.Tanpa mendengar kelanjutan perkataan menantunya dia mengangguk menyangupi.
"Tapi papa,aku...."
"Er,tidak akan ada pria yang lebih baik dari suamimu.Semua orang pernah berbuat salah,kewajibanmu hanya memaafkan.Jangan menurutkan dendam nak." Yusuf mengelus kepala putrinya penuh kasih sayang.Erika mengangguk menurutinya.
"Panggil satu orang lagi kesini Er,biarkan dia menjadi saksi rujuk kalian." perintah papanya.Erika bergegas keluar memanggil seorang rekan sesama dokter untuk menemaninya.Dokter yang memeriksa Nico tadi masuk dan bersalaman dengan Yusuf.
"Mulailah nak."
Nico memberi isyarat agar Erika mendekat padanya.Digenggamnya jemari Erika lembut.
"Erika berliana Yusuf,aku rujuk atas dirimu dan kukembalikan kau pada nikahmu." ujarnya mantap.Yusuf memeluk putri dan menantunya itu hangat.
__ADS_1
"Papa sangat bahagia." tak terasa air mata pria itu mengalir.Membayangkan perpisahan putrinya saja sudah membuat dia dan istrinya gundah.Tapi semua itu tidak terjadi.Tuhan menyatukan mereka kembali.