Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Berkunjung


__ADS_3

Adrian terpana melihat Alicia yang baru keluar dari lift.Setelah menyerahkan kunci pada resepsionis,gadis tinggi semampai itu berjalan kearahnya yang sudah hampir bosan menunggu.Setelah bertahun-tahun tidak bertemu,Alicia yang dulu berdandan tomboy sudah menghilang.Rambut yang biasanya dipotong cepak,sekarang tergerai indah keemasan.Cara jalannya yang dulu begajulan juga sudah berubah sopan.Jangan lupakan dress cantik yang dikenakannya,sangat menawan.Tapi apa itu?ahh...Adrian lupa membelikannya sepatu.Gadis berdarah eropa itu memakai sandal jepit yang sederhana.Darimana dia mendapatkannya?


Adrian menaikkan kaca mata hitamnya.Dia tidak ingin aksinya meneliti penampilan Alicia terpergok.Dia bukannya tidak tau kalau gadis itu pernah menaruh hati padanya,tapi cinta dan kekagumannya pada Shania melebihi semuanya.


"ehm..ehmm...apa kau terlalu lama kakak ipar?"


"wanita memang menyebalkan"


"untung saja separuh jiwaku bukan wanita"


"aku sudah menduganya dari awal.Kau hanya berubah tampilan saja,tapi jiwamu tetap seperti kami para pria"


"syukurlah kalau kau tau"


"pantas saja Michael mengaggalkan pernikaham kalian." Alicia menatap datar.Hatinya seperti tertusuk ribuan pisau tajam.


"Pantas saja jika Shania pergi lebih dulu.Mulut nyinyirmu melebihi malaikat pencabut nyawa"


Adrian seketika membatu.Alicia berlalu dengan senyum kemenangan.


"hey..kau mau kemana?"


"pulang"


"stop...!!" Adrian menarik lengan Alicia hingga nyaris terjatuh kalau saja Adrian tidak dengan sigap menagkap tubunnya.


"Aku bisa pulang sendiri kakak ipar"


"Kau sudah berjanji pada mamaku untuk mampir ke Jakarta.Orang tuamu sudah memberi ijin"


Alice terdiam.Tangannya tang masih berada di dada memberi jarak antara dia dan Adrian.


"lihat aku Alice!"

__ADS_1


"apa?" dengan berani gadis itu menatap Adrian.


"ikut aku dan jangan membuat masalah." Lalu dengan kasar Adrian menyeret Alicia menuju mobilnya yang baru saja berhenti didepan pintu hotel.


Mobil melaju cepat menuju bandara.Waktu mereka tinggal beberapa menit lagi sebelum pesawat take off.Tanpa drama Alicia mengikutiny menaiki pesawat dan duduk anteng disampingnya.Tiba-tiba pria di seberang tempat duduk Alice menjulurkan tangannya untuk berkenalan.Alicia yang gabut menyambutnya lalu terjadilah obrolan singkat.


Adrian mencoba tidak peduli dan melihat keluar jendela.Saat keduanya tertawa dia sedikit melirik,ada rasa tidak enak hati karena diabaikan oleh Alice.Lama-lama hatinya meradang.Tapi apalah daya,dia bukan siapa-siapa bagi gadis itu.Hanya mantan adik ipar karena perikahannya dengan Shania tidak menghasilkan keturunan.


*******


Perjalanan dari bandara kerumah keluarga Wijaya membutuhkan waktu satu jam karena suasana yang macet walau tidak parah.Mereka masih tetap diam hingga tiba dirumah yang berhalama luas dan asri di perumahan elite yang dikelilingi pagar tinggi.


Seorang pelayan menyambut mereka lalu mengarahkan kedalam.Nyonya Wijaya menyambut putranya dengan pelukan hangat,juga pada Alicia.Dia seperti menemukan kembali Shania menantunya.


"Duduklah,Alice orang tuamu sudah mengijinkan kau di Jakarta beberapa hari ini"


"Tapi tante,aku...."


"sudahlah,nikmati saja.Hitung-hitung liburan.Kata nyonya Reeves kau juga tidak ada kesibukan di Singapura" senyum wanita paruh baya yang cantik itu mengembang sempurna.Mungkin ini alasan dadynya,dady Michael dan papa Adrian memilih menikahi wanita Asia.Mereka ramah dan tulus.


"Ma,aku ke kamar dulu" pamit Adrian dengan mata jengah.Alice tau pria itu menghindarinya.


"Owhh iya Alice,apa kau suka memasak?"


Alice bingung harus menjawab apa?Dia sama sekali tidak bisa masak.Juga tidak punya hobi memasak.Menginjak dapur saja dia tidak pernah.


"saya tidak bisa memasak tante" ujarnya pasrah.Toh dia bukan apa-apa di rumah ini.Tidak akan ada bedanya kalau dia menjawab jujur atau berbohong.Dia hanya tamu yang akan pulang ke rumahnya sendiri setelah beberapa hari.


"Tapi mau tante ajari memasak?"


"tapi saya payah sekali tante.Saya belum pernah masuk dapur sebelumnya"


"Wah itu bagus.Tante akan mengajari kamu selama disini.Jadi saat pulang nanti kau akan bisa mandiri sedikit-sedikit Alice" Bukannya kecewa,si nyonya rumah malah terlihat bersemangat.

__ADS_1


"Nanti kita berkebun dan belanja ya" malah makin semangat.Ahhh Ya Tuhan....dia masuk perangkap ini lebih dalam.Harusnya dia tidak perlu mampir kemari.


"Apa kau capek?sebaiknya kau istirahat dulu dikamar.nanti sore kita masak untuk makan malam ya" Alice hanya mengangguk pelan lalu mengikuti nyonya Wijaya yang menuntunnya ke kamar tamu.Kenapa Shania selalu mendapatkan hal baik dan keberuntungan dalam hidupnya?semua orang sangat menyayanginya.


*********


Sorenya keributan terjadi di dapur luas di rumah itu.Nyonya Wijaya tertawa senang melihat Alice yang begitu lucu mengerjakan semua hal yang disuruhnya.Meski tidak bisa memasak,tapi gadis cantik itu memberinya hiburan tersendiri hingga tertawa terpingkal.Dia selalu saja salah mengambil alat dapur dan menumpahkan ini itu hingga dapur itu seperti kapal pecah.Wanita paruh baya itu teringat dirinya sendiri dimasa lalu.


Bagi nyonya Wijaya,melihat Alicia sekarang sama dengan menengok dirinya dimasa lampau.Dia gadis beruntung yang dinikahi Ronald Wijaya,putra teman bisnis papanya.Ibu mertuanya yang asli Eropa sangat antusias mengajarinya banyak hal yang dia tidak bisa.Tadinya dia berpikir tinggal dirumah mertua akan sangat tersiksa,tapi lama-lama dia malah betah disana hingga Adrian lahir dan beranjak dewasa.Mereka kembali ke Indonesia karena perusahaan papanya tidak ada yang mengurus karena beliau dipanggil yang kuasa.


"Aauuww" teriak kecil Alicia yang jarinya teriris tak sengaja.Darah segar membanjiri tangannya.Nyonya Wijaya kaget dan spontan berteriak.


"Adrian...Adrian...sini"


Adrian yang menonton tv terkejut lalu menghampiri mereka di dapur.Mamanya sibuk menghentikan darah di jari Alice.


"hey,kau ini kan dokter.Kenapa hanya diam saja saat ada orang terluka?!"


"luka kecil seperti itu tidak akan membuatnya mati ma"


"dasar bocah tidak tau kemanusiaan.Pokoknya mama tidak mau tau.Darahnya harus berhenti"


Adrian menarik nafas dalam.Enggan berdebat dengan mamanya.Alice yang tau Adrian ogah-ogahan langsung bergerak kearah wastafel dan mengarahkan lukanya pada kran.


"saya tidak apa-apa tante.Permisi sebentar,saya ke kamar dulu ya tan"


Alice sedikit menahan perih saat berjalan kekamarnya.Luka itu cukup dalam dan terus mengucurkan darah.Kalau saja dia ada dirumahnya sendiri sekarang,tentunya sudah ada keributan kecil disana.


Tergesa dia membuka kotak p3k yang menempel didinding ruangan,lalu hendak membawanya ke kamar saat sebuah tangan kekar merampas kotak itu dan menyeretnya duduk di sofa.


"Apa lukanya begitu sakit?"


"tidak"

__ADS_1


Adrian meneteskan obat luka lalu membalutnya dengan kasa.Alicia serasa berhenti bernafas saat tangan mungilnya digenggam lembut oleh Adrian.Pria yang sangat dipujanya,pria yang mempesona.


__ADS_2