
Laura Maverich baru saja mematikan Hpnya saat seorang pengawalnya masuk dan menerima perintahnya.Tak berapa lama,ia meninggalkan rumah besar dengan dua orang pengawal dan sebuah bingkisan besar yang di pegang salah satu diantaranya.Nyonya besar Abraham itu melangkah dengan elegan saat melewati Stephanie dan Shinta yang barusan pulang dari kegiatan di panti.
"selamat sore mom,mau kemana?
" bukan urusanmu!diam dan kerjakan urusanmu sendiri!!"
Deg....
Stephanie tertunduk lesu.Shinta urung menyapa ibu mertuanya yang selalu memasang tampang judes dihadapannya.Anehnya,dia juga memperlihatkan sikap yang sama pada dirinya atau pada Stephanie.Mereka berdua masih memandang ibu ratu sampai naik mobil dan menghilang.
"kurasa mom memang tidak menginginkanku kak"
"sudahlah...mungkin dia lelah" hibur Shinta.Mereka berpisah dipintu kamar masing-masing.Shinta mengambil hpnya yang berdering beberapa kali.Ada Michael disana.Suaminya itu benar-benar over protektif.Ia menelephon tiap jam untuk hal-hal kecil yang menggelikan.
Ketika video call tersambung,Michael sedang tiduran dikamar.Rupanya disana sudah malam hari.Raut muka Michael berseri.Senyum manis terbit dibibirnya.
"Sayang,kau sudah pulang?"
"aku baru saja pulang"
"apa Willy mengantarmu?"
"Tidak,dia sedang sibuk dikantor.Ada pengawal mom yang mengantar kami"
"mom?tumben dia berbaik hati meminjamkan pengawalnya padamu?"
"Mungkin dia kawatir dengan Fani sayang"
Dahi Michael berkerut.Setahunya,ibunya bukan tipe wanita yang akan berbaik hati tanpa alasan.Stephanie juga buka prioritas dalam hidupnya.Dia hanya tau ambisi,kekayaan,kekuasaan dan imbal balik.Sungguh ibu yang mengerikan.Pantas saja dia bisa mencetak Michael jadi manusia dingin yang bertindak semaunya,terkesan arogan dan tidak berperasaan.
Pembicaraan berlanjut hingga Michael tertidur dengan hp yang masih tersambung.Shinta tersenyum dan menutup panggilan itu.Dia tau Michael sangat lelah.Sejak meninggalkan rumah,ia memang punya kebiasaan baru,menelephon Shinta hingga terlelap.
******"
Ditempat lain......
Nyonya Abraham mengunjungi rumah Alicia.Rumah besar dikawasan elite yang entah berapa kavling yang dibeli untuk nama nesar keluarga Reeves.Walau tidak seluas dan sebesar kediaman Maverich,rumah Reeves terlihat anggun dan mencolok.
"sayaaang...bagaimana keadaanmu?"
mereka berpelukan.Wajah Alicia masih dipenuhi krim untuk pengobatan.Laura sangat bersimpati pada gadis yang digadang-gadang jadi menantunya dikemudian hari.Alicia langsung menunjukkan bakat actingnya.Dia pura-pura bersedih dan menangis pilu.
__ADS_1
"sudah agak baikan tante,menantumu yang kampungan itu memang kurang ajar"
wajah Laura berubah.
"dia bukan menantuku Alice sayang"
"kalau begitu pisahkan mereka"
"itu yang akan kita lakukan"
"kita??" Alicia bingung
"iya.kita!untuk itulah aku kemari"
"maksut tante?"
Laura membisikkan sesuatu ditelinga Alicia.Keduanya tertawa bersamaan.
"tante sungguh brilian" kata Alice bersemangat.
"Aku akan melakukan apapun untuk kebaikan Michael"
Alicia yang bahagia kembali memeluk Laura yang tetap berada di posisinya.
********
"ibumu menelephon agar kau kembali Mic"
"kenapa tiba-tiba dad?bukanya kita baru selesai dua hari lagi?"
"Tenanglah,aku bisa menyelesaikan sisanya.Kau juga pasti sangat merindukan istri Asiamu itu kan?" goda Abraham Maverich pada putranya.Pria berdarah Amerika Eropa itu masih terlihat tampan diusianya yang sudah tidak lagi muda.Anehnya dia pria yang hangat,sangat ramah dan senang tersenyum atau tertawa lepas seperti Stephanie,berbeda jauh dari Laura yang dingin dan angkuh.
Michael menganggukkan kepalanya.Abraham tertawa lagi.
"Wanita Asia memang eksotis Mic"
"itu sebabnya Dad memilih mom?"
Pandangan Abraham menerawang jauh.Ada hal yang disembunyikan pria itu.Dia menarik nafas lalu beralih memandang Michael yang duduk tenang disampingnya.
"itu salah satunya"
__ADS_1
"salah duanya?"
"nilainya delapan puluh son" Lalu mereka tertawa lepas bersama.Dua pria berbeda generasi itu memang sangat kompak walau jarang bertemu.Abraham selalu menjadikan anak-anaknya sebagai teman.
"oohh iya..mom bilang jangan telephon istrimu.Besok hari ulang tahunnya,mom akan memberinya surprise" kata Abraham sambil menepuk bahu putranya.Michael baru sadar,ia terlalu sibuk hingga melupakan sesuatu.Ulang tahun Shinta.
Besok dia akan datang dengan hadiah terbaik sebagai surprise untuk istri tercintanya.
**********
Hampir jam sepuluh malam,saat Michael turun dari pesawat dan disambut oleh sekretaris Nico.
"selamat datang tuan muda,silahkan lewat sini"
Michael hanya mengagguk lalu berjalan lebih dulu memasuki mobilnya.
"apa ada kendala Nic?"
"tidak tuan,semua baik-baik saja"
"kenapa Willy tidak ikut menyambutku?"
"sejam lalu nona muda menelephon Willy.Dia butuh bantuan tuan"
"bantuan apa?"
"saya kurang tau tuan.sudah saya telephon hpnya mati."
Michael berpikir keras.Bantuan macam apa yang dibutuhkan Shinta semalam ini?Bukankah ada pengawal dirumah?kenapa harus Willy?Semakin berpikir dia makin penasaran.
"ambil jalan pintas Nic,aku ingin sampai dirumah secepatnya"
"baik tuan". Lalu Nico berbelok kekiri membelah jalanan sunyi dan menambah kecepatan mobilnya.Dalam hati dia juga penasaran,dari mana Shinta punya nomer Willy?padahal gadis itu tidak begitu akrab dengan Wily.Malah lebih sering berselisih paham dengannya.
Michael memberi isyarat agar penjaga tidak membangunkan orang rumah.Lampu sudah dimatikan dibeberapa ruangan yang tidak terpakai atau jarang dilewati.Sekretaris Nico masih mengikuti Michael karena tidak ada perintah untuk berhenti atau pulang dari tuannya.Pelan mereka menaiki tangga.Rumah memang sangat sepi.Jam segini semua pelayan sudah masuk kerumah belakang untuk istirahat.Hanya para penjaga yang bertugas dimalam hari.
Michael memutar knop pintu.Terkunci.
" berikan aku kunci cadangan Nic" desisnya.Berjingkat Nico menuju ruang kerja lalu kembali dengan kunci ditangannya.Pintu terbuka.Michael tersenyum lebar.tangannya merogoh saku jasnya,meraih kotak kecil yang sudah dia persiapkan sebagai kejutan.Ia masuk tanpa menutup pintu,sementara Nico masih berdiri membelakanginya.Michael terlalu bahagia malam ini.Dalam bayangannya Shinta akan terlonjak kaget dan memeluknya erat.
Beberapa langkah dari tempat tidur dia berhenti.Dalam keremangan dia bisa melihat dua orang ditempat tidurnya.mungkinkah Stephanie?ahh..tidak!adiknya itu tidak bisa tidur dengan kehadiran orang lain didekatnya.lalu siapa???
__ADS_1
"Nic,hidupkan lampu" teriaknya kencang.Dua orang yang ada disana terkejut hingga terlonjak kaget.Buru-buru bangun.Saat lampu menyala......wajah Michael yang bahagia berubah jadi dingin.Giginya gemletuk menahan marah,wajahnya memerah juga kilatan membunuh dimatanya.Tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih.Dibelakangnya,sekretaria Nico berdiri kaku membulatkan matanya tidak percaya.Disana...dikasur tuan mudanya ada Shinta dan Willy yang nyaris telanjang.Dua orang itu juga tidak kalah kagetnya hingga saling dorong dan memekik tak karuan.
Michael yang dikuasai amarah meraih tubuh Willy dan menghajarnya habis-habisan hingga nyaris meninggal.Nico yang melihat tuannya kesetanan berlari melerai sambil berteriak memanggil para penjaga untuk membawa Willy pergi.Sementara Michael yang masih emosi mendekati tempat tidur,menampar Shinta berulang kali hingga darah segar mengucur dari bibir dan hidungnya.Rumah menjadi gempar.Stephanie masuk sambil berteriak mencegah Michael memukul lagi.Dua kali gadis itu terbanting kelantai karena ulah Michael.Tapi dia tetap bangkit untuk menolong Shinta yang hanya terdiam.Nico menarik tuannya keluar sebelum ada pembunuhan dirumah ini.