Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Biarkan dia berusaha


__ADS_3

Stephanie membuka pintu secepat kilat.Mic yang duduk di kursinya menatapnya tajam,tidak suka.


"Apa aku sudah menyuruhmu masuk Steve?" katanya dingin.Stephanie tergugu.Dia terlalu emosi tadi hingga tidak berpikir tentang aturan yang dibuat Mic pada siapapun saat masuk ke ruangannya.


"Maafkan aku kak." ujarnya lemah.Mic tidak pandang bulu dalam aturannya.Semua orang yang datang padanya harus melewati Nico atau menunggu dia mempersilahkan masuk dulu baru boleh masuk.Stephanie juga salah satu diantaranya.


"Apa aku juga harus minta ijin dulu saat masuk kesini tuan muda?" ujar Shinta yang baru berada di ambang pintu.Mic berdiri dari duduknya.Senyum lebarnya menyambut Shinta masuk ke dalam.Stephanie sampai mengerutkan keningnya.Bagaimana bisa Mic tersenyum sebahagia itu sejak menikah?padahal kakaknya adalah tipe pria tak tersentuh dan kaku.


"Tentu saja tidak sayang.Kemarilah!" kata Mic sambil melebarkan tangannya.Shinta setengah berlari menuju pelukannya.Mic mencium pucuk kepalanya mesra.


"Kau dari mana saja hmm?" tanyanya sambil menuntun sang isti ke sofa lalu mendudukannya dengan sayang.Stephanie menatap jengah pada kakaknya yang berubah jadi bucin akut,lalu menyusul duduk.


"Kami dari rumah sakit Erika,memeriksakan kehamilan."


"Erika." gumam Nico membeo saat nama istrinya disebut.


"iya.menangnya kenapa?" semprot Stephanie sewot.Dia memang masih geram dengan Willy dan Nico.


"Tidak apa-apa nyonya." sahut Nico datar.


"Kenapa kalian periksa kesana?Erika belum lulus jadi dokter kandungan.Dia jug hanya ahli gizi disana.Jaraknya juga jauh." kata Willy ikut menimbrung duduk disamping Stephanie.


"Aku cuma bilang periksa disana,bukan periksa pada Erika.Apa telingamu bermasalah?" tukas Steve makin keras.Dia juga menampik tangan Willy yang mengelus perut ratanya.


"Steve!!bersikap sopanlah pada suamimu!" bentak Mic yang melihat Steve menyentakkan tangan Willy kasar.Seketika Stephanie mematung,tidak berani menatap kakaknya.Mata Willy berkaca.Hampir satu minggu dia diacuhkan,betapa ingin dia bercakap-cakap atau sekedar mengelus calon bayinya.Tapi Stephanie selalu menghindarinya.


"Maafkan papa yang jarang menanyakan kabarmu sayangku." kata Willy sambil menyeka ujung matanya.Stephanie menahan nafasnya.Hatinya trenyuh,tapi amarah dan keegoisan sudah meraja dihatinya.


"Steve..maafkan aku." suara Willy bergetar.Terlihat sekali pria itu sangat bersedih.


"Kau taukan aku tidak akan memaafkanmu sebelum..."


"Sebelum apa?" pangkas Michael.

__ADS_1


"Sebelum Erika kembali dan aku terbukti tidak bersalah kak." jawab Erika lemah.


"Untuk apa menunggu Erika kembali.Kalian bahkan sudah mengunjunginya.Kau bahkan sudah terbukti tidak bersalah karena istriku yang membawa Erika kesana.Jangan menghukum orang lain untuk kesalahan yang tidak dia perbuat Steve." Nasihat Mic membuat Stephani terhenyak lagi.Lidahnya kelu.Menjawab Mic sama saja dia berdebat dengan hujan.Dingin menusuk tulang.


"Tapi kak...dia lebih memilih Nico daripada aku." keluh Steve kemudian.Mic memajukan tubuhnya.Sorot matanya berubah garang.


"Kau bilang Willy lebih memilih Nico?Apa kau pernah tau jika tiap malam dia bahkan tidak pernah tidur dan mondar-mandir di depan kamarmu karena takut kau kenapa-napa?apa kau tau dia selalu menjagamu walau dari jauh?Apa kau tau kalau suamimu ini juga punya tanggung jawab lain selain sebagai seorang suami?Dia sahabat Nico Steve.Jangan menempatkan dia dalam situasi sulit." Shinta dan Steve terpana.Sejak kapan Michael berubah menjadi manusia yang hangat dan peka.Dia begitu peduli pada siapapun,sifat yang bisa dikatakan mustahil bagi Maverich junior itu.


"Kau tau,Nico bukan hanya sahabat bagi Willy,tapi juga seorang kakak.Willy tidak bisa bersikap egois karena hanya mementingkan dirimu." nasihatnya lagi.


"maafkan aku kak."


"Bukan padaku,tapi pada suamimu." tegasnya lagi.


"Jangan terlalu galak pada Steve mas,dia sedang hamil.Dokter bilang dia tidak boleh stess karena janinnya bermasalah." ujar Shinta.Willy mengerutkan keningnya.


"Bayiku kenapa kak?" Shinta enggan menjawab pertanyaan Willy.Dia memilih diam dan mengangkat dagunya pada adik iparnya itu.Tanda agar Willy bertanya langsung pada istrinya.


"Steve ....ada apa dengan bayi kita?"


"Aku ayahnya,aku berhak tau keadaan calon anakku."


"Steve terlalu stress hingga pertumbuhan janinnya terganggu." tukas Shinta kemudian karena tidak tega melihat Willy yang terus menatap sedih tanpa jawaban.Seketika pria itu berdiri.


"Ayo." perintahnya.Tapi tetap diacuhkan oleh Stephanie.Geregetan dia lansung mengangkat tubuh istrinya ke udara diikuti pekikan keras Steve.


"Turunkan aku kak!!kita mau kemana?" katanya sambil memukul-mukul dada Willy kuat namun diacuhkan oleh Willy yang sudah hampir menuju pintu.


"Keruanganku.Kita selesaikan masalah ini.Calon bayiku tumbuh tidak normal karena kurang asupan gizi dariku." tukasnya jenaka.Steve yang berang kembali berteriak hingga mereka menghilang di balik pintu.


"Kenapa kau masih disitu sekretaris Nico?"


"Maaf nyonya,saya menunggu perintah tuan muda."

__ADS_1


"Apa kau juga harus menunggu perinta suamiku untuk menyelesaikan masalahmu dan menemui Erika?" hardik Shinta tajam.Nico hanya diam dengan tatapan dingin.


"Temui dia jika kau laki-laki.Pakai cara apa saja agar dia memaafkanmu!" Lagi-lagi Nico membatu,tidak tau harus menjawab apa.


"Nic,apa kau dengar aku?jangan egois!pergi dan temui Erika sekarang.Selamatkan hubungan kalian."


kata Shinta berapi-api.


"Tidak sebelum saya membawa bukti jika dia bukan Sherlyana lee nyonya." jawan Nico penuh penyesalan.


"Bawa ini dan temui dia!" bentak Shinta sambil memberikan lembaran foto-foto Erika selama di camp daerah konflik dan bukti-bukti tiket serta dokumen yang diurus atas nama Shinta Maverich pada Nico.Sekretaris itu mengerjabkan matanya.Di raihnya lembaran demi lembaran dengan tangan gemetaran.


"Terimakasih nyonya." ujarnya penuh rasa takjub.


"Cepatlah Nic,dia akan pulang ke Indonesia."


"be..benarkah?"


"Jangan biarkan Zao merebutnya darimu.Dia bukan pria yang baik untuk Erika.Dia hanya akan memanfaatkan Erika untuk kesembuhan Win lee."


"nyonya tau itu?"


"Adrian yang memberitahuku.Erika tidak akan dibawa ke Indonesia,tapi kesuatu tempat untuk oprasi....." belum usai kata-kata Shinta,Nico sudah melesat ke pintu dan berlari ke dalam lift dan menghilang.


"Perintahkan orang untuk membantu Nico!" perintah Mic pada Aira yang sedari tadi hanya diam mematung.Gadis itu mengangguk lalu berpamitan keluar.


"Akhirnya kau mempertemukan mereka sayang." bisik Mic sambil merengkuh bahu istrinya.


"Adrian baru saja membertahuku mas.Aku tidak ingin Erika jatuh ketangn yang salah.Terlepas dari Nico mencintainya atau tidak,Erika masih berstatus istrinya.Nico wajib menjaganya." balas Shinta lagi sambil menjatuhkan kepalanya dalam pelukan hangat sang suami.


"hmmmm...biarkan Nico berusaha kali ini." ungkap Michael sambil mencium dahi Shinta.Tangannya meraba perut Shinta lembut.


"Apa adik El baik-baik saja?" Shinta tersenyum dan mencium pipi kanannya mesra.

__ADS_1


"Sepertinya dia rindu dadynya." keluhnya kemudian.


"Jadi kau iri pada Stev dan Willy?" kekeh Mic sambil membopong Shinta kekamar pribadinya yang tersembunyi dibalik rak buku.


__ADS_2