
Usai makan malam,Shinta berjalan ke kamarnya.Michael melirik dengan ekor matanya walau dia masih berbincang dengan Pramudya dan Willy.Pram yang mengetahui menepuk bahu menantunya.
"Pergilah istirahat,ini mungkin hari yang melelahkan bagimu".
" ayah juga harus banya istirahat."
"tentu saja"
Mic tersenyum lalu berpamitan menyusul Shinta.Dia mengeram saar Willy melemparkan senyum menggoda.
"Will,aku tidak suka tampang mesummu itu di depanku"
"saya biasa saja tuan,anda yang berpikiran negatif"
"akhir-akhir ini aku terlalu bersikap lunak padamu,hingga kau jadi pembangkang"
"saya tidak berani tuan"
"buang pikiranmu untuk menggodaku Will,kau sungguh menjijikkan"
"apa maksut anda tuan muda?"
"Kau terlalu mengagumi aku hingga punya penyimpangan seksual"
"saya pria normal tuan" tegas Will sambil mengangkat kepalanya.Dia geram sekali karena sejak kemarin Mic selalu mengira dia seorang homo.Mungkin otak tuan mudanya itu sudah geser dari tempatnya.
"aku tidak yakin.Kau tidak pernah punya pacar atau pergi berkencan" cibir Michael.Willy yang semakin kesal nekat menjawab perkataan Mic yang menurutnya berlebihan.
"Bagaimana saya punya pacar dan pergi berkencan kalau hati saya tetap memikirkan nona muda?" Willy spontan menutup mulutnya dengan sebelah tangan.Dia begitu kaget karena rekasi berlebihan yang audah dia lakukakan.Mic yang sudah ada di anak tangga membalikkan badan lalu turun lagi,Pramudya juga terlihat menghentikan langkahnya,pun Stephanie yang baru dari dapur hampir menjatuhkan gelas ditangannya.
"apa maksutmu Will?" Michael bertanya dengan tatapan tegas pada asistennya.Willy menunduk.
"apa mulutmu sudah tidak berfungsi?"
"ya tuan muda"
"katakan apa maksut perkataanmu?kau menyukai Steve?" Willy diam seribu bahasa.Dia melihat Stephanie yang masih tak bergeming.Sudah kepalang basah,Kalau saja Nico ada disini,maka dia berharap selamat.Tapi sekarang,sekretaris dingin itu tidak disampingnya.Dia harus menyelamatkan dirinya sendiri.
"iya tuan" Semu terkejut.Michael menarik nafas panjang.Willy sudah siap saat nanti sang tuan muda arogan itu murka dan memukulnya seperti saat di Singapura.
Detil demi detik berlalu,semua masih terdiam tanpa suara,hingga Willy jengah dan mengangkat kepalanya.Michael menatap datar padanya.
"Maafkan saya tuan"
Hening,tidak ada jawaban hingga Michael menatap Stephanie lalu beralih lagi pada Willy.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melarang perasaanmu pada Steve,tapi kau tetap harus berjuang sendiri untuk itu" Willy menegakkan badanya.Bibirnya bergetar menahan senyum lebar reaksi ucapan Mic barusan.Itu artinya dia mendapat lampu hijau dari sang majikan.
"terimakasih tuan"
"Tapi ingat Will,sekali kau menyakiti Steve..kupastikan itu hari terakhirmu melihat matahari!" Willy membungkukkan badannya .
"baik tuan muda"
"Steve" Panggil Michael pada adiknya.Stephanie mendekat dan terlihat canggung.Baru kali ini ada pria yang berani terang-terangan mengakui perasaannya di depan Michael.Jonathan Smith yang sudah berpacaran dengannya sekian tahun saja selalu berusaha bersembunyi dari Mic karena kakanya itu terlalu over protectif.
"Asisten tengil ini menyukaimu.Biarkan dia berusaha semampunya.Berlanjut atau tidak itu urusan kalian"
"Dia hanya menyukaiku kak,nanti juga hilang sendiri.mungkin hanya kekaguman sesaat" sahut Stephanie berusaha sesantai mungkin.Willy membelalakkan matanya.Bagaimana bisa nona muda tak berakhlak ini menuduhnya cuma cinta sesaat,sedangkan dia sudah mencintai gadis itu sejak pindah ke kediaman Abraham.
"Tapi saya mencintai anda nona"
"heyy...kau ini!apa kau tidak bisa sedikit romantis?kau,Nico dan kak Mic sama saja.Brengsek."
Willy tersentak lalu menatap wajah Stephanie yang cemberut.
"Kau ditolak asisten bawel" Lalu Stephamie berlari menaiki tangga,memasuki kamarnya.
"Maaf aku tidak bisa membantumu Will" ucap Mic dengan nada menggoda lalu berlalu kekamarnya.Tinggal Willy yang terpaku sendiri.Semudah itu Stephanie menolak cintanya dengan kata-kata yang kejam.
'aaarrrrggghhh' keluhnya sambil keluar rumah tanpa menoleh pada Pramudya yang hanya geleng-geleng kepala.
*******
"Singkirkan tanganmu tuan muda!" Terkesiap dengan sentakan Shinta,Mic tetap bertahan.
"sayang maafkan aku"
"kubilang singkirkan tanganmu!"
Mic mengalah dan berbaring di samping Shinta.Lagi-lagi wanita itu bergerak cepat menghindarinya.
"sayang kau kenapa?"
"kau yang kenapa?apa kau kira setelah semua yang kau lakukan padaku,aku akan memaafkanmu tuan?" Shinta mendecih sebal.
Lalu berdiri.
"kau mau kemana?"
"Tidur dibawah"
__ADS_1
"sayang kau..." Tapi Shinta sudah menutup pintu dengan kasar dan turun menuju kamar tamu lalu menguncinya rapat.
Michael termangu ditempatnya.Terlalu sulit mendapatkan maaf dari istrinya.
********
Shinta sudah menyiapkan makan pagi saat Michael muncul dibalik pintu.Wanita itu masih sibuk dengan perlangkapan makan yang dipegangnya.
"sayang,kau tidak perlu sibuk.Biarkan bi Sum yang menyiapkannya.Kau tidak boleh terlalu capek" ujar Mic sambil merengkuh bahu wanita cantik itu.Shinta yang geram akan melepaskan bahunya saat Pramudya berjalan kearah mereka.
"Ayah,mari makan bersama.Mana Rio yah?"
"Tadi masih pake seragam.Sebentar lagi kesini"
Makan pagi mereka terkesan dingin hingga selesai.Michael yang tidak biasa makan nasi dipagi hari terpaksa harus menyesuaikan diri karena Shinta sama sekali tidak berniat menyiapkan makanannya.Istrinya itu hanya memikirkan anggota keluarga lain.Dia juga tidak pernah diajak bicara.Michael menjadi orang asing dirumahnya sendiri.
"Steve,kau harus melanjutkan kuliahmu" suara bariton Mic memecah kesunyian.
"No.aku ingin disini saja"
"kau bisa kuliah disini,cari universitas yang kau suka" tegas Mic.Stephanie tertawa riang lalu memeluk kakaknya.
"tentu saja kakak.Sekarang aku browsing dulu ya..da..da...semuaa..." lalu si gadis riang berlalu menuju kamarnya lagi.
"Nak Mic,ayah akan berangkat ke toko sekalian barengan Rio berangkat sekolah" pamit Pramudya.
"Biar Willy yang mengantar Yah"
"Tidak perlu repot nak,ayah bisa sendiri.Ayah juga perlu jalan-jalan biar sehat" Michael menoleh pada Shinta yang masih diam.
"sebaiknya Willy yang mengantar yah.Mic tidak tega membiarkan ayah berjalan" Lalu spontan Mic berteriak memanggil Willy dan menyuruh menyiapkan mobil.
"sudah ya..ayah berangkat sekarang.Kalian baik-baik disini.Ayah dan Rio pasti akan sering berkunjung kesini." Mic mengangguk bersamaan dengan Shinta.Mereka mencium punggung tangan Pramudya lembut,lalu mengantarkannya sampai kemobil.
"Sayang,kau tidak ingin ketempat ayah?"
Shinta menggelengkan kepalanya yang terasa berat,lalu spontan dia berlari ke kamar mandi dekat dapur.
hooeekk..hooekk..
Seluruh makanan yang ditelannya dengan susah payah dia muntahkan keluar semuanya.Michael yang panik langsung menyusulnya ke kamar mandi.Dipijitnya tengkuk Shinta pelan.Dia begitu iba melihat wajah istrinya yang pucat karena terlalu banyak muntah.Meski Shinta berulang kali menepis tangannya,pria tampan itu tetap berusaha menggendong istrinya kekamar.
"turunkan aku.Aku mau ke kamarku tuan"
"kamarmu ada diatas nyonya.Kalau kau tidak mau sekamar denganku...aku akan tidur diruang kerjaku"
__ADS_1
"turunkan aku" teriak Shinta makin keras.Tapi Mic mengabaikannya.
"anakku akan berada ditempat yang layak nyonya" gumamnya pelan.