Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Curiga


__ADS_3

Tangisan baby El terdengar nyaring karena kehausan.Shinta yang baru mandi terpaksa langsung keluar tanpa sempat berganti baju.Tubuh berisinya hanya ditutupi bathrope pink selutut.Buru-buru diraihnya baby El dan disusuinya dengan penuh kasih sayang.


Michael yang mendengar tangisan El dari ruang kerjanya berlari menghambur masuk kekamarnya.Dia bernafas lega saat Shinta sudah ada.Istri cantiknya duduk membelakanginya sambil menyusui putra kesayangan mereka.Senandung kecil terdengar dari bibir manisnya untuk menidurkan sang bayi.Michael mendekat dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Apa El rewel lagi?"


"Dia hanya kehausan mas,sebentar lagi juga balik tidur.Udah selesai kerjaanya?" Mic menggeleng.Akhir-akhir ini dia memang dibikin kerepotan karena sering bangun larut malam untuk membuatkan susu baby El.Dia sangat kasihan melihat Shinta yang kelelahan sepanjang hari karena menjaga bayinya.Akhirnya,dia merelakan diri menggendong El jika dia menangis dan membuatkan susu jika Shinta tidak terbangun saat El menangis.Begini ternyata rasanya jadi seorang ayah.


"Apa kau menggodaku?" tanya Mic dengan wajah memelas.Shinta yang menyadari bahwa tubuhnya hanya berbalut handuk langsung terlonjak hingga baby El kembali menangis.


"Kau mengejutkannya sayang."


"mas saja yang terlalu mesum,aku juga tadi sedang buru-buru". Mic tertawa lebar mendengar istrinya menggerutu.


" Apa kita sudah bisa memulai program membuat adik untuk El sayang?" Michael mengerling nakal pada istri tercintanya dan membuat mata Shinta melotot.


"dasar mesum."


"Aku hanya mesum padamu sayang,bukankah itu wajar?apa kau ingin aku mesum dengan wanita lain hem?" elak Mic sambil tetap tertawa lebar.Shinta melengos kesal.

__ADS_1


"Kalau itu terjadi,aku akan pulang ke Indonesia mas." nada ketus terus saja keluar dari bibir Shinta tapi hanya ditanggapi gurauan oleh Michael.Semenjak baby El lahir,Mic memang terlihat sangat bahagia dan mudah tertawa atau tersenyum pada siapa saja.Wajah dinginnya berubah hangat demikian juga watak dan gaya bicaranya,Michael yang lebih manusiawi dan mengagumkan.


Smart phone diatas ranjang bergetar dengan bunyi lirih.Shinta yang hendak menidurkan baby El meliriknya sekilas.Dia mengrenyitkan dahi karena muncul nama Alicia disana.Hatinya berdesir,ada apa Alicia menelepon hp Michael?apa Mic masih berhubungan dengan gadis itu?


Shinta menyentuh hp itu dan berusaha membukanya,terkunci.Berulang kali dia mencoba memasukkan beberapa kombinasi angka mulai tanggal lahir dia atau Mic,hari pernikahan,dan sebagianya...tapi hasilnya nihil.Berjuta pertanyaan hinggap di dadanya.Selama menikah dengannya Mic tidak pernah merahasiakan apapun,termasuk mengunci layar hpnya.Ada yang tidak beres dengan Mic.


Shinta buru-buru meletakkan hp itu saat mendengar langkah Mic hendak keluar dari kamar mandi.Ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.Mic mengecup keningnya sekilas lalu keluar dengan hpnya.Dengan langkah hati-hati dia mengikuti Mic keruang kerjanya.Ruangan itu memang kedap suara,jadi tidak ada gunanya Shinta mau menguping atau melakukan hal lainnya.Dia mencoba menepis prasangkanya dengan kembali ke kamarnya.


pagi menyapa semua penghuni dunia.Shinta sudah bangun lebih awal dan menyiapkan keperluan suaminya,juga sudah mengurus menu yang ada didapur.Sarla dengan senang hati menerima daftar menu untuk seharian ini dari nyonya mudanya.Saat kembali kekamar,Mic sudah selesai mandi dan kini sedang menimang baby El yang sibuk tersenyum karena tingkah dadynya.Bayi hampir tiga bulan itu memang lucu dan menggemaskan dengan pipi gembulnya.


"Mas,biar aku memandikan El dulu ya.Kamu siap-siap,aku takut kamu kesiangan" Mic segera mengangsurkan baby El pad Shinta setelah berulang kali menciumi pipi putra tampannya.Shinta menggendong bayinya lalu masuk kekamar mandi.Mic meneruskan aktivitas berpakainnya lalu menuju ruang utama tempat Nico menunggunya.


"Selamat pagi tuan muda.Jadwal anda pagi ini meeting dengan Cloney.."


Kamar yang Shinta tempati saat hamil dan melahirkan baby El dilantai satu memang tidak terkunci rapat hingga dia bisa mendengar pembicaraan Nic dan Nico tadi.


"bertemu orang spesial?" perang batin berkecamuk dalam diri Shinta.apakah dia harus meragukan Mic yang sudah begitu berharga baginya dan baby El?sedangkan selama ini Mic begitu perhatian dan sayang pada mereka.Dia juga pria yang sangat mengerti kebutuhan dan keluhan Shinta.Tapi apa salah jika dia sekedar ingin tau dengan siapa suaminya bertemu hingga membatalkan semua jadwalnya hari itu?


Berlahan,dia keluar kamar sambil menggendong baby El mendekati tempat Mic sarapan.Pria itu segera menarik kursi untuk Shinta dan mengambilkan roti untuk istrinya.

__ADS_1


"sayang makanlah dulu,Aku tidak ingin kau sakit karena telat sarapan." Shinta menatap Michael intens.Pria ini benar-benar sangat manis dan perhatian padanya.Sikapnya sudah berbanding terbalik saat mereka pertama kali bertemu.Dia mengerjabkan matanya,membuang pikiran jelek yang menghantuinya.


"Nanti aku akan pulang agak malam,sebaiknya tidak usah menungguku.Kau bisa makan malam dan tidur lebih dulu." kata Mic dengan nada pelan.


"mas mau kemana?"


"Ada sesuatu yang harus kukerjakan sayang.Jaga dirimu dan baby El baik-baik ya" ucap Mic seraya mencium kening Shinta,membelai pipi El lalu melamgkah keluar diikuti sekretaris Nico .


Sepeninggal Mic,Shinta menimang baby El sambil berpikir tentang kecurigaan yang terus muncul dalam benaknya.Waktu sudah hampir tengah hari.Dadanya terasa sangat sesak oleh berjuta pertanyaan yang ingin dia tau jawabannya.


"Aira kemarilah"


"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" Shinta menatap lekat adik Nico yang sebelas dua belas dengan kakaknya itu.


"Siapkan mobil,aku ingin ke Luxio sekarang.Ingat,jangan memberi kabar apapun pada Nico atau suamiku." kata Shinta tegas.


"baik nyonya." ucap Aira tak kalah tegas.Gadis itu memang dipindah tugaskan menjaga Shinta setelah baby El lahir.Michael yang over protective memang tidak menginginkan sesuatu terjadi pada anak dan istrinya.Bergegas Shinta masuk kekamar lalu mengganti bajunya dengan gaun merah maroon yang sangat kontras dengan kulitnya.


"Mia,bisakah aku menitipkan El sebentar padamu?Aku ingin ke LUXIO sekarang"

__ADS_1


"Tentu saja nyonya." ujar pelayan setia berbadan tambun itu sambil menggendong El dalam pelukannya.Dia memang sangat menyayangi El karena menginginkan seorang anak diusianya yang sudah tidak muda lagi.


Aira sudah berdiri didekat mobil dan membuka pintu untuk Shinta.Aira berulang kali melirik wajah nyonya mudanya yang sulit ditebak.Selama dia bekerja di Luxio,baru sekarang nyonya mudanya itu menginginkan untuk berkunjung ke perusahaan suami tampannya itu.Asisten itu menngelengkan kepalanya,lalu kembali fokus kejalanan.


__ADS_2