
Willy menajamkan pandangannya.Ruangan yang gelap dan sisi tangga yang dia juga tidak tau pasti kemana arah dan bentuknya harus memaksanya ekstra hati-hati dalam bertindak.Dia dan Nico juga memelankan langkah agar tak terdengar oleh siapapun.Mereka hanya mengandalkan insting.Bagaimanapun mereka tidak bisa percaya Hyun tay begitu saja.Repurtasinya sangat tidak ada bagus-bagusnya selama bekerja di klan Yamamoto.Menunggu kedatangan polisi juga hanya akan membuang waktu.Tidak ada pilihan lain selain maju.
Mereka bertatapan satu sama lain saat menemukan percabangan lorong di depannya.Sama-sama remang-remang.Nico mengisyaratkan arah kanan,Willy dengan sigap memimpin gerakan.Disaat seperti ini mereka hanya harus saling melindungi.Pakai teknik menyebarpun bukan waktu yang tepat karena mereka tidak tau dimana berakhirnya lorong itu sedangkan mereka harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Erika.
Nico menarik nafas berulang kali.Bertahun-tahun bekerja pada Michael maverich dengan berbagai misi berbahaya tidak pernah membuatnya segugup sekarang.Biasanya dia selalu tenang,dingin dan hati-hati.Pelan tapi pasti mereka menyusuri lorong itu hingga sampai di sebuah pintu.Jantung Nico berpacu kencang.
Willy mendobrak pintu itu dengan satu tendangan kuat hingga terbuka lebar.Menantu keluarga Maverich itu menodongkan pistol di kedua tangannya lalu bergerak maju.Ada lima orang disana.Zao berdiri terpaku di tempatnya,masih memegang gunting pada tangannya dan alat operasi lainnya.Profesor itu tersenyum miring.Darah Nico seketika mendidih melihat Erika yang terbaring lemah namun matanya masih terbuka karena pengaruh obat bius yang belum merasuk sepenuhnya.
"mas....tolong a...." bisik Erika lemah sebelum kehilangan kesadarannya.Nico mengepalkan jarinya kuat saat merasakan ada benda dingin menyentuh tengkuknya.Dua orang menutup pintu ruangan,sedang dua lainnya menodongkan senjatanya pada Willy dan Nico yang seolah kehilangan kewaspadaan karena bertemu Erika.Beberapa orang membarikade ranjang Erika dan mengeluarkan senjatanya.Ruangan itu menjadi panas.
pok..pok...pok..
"Sesuai prediksiku,akhirnya kau datang juga pahlawan." kata Zao sambil bertepuk tangan.Tubuhnya berbalik menghadap pada mereka.
"Letakkan senjatamu!" bentak orang tadi.Tanpa menoleh Nico dan Willy serempak meletakkan senjatanya ke lantai lalu berdiri berlahan.
"Kau....mau kau apakan istriku?" desis Nico meredam amarah.Matanya berkilat penuh kebencian.Pria tampan berdarah Eropa-Korea itu maju dan mencengkeram kerah kemeja Zao yang mengulas senyum lebar seolah tanpa rasa berdosa.
"Jangan bergerak!" teriak pria yang menodongkan senjata padanya.Nico berdecih sebal.Menoleh ke arah Willy yang tetap senyum-senyum lucu tanpa ekspresi takut.Nico kembali menatap lurus pada Zao,tanpa menghiraukan siapapun.
"Ternyata hanya segini kemampuan ?orang-orang Maverich yang tersohor itu?sampah!" ejek Zao sambil memutar-mutar gunting di tangan kanannya.Willy tersenyum geli mendengarnya.Dia bahkan sesekali menowel pipi pria tinggi besar yang menodongnya dan tersenyum jenaka.Pria itu melotot marah namun Willy tetap saja mengerjainya hingga berulang kali tangannya ditepis kasar oleh si hitam.
"Kembalikan Erika padaku."
"ha..ha..ha...kau mimpi heh?" balas Zao pongah.
__ADS_1
"Tutup mulut busukmu itu Zao.Aku bahkan bisa menghabisimu sekarang!di luar sana polisi sudah mengepung tempat ini." sentak Nico dengan gigi gemletuk.Profesor Zao hanya tersenyum smirk.Dirabanya saku jas putihnya lalu menarik sebuah kertas dari sana.Dia menyerahkannya pada Nico.Sebuah surat pernyataan donor sumsum tulang belakang dan lever.Ingin rasanya Nico meremas surat itu dan melemparknnya pada Zao saat itu juga.Tapi dia ingat,memukul anjing juga memerlukan tongkat.
"Profesor,kau melupakan sesuatu."
"Aku selalu perfect." balas Zao percaya diri.
"Kau lupa jika Erika masih istriku.Dia tetap membutuhkan persetujuaku."
"kalian sudah bercerai."
"Pengadilan belum menyidangkan atau memutuskannya.Sekarang,dia masih nyonya Nicholas Kendrich."
"Erika sudah setuju dan menerima kompensasinya sekretaris Nico."
"Apa ini?kau menukar organ Erika dengan Win lee?putramu?" tanya Nico tidak percaya.
"ha..ha..ha...iya tuan sekretaris.Anak itu dan ibunya hanya merepotkanku saja.Kau tau,dari ibunya aku dapat banyak uang karena aku mengambil seluruh organ tubuhnya baik sebelum atau setelah dia meninggal.Anak ini...jika aku tidak ingat ada darahku yang mengalir ditubuhnya,pasti dia akan jadi korban berikutnya.Untunglah istri bodohmu itu datang dan menggantikan posisi keponakannya ha..ha..." Nico ingin muntah mendengar penuturan Zao.Tatapan jijik menyelimuti wajahnya.
"Kau ini ayah macam apa?binatang saja lebih terhormat darimu." kecam Nico kemudian.
"Aku disumpah untuk mengabdi pada kemanusiaan tuan Kendrich.Lalu apa salahnya jika aku membantu mereka?"
"caramu yang salah profesor."
"salah?aku benar jika itu untuk menyelamatkan nyawa orang lain."
__ADS_1
"Dengan mengorbankan orang-orang tidak berdosa?"
"Aku tidak memaksa,mereka yang datang suka rela padaku karena aku memberikan kompensasi besar.Semua sesuai prosedur."
"Kau gila!!" bentak Nico.
.......dorrrr!!!.…...
"Sudah cukup main-mainnya Nic.Aku sudah muak!" teriak Willy setelah melepaskan tembakanya.Zao roboh dengan lengan bersimbah darah,begitupun dua orang yang menodong mereka.Darah mengucur dari kaki keduanya.Lima orang yang membarikade ranjang juga bergelimpangan karena tusukan pisau kecil di dada mereka.Willy tersenyum miring.
"Jangan pernah meremehkan kekuatan Maverich di depanku profesor.Karena aku dilatih untuk membela mereka." tukasnya kemudian.Menjadi tuan muda baru tampaknya tidak mengurangi ketangkasan sang mantan asisten dalam pertarungan.Dia tetap seorang pejuang tangguh.
"Bawa Erika Nic.Biar polisi yang membereskan sindikat penjual organ ini." Nico mengangguk,melangkah mendekati brankar dan mengangkat tubuh Erika.Mereka keluar diiringi teriakan panjang Zao yang sangat marah.Willy menyegel pintu lalu mengikuti langkah Nico naik ke atas.
"Kita bawa dia pulang Will." ujar Nico bergetar.Willy melirik sahabatnya itu dengan tatapan takjub.Betapa pria dingin itu terlihat risau.Dia bahkan tidak mengijinkan siapapun membantunya menggendong istrinya.
"Kau yakin akan langsung membawa dia pulang?atau kita memberikan perawatan padanya dulu?" tawar Willy.
"Tidak Will.Dia hanya terkena obat bius."
"Baiklah.Kak Mic sudah mengijinkan kita menggunakan jet pribadi papa mertua untuk kembali.Sebaiknya kita cepat berangkat Nic." sahut Willy lagi.Sesaat Nico terkesiap.Jet itu bahkan hanya digunakan oleh tuan besar Abraham saja.Michael juga tidak akan menggunakannya jika tidak dalam kondisi darurat.Tapi kini....ahh...betapa keluarga itu terlalu baik padanya.Betapa tuannya itu sangat menyayanginya,tuan yang bukan hanya majikannya,tapi juga keluarganya.
"Win lee ..."
"Anak buah kita sudah membawanya lebih dulu kesana." pungkas Willy.Nico menarik nafas lega.Erika sangat menyayangi anak itu.Salahkah dia jika ingin memastikan Win lee baik-baik saja?perasaan apa ini?seolah seluruh prioritas dalam hidupnya adalah wanita dalam rengkuhannya kini.Wanita sederhana,mandiri dan bersahaja.Erika....istrinya.
__ADS_1