Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Aku hamil


__ADS_3

Pramudya dan Rio menyambut semua tamu dengan keramahan khas orang timur.Abraham memeluk mereka bergantian,begitupun baby El yang terus menjadi pusat perhatian.Bayi gembul nan tampan itu bergelayut dileher kakeknya sambil sesekali tersenyum saat Rio menggodanya dari belakang.


Abraham terlihat akrab dengan sang besan walau dia hanya mengobrol sebentar karena punggungnya mulai berdenyut nyeri dan meminta Misca mengoleskan balsem pereda nyeri.Mereka berpamitan untuk istrirahat di lantai atas,sedang Michael dan Shinta masih asyik mengobrol.


"Bagaimana kabar tokonya yah?" tanya Shinta saat Pramudya menyerahkan baby El yang merengek minta kembali pada momynya.


"Alhamdulilah semua lancar nak.Rio juga kerasan tinggal di toko.Lebih nyaman katanya." jawab Pram sambil tersenyum lebar.Shinta memperhatikan ayahnya yang terlihat sangat sehat dan kembali seperti dulu.Di elusnya kepala Rio yang ada di sebelahnya.Adiknya itu juga terlihat sangat bahagia.


"Apa tidak sebaiknya ayah menempati rumah ini saja?Kami juga akan jarang mengunjungi ayah karena sudah menetap di Amerika." kata Michael.Pramudya menggeleng.


"Ayah sudah bahagia disana nak Mic.Kenangan ibunya Shinta sudah membekas disana."


"Aku tau ayah,tapi terasa tidak tega melihat ayah dan Rio disana."


"Ayah akan kemari jika rindu kalian." Michael tertawa.Shinta lagi-lagi mengagumi ketampanan suaminya.Michael memang jarang tertawa,tapi punya sejuta pesona dalam diam dan tawanya.Dalam hati dia merasa beruntung memiliki suami seperti Michael.Suami yang menyayangi dirinya,anak dan keluarganya.


"Sayang,mau sampai kapan kau menatapku seperti itu hem?Apa aku terlalu tampan untukmu?" Bisik Michael yang langsung dihadiahi cubitan kecil oleh Shinta.Tawa mereka berderai melepas kerinduan.Dua jam kemudian Pramudya dan Rio pamit pulang sebentar karena ada janji bertemu dengan pengirim kayu dari luar kota.


Michael memeluk baby El yang sudah terlelap dalam gendongannya lalu menuju tangga.Shinta mengikutinya,namun beberapa langkah di depan dia mendengar sesuatu dari kamar Stephanie.Mic hanya melihat istrinya yang mengetuk pintu lalu masuk ke kamar adiknya,sedang dia sendiri memilih masuk ke kamarnya dan menidurkan El.


"Apa kau baik-baik saja Steve?" Shinta menatap wajah Steve yang pucat dan berkeringat dingin.Sudah beberapa kali nona muda Maverich itu bolak balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya hingga tak bersisa.


"Tubuhku terasa tidak enak sekali kak."


"Mau aku panggilkan dokter?" Steve menggeleng.Dia merebahkan tubuhnya di ranjang dengan tatapan menerawang.


"Ada apa sebenarnya Steve?" Shinta duduk ditepi ranjang sambil membelai rambut Stephanie.


"Aku hamil kak."

__ADS_1


"kau......" masih dengan nada gamang,namun diangguki dengan kuat oleh Steve.Tangannya menarik sesuatu dari tas tangan yang tergeletak di ranjang.Sebuah testpack bergaris dua.Sesaat Shinta bengong tidak tau harus bagaimana.Gengaman erat Stephanie pada tangannya baru membuatnya tersadar.


"Tolong jangan bilang pada siapapun kalau aku hamil kak."


"tapi kenapa Steve?Willy harus tau kalau kau hamil agar perceraian ini tidak terjadi." namun lagi-lagi Stephanie menggeleng.


"Biarkan kak Willy meninggalkanku tanpa rasa berdosa kak.Aku akan ke Inggris dan membesarkan anakku disana."


"kau?Inggris?"


"ya,ada saudara perempuan dad yang tinggal disana kak."


"Apa kau yakin ini keputusan terbaik Steve?apa kau yakin akan memisahkan anak tak berdosa ini dari papanya?" Stephanie kembali menangis terisak.Shinta memeluknya erat.Dia juga pernah berada diposisi Stephanie saat ini,dia tau betul bagaimana perasaan adik iparnya itu sekarang.


"Berjanjilah padaku kalau kau akan diam kak.Kumohon." Shinta mengangguk.


Michael memberikan ijin pada Nico dan Erika untuk pulang lebih awal hari ini.Pasangan pengantin baru itu segera meninggalkan rumah Mic untuk menuju ke kediaman orang tua Erika.Mic merasa itu adalah hal penting bagi Nico mengingat sekretaris tampan itu tidak pernah absen satu haripun saat bekerja padanya.Melihat Nico bahagia,hatinya juga ikut gembira.


Shinta masuk ke kamarnya.Melihat keseluruh kamar untuk mencar suaminya.Dia baru sadar jika balkon sedang terbuka,berarti Mic ada disana.Benar saja,suami tampannya itu sedang melihat langit sambil menopangkan dirinya pada pagar balkon.Shinta memeluknya dari belakang.


"Apa kau sedang meminta sesuatu sayang?" sergah Michael.Dia tau betul jika istrinya itu bukan wanita yang suka mengumbar kemesraan setiap saat,sama seperti dirinya.


"mas..."


"hemm..."


"jangan pernah meninggalkanku."


"Kau bicara apa sayang?kau tau aku tidak akan melakukan itu." Shinta menyandarkan kepalanya di punggung kekar Michael.

__ADS_1


"Sayang,sebaiknya kau istirahat dulu.Ada sesuatu yang harus kukerjakan."


"Mau kemana mas?"


"Aku hanya akan keluar sebentar."


"Apa aku tidak boleh ikut?"


"Apa kau begitu takut kalau suami tampanmu ini dijerat para janda diluar sana?" Shinta tertawa masam.Dia tau Michael tidak akan melakukan itu.Suaminya adalah pria dingin tak tersentuh,hanya pada keluarganya saja Michael bersikap hangat.


Mic mengambil jaketnya,lalu memakainya.Dikecupnya kening dan pipi Shinta lembut.


"Aku pergi dulu." ujarnya sambil memasukkan hpnya ke dalam saku.Shinta mengangguk,mengantarkan suaminya ke lantai bawah dan menunggu hingga Mic menghilang dari gerban.Wanita cantik itu menghela nafasnya.


Kembali naik ke atas,Shinta kembali mampir ke kamar Stephanie.Tampak adik iparnya itu sedang menelepon seseorang.Dia memutuskan sambungan telepon saat melirik bayangan Shinta dari cermin meja rias.


"Kau mau ke tempat bibi?" Tadi tanpa sengaja Shinta mendengar pembicaraan Steve yang memesan tiket pesawat.Wanita itu mengangguk sambil merapikan beberapa pakaiannya ke dalam koper kecil.


"iya kak.Lebih cepat lebih baik.Aku tidak bisa menyembunyikan kehamilanku lebih lama.Morning sickness ini begitu mangangguku." keluh Stephanie.Dia masih saja berlagak ceria,padahal matanya bengkak karena menangis terlalu lama.Shinta mengelus bahu iparnya.Stephanie memeluknya lalu menumpahkan tangisannya di bahu Shinta.


"Steve,kumohon pikirkan lagu keputusanmu.Aku sangat tidak ingin calon keponakanku kehilangan kasih sayang papanya." Masih menangis sesengukan,Stephanie menggelangkan kepalanya kuat.


"Aku hanya melakukan kesalahan kecil kak,tapi Willy sudah berniat menceraikan aku.Dia juga sudah mencari penggantiku,apalagi yang harus kupertahankan?"


"ahhh Steve....maafkan aku yang tidak bisa melakukan apapun untuk membantumu."


"Kau tetap kakak ipar dan sahabat terbaikku.Aku sangat menyayangimu kak." Shinta mengangguk pelan.Kesedihan meraja didadanya.Stephanie seolah bagian dalam hidupnya yang rela melakukan apapun untuknya.Ingin rasanya dia berlari memberitahu Mic tentang kondisi Stephanie sekarang,tapi dia sudah berjanji untuk tidak bicara pada siapapun.


Tapi kemana Michael sekarang?Seingat Shinta dia juga baru menelepon seseorang tadi.Tidak biasanya Mic merahasiakan sesuatu darinya.

__ADS_1


__ADS_2