
Hampir sore hari saat Michael dan Shinta menginjakkan kaki di kediaman Maverich.Seluruh pelayan berbaris menyambut majikan mereka yang sudah lama tidak pulang,terutama Shinta.
"Selamat sore tuan,nyonya,selamat datang kembali" ucap bibi Chun,kepala pelayan senior lalu membungkukkan badannya diikuti yang lain.
"hmmm" balas Michael dingin.Lain halnya dengan Shinta yang langsung memeluk mereka satu persatu seolah bertemu keluarga yang lama berpisah.
"Nyonya..."
"hey,kenapa kalian menangis?
" kami hanya tidak menyangka kau akan kembali kemari nyonya.Sungguh,kami merindukanmu." Ucap Sarla sambil menghambur dalam pelukan Shinta.
"eehhhmmm" deheman keras Michael membuat mereka semua mundur dan kembali berbaris rapi.
"Sayang,kau harus mandi dan istirahat sebentar.Kasihan anakku yang pasti sangat capek didalam sana.Nanti kau bisa melanjutkan acara kangen-kangenan ini setelah makan malam."
"hah...kau hamil nyonya??selamat nyonya,semoga bayimu sehat selalu" pekik Mia tertahan lalu memeluk paksa Shinta yang berada dalam rengkuhan Michael.Sang tuan muda mengeram kesal.Shinta yang tau suaminya marah langsung mengusap lembut tangan Michael yang melingkar dipinggangnya.
"terimakasih Mia.Nanti kita berkumpul lagi ya,aku istirahat sebentar.Sampai jumpa nanti"
"baik nyonya" Lalu Shinta mengikuti langkah Michael yang membawanya ke kamar mereka.
"Sayang kau tau,sekarang kau bukan lagi pembantu seperti mereka.Kau harus menjaga jarak dan perilaku didepan mereka" ucap Michael sambil membuka baju atasnya dan meletakkannya ke keranjang cucian.
"Mas,mereka teman-temanku.Mereka sangat baik padaku.Tolong jangan melihat mereka dari strata sosial.Orang dihormati karena perilakunya,bukan stratanya"
"Jadi kau pikir mereka tidak benar-benar menghormati aku?"
"fifty-fifty.Separuhnya karena takut saja padamu" Ujar Shinta yang mendekat dan memeluknya.Entah sejak kapan dia selalu ingin memeluk Mic,bersandar pada dada bidangnya dan mendengarkan detak jantungnya.Pria itu membalas pelukan Shinta hangat.
"Aku hanya tidak ingin mereka melecehkanmu sayang"
"tidak akan mas,mereka sangat baik dan tulus padaku.Kau harus percaya itu" tukas Shinta yakin.Michael hanya mengangguk samar.
"Sebaiknya kau mandi dulu sayang"
"ehmmm....boleh aku minta sesuatu?"
"apa?aku akan berusaha mengabulkannya"
"Aku cuma minta creambath dari tanganmu mas" ucap Shinta serius.
"cuma itu?"
"ya.Kau pikir apa?"
__ADS_1
"Bahkan walau kau meminta sebuah istanapun,aku akan tetap memberikannya"
"ha..haa...untuk apa mas?Aku cuma butuh rumah kecil saja untuk bersamamu dan anak-anak kita nanti"
"Kau sungguh terlalu sederhana sayang"
"Aku juga suka pria sederhana sepertimu" Jawab Shinta sambil menowel hidung mancung Michael.
"Aku ini pria yang tampan dan luar biasa.Bagaimana bisa kau menyebutku sederhana?" sungut Michael kesal.
"ha...ha..jangan marah mas,jalan hidupmu sangat sederhana.Bekerja dan rutinitas.Kau juga mencintaiku dengan sederhana,tapi aku sudah menganggapnya luar biasa" Shinta mengelus rahang kokoh suaminya dan mengecup pipi kiri Michael sangat lembut,hingga pria tampan itu memejamkan matanya,menikmati tiap sentuhan istri kecilnya.
"Kau satu-satunya wanita yang kuijinkan menyentuh tubuhku sayang" lirih Mic seraya menangkap tangan Shinta dan mencium ujung jarinya tak kalah lembut.
"Aku tau kau bukan casanova.Tapi bukankah Alicia pernah hadir dalam hidupmu?"
"Alice hanya terobsesi padaku.Saat kami berhubungan dulu,aku juga sangat menjaga jarak dengannya"
"Kau pernah menciumnya?" Shinta berdecak kesal saat Mic menganggukkan kepalanya.
"Kau pernah tidur dengannya?" Shinta yang semakin penasaran malah menanyakan hal tidak penting yang mungkin akan menyakiti hatinya.Lagi-lagi Mic mengangguk.Shinta melepaskan pelukannya,menyembunyikan tangisnya dengan berdiri membelakangi Michael.Ternyata pria itu tidak sesederhana yang dia pikirkan.
Mic merengkuh pinggang Shinta lalu membawanya menghadap ke kaca rias.Pria itu bisa melihat air mata Shinta meleleh.Tangisan tanpa suara.
"Kenapa kau tidak bertanya apa aku pernah bercinta dengan Alicia atau tidak?" bisik Mic ditelinga kanan Shinta.
" tentu saja beda sayang.Kami pernah tidur bersama saat masih bocah karena Alice kecil selalu saja menguntirku kemana-mana.Dia memang tidak mandiri seperti Shania.Tapi kami tidak pernah bercinta".Mic mencium pipi Shinta hingga wanita itu tersipu malu.
"Kau satu-satunya wanita yang kubawa keranjangku Shinta" tegas Mic,lalu membalikkan badan Shinta menghadapnya.Mata birunya menatap manik mata kecoklatan milik Shinta.
"Hanya kau yang akan jadi ibu anak-anakku Shinta". Shinta memeluk Michael erat.
" Maafkan aku yang berburuk sangka padamu mas"
"hmmmm...sekarang ayo mandi.Hari ini aku akan buka salon darurat untukmu" tanpa menunggu jawaban,Michael menganngkat tubuh mungil istrinya kekamar mandi.
*******
Hampir seminggu berada dirumah keluarga Wijaya membuat Alicia sudah sedikit pandai memasak bahan sederhana.Selam itu pula nyonya Wijaya selalu mengajarinya berbagai kegiatan wanita yang sangat asing bagi Alice.Siang itu mereka sedang sibuk merangkai bunga saat Adrian masuk dan menyapa mamanya.
"Untuk apa mengajarinya lagi ma?aku yakin Alice akan kesulitan.Dia tidak sama dengan Shania yang rajin dan bisa segala hal"
"Aku bukan Shania kak"
"ya karena itu aku minta mama berhenti mencetakmu jadi Shania"
__ADS_1
"Jadi tante ingin aku seperti Shania?" tanya Alice dengan wajah terluka.Nyonya Wijaya menggeleng kuat.
"Alice,kau salah paham.Aku mengajarimu karena aku sayang padamu.Pada Shania..akubtidak pernah mengajarkan apa-apa karena dia sudah terampil segala hal.Aku jadi merasa minder didekat Shania.Tapi bersamamu,aku seperti menemukan Putri kecil yang telah lama kurindukan" kata yang terdengar tulus,menyentuh hati Alicia penuh sesak hingga membuatnya sulit bernafas.
"Alice,maukah kau jadi menantu tante?" Alicia tercenung.Matanya mengarah pada Adrian yang berada dihadapannya sambil menyilangkan tangan ke dada.Tidak ada ekspresi apapun disana,hingga Alicia menarik kesimpulan kalau Adrian tidak menginginkan semua ini.Alicia menundukkan wajahnya lalu menggelangkan kepalanya.
"Maafkan saya tante,saya punya impian saya sendiri" katanya lemah.Nyonya Wijaya tersenyum samar menahan kekecewaannya.
"Tidak apa-apa Alice,kau tetap jadi anak tante sampai kapanpun." Alicia mengangguk.Hp dalam saku nyonya Wijaya berdering,wanita itu berjalan sedikit menjauh dari mereka.Waktu itu tidak disia-siakan Alicia untuk pergi dari sana.Dia tidak sanggup berada terlalu lama didekat Adrian.Hatinya terlalu sakit.Langkah gontai menuntunnya ketepi kolam.Tak terasa air matanya menitik.
Apa mencintai akan terus sesakit ini?Cukup sudah dia berlari dari hati satu kehati yang lainnya tapi ternyata dia tetap tidak bisa berpindah kelain hati.Hanya Adrian yang tertoreh dihatinya.Tapi pria itu sudah menutup hatinya rapat-rapat.Ada atau tidak ada Shania akan berakhir sama baginya.
"Apa ini yang kau namakan impian sendiri?" Suara berat mengagetkannya.Dia bisa melihat bayangan Adrian yang ada dibelakang tubuhnya dari pantulan air kolam.
"Apa selamanya kau akan menyakiti dirimu sendiri dengan pura-pura tidak mencintaiku dan menolak lamaranku?" Adrian masih memburunya dengan pertanyaan yang masih sukar dia cerna.
"la..lamaran?"
"iya.Mama tidak akan berani melamarmu kalau bukan aku yang memintanya"
"k...kau...."
"Alice berhentilah menyiksa dirimu sendiri dan tolong wujudkan keinginn terakhir Shania"
"a...apa maksutmu kak?"
"Shania ingin aku menikahimu disaat-saat terakhirnya.Kau bisa menanyakan ini pada mamaku atau seluruh keluarga kita di Amerika"
"la..lalu kenapa k..kau akan menikahi Shinta?"
"Karena aku tau,hanya itu yang bisa memancingmu datang padaku.Aku sudah menangkap orang suruhanmu" Alicia tercekat.kakinya melangkah mundur hingga menyentuh pinggir kolam.Adrian meraih pinggangnya dan merapatkan tubuh Alicia padanya.
"Katakan!"
"a...apa?"
"Katakan kau menerima lamaranku!"
"ti...tid..." Adrian sudah memotong dengan ciuman dalam.Dia menggigit bibir bawah Alicia agar mau menerima ciumannnya.
"stop..a..aku bukan Shania!" Teriaknya berusaha melepaskan diri.
"Aku bilang aku mencintaimu Alicia!" desis Adrian tepat diatas bibir Alicia yang spontan terbuka karena terkejut.
"Besok kita ke Singapura untuk melamar dan menikahimu"
__ADS_1
"Aku tidak mau!"
"Aku mau Alice,dan kau harus menurutiku!" sentak Adrian lalu kembali mencium Alicia tanpa perlawanan.