
Mendung bergelayut dilangit malam itu.Shinta masih mondar mandir diruang tamu,menunggu Michael pulang.Sudah hampir jam sembilan,dan hujan rintik-rintik juga turun membasahi bumi,makin lama makin deras.Sejak pergi siang tadi suaminya itu belum kembali dan tidak bisa dihubungi.Perasaannya menjadi tidak enak.Apalagi Stephanie sudah memberi tahu kalau dia tidak pulang malam ini.
Setengah jam kemudian sebuah mobil mewah memasuki gerbang.Nico turun lebih dulu membuka payung lalu membuka pintu mobil.Mic keluar dan langsung masuk kerumah.Shinta membuka pintu.
"Selamat malam,kalian dari mana?" Michael diam sambil mengibaskan lengan bajunya yang terkena air hujan.Tanpa menjawab dia berlalu duduk disofa.
"kami dari notaris nyonya." ucap Nico sambil menyerahkan map biru tua pada Shinta.Wanita itu menerimanya dengan tatapan bingung.
"untukku?"
"Iya nyonya?"
"ke...kenapa aku?" Nico melirik Michael yang duduk tenang di sofa seolah minta persetujuan.Saat sang tuan hanya diam,berarti itu lampu hijau baginya.Itu artinya dia yang harus menjelaskan semuanya pada sang nyonya.Sedangkan tuannya tinggal terima beres dan duduk tenang disana.
"Itu surat-surat tanah dan saham milik Luxio diseluruh cabang Indonesia yang dialihkan atas nama anda nyonya."
"a..aku tidak mengerti" ucap Shinta makin bingung dan ketakutan.Kakinya sampai bergetar karena campuran keduanya.
'*t*entu saja anda tidak mengerti nyonya,saya saja bingung menghadapi suami anda yang bucinnya minta ampun.Suami anda ini ngambek nyonya...ngambek!mengertilah sedikit dan jangan membuat saya dalam masalah.'
"Sekarang anda yang memegang Luxio disini hingga tuan kecil lahir dan berusia tujuh belas tahun.Anda akan didampingi orang kepercayaan tuan muda untuk mengurus dan mengembangkan cabang disini"
"apa artinya semua ini sekretaris Nico.Jangan berputar-putar.Aku tidak mengerti" sentak Shinta kesal.Michael berdiri dari duduknya lalu berlalu masuk ke kamarnya.Shinta hendak menyusul saat jawaban yang keluar dari mulut Nico membuat kedua kakinya lemas.
"Tuan muda memberikan semuanya sebagai rasa terimakasih pada anda nyonya,dan semua saham itu serta hasilnya adalah tunjangan bagi tuan kecil nantinya karena setelah ini tuan muda akan ke Amerika menggantikan tuan besar Abraham".Seketika Shinta terdiam dan terhenyak dikursi.Nico memandang nyonya mudanya iba.Tapi apa hendak dikata,sang tuan muda yang memerintahkannya.
" kalau tidak ada yang bisa saya bantu,saya mohon ijin permisi nyonya"
"Apa Mic akan menceraikan aku?" samar,tapi masih terdengar.
"saya tidak dalam kapasitas menjawabnya nyonya.Silahkan anda tanyakan sendiri pada tuan muda"
"pergilah"
__ADS_1
"baik nyonya.selamat malam" lalu dengan langkah gagah Nico berlalu kebelakang rumah,menuju kamarnya.Shinta masih menata hatinya.Segala perasaan sakit terkumpul dirongga dadanya.Berlahan dia naik keatas dan membuka pintu kamar.Michael menata beberapa pakaiannya kedalam koper.Mata Shinta berkaca.
"a..apa kau akan pergi?"
"iya" jawab Mic tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan pakaiannya.Sebelum bertanya lagi,dering ponsel memecah suasana kaku diantara mereka.Michael berjalan kebalkon untuk menerima panggilan itu.
"iya dad,tentu saja.Aku berangkat jam delapan pagi." lutut Shinta kembali lemas.Tertatih dia berjalan kebalkon mendekati Mic yang masih berbicara dengan ayahnya.Sekuat tenaga dipeluknya tubuh gagah itu dari belakang.Tangisnya pecah.
"jangan pergi" katanya parau diantara isakan yang makin kuat hingga tubuhnya terguncang.
"nanti aku telepon lagi dad.good night" Michael merasakan kemejanya basah.
"tolong jangan pergi"
"Tapi aku harus pergi" ucap Michael dingin.Tubuhnya juga tidak bergerak dari tempatnya.
"Aku sudah memberikan hakmu,nanti setelah anak kita lahir,aku akan tetap mengirimkan tunjangan padanya setiap bulan.Kau tidak perlu khawatir". Seketika Shinta menggeleng kuat.
"tapi anakku membutuhkannya.Aku tidak ingin anakku hidup menderita"
Shinta melemparkan map itu hingga isinya berhamburan kelantai.Masih dengan air mata berlinang dia melepaskan pelukannya dan beringsut menjauh.Michael membalikkan badannya dengan tatapan dingin yang mematikan.
"Kalau kurang aku akan menambahkannya" segera tangan kekar itu menyentuh layar hpnya.
"Nic,urus saham Luxio diseluruh Asia,berikan pada Shinta"
"hantikaann!!" teriak Shinta.Wanita itu kembali tergugu.
"Aku tidak ingin semua itu." Michael membiarkan Shinta menangis.Tangan kekarnya kembali merapikan koper lalu menutupnya.Saat akan membawanya keluar,Shinta kembali memeluknya dengan tubuh bergetar.
"Bawa aku bersamamu.Kumohon bawa aku bersamamu" Mic meletakkan kopernya lalu menangkap wajah Shinta yang penuh air mata.
"Kau akan tetap disini Shinta.Kau berhak bahagia di negaramu yang indah ini.Aku tidak akan memaksamu untuk terus terkungkung dalam kemauanku Shinta.Karena aku tau,perasaan tidak bisa dipaksa.Tangis Shinta semakin pecah.
__ADS_1
" Bukankah kau berjanji tidak akan menyakiti aku pada ayah?"
"karena itu aku melepasmu.Karena aku tidak ingin menyakitimu,karena aku tidak ingin memaksamu,dan karena aku hanya ingin kebahagiaanmu" ucap Michael tulus.Shinta menyentuh tangan Mic yang memegang kedua pipinya.Mengenggamnya erat.
"Bahagiaku hanya disampingmu,hanya bersamamu.Tuan a..aku...mencintaimu!" ujar Shinta terbata,menunduk malu,menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan menunduk dalam.
"Kau bilang mencintaiku tapi masih memanggilku dengan sebutan tuan?Kurasa kau hanya sedikit menghiburku" Michale melepaskan tangannya lalu beranjak membuka pintu,diluar kamar sekretaris Nico mengangguk hormat lalu menerima koper itu.
"Nic,kau sudah memesan hotelnya?"
"sudah tuan.Willy sudah menunggu anda di mobil"
"Bagus,ayo!"
"Tunggu!" teriak Shinta.Tapi Michael tidak menggubrisnya.Dia bergerak cepat menuju tangga.diikuti sekretaris Nico yang terlihat sedikit kerepotan dengan koper tuannya
Diluar dugaan Shinta berlari cepat menuruni tangga,membuka pintu utama dan berlari kencang menerobos hujan,tanpa alas kaki sama sekali menuju pintu gerbang.
"ohh shit!!" umpat Michael lalu berlari menyusul istrinya.Shinta yang sudah sampai lebih dulu ke gerbang membentak dua orang satpam dan memaksa mereka membuka pagar.
"hentikan dia!!" teriak Mic berusaha mengalahkan derasnya hujan,tapi Shinta sudah lebih dulu berlari keluar.Michael tetap berusaha mengejar hingga dia melihat tubuh Shinta ambruk ditepi jalan,wanita itu pingsan.
"Shinta bangun...Shinta!!" teriak Michael.Sebuah mobil berhenti,sekretaris Nico segera turun dan membantu tuannya memasukkan Shinta ke mobil.
Michael mendekap erat tubuh Shinta yang basah kuyup hingga sampai didepan rumah.Bergegas digendongnya tubuh lemah Shinta masuk.
"Nic,panggil dokter Erika"
"baik tuan"
Mic menggendong Shinta hingga kekamar,melepaskan pakaian basahnya lalu menggantinya dengan piyama.Setelah mengganti bajunya,dia mendekati istrinya.Tubuh lemah itu ditutup selimut tebal,Michael memegang tangan Shinta yang sangat dingin lalu menggosoknya pelan,seakan menyalurkan kehangatan padanya.
"apa aku keterlalaluan?" tanyanya lirih sambil mendekap tubuh dingin itu erat,sesekali menciumi pucuk kepalanya.
__ADS_1