
Shinta terjaga dari tidurnya saat meraba tempat disisinya yang kosong.Tidak ada Michael disana.Hari sudah gelap,entah berapa jam dia tertidur setelah menangis karena diabaikan oleh Mic.Dia juga dibiarkan tidur tanpa selimut.Bukan kebiasaan Michael yang membiarkannya tidur seperi itu.Sesibuk apapun Mic,suaminya pasti akan menyelimutinya saat tertidur.Pintu balkon sudah tertutup,itu artinya suaminya sudah tidak ada disana.
Tergesa dia membasuh muka dan mengganti pakaian dengan dress selutut dan turun ke bawah.Suara sendok berdetang terdengar lirih dari sudut ruangan,Shinta menghela nafas dia akan kembali ke kamarnya saat bundanya,Misca memanggil namanya untuk bergabung.Mau tidak mau dia kembali turun.
"kau sudah bangun?" tanya ibu mertuanya lembut.
"Dimana El bunda?" tanya Shinta saat tiba diruang makan.Sejak pagi dia tidak melihat putra tersayangnya itu,hingga rasa kangen pada El membuatnya penasaran.
"Dia sedang tidur Ta,biarkan dia bersama kami.Dadymu juga sangat ingin tidur dengan El.Kami serasa kembali melihat Mic yang baru tumbuh besar." jawab Misca riang.Shinta melirik Dadynya yang tersenyum bahagia duduk di ujung meja dengan bunda Misca disisi kanannya.Hanya ada kursi kosong disisi kiri dadynya karena Michael duduk di ujung meja yang lain diapit oleh Nico dan Willy.
"Duduklah." ujar Abraham sambil menarik kursi disisinya.Shinta duduk berlahan disana.Suasana sangat canggung malam itu.Michael makan dalam diam,demikian pula Willy yang seolah tidak fokus pada makanannya karena terus melirik ke pintu kamarnya,berharap istrinya turun dan ikut bergabung bersama mereka.Adalah Nico yang paling lambat makan.Matanya sayu dan penuh kesedihan.Dia hanya berulang kali meneguk minumannya untuk mendorong makanan yang seolah berhenti di kerongkongannya.Terlihat sekali pikirannya sedang kosong.
Shinta melirik Michel yang sudah menyelesaikan makanannya dengan sangat cepat.Apa mungkin Mic ingin menghindarinya? Saat dia berdiri ingin mengambilkan minum,suaminya itu malah ikut berdiri dan berlalu.Ada yang perih disudut hatinya.Semarah itukah Mic padanya hingga melihat wajahnya saja sudah tidak berlaku baginya?***** makan Shinta sudah menghilang,dia akan beranjak saat suara berat Abraham bergema diruangan itu.
"Kalian semua dengarkan dad bicara.Tidak ada seorangpun yang boleh meningalkan rumah ini sebelum Erika ditemukan!" Semua terpaku ditempatnya.Tidak ada sahutan dari siapapun.Mic yang terlebih dahulu pergi diikuti Nico dan Willy dibelakangnya.Mereka menuju halaman depan.
"Shinta."
"ya dad."
"Kau harus banyak istirahat agar bayimu sehat."
"baik dad."
Setelah itu Shinta pamit ke kamarnya.Stephanie masih mengurung diri di kamarnya saat Shinta melihat seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya sambil memegang nampan makanan.Tampaknya adik iparnya itu masih marah hingga tidak mau turun untuk makan.Lelah,dia menutup pintu kamarnya.Lututnya terasa lemas saat tubuhnya terhempas ke sofa.Kepalanya terasa pusing.
__ADS_1
Hampir tengah malam,pintu kamar terbuka.Mic masuk dengan langkah lebar melewati sofa tempat Shinta rebahan menahan pusing dikepalanya.Pria itu sama sekali tidak menoleh atau peduli padanya.Tatapannya lurus kedepan.
"mm..mas." panggil Shinta sambil meringis sakit.Tapi Mic tidak peduli.Dia merebahkan diri di ranjang,menarik selimut setinggi dada,mematikan lampu lalu tidur.Tidak ada lagi suara.Shinta terisak,kepalanya semakin berat hingga pandangannya menjadi kabur,dia jatuh pingsan.
Paginya saat Shinta siuman,dia menoleh ke ranjang dan tidak lagi menemukan Michael disana.Sudah jam 8 pagi,itu artinya dia bangun kesiangan.Kenapa Mic tidak membangunkannya?Bau parfum Mic saja masih tertinggal diruangan itu.Itu artinya Mic baru saja turun.Bergegas Shinta berlari menuruni tangga,berharap masih bisa bertemu suaminya.Dari tempatnya berdiri,dia melihat Mic yang menggendong baby El,menciumnya sesaat lalu menyerakannya pada Abrahaman yang menepuk-nepuk pantat cucunya bangga.
"Mas!" pekik Shinta.Mic hanya menoleh sesaat padanya,lalu masuk ke dalam mobil yang segera ditutup kembali oleh Nico.Shinta hanya diam terpaku,tidak lagi meneruskan niatnya untuk sekedar mencium tangan Mic.
"Dad,biarkan El bersama saya."
"Mic berpesan agar kau banyak istirahat Ta,El biar aku dan bundamu yang mengurus." tukas Abraham dingin.
"Tapi saya kangen El dad,dia putra saya.” protes Shinta keras.Abraham tersenyum samar.
" Dia juga pewaris keluarga Maverich Shinta.Apa kau lupa itu?dia harus di didik seperti Michael sejak dini.Selama Mic mempercayakan El padaku,dia akan tetap ada padaku.Apa kau mengerti?"
Beberapa menit kemudian seorang pelayan mengantarkan sarapan paginya ke kamar.Menu pagi yang istimewa karena semua makanan favoritnya.Tapi lidahnya terasa pahit.Tiba-tiba terlintas dalam benaknya tentang Stephanie,adik iparnya itu sedang apa sekarang?memikirkannya membuatnya segera mandi dan segera mengunjungi Steve di kamarnya.
Stephanie membuka pintu kamarnya dengan wajah lesu dan mata panda karena kurang tidur.Kondisinya awut-awutan.Shinta masuk dan menutup pintu.
" Bagaimana keadaanmu Steve?"
"Tidak begitu baik kak,perutku mual dan kepalaku pusing." keluhnya.Dalam hati Shinta membisikkan hal yang sama.Beban hatinya juga mempengaruhi kehamilannya.Stephanie merebahkan dirinya diranjang.
"Steve,apa tidak sebaiknya kau panggil Willy untuk menemanimu?"
__ADS_1
"tidak.Lebih baik aku sendiri."
"Tapi kau sedang hamil"
"kau juga kak,dan kak Mic mengabaikanmu."
"kau....tau?"
"tentu saja.Kak Mic dan Dad sangat marah begitu mereka tau kau menemui Nico dan perempuan itu bersama Aira.Apalagi mereka tau kau bertarung lagi.Semua murka padamu.Bunda sampai menangis,takut terjadi apa-apa padamu."
"Aku tidak sengaja melakukannya Steve,dan aku menyesal." ujar Shinta kembali dengan tetesan air mata di pipinya.Bagaimana bisa dia bertindak bodoh seperti kemarin tanpa mengatakan apapun pada suaminya?
"Kau tau,dad sangat menyayangi kak Mic.Dia akan mengabulkan apapun permintaan kakak.Jadi bersiaplah jadi musuh dad jika kak Mic terus bersikap begitu."
"lalu apa yang harus kulakukan Steve?" teriak Shinta frustasi.Beban itu sungguh menghimpit dadanya.Diacuhkan oleh suaminya saja sudah membutnya tersiksa,apalagi dimusuhi mertuanya,diajauhkan dari putranya dan juga tidak perbolehkan kemana-mana?Shinta kembali menangis.Stephanie mulai lalu lalang ke kamar mandi karena sudah muntah berulang kali.Dengan tubuh lemas dan bersandar di dinding dia berkata pelan.
"Minta maaflah pada kak Mic,maka semua akan kembali baik-baik saja."
"Aku sudah minta maaf Steve,tapi dia malah mengacuhkan aku."
"Jangan mengatakan apapun kak.Semakin kau minta maaf,kak Mic akan lebih susah memaafkanmu.Jangan pernah menyingung masalah ini lagi.Curahkan saja perhatianmu padanya seolah tidak terjadi apa-apa.Ajak dia bicara terus walau tidak dijawab.Kak Mic pasti akan luluh nantinya.Dia sangat mencintaimu kak." ulas Steve dengan memegangi perutnya yang terasa tidak nyaman.
"Terimakasih Steve.Aku akan mencobanya." Shinta memeluk Stephanie hingga iparnya itu terhuyung.
"Semangatlah kak.Kau pasti bisa!" ujar Steve memberi semangat dengan tangan terkepal di udara.Shinta tersenyum lebar dan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"semangatt!!"