Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Pergi


__ADS_3

Mia dan Sarla yang melihat Shinta menangis langsung merengkuhnya dan mendudukkan Shinta kesofa ruang tamu.


"ada apa nyonya?kenapa anda sedih?" tanya sarla yang sudah menganggap Shinta seperti putrinya.


"Tidak Sarla.Aku hanya kangen kampung halamanku.Setelah ini aku akan pergi menginap kerumah dad."


"owh baiklah nyonya,apa kau perlu bantuan kami?" tanya Mia kemudian.Shinta menggelengkan kepalanya.


"aku hanya akan membawa kebutuhan El saja.Nanti aku akan naik taksi online.Kalian tidak perlu khawatir"


"Apa kau sudah minta ijin pada tuan?kenapa tidak menyuruh sopir mengantarmu nyonya?."


"Sarla,aku hanya ingin kerumah dad.aku juga tidak akan hilang." ujar Shinta sambil memasukkan baju-baju dan susu El dalam tas sedang.


"Baiklah,saya permisi nyonya."


Saat Sarla berlalu,Shinta sudah melepaskan cincin pernikahannya,atm dan kartu kredit dalam dompetnya diatas meja rias.Hanya uang tak seberapa yang dibawanya untuk berjaga-jaga membeli susu untuk El.Dia percaya akan ada orang baik yang akan menolongnya diluar sana.


Taksi online yang dipesannya sudah tiba.Shinta menyerahkan hpnya pada Mia.


"kenapa Hpnya ditinggalkan nyonya.Bagaimana kalau tuan ingin menghubungi anda?" Tatapan Mia juga terfokus pada nyonya mudanya yang hanya berpakaian kasual pagi itu.Tidak seperti biasanya jika dia ingin berkunjung kerumah tuan Abraham.Tapi pikiran buruk itu ditepisnya karena sangat percaya pada sang nyonya.


"Aku takut hpku jatuh Mia."


"hmm baiklah nyonya,segera hubungi kami kalau nyonya sudah sampai."


Shinta mengangguk lalu masuk kedalam taksinya.El sedikit menggeliat saat mereka melewati gerbang rumah itu menuju jalan besar.Tangis Shinta luruh.Dia tidak mungkin kekediaman Abraham saat ini.Dia ingin pergi jauh hingga tidak bisa bertemu Michael lagi.Hatinya terasa sangat pedih.


"Stop,aku ingin berhenti disini dulu"


sopir taksi menoleh.

__ADS_1


"tapi ini belum sesuai yang anda pesan diaplikasi kami nyonya"


"Tidak apa-apa.Aku hanya ingin menghirup udara segar ditaman dulu dengan putraku." sahut Shinta meyakinkan.Dia turun sambil menjinjing tasnya.


Saat akan memasuki taman,sebuah mobil berhenti didekatnya.Shinta mengamatinya sesaat.Seorang wanita keluar dari sana.


"nyonya,anda mau kemana?" sapa wanita itu.Dokter Erika.Shinta sedikit lega karena wanita itu yang muncul dihadapannya.


"Aku..."


"hey,tidak baik bagi anda berjalan sendiri.Mari saya antar anda pulang." ujarnya sambil merebut tas dari tanga Shinta dan memasukkannya kedalam mobil.


"Tapi aku tidak ingin pulang dokter" Erika terkesiap.Dia merasa ada yang tidak beres dengan Shinta.


"Atau anda mau mampir ketempatku dulu nyonya?sepertinya anda butuh menenangkan diri." Shinta mengangguk lalu mengikuti langkah Erika masuk kemobil.Gadis itu benar,dia butuh ketenangan untuk memikirkan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.


Erika membelokkan mobilnya kerumah berukuran sedang dan mempersilahkan Shinta masuk.Rumah itu adalah rumah yang dia sewabdengan dua orang lainnya untuk tempat tinggal.Letaknya memang disekitaran kampus dan lima belas menit perjalanan menuju rumah sakit tempatnya bekerja.Dia membuatkan teh dan sarapan dengan sangat cekatan.


"anda harus bersabar nyonya."


"Bisakah kau tidak memanggilku nyonya dokter?kurasa usia kita tidak jauh berbeda."Erika tersenyum


"Kau juga jangan memanggilku dokter lagi.cukup Erika saja." keduanya tersenyum.Sebuah persahabatan terjalin lagi.


"Sepertinya kau tidak bisa pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini Ta.Tuan Mic pasti sudah membarikade bandara saat dia sadar kau tidak ada."


"Lalu aku harus bagaimana?Aku juga tidak mungkin disini karena jarak rumah ini tidak terlalu jauh dari rumahku" keluh Shinta.


"Erika,aku juga tidak punya banyak uang dan perbekalan yang cukup,kalau harus bertahan disini,aku butuh pekerjaan untuk menghidupi El." kata Shinta lagi dengan bibir bergetar.Erika mengetuk-ngetuk jarinya dimeja.


"Hmmm...apa kau mau tinggal dipinggiran kota dengan bibiku?dia orang Indonesia seperti kita Ta.Aku dengar dia butuh orang untuk menjaga toko bunganya."

__ADS_1


"A..apa aku bisa mengajak El saat bekerja Er?aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian"


"Tentu saja Ta.Toko bunga itu menyatu dengan rumah tinggalnya.Bibi juga menyukai anak kecil."


"Baiklah Er,aku akan disana hingga bisa pulang ke Indonesia." Air mata Shinta kembali belinang.Baru saja dia punya kehidupan manis dengan keluarganya,sekarang hidupnya sudah berubah lagi seperti sebuah drama.


"Jangan bertindak gegabah Ta.kau harus menanyakan kebenarannya pada tuan Mic.Setiap masalah bisa diselesaikan.Tenangkan dirimu dulu disana." nasihat Erika dengan segenap ketulusan.Sesungguhnya dia juga sangat tidak ingin membuat Shinta terpisah dari suaminya,tapi juga tidak ingin Shinta terus bersedih dan jatuh pada pilihan yang tidak tepat.


"aku memaafkan kesalahan apapun selain perselingkuhan Erika.Untuk hal itu aku tidak bisa." ujar Shinta lagi sambil terisak.Erika kembali memeluknya.Mencoba mengalirkan energi positif yang bisa menguatkan Shinta.


"kalau begitu mari kuantar kau ketempat bibiku Ta.Dia tinggal seorang diri disana.Diakhir pekan aku selalu mengunjunginya karena dia satu-satunya keluargaku disini." kata Erika.Shinta mengangguk.Mereka kembali berjalan menuju rumah sang bibi dipinggiran kota.


Hampir dua jam perjalanan,mereka sampai dirumah dengan pekaranga luas dengan toko bunga didepannya.Erika segera turun dan menemui bibinya.Wanita paruh baya itu tersenyum senang sambil memeluknya.Dia juga memeluk Shinta dan mengambil alih baby El dalam gendongannya.


"Anakmu sangat lucu Ta,dia sangat tampan dan menggemaskan." ujar bibi Aida.


"Bi,Apa Shinta benar-benar boleh tinggal disini?" tanya Erika sesaat setelah bibinya berhenti bercanda dengan El.Mata Aida berbinar.


" ohh..tentu saja.Bibi sangat menyukai El,dan Shinta bisa membatu bibi ditoko.Bibi sangat senang punya teman bicara" ucapnya dengan riang.


"terimakasih bi." kata Shinta.Aida mengagguk pasti.Dia tidak henti-hentinya mengajak El bercanda.


"Sekarang istirahatlah dulu nak,bawa El kekamarmu.Kau pasti sangat lelah.Besok bibi baru akan mengajarimu membantu di toko depan ya.Kau butuh suasana baru agar tidak jenuh sayang." Hati Shinta menghangat.Bibi Aida sangat baik pada mereka.


"ehm..bi,aku sekalian mau pamit dulu."


"kupikir kau akan menginap disini Rik." tukas Bibi Aida sedikit sewot karena masih merindukan Erika.Gadis itu hanya tersenyum.


"ini belum akhir pekan bi.Tugasku masih banyak,nanti aku janji menginap disini."


"hmm baiklah.Jaga dirimu Rik,jangan terlalu capek dengan para pasienmu.Dan ingat ya...cari jodoh.Jangan kerja dan belajar melulu.Papamu pasti bahagia kalau kau pulang membawa calon." Kali ini Erika hanya nyengir kuda.Dia sudah hafal semua perkataan bibi ataupun keluarganya di Indonesia.Apa wanita duapuluh enam tahun bisa dikatakan terlalu tua?Kalaupun ingin menikah,siapa yang akan menikahinya?

__ADS_1


__ADS_2