
Duo tampan menundukkan sedikit kepalanya saat Michael membuka pintu ruangan pengacara Kim.
"Nic,siapkan penerbangan ke Singapura sekarang dan kau Will,antar aku kerumah sakit"
"baik tuan" jawab mereka serempak.Willy membuka pintu belakang mobil untuk tuan mudanya,sedangkan Nico mengambil posisi disamping Willy sambil menelepon sana sini untuk menyiapkan penerbangan kembali siang ini.
Sampai dirumah sakit,Michael langsung menghambur masuk ruang perawatan menyisakan duo ganteng yang beristirahat di kursi tunggu.
"Kurasa ada yang tidak beres tadi Nic"
"hmmmmm"
"Kenapa dia tidak langsung membawa nyonya muda kemari kalau sedikit-sedikit dia minta pulang.Benar-benar merepotkan"
"hmmmmm"
"Nic,kau sudah gila ya.Aku mengajakmu bicara,kau malah terus berdehem seperti dukun Indonesia."
"Kau juga sudah mulai tidak waras Will.Kalau tuan muda pulang pergi ke Singapura aku yang susah,bukannya kamu.Tugasmu hanya menjaga nona dan tuan besar disini.Kenapa kau yang protes?" Nico tak mau kalah.Willy hanya cengengesan.
"Bolehkah kita bertukar tempat Nic?" Wajah Willy yang cengengesan langsung berubah serius dan sedikit memohon.
"Maksutmu?"
"Aku tidak bisa melihat Stephanie setiap waktu Nic,aku ingin memulai hidup baru dan melupakannya."
Nico menepuk pundak sahabatnya.Dia tau sekarang ini Willy sangat rapuh.Tapi dia juga tidak berdaya walau hanya sekedar menghiburnya.
"Ini tidak akan lama Will,percayalah..sebentar lagi aku akan menjadwalkan permintaan liburmu" Willy membeliak kaget lalu spontan memeluk Nico.
"hey..jangan memelukku bodoh.Orang bisa mengira kita gay." umpat Nico kesal karena pandangan aneh beberapa suster yang lewat ruangan perawatan VVIP.Willy lalu melepas pelukannya kemudian berdehem untuk menghilangkan kegugupannya,sebentar kemudian kembali duduk penuh wibawa disamping Nico.
"Kurasa perawat itu menyukaiku Nic,sejak tadi wanita bule itu terus menatapku" bisik Willy dengan tubuh dan pandangan tegak kedepan.
"ha..ha..haa" Tawa Nico pecah.Matanya sampai berair karena tertawa ngakak.Willy langsung menyikut perutnya hingga sekretaris tampan itu meringis kesakitan.
"kau.."
"Jangan tertawa sembarangan Nic,kita ini asisten,bukan pelawak.Bisa hancur repurtasi kita tolol."
"ha...ha..haa...kau ini memang punya penyakit baru Will.Setelah ditolak kau jadi pria keGRan.Perawat itu memandangmu heran,buka kagum."
__ADS_1
"Tau apa kau tentang wanita?pacaran saja tidak pernah.Ehh...kuralat,dekat dengan wanita saja tidak pernah.Dasar sekretaris tidak laku" dengus Willy kesal.
"Kau yang tau banyak soal wanita juga ditolak Will,jangan terlalu naif" balas Nico tak kalah telak.Perdebatan mereka berakhir saat pintu terbuka.Michael berdiri gagah diikuti Stephanie yang berada disebelahnya dengan dandanan awut-awutan karena sudah sehari semalam belum berganti pakain.Willy mengalihkan pandangannya.
"Sudah siap Nic?"
"sudah tuan"
"Will,kau tetap disini menemani Dad dan Stephanie,tunggu aku kembali"
"baik tuan muda". Willy masih membungkukkan badannya hingga Michael berbalik lalu berjalan menjauh.
"Bisakah kau mengambilkan beberapa pakaianku dirumah kak?" Willy tertegun.Kenapa Stephanie kembali memanggilnya kakak?
"Baik nona muda"
"Kak,ini bukan dikantor,kau bisa menyebut namaku saja"
"maaf nona,itu tidak sopan bagi saya.Kalau tidak ada lagi yang bisa saya kerjakan,saya minta ijin pulang untuk mengambilkan anda baju nona".
" Baiklah...tapi tunggu!"
"iya nona?"
Stephanie menutup kembali pintu kamar itu lalu duduk disofa panjang didekat pintu.Diranjang perawatan,Abraham tergolek lemah namun wajah pria tua itu berseri.Tanpa sadar Stephanie tersenyum tipis,berharap agar Michael segera menemukan ibu mereka secepatnya.
Satu jam kemudian Willy sudah kembali dengan menenteng tas berisi beberapa pakaian Stephanie.Dia mengulurkan tas itu dan disambut ceria oleh sang gadis.
"Kak,kau duduklah disini mengawasi dad,aku mandi dulu"
"baik nona muda" Willy mendudukkan dirinya disofa empuk bersamaan dengan Stephanie yang masuk kekamar mandi.Suara gemricik air membuat mata Willy memberat.Maklum,semalam dia dan Nico cuma tidur beberapa menit bergantian.Bagaimanapu dia juga manusia biasa,merasa lelah juga.
Willy benar-benar tertidur tanpa menyadari jika Stephanie sudah keluar dari kamar mandi dan duduk disofa sambil mengamati wajah tampannya yang dibingkai alis tebal dan hidung runcing yang sempurna.Saat tubuh asisten itu mulai miring,Stephanie berlahan menyodorkan pundaknya agar Willy tidak terperosok kesofa.
Aroma parfum blue ocean yang menyegarkan menusuk hidung Stephanie.Dengkuran halus Willy yang berada dekat ditelinganya seperti irama lagu melow baginya.Dia terbawa suasana.Menarik kepala Willy sedikit demi sedikit hingga sampai kepangkuannya.Pria itu hanya melenguh sesaat lalu kembali tertidur.Stephanie malah asyik mengelus rambut Willy yang makin tenggelam kealam mimpinya.
********
"Kita mampir kerumah dulu Nic" ucap Michael saat mereka sudah mendarat dibandara Cangi dengan selamat.
"baik tuan muda"
__ADS_1
Mobil bergerak menuju kediaman Maverich dan membelok santai melewati gerbang utama.
Sampai didalam rumah Michael mencari-cari keberadaan istrnya,dia memang sengaja tidak mengabari Shinta kalau akan pulang hari ini.
"Sarla,dimana istriku?"
"ooh...selamat datang tuan muda.Nyonya baru saja ketaman belakang"
"hmmmm baiklah" Mic berjalan mengendap menuju belakang rumah.Disana Shinta duduk membelakanginya,tangannya sibuk memberi makan ikan-ikan peliharaanya sambil sesekali membelai perutnya dan mengajak calon bayinya berbicara.
Michael menutup mata Shinta dengan kedua tangannya hingga wanita itu sedikit terkejut,meraba punggung tangannya.
"Mas...kau pulang?" Mic terperangah mendengar perkataan istrinya.Bagaimana mungkin Shinta bisa menebak keberadaanya dengan mata tertutup?Mic melepaskan tangannya,beralih kedepan dan berjongkok didepan Shinta.
"Kau tau itu aku sayang?"
"Tantu saja mas,aku hafal bau tubunmu dan tangan besarmu" jawab Shinta sambil terkekeh.Mic tidak membalasnya.Kepala pria itu malah ditempelkan keperut Shinta,tangannya tidak henti-hentinya mengelus perut buncit istri cantiknya.
"Sayang..dad pulang.Apa kau tidak kangen dengan dady tampanmu ini?" tanya Michael percaya diri.Shinta yang mendengarnya mencubit pipi Michael dengan gemas.
"kau ini terlalu narsis mas" Mic langsung memegang tangan Shinta yang mengelus kepalanya lalu membawanya dalam kecupan bibir lembutnya.Darah Shinta terasa tersirap.
"bagaimana kondisi dad mas?"
"dia sudah sadar dan perlu istirahat."
"syukurlah mas.Apa kau capek?"
"hmmmm"
"Mas udah makan?mau kusiapkan?
"hmmmm"
"jangan mulai menyebalkan lagi mas."
"Aku lapar sayang"
"Baiklah,aku akan menyiapkan makananmu". Shinta akan beranjak saar merasakan tubuhnya melayang keudara.Mic sudah lebih dulu menggendongnya lalu membawanya kekamar tamu.
" Mas,kau bawa aku kemana?kau bilang laparkan?kenapa kemari?" tanya Shinta kebingungan.
__ADS_1
"Karena aku lapar dan ingin memakanmu Shinta sayang" bisiknya tepat ditelinga Shinta yang wajahnya langsung merona merah.