
Pagi itu semua berjalan sesuai kemauan Michael seolah mereka berempat adalah pion dari permainan catur sang tuan muda.Tanpa perlawanan mereka menaiki mobil khusus yang sudah disediakan seseorang yang diutus Michael untuk mengurus kepindahan mendadak itu.Benar-benar sekenario yang rapi.
Stephanie yang biasanya riang dan antusias terlihat diam dan membuang pandangan ke jendela,Pramudya yang duduk disisii sopir berbincang hal-hal ringan seputar pekerjaan,Rio juga sibuk dengan hpnya.Tinggal Shinta yang sibuk dengan pikirannya sendiri.Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Stephanie saat sampai disana nanti.Nona muda itu tidak akan sanggup untuk tinggal di rumah sederhana mereka yang sempit dan pengap.
"Fan"
"hmmmm"
"Apa kau yakin akan tetap disini?
" maksutmu?"
"belum terlambat kalau kau ingin kembali ke Singapura"
Stephani berpaling sempurna menatap jengah pada Shinta.
"Apa aku jadi bebanmu Ta?karena aku sudah tidak punya apa-apa?" sergah Stephanie.Shinta menggeleng kuat.
"Bukan itu maksutku.Tapi..rumah kami sangat...ahh..kau akan tau betapa miskinnya aku nanti Fan".Stephanie tergelak.Shinta menatapnya tidak percaya.Bagaiman bisa gadis itu masih sempat tertawa dalam keadaan darurat seperti sekarang?
" Kau pikir Michael Maverich akan membiarkan calon anaknya lahir dalam kemiskinan Ta?kakak tidak sejahat itu"
"maksutmu?"
"kita lihat saja nanti." sahut gadis itu berteka teki.Shinta tetap sibuk dengan alam pikirannya sendiri.Tentang bagaimana kehidupannya nanti dirumah lamanya.Bagaimana dia menghadapi sindiran dan mulut jahat para tetangganya dulu.Pasti ejekan dan cibiran akan keluar dari mulut sadis mereka karena dia pulang dalam kondisi mengenaskan,hamil lagi.Lagi-lagi dia menghembuskan nafas berat.
Sampai diperbatasan kotanya,hati Shinta makin teriris.Belokan demi belokan telah terlewati.Hanya ada suara pramudya yang memandu jalan.
"Ta,lihat ini jalan rumah kita kan?"
"iya yah.kenapa?"
"kok jadi lebar gini?tetangga kita juga hilang semua.Apa mungkin ayah salah?"
Shinta melongok kearah jendela.Benar kata ayahnya.Rumah tetangganya hilang.Yang ada cuma tembok luas yang tinggi kokoh menjulang mengitari lahan luas.Mobil berhenti di gerbang utama yang pagarnya langsung dibuka oleh seorang satpam.
__ADS_1
"lho pak,kita mau kemana ini?" tanya pramudya heran.Jalannya memang lokasi rumahnya,tapi ini bukan rumahnya.Kemana rumah sederhananya?
Asisten Willy sudah berdiri didepan pintu besar yang menaungi rumah itu.Rumah baru yang sangat besar dan megah.Kanan kirinya disangga pilar-pilar besar seperti bangunan bergaya eropa namun terkesan manis karena sentuhan minimalis yang mewah dan maskulin.Bahkan bau cat masih menguar,pertanda proses finishing bangunan yang belum lama.
"Selamat datang nyonya muda,nona dan tuan Pram sekeluarga" sapanya hangat.
"Anda disini asisten Willy?" tanya Shinta heran.
"Dimana tuan saya berada,disitu saya ada untuknya nyonya" jawabnya sopan.Mereka semua turun dan mengikuti langkah Willy memasuki rumah dan menuju ruangan besar ditengahnya.
Michael muncul dengan setelan hitam yang membuatnya tampil sempurna.Senyum kemenangan terpampang diwajahnya.Dia bergerak menyalami Pramudya dan mencium tangan pria tua itu dan menyebabkan dia mundur karena terkejut.Semua melotot memandang aksi Michael yang satu ini,termasuk Willy yang menahan tawanya.Baru kali ini seorang singa yang ditakuti banyak pengusaha didunia bianis tunduk dan mencium tangan pria tua yang bukan apa-apa.
Selanjutnya dia memeluk Stephanie,mengangsurkan kelingkingnya pada Rio yang dengan senang hati mengangsurkan kelingking kecilnya dan tertawa riang.Pandangannya tertuju pada Shinta yang hanya diam.Pelan mendekat dan memeluk tubuh wanitanya.Wanita yang berbulan-bulan dia rindukan dalam penyesalan.Tidak ada reaksi dari wanita itu.Semua hambar.Seolah hanya dirinya yang merindukan,tapi Shinta tidak.Michael menyerah dan melepaskan pelukannya.
"Duduklah."
"apa maksutmu dengan semua ini kak?" tukas Stephanie geram.
"nothing.Aku hanya membangun rumah istriku dan menjadikannya layak huni agar calon anakku nyaman" jawaban tanpa beban.
"apapun,asal orang yang kucintai bahagia" lirikan Michael pada Shinta hanya dibalas cebikan kesal.Bisa dibayangkan geramnya seorang Michael yang biasa jadi orang dominan dan berkuasa.Tapi pria itu seolah singa yang kehilangan taringnya sekarang.
"Ayah,kalau anda tidak capek saya ingin menunjukkan sesuatu pada anda" ucap Michael tulus.Pramudya mengangguk pelan.Pria tua beruban itu begitu tersentuh dengan perlakuan Michael.
"Rio boleh ikut tuan?" ujar sibocah ragu.
"panggil aku kakak Rio.aku suami kakakmu,maka aku juga kakakmu oke? Michael merentangkan tangannya dan bocah kecil itu menghambur kesana.Mereka tertawa bersama.
Seorang pelayan mengantarkan Shinta kekamarnya dilantai atas dan kamar Stephanie di samping kamar itu tapi dibatasi oleh ruang kerja yang cukup luas.
Pramudya dan Rio mengikuti Michael masuk mobil yang membawa mereka kesuatu tempat.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di toko mebel yang bercampur jadi satu dengan gudang tempat usaha Pramudya dulu.Pria itu menangia haru saat turun dari mobil dan melihat tempat itu direnovasi total.
" Tempat ini bukan milik saya lagi nak Mic"
__ADS_1
"No,ini milik ayah.Toko ini akan tetap beroprasi dibawah kendali ayah" ujar Mic begitu bersemangat.Rio lebih dulu memeluk pinggag Mic.
"Terimakasih kak" teriaknya senang.Mic mengusap kepala bocah itu dengan kasih sayang.
Saat masuk kedalam,Pramudya melihat mantan anak buahnya yang sudah dia berhentikan setahun lalu sibuk bekerja.Suasana masih seperti dulu,saat dia belum terpuruk.
"eehh pak Pram,pak Michael selamat datang" sapa mereka semua ramah.Lagi-lagi pria tua itu terharu hingga meneteskan air mata.
"Ayah,apa boleh aku minta sesuatu pada ayah?"
"Katakan nak"
"Aku ingin ayah menikahkan aku dengan Shinta kembali." Pramudya menatap dalam kearah Michael yang duduk berhadapan dengannya.Netra lelaki tua itu kembali basah.
"Bukan ayah tidak mau nak,tapi ayah tidak bisa memaksa Shinta.Dia sudah banyak menderita.Ayah sangat merasa berdosa padanya"
"Tapi ayah memaafkan aku kan?"
"Nak Mic,saya tidak pernah dendam dan mengajarkan dendam pada anak-anak saya.Kalaupun Shinta sekarang belum bisa memaafkan nak Mic itu mungkin hanya faktor waktu."
"Apa yang harus saya lakukan yah?saya sangat mencintai Shinta dan calon bayi kami" Michael berteriak frustasi.Dia mengacak rambutnya kuat.
"Berusahalah memenangkan hatinya.Shinta gadis yang gampang tersentuh nak.Ayah berjanji akan menikahkan kalian lagi jika Shinta memintanya"
"Tapi ayah,saya dan Shinta akan ada dalam satu rumah.Saya tidak yakin aaahhhh...!!"
"menahan diri maksudmu?"
Michael mengangguk lemah.Pramudya tertawa melihat tuan muda yang gagah itu salah tingkah.
"Walaupun dokumen nikah kami masih berlaku,tapi benar kata Adrian,secara agama saya memang sudah pisah dari dia yah.Tolong saya"
"Baiklah,sebaiknya kita menanyakannya pada yang lebih mengerti syariat nak"
"Baiklah yah,terimakasih"
__ADS_1