Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Terjebak


__ADS_3

Nico benar-benar memastikan kalau Shinta tidak tinggal di kontrakan Erika saat kedua teman kampusnya pulang.Celetukan nakal dan siulan menggoda keluar dari bibir mereka saat tau sekretaris tampan itu duduk canggung disamping Erika yang terlihat sangat tertekan.Nico tetap pada ekspresi andalannya yang makin membuat Erika salah tingkah.Rupanya selain bermuka tembok,Nico juga bertelinga tebal seperti kulit badak.Dia tetap acuh pada sekitarnya.


"Apa kau ada acara akhir pekan ini dokter?" tanya Nico setelah Erika menyuguhkan kopi hitam yang dimintanya.Sesaat Erika terdiam,besok dia ada janji dengan Shinta dan bibinya untuk menggelar selamatan tigabulanan El dirumah.Walau tinggal dinegara orang bibinya tetap memakai tradisi nenek moyangnya,itu yang membuat Erika bangga.


"saya ada acara mas."


"kemana?"


"kerumah bibi."


"kau punya keluarga disini dokter?"


"iya,dia adik papa saya." Mata Nico bersinar.


"Kalau begitu aku akan ikut kesana." ujar sang sekretaris tampan enteng.Erika yang menyadari kesalahannya terasa mengalami sesak nafas.Bagaimana mungkin dia terkena pancingan Nico dan mengatakan tentang bibi Aida?sedangkan Shinta dan baby El ada disana.bodoh....bodoh..!! runtuknya dalam hati.


"untuk apa mas?" tanya Erika sambil berpikir keras bagaimana menolak ajakan Nico yang terlihat tipe pemaksa.


"Bukankah tadi aku melamarmu dokter?tentu saja untuk mengenal keluargamu." Erika terperangah.Pria didepannya benar-benar menyebalkan.Dia mengatakan hal yang membuat jantungnya berdetak lima kali lebih kencang dengan nada santai dan wajah datar.Benar-benar raja ekspresi terbaik.


"Saya belum menyetujuinya mas Nico.Saya tau mas Nico bercanda." Nico langsung melemparkan tatapan tajam lalu tersenyum tapi lebih mirip dikatakan menyeringai kearah Erika.

__ADS_1


"Aku tidak pernah main-main dokter." bisiknya tepat ditelinga Erika.Tangan kekarnya menyudutkan Erika dipinghgiran sofa tempat duduknya,mengunci pergerakan Erika.Dokter cantik itu seketika gelagapan,apa lagi posisi Nico yang makin dekat dengan dirinya,sesaat dia memejamkan mata,menata hatinya.Dan sang sekretaris jenius memanfaatkan situasi itu untuk mengambil ponsel di saku Erika lalu mengenggamnya erat.Dia lalu memundurkan badannya lagi,memberi ruang untuk Erika meraup udara segar.


Nico menunjukkan hp yang sudah ada ditangannya pada Erika dengan senyum penuh kemenangan.Gadis itu hanya melongi,sadar sudah dipermainkan Nicholas.


"Kembalikan mas" Tapi Nico malah menatapnya tajam.


"Antarkan aku ketempat bibimu sekarang Erika." hah??Erika?sejak kapan dia menanggalkan panggilan dokter padanya.Juga sejak kapan Nico bisa memerintahnya.Erika mengeram kesal.


"Saya harus kembali kerumah sakit mas."


Nico terdiam sesaat,menunggu reaksi Willy yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka karena poselnya sengaja dia sambungkan dengan tuan muda tengilnya.


'ting' Nico membuka pesan Willy.Disana terpampang jelas jadwal Erika dirumah sakit.Hari ini dia masuk sift malam.Nico berdehem keras.


Erika terdiam.Apa sekretaris ini punya ratusan orang dan kolega yang akan selalu siap menanggapi perintahnya?Dia lalu membayangkan kekuasaan Michael.Kalau sekretarisnya saja model begini,bagaimana dengan tuan mudanya?Suami Shinta itu pasti bukan orang yang berada dibawah Nico dalam pikiran ataupun tindakan.Erika bergidik ngeri.


"Sekarang..kita bisa berangkat sekarang!" ucap Nico nyaris seperti sebuah perintah.


"Aku akan berangkat besok mas." sahut Erika dengan nada dongkol.Nico mengeram.


"Atau kau ingin aku mencari tau sendiri lewat ponsel ini?" deg....Erika tersudut sekarang.Nico memang jauh lebih pintar.Dia hendak merebut ponselnya saat Nic dengan mudah menangkap pergerakannya lalu mencengkeram tangannya.Erika meringis.

__ADS_1


"Jangan coba-coba melawanku Erika,karena itu hanya sia-sia." ujar Nico dengan senyum smirk yang lagi-lagi membuat Erika terpana.Tanpa menunggu jawaban,sekretaris tangkas itu menarik lengan Erika untuk mengikutinya.Erika masih sempat menyeret belanjaanya lalu membawanya masuk kemobil.


Sepanjang jalan mereka masih membisu.Nico bertanya hanya untuk mengetahui arah jalan,itupun dengan kalimat pendek-pendek terkesan sangat formal.Dalam hati Erika bertanya-tanya...Nico ini manusia atau robot yang dibuat menyerupai manusia?Ganteng tapi tidak ada ramah-ramah atau hangat-hangatnya.


Willy tetap menjaga jaraknya untuk terus membuntuti Nico.Dia mengirimkan pesan pada Michael juga Stephanie agar mereka tidak menyusul dulu karena belum jelasnya keberadaan Shinta.mantan asisten tampan berlesung pipit itu hanya bisa tepok jidat saat dia nekat menyusul dan memaksa Willy untuk saharelock terkini agar bisa segera menyusul kearah sana.


Erika meremas kedua tangannya sangat kuat.Dia tidak bisa mengabari Shinta atau bibi Aida jika Nico ada bersamanya dan akan menuju kesana karena hpnya masih ditangan Nico.Semakin dekat tempat tujuan,tubuhnya semakin bergetar dilamda kecemasan.Nico langsung tanggap dan menyimpulkan ada yang tidak beres dengan Erika.Dokter itu memyembunyikan sesuatu yang besar.


Mobil berhenti didepan toko bunga lumayan ramai saat Nico melihat sosok Shinta melayani pembeli.Tanpa melihat dua kalipun Nico sangat hafal postur nyonya mudanya.Dia memberi isyarat agar Erika turun lebih dulu lalu cepat dia mengirim pesan pada Willy jika Shinta benar ada disana.Tuan muda baru menerusakan informasi itu pada sang kakak ipar,Michael Maverich yang langsung memacu kendaraanya dengan kecepatan maksimal kesana.


Erika turun dengan pelan,berjalan lambat mendekati pintu utama,dan apesnya Shinta yang menggendong baby El malah keluar dan menyambutnya.Erika sudah tidak bisa berkutik lagi.Kebohongannya sudah tamat.


"Rik,kau janji kesini besok pagi kan?kok sekarang sudah sampai?" dokter cantik itu hanya diam,susah payah meneguk ludahnya.Matanya berulang kali memberi isyarat pada Shinta untuk melihat kebelakangnya.Tapi Shinta tetap tidak menyadari dan malah berceloteh menceritakan tingkah lucu baby El.


"ehmmm...selamat siang nyonya." sapa Sekretarias Nico.Shinta terperangah saat menyadari siapa yang datang,bahkan dia bisa melihat Willy yang turun dari mobil lain dan melangkah gagah kearahnya.Erika menatapnya dengan ketidakberdayaan.Dia sudah masuk dalam jebakan Nico dan Willy tanpa perlawanan berarti.


Shinta hanya menghela nafas panjang.Dia sudah menduga akan begini akhirnya.Tidak ada yang bisa bersembunyi dari Michael terlalu lama.Suaminya punya pengaruh kuat disegala lini juga kekayaan yang menunjang agar semua keinginannya terwujud.


Tidak ada rasa kaget berlebihan atau senyuman dari wajah Shinta.Kehidupan sudah mengajarkannya banyak hal,termasuk menata ekspresi dan perasaannya.Dia jadi mirip Nico yang hanya berwajah datar,sekilas melirik mereka lalu menghampirinya.Baby El yang masih dalam gendongannya tiba-tiba mengulurkan tangannya pada duo tampan itu.Sepertinya naluri anak kecil tidak bisa ditipu.Dia tau orang-orang yang akan mempertemukan dia dengan dadynya sudah datang menjemput mereka.Shinta mempererat dekapannya.


"Tuan meminta anda pulang sekarang nyonya." ujar Nico sambil sedikit menundukkan tubuhnya.

__ADS_1


"katakan pada tuanmu aku tidak ingin pulang." sahut Shinta lirih namun terdengar jelas ditelinga keduanya.


__ADS_2