
Shinta turun dari mobil yang dikemudikan Willy sesaat setelah Michael turun sambil menggendong baby El.Mereka langsung menengok Abraham dirumah sakit.Sesaat dia terkesiap saat tangan besar Mic menggandengnya memasuki lobi.Tangan hangat yang selalu dirindukannya siang malam.Baby El selalu saja tertawa riang sambil membelai wajah dady tampannya yang mulai ditumbuhi kumis dan jambang tipis.Bukannya terlihat jelek,wajah Mic malah terkesan garang dan maskulin.Shinta berulang kali melemparkan tatapan galaknya saat berpapasan dengan beberapa wanita bertingkah centil yang berpapasan dengan mereka.
Tiba dikamar VVIP,shinta langsung dipeluk erat bunda Misca.Mertuanya itu begitu bahagia menyambut kepulangannya.Dia menggendong El dan mendekatkannya pada Abraham yang langsung menyambut dan menciumi cucu kesayangannya.Wajah sayunya kembali merona.
"Jika anak nakal ini berbuat tidak baik padamu suatu hari,lebih baik kau bicara pada dad Ta,biar dad yang menghukumnya.Jangan pisahkan kami dari El untuk kesalahan orang lain." kata Abraham.
"Aku bukan orang lain dad.Aku putramu." protes Mic,tapi tidak ditanggapi oleh Abraham yang masih sibuk menimang cucunya.
"Dad mau pulang hari ini juga."
"mana bisa begitu dad,kau masih sakit."
"Dadymu tidak sakit Mic,dian hanya merindukan El,sama dengan bunda." bela Misca.
"pokoknya malam ini kalian menginap dirumah dad.Biarkan El bersama kami.Dan kalian.....segera membuat program adik untuk El." perintah Abraham keras.
"Tapi aku masih kangen dengan El dad."
"Dad tidak mau tau.Segera urus kepulanganku sekarang." Mic hanya mengangguk malas.Willy yang mendengarnya langsung kebawah untuk mengurus kepulangan mertuanya lalu menelepon Stephanie agar tidak cemas lagi karena semuanya sudah baik-baik saja.
Sesampai dikediaman Abraham,lelaki tua itu tetap menguasai cucunya bersama Misca.Shinta yang bingung harus bagaimana melangkah menuju dapur untuk membantu menyiapkan makan malam,tapi lagi-lagi diusir secara halus oleh para pelayan.Stephani dan Willy juga masih belum pulang dari kantor.Dengan putus asa dia masuk kekamar.Mungkin dad dan bunda benar,dia harus beristirahat.
Saat pintu terbuka,dia melihat Mic yang duduk disofa panjang sambil melihat siaran televisi.Shinta dengan cuek melewatinya dan membaringakan tubuhnya diranjang.Memang badannya terasa sangat penat.Mic tanpa berpikir panjang menyusulnya merebahkan diri sambil melingkarkan tangannya diperut Shinta.
"Sayang maaafkan aku." bisiknya sambil mengecup leher Shinta.Tidak ada reaksi.Mic menghela nafas panjang saat mendengar dengkuran halus dari bibir Shinta.Istri cantiknya tertidur karena kelelahan.
*********
Nico mengemudikan mobil Willy yang sengaja ditinggal dibelakang mobil Erika yang mengemudikan mobil dinasnya dengan hati-hati.Bibirnya tersenyum saat melihat Erika berbelok kerumah kontrakannya yang terlihat sepi karena dua rekannya masih bertugas dirumah sakit.Nico mengekorinya masuk tanpa disuruh.
"Berikan aku nomer ponselmu." Erika yang malas berdebat langsung menerima hp Nico dan mengetikkan nomernya lalu menyerahkan hpa itu kembali ke pemiliknya.
__ADS_1
"Aku akan menghubungimu nanti." katanya lalu keluar.Benar-benar manusia aneh.Erika segera mengunci pintu dan menuju kekamarnya.Dia sangat lelah menghadapi aksi mengejutkan Nico seharian ini.
Menikah?Dulu dia sangat ingin menikah dengan pria hangat yang mencintainya,mengejar cintanya,dan melamarnya dengan romantis seperti yang ada di drakor favoritnya.Tapi sekarang?dia malah akan dinikahi pria dingin tanpa ekspresi bagai robot berjalan yang jangankan menyatakan cinta,bertindak romantis saja tidak pernah.Aahhh....Erika mengeluh lagi karena ingat papanya yang biasanya tipe pemilih langsung jinak dihadapan ice man itu.Dia terus mengeluh hingga tertidur karena kecapekan.
Nico berjalan gagah memasuki lobi Luxio.Beberapa staf dan karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat namun tidak dibalas olehnya.Semua orang tau,Nico dan Michael adalah pasangan yang serasi dalam hal ini.Mereka tipe dingin dan tidak tersentuh.Willy walaupun selalu bersama mereka terkesan lebih ramah dan sering tersenyum,maka itu dia banyak digandrungi karena sifat dan pembawaanya.
Dia menekan tombol 9 saat memasuki lift untuk bertemu Willy.Tidak tau kenapa dia merasa perlu menemuinya untuk sekedar sharing.Mengayunkan langkah begitu pintu terbuka.Sekretaris Willy menyapanya ramah saat dia mendekat kepintu.
"Apa tuan muda ada?" tanyanya.Dia selalu bersikap formal pada siapapun,kecuali jika bicara empat mata saja dengan Willy,mereka kembali ke performa awal.Duo tampan yang membahana ha..haa..
"ada tuan,silahkan masuk." wanita yang sebelumnya jadi sekretaris Abraham itu meninggalkannya.Nico mengetuk pintu lalu masuk ruangan hello kitty itu lagi.
"Dari mana saja kau Nic?" tanya Willy yang masih sibuk dengan laporan dilayar laptopnya.
"Melamar Erika."
"APA????!!!!!!!hah....kau melamar dokter itu??wah...good job man!!" teriak Willy lantang lalu meninggalkan mejanya untuk memeluk Nico.
"seolah aku pacaran denganmu?hah..sial!!aku sampai hafal perkataanmu!" umpat Nico kesal.
"Kau bahkan bersikap seperti pasangan homoku." tukas Nico tak kalah kesal.Willy segera melepaskan pelukannya dan bergidik ngeri.
"Andai aku wanita saja aku tidak tertarik padamu Nic,apalagi saat aku jadi laki-laki.....hihhh..kau membuatku geli!"
"hantikan leluconmu Will.Dua minggu lagi aku akan menikahi Erika."
"apa kau yakin akan menikahinya Nic?"
"ya"
"apa kau mencintainya?"
__ADS_1
"tidak."
"lalu pernikahan macam apa yang akan kalian lakukan?"
"Entahlah."
"kau mempermainkan perasaan Erika nanti Nic."
"Aku tidak berniat begitu."
"lalu apa niatmu menjerat wanita seperti Erika dengan pernikahan semu Nic?"
"Itu yang harus kuketahui Will." sergah Nico dengan mata menerawang.Mereka duduk disofa dalam waktu hampir bersamaan.
"Aku hanya merasa terikat dengan Erika.Aku senang bisa melihat dia gugup dan salah tingkah seperti tadi."
"Dua minggu...kau harus tau alasanmu menikahinya tanpa omong kosongmu tadi sekretaris bodoh!!" umpat Willy kesal.Dia tau orang seperti Nico tidak mengenal cinta.Dia hanya takut Nico mempermainkan Erika.
***********
Shinta terbangun dari tidurnya saat hari hampir gelap.Keinginan buang air kecil sudah tidak bisa ditahannya.Gemricik air dikamar mandi membuatnya mengucek mata..malas!pasti Michael yang ada disana.
Semenit,dua menit,hampir seperampat jam menunggu,Mic belum juga selesai mandi.Memangnya mandi model apa yang dilakukan suaminya itu hingga bermenit-menit lamanya.Digedornya pintu sambil memegangi perutnya.Sekejap kemudian pintu dibuka,menampilkan Michael yang telanjang bulat dihadapannnya masih dengan busa melekat dibadan.Shinta spontan menutupi matanya.
"keluarlah...aku mau pipis." desis Shinta.Tanpa berkata Mic malah menggendongnya kekloset.Shinta memekik saat Mic berkacak pinggang didepannya.
"Kau bisa pipis sekarang." tandasnya cuek lalu masuk kembali kebathtub sambil matanya tidak lepas dari tubuh Shinta.
"mana bisa begini?"
"kenapa?kau malu?aku bahkan sudah melihat tubuhmu dan hafal letak semua tahi lalat ditubuhmu." Shinta menyerah.Tidak ada gunanya berdebat,lebih baik dia segera menyelesaikan ritualnya lalu pergi keluar.
__ADS_1