Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Bersamaan


__ADS_3

Suara tangisan keras menggema di ruang persalinan. Wajah haru Michaellah yang pertama kali nampak. Pria itu mengenggam jemari Shinta erat. Wanitanya itu masih mengatur nafas yang tersengal usai prosesi kelahiran putri keduanya. Michael mengelap titik-titik keringat di dahinya dengan handuk kecil ditangannya. Tak lama, sebuah kecupan lembut mendarat disana.


"Terimakasih sudah berjuang untuk melahirkan bidadari kecilku sayang." ucapnya dengan suara bergetar. Shinta mengusap air mata yang mengalir di sudut mata suami tercintanya. Keduanya sama-sama terharu. Berulang kali Mic mengecup keningnya dengan rasa sayang tak terkira. Shinta melengkapi kebahagiaannya dengan kelahiran dua malaikat kecil ditengah keluargal bahagianya.


"Permisi tuan muda..ini bayi anda. Dia sangat sehat dan cantik." kata salah seorang perawat yang menyerahkan bayi mungil itu pada Mic. Tuan muda itu segera menggendong bayinya. Sama dengan kelahiran baby El, Mic juga menyerukan adzan ditelinga sikecil, membuat bayi kecil itu mengerjab dan tersenyum manis, seolah tau...papanya mulai mengenalkan padanya nilai aqidah dasar dalam kehidupan.


"Sayang lihat, dia tersenyum. Dia benar-benar putriku. Duplikatku. hanya saja dia perempuan. Tidak akan ada bayi secantik putriku." Mic menatap putrinya takjub.


"Kau kumat narsis mas. Semua anak kita kau bilang mirip dirimu, apa gunanya aku sebagai momy mereka." sambung Shinta gusar. Mic membawa bayi mereka mendekat.


"Baiklah...tak akan ada bayi cantik ini tanpa ibu yang cantik sepertimu sayang. Tersenyumlah...ini hasil kerja keras kita." Mic mengerling nakal pada istrinya, membuat Shinta tersenyum malu lalu mencubit pinggang suami tampannya itu secara spontan.


"Kau sudah menyiapkan nama untuknya mas?"


"hmmmmm....."


"mas??!!"


"ya."


"siapa namanya?"


"sayang, bayi pertama kita sudah aku beri nama. Bagaimana kalau sekarang kau saja yang memberi nama bidadariku ini?"


"Apa karena dia perempuan hingga kau tak mau memberinya nama mas?" Mata shinta berkaca. Mic buru-buru menggapai jemari istrinya dan membawa kebibir merahnya, mengecupnya berlahan.


"Bukan begitu sayang. Aku sangat menyayangi anak-anakku tak peduli dia laki-laki ataupun perempuan. Tak ada bedanya mereka bagiku. Baiklah, aku akan memberikan nama padanya."


"Hmmm"


"Namanya Zahra...Zahra Mikhaila Maverich. Sayang, semoga kelak kau menjadi wanita sholehah ya..." kata Michael seraya mengucapkan doa untuk putrinya. Shinta kembali meneteskan air matanya, tangannya terulur untuk menyambut bayinya.


"kau sangat cantik Zahra." bisiknya lembut sambil mencium pipinya gemas.


Pintu terbuka lebar. Tuan besar Abraham dan nyonya Misca masuk. Keduanya tersenyum lebar, langsung menuju ranjang Shinta.


"Selamat atas kelahiran putri kalian. Dad sangat bahagia hari ini. Dua cucu dad lahir dihari yang sama." Abraham memeluk Mic erat. Pria itu begitu bahagia. Misca juga langsung menggendong si kecil.

__ADS_1


"Apa putri Steve sudah lahir dad?"


"Belum, Erika masih menanganinya. Semoga putri Steve lahir dengan selamat."


"Amiinn...." sahut semuanya serempak.


"Siapa namanya Mic?"


"Zahra dad, Zahra Michailla Maverich."


"Nama yang sangat cantik. Nah Zahra...jadilah anak yang berbakti ya nak. Oma dan Opa akan mendoakan yang terbaik bagimu.


" owhhh..dimana El?" pertanyaan Misca kontan membuat semua orang panik. Benar,mereka melupakan El.Walau aman bersama pembantu dirumah, namun El juga butuh orang tuanya.


"Dia dirumah mom."


"ohh baiklah, untuk sementara biar El bersama kami."


" No dad!! El akan tetap bersama kami. Sebentar lagi bayi Steve dan Willy akan lahir bukan?kalian fokus saja padanya ok?" Mic tau kata sementara dari dadynya akan menjadi lama atau kalau bisa selamanya. Dia tau dady dan momynya susah berpisah dari cucu-cucu mereka.


"Selamat siang tuan...nyonya..." sapa keduanya penuh hormat.


"Apa bayi Steve sudah lahir?" tanya Misca tak sabar.


"Baru saja selesai operasinya nyonya. Steve dan bayinya baik-baik saja. Sekarang sudah pindah keruang perawatan."


"Ahh syukurlah..ayo kesana mom!" Abraham menuntun istrinya keluar.


"Mom..dad..jangan bawa putriku!" teriak Mic yang baru menyadari putrinya masih dalam gendongan Misca.Abraham menoleh geram.


"Kami hanya meminjamnya sebentar." ucapnya gusar. Tapi Mic juga makin keras menghadang keduanya.


"Dad..dia belum minum asi. Nanti kalian bisa kesini lagi kan?"


"Biarkan El ikut kami atau Zahra yang akan kami bawa." tegas Abraham tak terbantah. Mic hanya terdiam dengan sorot mata tajam. Dua pria beda generasi dengan temperamen hampir sama akan segera berperang tampaknya. Tak ada yang mau mengalah.


"Mas, biarkan El bersama mom dan dad dulu. Bukannya kau masih harus mengurusku dan Zahra?" pertanyaan lembut Shinta meluluhkan hati Mic. Pria itu menarik nafas panjang lalu melepaskannya.

__ADS_1


"Baiklah, bawa El bersama kalian." putusnya dengan berat hati. Mic tau maksud kedua orang tuanya sangata baik, tapi sungguh dia tidak ingin melewatkan tumbuh kembang putranya sedikitpun.


"Baiklah, good job son,I Iike it." Misca menyerahkan Zahra dalam gendongan Mic. Di sampingnya, Abraham tersenyum penuh kemenangan dan membawa istrinya pergi.


"Selamat atas kelahiran putri kalian." ucap Erika seraya menyalami dua majikan suaminya itu.


"Terimakasih Er, ngomong-ngomong kapan kalian menyusul?" Shinta sengaja menggoda sepasang pengantin baru itu, membuat Erika menuduk malu.


"Kami masih mencicilnya nyonya." Mic terkekeh mendengar jawaban dingin Nico yang juga terlihat makin kaku.


"Sayang, aku pergi ke kamar Steve dulu ya, biar Erika dan Nico yang menemanimu disini." Shinta mengangguk,menerima Zahra dalam dekapannya. Mic berpamitan sekaligus menitipkan anak istrinya pada pasangan itu sebelum keluar ruangan.


Diruangan rawat Stephanie, suasana bahagia tak kalah dari kamar Shinta. Misca dan Abraham tertawa senang sambil mengendong bayi Stephanie yang ternyata lebih gemuk dari Zahra.


"Kalian sudah memberinya nama?" tanya Abraham sambil mengelus pipi cucunya.


"Belum dad." ujar Willy tidak enak hati.


"Kenapa tak kau beri nama?dia putrimu. Kau berhak untuk itu Will."


"hmmm baiklah. Aku memberinya nama Natasya." ujar Wily ragu.


"Sertakan margamu Will. Dia putrimu, margamu lebih berhak dibelakang namanya dari pada marga Steve." Wajah teduh Abraham serasa kekuatan baru untuk Willy. Tadinya dia merasa tidak enak hati dan bingung menamai putrinya dengan Maverich atau Vederico, namun Abraham dengan bijak mengikis semuanya.


"Baiklah dad. Namanya Natasha Salsabilla Vederico." ujarnya mantap. Stephanie tersenyum lebar. Natasha adalah nama kecil Stephanie sebelum masuk sekolah. Seketika rasa haru menyelimuti wanita cantik itu.


" Kau masih mengingatnya kak?" ucapnya dengan bibir bergetar. Padahal itu sudah lama sekali. Sebegitu besarkah cinta Willy padanya??


"Selalu Stev, semoga putri kita akan menjadi mata air surga nantinya."


*****"******


Hai readers....lama ya tidak menyapa kalian.Author hanya ingin memberi tau jika karya baru telah hadir. Silahkan mampir dan menyemangati author lagi ya...


Insyaallah karya akan up tiap hari. Saya sangat berharap pada sambutan positif kalian untuk kemajuan saya dikemudian hari. I love U all.....😘😘


__ADS_1


__ADS_2