Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Kode keras


__ADS_3

"Mas,aku sudah menyiapkan pakaianmu juga air mandimu." kata Shinta pagi itu saat Michael baru membuka matanya.Tidak ada jawaban,pria itu ke kamar mandi tanpa menoleh.Shinta hanya menghela nafas panjang menunggunya selesai mandi sambil merapikan tempat tidur.


Michael keluar dengan handuk yang membelit pinggangnya menuju walk in closet.Tak berapa lama kemudian keluar dengan setelan santai namun terkesan formal,bukan baju yang disiapkan istrinya.


"Mas,kenapa ngga pake setela kerja?mas nggak suka?atau aku salah warna?" tetap dingin,hening,tak ada suara.Shinta mengelus dadanya saat Mic melewatinya begitu saja.


"Mas,mau sarapan apa?biar aku siapkan." Hanya kebisuan yang dia dapatkan.Setengah berlari menjajari langkah sang suami,Shinta meraih tangannya,namun ditepis oleh Mic sambil berpura-pura sibuk dengan hpnya.Hati Shinta memanas,Mic bahkan pergi tanpa sarapan pagi ini,juga melupakan kebiasaanya berpamitan padanya.Begitu marahkah Mic padanya?


Shinta menata piring terakhir di meja makan saat langkah panjang dan tegas Michael memasuki rumah.Ada sekretaris Nico yang mengikutinya sambil membawa beberapa map dan tas kerjanya ke ruang kerja.Wajah keduanya dingin dan tak terbaca.Tak berapa lama kemudian Nico keluar dan menutup pintu.


"sekarang saatnya." gumam Shinta sambil berjalan membawa susu hangat untuk suaminya.Jika Michael langsung masuk ke ruang kerjanya,maka bisa dipastikan pria itu akan mengurung diri disana hingga makan malam nanti.Diketuknya pintu berlahan,tidak ada sahutan.Agak gugup Shinta mendorong pintu,dia masuk bersamaan dengan Michael yang keluar dari kamar mandi.Mata pria itu menatapnya dingin.


"Harusnya kau mengetuk pintu dulu." katanya pendek,lalu membuang muka.Wajah Shinta memanas.


"Aku sudah mengetuk pintu mas,tapi tidak ada sahutan.Aku kawatir kau..."


"Tunggu dipersilahkan masuk,baru kau boleh masuk." lagi dengan suara tegas.Shinta terpaku.Perkataan tajam Mic menghujam kedalam ulu hatinya.Seolah dia diajarkan tata krama yang menjadi batas antara mereka.Apa salahnya jika dia masuk?bukankah dia istrinya?bahkan dia bisa masuk kemanapun tanpa ijin.


"Maaf,Aku hanya ingin mengantarkan susu untukmu mas." ujarnya terbata.


"Bawa pergi saja,aku tidak haus." Shinta menghela nafas panjang.Menata hatinya.Mic sudah kembali seperti dulu,dingin,arogan dan kaku.Tidak ada lagi senyum lembut dan kata cinta dari bibirnya,juga tatapan penuh kasih padanya.Semua sirna.

__ADS_1


"Kalau sudah tidak ada apa-apa lagi kau bisa keluar." Hardik Mic,hati Shinta mencelos,tapi masih berusaha dia tahan.Tanpa berpamitan atau menoleh kebelakang Shinta melangkah cepat ke arah pintu,membukanya lalu pergi dari sana.Air matanya tumpah.Berlahan namun pasti dia teguk habis susu itu hingga tandas lalu berjalan kembali ke dapur.Misca yang berpapasan dengannya tersenyum lebar.


"Kau dari mana?"


"mengantar susu untuk mas Mic bunda." jawabnya datar sambil mencoba tersenyum agar Misca tidak curiga dan bertanya macam-macam lagi.


"Tadi kau yang memasak makan malam?"


"iya bunda,hanya dua menu saja.Yang lainnya dimasak maid." Shinta memang memasak dua menu kesukaan Michael,berharap suaminya itu senang dan memaafkan kesalahannya.Dia ingat,Mic begitu memuji ayam bakar dan sambal tomat buatannya.Tak ketinggalan kuah sup yang selalu digarungi suaminya sudah dia siapkan dengan cantik di meja makan.


"Bun,apa nanti aku boleh membawa El ke kamar?aku kangen El,bun." kata Shinta penuh harap.Dia memang sangat rindu pada El.Tinggal satu atap tapi serasa dibatasi ribuan mil karena dia sama sekali tidak bisa menggapai sang putra.Dia seorang ibu,El juga putra pertamanya,wajar jika Shinta sangat menyayanginya.


"Bukan bunda tidak boleh,Ta..tapi dadymu tidak mengijinkan.Sabar ya nak,dadymu bukan orang jahat yang ingin memisahkanmu dari El.Mintalah pada Mic karena dia yang menitipkan El pada dady." mata Shinta kembali memanas.Bunda Misca menatapnya iba,Shinta mengangguk dan berjalan ke kamarnya.Merebahkan dirinya di sofa hingga tertidur disana.


"Nyonya,sebentar lagi makan malam dimulai.Nyonya dimohon turun." kata pelayan itu sopan.


"Baiklah,terimakasih." jawab Shinta singkat.Pelayan itu mengangguk dan menuju kamar Stephanie,melakukan hal yang sama.


Shinta mengganti pakaiannya dengan dres panjang,merapikan dandanannya lalu turun.Dari arah lain Stephanie juga membuk pintu kamarnya.Adik iparnya itu memberi isyarat agar Shinta menunggunya.


"Kak,bagaimana?"

__ADS_1


"belum ada kemajuan." keluh Shinta lesu.Dia tidak ingin bercerita banyak karena takut kejadian masa lalu terulang saat Stephanie mengikutinya pulang ke Indonesia.


"semangatlah kak!"


"pasti Steve." lalu mereka beriringan menuruni tangga.Dua pasang mata menatap lekat keduanya penuh kekaguman.Bedanya satu orang buru-buru mangalihkan pandangannya,sedang satunya masih terus mengawasi tubuh tinggi langsing berkulit putih khas Eropa itu hingga duduk manis didepannya.Tidak ada niat pria itu mengalihkan pandangannya termasuk ketika Stephanie sudah menatap garang padanya.Mata itu tetap melihatnya penuh kerinduan.Stephanie berdecih sebal.


Shinta mengambilkan makanan untuk Michael sesaat setelah Misca melayani Abraham dan mengambil makanan untuknya.Senyum tipis terpatri di bibir Shinta saat mengisi piring itu dengan nasi,ayam bakar dan sambal buatannya.Dia juga mengisi mangkuk kecil dengan sup favorit Michael.


"Mas,makanlah." kata Shinta sambil meletakkan piring itu di depan Michael.Pria itu tidak bergeming.Dia menatap lurus kedepan,mengacuhkan Shinta yang berdiri disampingnya.


"Nic,singkirkan piring ini.Makan nasi dan ayam dimalam hari hanya akan merusak bentuk tubuhku." sentak Mic dingin.Semua mata melebar,menatap Mic tidak percaya.Stephanie bahkan sudah melotot dari duduknya,siap mengamuk.Sekretaris Nico berdiri dan hendak meraih piring itu saat Shinta mencegahnya.Dia memberi isyarat agar Nico kembali duduk.Pelan Shinta mengangkat piring itu dan membawanya ke tempat duduknya semula disamping Stephanie.


"ambil makananmu Steve." kata Shinta kalem.Stepanie masih terdiam.Matanya mengandung kemarahan.


"Tapi kak..."


"Sudah tidak apa-apa.Aku akan memakannya." ujar Shinta membuat Stephanie melengos dengan ekspesi tidak suka.Ia mengambil makanannya.Disaat yang sama Willy juga akan mengambil steak sapi hingga tangan mereka bersentuhan.Stephanie memasang wajah geram,Willy hanya tersenyum masam lalu cepat menarik tangannya kembali seperti tidak terjadi apa-apa.Dia tau istrinya sedang sangat marah.Kakak beradik itu memang susah ditebak.


Suasana kembali hening.Semua larut dalam pikirannya sendiri.Shinta berjuang untuk cepat menghabiskan makanannya sebelum air matanya mengalir.Sesak di dadanya semakin menjadi.Dalam hati dia meruntuk kesal karena mengambil dalam porsi makan Mic.Dia bahkan ragu bisa menghabiskannya atau tidak sedang dia tau peraturan makan dirumah itu mengharuskan semua piring bersih,tidak ada sisa diatasnya.Perutnya bahkan terlalu penuh untuk diisi lagi.


"Kak,hentikan makanmu." desis Steve saat wajah Shinta memerah karena menelan sambal.Shinta tak bergeming,dia tetap menghabiskannya lalu menyelesaikan makannya.

__ADS_1


"Maaf,saya akan kembali ke kamar duluan." ujarnya,lalu meninggalkan ruangan itu dengan cepat.Kesedihan sangat terlihat dan membuatnya sesak.Kakinya melemas saat rasa mual melanda perutnya dan membuat rasa tidak nyaman pada tubuhnya.Tergesa dia masuk kamar mandi dan memuntahkan seluruh makanannya tanpa sisa.Tangisnya pecah.


Dengan sisa tenaga dan tangan bergetar,Shinta meraih tas kecilnya dan mengambil obat lambung.Perutnya terasa sangat perih.Keringat dingin membasahi tubuhnya.Dokter memang melarang dia makan pedas karena lambungnya bermasalah.Masih menahan sakit,Shinta mencoba berbaring disisi ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.Rasa sakit diperutnya masih kalah sakit dengan hatinya.Penolakan Mic padanya sudah tidakan halus jika pria itu bukan hanya marah,tapi juga tidak menginginkannya.Kode keras agar dia menyingkir.


__ADS_2