
Kebisuan tetap terjadi diantara mereka berdua.Hanya deru mesin mobil dan klakson yang berbunyi silih berganti.Stephanie meremas tangannya kuat.Kebiasaan yang tidak bisa dia hilangkan disaat dalam keadaan gugup dan tertekan.Berlahan dia berpaling kesamping,menatap Willy yang tetap fokus kejalanan.
"Antarkan aku kekantor saja" katanya untuk memecah keheningan.Willy tak bergeming.
"baik nona" Lagi-lagi nona..nona..
nona...Stephanie sebal sekali saat Willy memanggilnya begitu.Apa dia tidak bisa memanggil namanya saja?
Tiba dilobi Maverich crop Willy langsung turun untuk membukakan pintu dan mempersilahkan Stephanie turun.Gadis itu sedikit gugup karena terlalu tenggelam dalam lamunannya hingga tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai.Tubuhnya bergerak pelan seakan enggan berjalan.Semakin dia cepat sampai keruangannya akan semakin cepat pula dia berpisah dengan Willy yang nantinya pasti akan langsung menghadap kakaknya.
Sekretaris Nico menghadang mereka.Sedikit membungkuk hormat pada Stephanie lalu menoleh pada Willy yang berjalan tepat dibelakangnya.
"Will,tuan muda memanggilmu." Willy mengangguk lalu berbelok kekanan.Masuk ruang presedir.Stephanie berdecak kesal lalu menatap tajam kearah Nico yang dinilai menganggu waktu kebersamaanya dengan Willy.Nico yang selalu pasang wajah datar hanya bergidik sesaat lalu berlalu dari hadapannya.Tinggal Stephanie yang menghentakkan kakinya kesal lalu masuk keruangannya.
Willy dan Nico sudah ada dihadapan Michael yang duduk disofa singel sambil menyilangkan kakinya.Mereka menegakkan badan menunggu perintah.
"Apa Jonathan Smith menerima tawaran kita?"
"Sudah dipastikan saat ini dia sedang bergerak mendekati Laura tuan" sahut Nico datar.Mic memainkan pena ditangannya.
"Pastikan Laura hancur tak bersisa Nic"
"Baik tuan muda"
"Will,aku tidak mau tau urusan pribadimu dengan Steve,kau digaji secara profesional dan harus bekerja profesional juga"
"baik tuan muda." ucap Willy sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Minggu depan Stephanie akan menikah." Suara bariton Michael terasa seperti petir yang menggelegar ditelinga Willy.Nafas pria muda itu tercekat ditenggorokan.Apa ini maksut kakak beradik itu menyuruhnya kembali?untuk semakin mencabik-cabik hatinya hingga jadi butiran debu?Apa tuan mudanya ini tidak tau apa itu patah hati?ahhh..tentu saja tidak.Dia dan Nico sama-sama manusia es yang menyebalkan.
Bukan hanya Willy yang kaget,sekretaris Nico yang ada disamping Willy juga sempat melongo mendengar kata-kata tuan mudanya.Setahunya,Jonathan hanya dihubungi untuk membeli saham dari tangan Laura saja lalu mereka akan menghancurkan Maverich saat itu juga karen setelah Abraham memutuskan pensiun dan ingin melewati masa tuanya,semua aset dan saham Maverich akan dimarger menjadi satu atap dengan Luxio.
Setahu Nico semua rencana mereka sudah berhasil setelah laura menjual semua sahamnya pada perusahaan John Smith ayah jonathan.Laura yang sudah bahagia karena memiliki banyak uang dari hasil penjualan sahamnya dipancing berinvestasi pada perusahaan abal-abal yang didirikan Jonathan dan harusnya,menurut sekenario mereka saat ini Laura sudah mulai merasakan kebangkrutan total karena perusahaan itu akan dinyatakan pailit pekan depan.
"kenapa tiba-tiba nona muda akan menikah dengan Jonathan smith tuan?." Nico seakan mewakili isi hati Willy yang hanya terdiam dalam gundah.
"Apa salahnya Nic?Jonathan sudah banyak membantu kita.Dia juga mantan pacar Stephanie.Apa salah kalau aku membantu mereka bersatu?" Michael menatap tajam kedua orang kepercayaannya bergantian.Dia tau Willy begitu terpukul.Tapi ini adalah jalan terbaik yang harus diambilnya untuk kebaikan bersama.
"sekarang lanjutkan pekerjaan kalian"
" baik tuan" mereka membungkukkan badan bersamaan lalu keluar ruangan.Nico merangkul pundak sahabatnya untuk memberi semangat.Willy kelihatan sangat rapuh hari itu.
"Maafkan aku Will.Semua ini tidak ada dalam rencana awal.Aku tidak tau kalau Jonathan mengajukan syarat itu pada tuan muda" ujar Nico pelan.Willy masih terdiam dimejanya.
"Masih ada waktu untuk berjuang Will.semangatlah!"
"Aku capek Nic.Aku lelah berjuang sendirian" keluh Willy.Nico lagi-lagi merasakan hatinya tersayat.Dia tumbuh dewasa bersama Willy dan tau benar jika sahabatnya yang ceria itu begitu rapuh dengan urusan hati.
"Saranku...cobalah sekali lagi agar kau tidak menyesali tindakanmu nantinya" namun Willy menggelengkan kepalanya,memilih mengacak rambutnya kasar lalu beranjak.
"kau mau kemana?"
"temui aku di kafe depan kantor nanti." Nico hanya menggelengkan kepalanya lalu duduk dimejanya.Membereskan dan meneliti berbagai berkas sebelum sampai ke tangan Michael.
*******
__ADS_1
Hari mulai gelap saat Stephanie sampai kerumah besar tuan Abraham.Dia disambut Shinta yang mulai berjalan agak aneh dengan perut buncitnya.Memasuki ruang tamu Stephanie sedikit kaget saat melihat tuan Abraham,bunda Misca dan Michael yang seperti menunggunya.
"Steve,duduklah.Kami ingin bicara" kata tuan Abraham kalem namun tegas.Stephanie yang terlihat kelelahan mengambil tempat duduk paling ujung.
"Ada apa dad?"
"Minggu depan kau harus menikah"
"me...menikah? Stephanie kesulitan menelan ludahnya karena begitu kaget dengan perkataan ayahnya.
" iya.Kau akan menikah dengan Jonathan Smith"
"a..apa!!kenapa harus dengan pria brengsek itu dad?aku tidak mau!!" teriak Stephanie keras sampai terlonjak.dari duduknya.Wajahnya merah padam menahan amarah.
"Itu keputusan dad.Jonathan sudah banyak membantu kita.Bukankah kau sendiri yang meminta calon suami yang sekelas dengan kita pada dad?" Reaksi keras Abraham membuat Stephanie menciut.Selama ini Abraham tidak pernah membentak atau berlaku kasar padanya.Tapi hari ini Abraham bahkan membentaknya.Belum lagi tatapan membunuh dari Michael yang makin membuatnya merinding.Itu artinya dia sama sekali tidak akan mendapatkan pembelaan dari siapapun.
"Dad,aku tidak mau!jangan paksa aku menikah dengan bajingan itu!"
"Kau ingin dadymu ini meninggal lebih cepat?" teriak Abraham putus asa.
"dad..jangan bilang itu padaku."
"Tanggal dan harinya sudah dad tentukan.Kau tinggal menuruti saja.Ingat,mulai besok kau tidak boleh keluar rumah." tegas Abraham keras.Stephanie melirik kearah Shinta.Dia melihat kakak iparnya itu begitu kesal,tapi dia tau Shinta tidak akan bisa membantunya.Spontan dia berlari merengkuh tubuh Shinta.Tangisnya pecah disana.Hanya Shinta tempatnya berkeluh kesah,sahabat dan kakak ipar terbaik yang dia punya.
Shinta mengelus punggungnya lalu mengajaknya masuk kekamarnya.Disana Stephanie menumpahkan tangisannya hingga tidak bersisa.Shinta masih menemaninya hingga gadis itu tertidur karena terlalu lelah menangis.Dia menyelimuti tubuh Stephanie lalu beranjak keluar kamar.
Shinta melihat bayangan Michael hendak naik tangga,maka dia memutuskan masuk kekamarnya tanpa menunggu suaminya.
__ADS_1
"Sayang,aku mau mandi dulu" kata Mic yang sama sekali tidak direspon oleh Shinta.Pria tampan itu menoleh pada istrinya.Dahinya mengerut heran.Tidak biasanya Shinta bersikap acuh.Biasanya dia akan segera membantu Mic melepas pakaian lalu menyiapkan air mandi untuknya.Tapi sekarang,wanitanya malah lebih memilih mengalihkan padangan keluara jendela.