Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Destiny


__ADS_3

Willy termenung di depan sungai kecil samping rumah Yesa.Hatinya begitu gundah hingga insting menuntunnya ke tempat ini dengan taksi online.Pria tampan bak artis korea itu menyandarkan tubuhnya di pohon besar yang tumbuh disana.Sesekali tangannya melempar kerikil kedalam air sungai yang mengalir lambat hingga terdengar bunyi kecipakan disana.Pikirannya menerawang pada kejadian beberapa jam lalu.


Stephanie yang sangat dia cintai tega mengatakan hal yang sangat menyakiti perasaannya.Mungkin terlalu naif baginya untuk berharap pada cinta yang kata pujangga tidak memandang derajat dan kasta karena tidak semua cinta bisa selamat dari urusan strata sosial yang kadang menggila.Dia terlalu berharap menjadi seperti Shinta yang diterima tuan muda kaya raya,tampan,terpelajar dan punya segalanya walau sering kali ada riak-riak kecil dalam hubungan keduanya,tapi mereka tetap membuktikan jika cinta tetap membuat mereka bersama.


Ponsel disaku celananya bergetar.Awalnya Willy acuh saja,namun setelah beberapa kali bergetar,dia merogoh kantong celanannya dengan malas,lalu mengeluarkan ponselnya.


Aira calling....


"Hallo"


"selamat siang tuan Willy,anda dimana?satu jam lagi ada meeting dengan klien di Crown alaska hotel." Menghela nafas keras,sejak seminggu lalu Aira memang dipindah tugaskan untuk membantunya.


"Saya sedang tidak ingin diganggu nona Aira.Hubungi istri saya atau sekretaris Nico agar menghandel meeting itu." kata Willy dengan menekan perasaannya.Dia sudah terlatih untuk profesional dari dulu.Harusnya saat ini Willy harus memilah dan pintar menyikapi masalah kantor dan urusan pribadinya.Tidak seharusnya dia begini.Tapi bukankah dia juga manusia biasa?Keadaannya terlalu kalut dan menyedihkan untuk bertemu klien dan mengurus proyek besar saat ini.


Lagi-lagi ponselnya berdering.Nico menghubunginya.


"iya Nic" nada malas terdengar disambungan telepon.Sekretaris cerdas diseberang sana masih terdiam.


"Kau ditempat Sona?" Willy tau Nico diam sambil memasang telinganya,sahabanya itu memang jeli dalam segala hal.Bahkan dia sangat hafal dimana Willy berada walau hanya mendengar desau angin disekitarnya saja.


"ya" hanya singkat.Sifat cerianya sudah menguap karena beban masalah.


"Kau perlu berlibur man!"


"Kau punya destinity menarik?"


"Kalimantan."


"lagi-lagi kesana.Kau tidak punya tempat menarik lainnya ya?kau ingin menjadikanku manusia primitif?" sungut Willy kesal.


"Jangan menghina sebelum kau berkunjung kesana."

__ADS_1


"aku hanya akan melihat hutan."


"terserah kau.Mau kubookingkan tiket dan akomodasinya." Wily terdiam.Nico memang sahabat yang aneh.Saat orang lain seharusnya menanyakan keadaanya,dia malah sibuk memikirkan liburan baginya.Sahabat macam apa itu?bahkan Nico sama sekali tidak membuka peluang curhat baginya.


"kurasa itu tawaran yang menarik tuan sekretaris.Apalagi jika aku tidak perlu membayar biaya liburannya." sahut Willy masih dengan nada meremehkan.Nico tidak mungkin pelit padanya.Apalagi Nico tau dia pergi tanpa membawa apapun dan tidak mungkin kembali ke kediaman Maverich dalam keadaan seperti sekarang.Meski humoris,Willy adalah pria keras yang idealis.


"Kau akan mendapatkannya.Baiklah,sebentar lagi tiketmu siap.Kau ikut penerbangan dua jam lagi." Willy masih diam.Dia tau Nico bukan pria gegabah yang akan menyuruhnya liburan saat dia bertengkar dengan Stephanie.Itu adalah kode keras agar dia segera menghilang.


"hmmm baiklah...anggaplah aku berhutang padamu." sahutnya kemudian.


"Kau seperti saudara bagiku Will,saat kau terluka,akupun merasakan sakitnya." suara diseberang sana melunak.


"Apa aku harus berterimakasih tuan sekretaris?"


"Kau cukup membayarnya dengan kebahagiaanmu man.Nikmati liburanmu." ujarnya lagi lalu menutup sambungan telepon.Willy tersenyum masam,lalu bergegas masuk kerumah.Menemui kakaknya juga Sona.


"Apa kau ada masalah Will?" tanya Yesa sambil menyeduh secangkir kopi hitam untuknya.Willy tak menjawab.Dia malah asyik mengajak Sona bercanda.Gadis kecil itu tertawa-tawa sambil memeluk lehernya erat.


"Kenapa Steve tidak ikut?"


"Dia sibuk di kantor kak.Kak Mic mendidiknya untuk bisa mengurus cabang usaha Maverich yang lain." Willy berucap setenang mungkin agar Yesa tidak curiga.Ia juga tidak memasang wajah sedih dari awal kedatangan hingga sekarang.


"Apa kau akan menginap Wil?sepertinya Sona sangat merindukanmu." ya,keponakan kecilnya itu memang sangat rindu padanya.Gadis itu bahkan tidak pernah lepas dari gendongannya.


"Kurasa tidak kak.Aku kesini karena merindukan kalian.Aku juga harus segera kembali setelah ini." jawab Willy sambil menciumi pipi chuby Sona berkali-kali.Yesa menarik nafas.Selalu begitu saat Willy berkunjung.Dia hanya punya waktu beberapa jam untuk melepas rindu atau sekedar makan bersama dengan adik semata wayangnya itu.Yesa sangat tau resiko bekerja jadi asisten seperti Willy yang walaupun sudah manjadi menantu keluarga Maverich,tapi juga harus tetap bekerja secara profesional.


"Sesekali ajaklah Steve kemari Will.Itupun jika kalian tidak sibuk."


"Aku akan berusaha kak.ohh iya...ini uang jajan untul Sona kak." Willy mengeluarkan amplop coklat dari dalam jasnya.Hanya itu yang dia bawa tanpa sengaja karena memang dari pagi sebelum kejadian itu dia ingin ketempat Yesa untuk mengantarkan saku Sona.Dulu,jika dia bekerja jauh mengikuti Michael maka tiap bulan dia akan rajin mengirim uang pada Yesa dan Sona.Tapi sekarang,jarak mereka sangat dekat dan membuatnya berpikir tidak perlu mentransfer uang lagi,toh dia bisa sekalian menjenguk keluarga mereka.


"Itu tidak perlu Will.Sekarang kau sudah berkeluarga,istrimulah yang berhak menerima uangmu.Jadi kakak harap mulai sekarang kau menjadi suami yang baik untuk Stephanie." Yesa mengembalikan amplop itu setengah memaksa pada Willy yang masih bersikeras tidak mau menerimanya kembali.

__ADS_1


"Ini hanya uang jajan Sona kak,bukan uang besar."


"Dengar Will..Sona itu punya papi.Kau sudah terlalu banyak membantu Han dan aku,jadi biarkan Han jadi ayah yang baik untuk Sona.Biarkan Han yang mencukupi kebutuhan kami." Yesa menekan tiap kata dalam ucapannya,berharap Willy mengerti jika itulah yang sepantasnya dia lakukan.


"Apa kau juga melarangku datang kemari?"


"Sama sekali tidak Will.Rumah ini pemberianmu,maka selamanya ini juga rumahmu.Kau bisa datang kapan saja saat kau mau." Mata Willy berkaca.Yesa satu-satunya keluarganya.Darinya dia mendapatkan sosok seorang ibu dan kasih sayang,juga Han yang selalu siap memasang badan untuknya jika terjadi sesuatu.Tuhan maha baik dengan mengirimkan semua orang-orang terkasih itu padanya.


"Aku tau kau ada masalah Will...kau tidak bisa membohongiku." suara lembut Yesa menusuk hati Willy.


"begitulah kak."


"sebaiknya kau selesaikan segera,menunda hanya akan membuat semua pihak terluka."


"ya,aku tau." Yesa memaksa memasukkan amplop tadi ke jas Willy.Sang adik menggaruk kepalanya bimbang.Saat ini dia memang memerlukan uang itu dan Yesa sepertinya sangat paham itu.


"Kak,aku....."


"Sudahlah,aku tau kau belum ingin berbagi denganku.Tenangkan dirimu dan selesaikan semua secepatnya." Willy mengangguk lalu berpamitan.Dia harus pergi ke bandara sekarang.Taksi online yang dipesannya baru akan datang beberapa menit lagi,setidaknya dia punya waktu untuk merilekskan tubuh.


*


*


*


*


Hallo readers.....apa kabar kalian?sejujurnya saya sangat kangen kalian.Terimakasih atas doa tulus kalian semua hingga saya bisa kembali berkarya.


salam hangat selalu...

__ADS_1


jangan lupa tab like,komen,dan kasi hadiah author ya....😘😘😘😘


__ADS_2