Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Baby El


__ADS_3

Suara tangis kencang seorang bayi membuat wajah Michael yang tegang sejak satu jam lalu langsung berseri.Disekanya keringat yang menetes didahi dan leher Shinta.Istrinya itu terlihat sangat kelelahan dan tak bertenaga.Michael mengecup kening Shinta lembut.


"Terimakasih sayang" bisiknya lirih sambil mengelus pipi shinta lembut.Wanita cantik itu hanya mengangguk dan tersenyum padanya.


"Selamat tuan,bayi anda laki-laki.Dia sangat tampan." Ucap dokter yang sedari tadi dimarahi dan dicaci-maki oleh Michael karena jadwal kelahiran Shinta yang tidak sesuai prediksinya.Padahal itu bukan sepenuhnya salah dokter itu.Michael saja yang susah diberi tau.


Dengan tangan gemetar dan gerakan kaku Michael menerima bayinya.Matanya berkaca-kaca saat melihat malaikat kecil itu tertidur pulas dalam dekapannya.


"anak dady yang tampan..sayang lihat,dia tampan sepertiku" soraknya riang sambil meraba wajah bayinya.Tak terasa air mata menetes di kedua pipinya.


"Kau terlalu narsis mas" ejek Shinta sambil mendongak,berusaha melihat bayi laki-lakinya.Mic mengangsurkan bayi yang masih memejamkan mata itu pada Shinta.


"Lihat,apa ada bayi setampan anakku sayang?" Shinta hanya tersenyum mendengar celotehan suaminya.Dia meraba putranya.Memang bayi itu sangat tampan dengan hidung mancung,pipi gembul dan bibir tipis yang serasi dengan wajahnya.Mirip dengan Michael.


"Kau sudah mengadzani bayi kita mas?" Michael menepuk keningnya.


"Apa itu harus sayang?"


"Itu sunah mas.Karena semua bayi yang lahir didunia pasti diganggu setan kecuali Isa putra Maryam."


"Biar dad yang mengadzan bayi kalian" seru tuan Abraham setelah pintu terbuka.Mic menggeleng kuat.


"Tidak dad,dia anakku.Aku yang akan mengadzaninya"


"kau bisa?"


"tentu saja." Sahut Michael percaya diri.shinta menahan tawa saat Mic dengan begitu kaku menggendong bayinya dan mendekatkan bibirnya dengan telinga sang bayi.Dengan penuh kesungguhan Michael melafazkan adzan ditelinga kanan dan iqomah ditelinga kiri bayinya.


"Siapa nama bayi kalian Mic?" tanya tuan Abraham sambil mengendong cucu pertamanya.


"Namanya Gabriel dad."


"jibril,malaikat penyampai wahyu...nama yang bagus Mic."


"Dia yang membawa kabar gembira padaku dad.Tapi ayah mertua ingin menamai cucunya Erlangga dad"


"Erlangga itu raja besar ditanah Jawa Mic,gabungkan saja nama keduanya." Misca yang ganti menimang cucunya menyahut.


"hey sayang..namamu Gabriel Erlangga Maverich ya.Kami akan memanggilmu baby El.Apa kau senang?" tanya Michael.Baby El tersenyum saat Mic bicara.

__ADS_1


"sayang lihat...putra kita menyukai namanya." Shinta hanya tersenyum mendengar celotehan suaminya yang terlalu bahagia dengan kelahiran putranya.


Misca mendekati ranjang tempatnya berbaring dan mengelus kepala Shinta.Wanita paruh baya itu terlihat sangat bahagia.Dia juga sosok ibu yang penuh kasih sayang.Shinta jadi ingat ibunya yang sudah tiada.Andai saja ibunya masih ada didunia,dia pasti sangat bahagia dengan kelahiran cucunya.


"Ta,apa tidak sebaiknya kau pulang kerumah kami agar aku bisa ikut merawat baby El nanti?"


"Aku tidak ingin merepotkan bunda.Lagi pula ada Sarla dan Mia yang akan membantuku dirumah." Nyonya Misca sedikit kecewa dengan jawaban Shinta.Tapi dia juga menyadari jika mereka juga punya privacy untuk mengatur rumah tangganya sendiri.


"hmmm baiklah,beritau bunda jika kau perlu sesuatu." ujarnya kemudian.


"terimakasih bunda"


Stephanie yang baru datang langsung ikut bergiliran menimang baby El.Nyonya muda itu begitu antusias dengan kelahiran keponakan pertamanya.


"Ta,baby El lucu sekali.Aku sangat gemas dengannya." tangan Stephanie menowel pipi baby El berkali-kali karena gemas.


"Kau juga harus segera menimang bayi Steve." canda Shinta yang langsung disambut seisi ruangan dengan ceria.Misca malah langsung menegur putrinya agar tidak KB dulu sebelum punya anak.


"Aku juga lagi usaha bunda." protes Stephanie setengah menggerutu.


"Kenapa kalian tidak bulan madu saja sekalian program punya bayi?" tanya Misca lagi.


"Aku tidak yakin kak Willy setuju bun,dia terlalu gila kerja seperti kak Mic." sekarang nada bicara Stephanie berubah seperti merajuk.


"Bulan madu dan tidak sama saja Ta.Aku sampai kuwalahan menghadapinya." Michael tertawa keras lalu keluar ruangan.


"Will..sini" Panggilnya dari ambang pintu.Wily yang sedang berbincang dengan Nico berdiri dan menghampiri Mic.


"iya kak."


"minggu depan kau harus pergi bulan madu." Nada pelan tapi memerintah ciri khas mIchael memang tidak ada duanya.Apalah daya Willy selain tetap mengangguk dan berkata setuju.


"tapi kak aku..."mencoba mencari alasan.


"kau mau berangkat atau mau kupecat hem?" Lagi-lagi sang tuan muda menunjukkan kekuasaannya.Protespun tidak akan ada gunanya.


"baik tu ...eh kak"


"Steve..Willy sudah setuju untuk bulan madu.Persiapakan dirimu untuk singa kelaparan ini" kekeh Mic lagi lalu kembali bergabung didalam.

__ADS_1


********


Dua hari dirumah sakit membuat Shinta merindukan rumahnya.Sebenarnya dia dan baby El sudah boleh pulang,namun Mic selalu menahan mereka dengan berbagai alasan.Dia terlalu takut sesuatu terjadi pada anak istrinya.


Seorang dokter memasuki ruangan dan menuju box bayi baby El.Perawat yang ada dibelakangnya mencatat laporan tentang sang bayi.


"apa bayi saya sehat dokter?"


"hari ini anda sudah boleh pulang nyonya." sahutnya tanpa menoleh.Sesaat dokter itu terkesiap ketika menatap Shinta.


"nyonya Shinta?" ucap dokter tadi gamang antara benar dan salah.Tapi rasanya dia tidak salah orang.Shinta yang masih berbaring,berlahan berusaha mendudukkan tubuhnya untuk melihat wajah sang dokter.Senyum terkembang dibibirnya kala melihat dengan jelas wajah wanita cantik dihadapannya.


"dokter Erika?bagaimana anda ada disini?" Mereka berjabat tangan erat.


"saya baru enam bulan disini nyonya."


"anda menikah dengan orang sini?"


"saya belum menikah nyonya.Saya mendapat beasiswa untuk program spesialis disini." ujar dokter Erika ramah.Shinta mengagguk-anggukkan kepalanya.


"nyonya sendiri?kenapa sampai disini?bukankah suami anda orang Singapura?"


"Ayah mas Mic orang sini dok,tapi bundanya orang asli Indonesia sama seperti kita."


"ohh syukurlah.Kalau begitu saya permisi nyonya."


"ehhh baiklah dokter,sampai jumpa."


Erika hendak membuka pintu saat pintu itu dibuka dari luar.Sekretaris Nico berdiri gagah disana.


"dokter?anda disini?"


"ehh..mas Nico disini juga?"


"Mengecek kondisi nona muda"


"saya permisi dulu mas" ujarnya lalu berjalan cepat menyusul perawatnya yang sudah pergi lebih dulu.


"hari ini anda sudah boleh pulang nyonya"

__ADS_1


"ohh syukurlah Nic,aku sangat bosan berada disini.Apa mas Mic tidak ikut menjemputku?"


"tuan sedang dalam perjalanan kemari.Saya akan membantu anda bersiap nyonya." ujar Nic lalu bergerak merapikan perlengkapan baby El.Shinta hanya menghela nafas sambil menggendong baby El yang tertidur lelap.


__ADS_2