
Satu persatu tamu sudah berpamitan pulang,demikian pula keluarga Jonathan smith dan besannya.Abraham memang pria yang cerdik.Dia mengundang keluarga Smith untuk menikahkan putra mereka bersamaan sebagai wujud awal kerja sama.Tentu saja perusahaan yang sedang berkembang seperti Smith sangat bangga bisa bekerja sama dengan Maverich dan dengan senang hati menerima berbagai syarat termasuk acara menikahkan anak bersama bersama karena semua didanai keluarga Maverich.
Abraham masih bercengkrama dengan anak dan istrinya di kebun luas keluarga tempat pesta tadi dilakukan.Petugas kebersihan berlalu lalang membereskam sisa pesta yang butuh penanganan ekstra.Michael mengelus perut Shinta,merasakan bayi dalam kandungan istrinya terus menendang kuat sambil sesekali mengecup perut buncit istrinya.
"Waktu bundamu hamil dirimu,dad juga tidak mau jauh-jauh darinya.Kau juga sangat nakal seperti calon bayimu.Selalu membuat bundamu meringis sakit"
"hmmmm"
"kalian sudah USG?apa jenis kelamin cucuku?"
"Belum dad.Aku dan mas Michael akan menunggu dia lahir saja." sahut Shinta.
"Laki-laki atau perempuan sama saja buatku dad.Aku tidak hanya akan punya satu anak.Enam...aku ingin enam anak." ujar Mic yang langsung mendapat pelototan tajam dari Shinta.
"kenapa sayang?kau tidak mau jadi ibu anak-anakku?aku tidak akan jadi miskin dengan enam anak." Shinta makin geram dan mencubit pinggang suaminya.Michael tertawa lepas sambil mengerling nakal pada Shinta.
"Dad,sepertinya Shinta capek.Aku akan mengajaknya istirahat duluan."
Abraham dan Misca hanya mengangguk.Pasangan usia senja itu tertawa bahagia.yah..semenjak Abraham memutuskan pensiun dari perusahaan,ia memang ingin menikmati masa tuanya dengan belahan jiwanya,cinta sejatinya.Dia terlihat lebih sehat dan bersemangat karena Misca wanita yang sangat perhatian dan penyayang.
"pergilah.bunda akan disini menemani dadymu.Shinta,jangan lupa minum susumu." Misca mengelus perut Shinta dengan perasaan sayang sebelum Mic menggandeng istrinya memasuki rumah.
Stephanie yang sejak tadi hanya berdiam diri terus saja mengarahkan pandangannya pada Willy yang masih bercakap-cakap dengan Nico dan beberapa kolega Michael yang tersisa.Pria itu terlihat sangat tampan,bahkan berkali-kali lipat lebih tampan dimatanya.Dia sangat berbeda dari Nico yang datar dan menyebalkan seperti kakaknya.Willy pria yang hangat dan murah senyum.Stephanie tersenyum kecil memperhatikan pria yang sudah jadi suaminya iti.Diam-diam Abraham mengikuti arah pandangan putrinya.
"ehm..."
"ehh dad..apa dad memerlukan sesuatu?"
"kalau aku perlu sesuatu,aku tinggal minta pada bundamu"
"lalu ada apa dad?"
"sudah hampir gelap,masuk ke kamarmu dan bersihkan dirimu."
"ehm..Steve,bunda sudah menyiapkan kamarmu,lihatlah.mungkin kau suka"
__ADS_1
"baik,terimakasih bunda" ujarnya lalu mengecup pipi Misca dan Abraham bergantian sebelum melangkah meninggalkan mereka.
Stephanie agak kerepotan berjalan dengan gaun yang panjang menjuntai dan sepatu hak tinggi yang dipakainya.Langit agak gelap,dan lampu taman juga belum sempat di hidupkan.Dia meruntuk dalam hati karena tidak pamit dari tadi.Beberapa kali dia hampir tersendung saat sebuah tangan terulur padanya.Willy.
"kak...kau..."
"Ayo.kubantu kau masuk." Steve mengulurkan tangannya lalu mengikuti langkah Willy yang berjalan pelan dan hati-hati sambil memegangi tangannya.Di tengah rumah mereka berpapasan dengan Mic yang baru saja mengambil susu Shinta dari dapur.
"Will,setelah ini jangan kembali kesana.Biar Nico yang menyelesaikan sisanya.Kau istirahatlah"
"baik tuan" Mic langsung pergi tanpa mendengar jawaban Willy.Pria itu berjalan cepat menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
Willy membuka pintu kamar dan menyilakan Stephanie masuk duluan lalu menutup pintu itu pelan.Keduanya sama-sama canggung.Steve masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri,sedangkan Willy meregangkan ototnya sambil melipat lengan bajunya hingga sebatas siku.
Willy menoleh saat pintu kamar mandi terbuka.Kepala Stephanie melongok keluar.
"kak,bisakah aku minta tolong?"
"hmmm ya nona"
"Tolong aku membuka resletingnya asisten Willy!" Stephanie menekan kata asisten agar Willy tau dia sedang marah.Gadis itu membalikkan badanya dan menyodorkan punggungnya agar Willy membantunya menurunkan resletingnya yang nyangkut entah dimana.
Tangan Willy bergetar saat menyentuh punggung indah itu.Dadanya begitu bergemuruh kala tangannya bersentuhan dengan kulit Steve.Perlahan dia menurunkan resleting itu hingga ketengah dan melihat punggung putih bersih itu terekspose sempurna didepan mata.Ia meneguk ludahnya dengan susah payah.
"terimakasih kak,aku mandi dulu" Willy mengangguk tegang.Desiran aneh memenuhi rongga dadanya.
'ting' pesan dari Nico masuk
'k*au meninggalkanku sendiri?'
'aku mengantar Steve masuk'
'lalu langsung tidak tahan untuk ehm..ehem?aku meletakan obat penguat stamina disaku jasmu kalau kau merasa lemas nanti'
'diam kau sekretaris kolot.Aku masih kuat main sepuluh ronde tanpa obat'
__ADS_1
'ha..ha...baiklah,nikmati saja malam pertamamu man*!'
Willy mengeram sebal.Nico memang selalu menggodanya.Ditariknya ujung jas yang dari tadi tersandar manis didekat tubuhnya.Membuka sakunya dan...ya...Sekretaris kaku itu benar-benar memasukkan dua strip obat kuat buatan brand terkenal.Dia menggelengkan kepalanya dengan keusilan Nico.
"Apa itu kak?" tanya Stephanie sambil merebut obat itu dari tangan Willy.Pria tampan itu kaget karena tidak mendengar kedatangan istrinya.Stephanie menelitinya lalu tersenyum mengejek.
"Apa kakak punya keluhan dengan....."
"itu ulah Nico!" sahut Willy sebal saat melihat Stephanie yang menatapnya dengan pandangan iba.
"Harusnya kak Willy terus terang padaku.Aku tidak menuntut kakak melakukannya"
"Kau bicara apa Steve?"
Stephanie mengenggam erat obat itu dan meremasnya.
"Aku tau bekerja pada kak Mic penuh tekanan kak.Aku akan menerima kakak apa adanya walau tanpa itu sekalipun"
"Steve kau...aku pria normal!"
Stephanie mengangguk kuat dan tersenyum sambil mengeringkan rambutnya.
"Mandilah dulu lalu istrirahat,hari ini pasti melelahkan untuk kita" Willy mengepalkan tangannya.Dia tau Stephanie mengira dia punya keluhan ejakulasi atau maksimal impotensi.huh ....menyebutnya saja sudah membuat Willy kesal.Malam ini saja dia sudah mati-matian menahan diri agar tidak menerkam Stephanie dikamar mandi.Ini semua gara-gara Nico sialan!!
Ditariknya tangan Stephanie hingga terjatuh disofa dan dia mengungkungnya gadis itu hingga tidak bisa bergerak,menempelkan bibirnya lalu menarik tengkuknya untuk memperdalam ciumannya.
"aku pria normal Steve,jadi jangan berpikir macam-macam" bisiknya lalu kembali mencium lebih intens.
"uhh" sebuah desahan lolos dari bibir Stephnie saat Willy mengecup lehernya dan meninggalkan bercak merah disana.Willy semakin bergerak liar saat melihat Steve terus menutup matanya sambil mengeluarkan suara-suara yang terus memicu hasratnya.
"sa...sayang..." Willy mendongakkan wajahnya yang sibuk didada istrinya.apa tadi?sayang?apa dia salah dengar?
"sayang,jangan lupa kunci pintunya" bisik Stephanie menahan lenguhan kecilnya.Willy bergerak cepat membaringkan tubuh polos itu diranjang lalu mengunci pintu.
"aku suka ku memanggilku sayang" ujarnya lalu mendekap kembali Stephanie.
__ADS_1