Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Perhatian keluarga


__ADS_3

Nico beberapa kali mengelus kepala istrinya yang masih pingsan.Dahinya berkerut.Harusnya pengaruh obat bius itu tidak selama ini.Mereka bahkan hampir sampai setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih dua puluh jam.Disamping Erika,Win lee juga masih belum menunjukkan gerakan.Ada hal yang tidak beres.Nico meruntuk dalam hati.Seharusnya dia menuruti Willy agar memasukkan Erika dan Win lee ke ICU hingga sadar tadi.Namun ketakutan jika Erika menolak pulang bersamanya lebih menghantui pikirannya saat itu.


Seulas senyum menghiasi wajah tampannya.Erikanya sudah kembali padanya walau belum sepenuhnya.Wanita polos dan bersahaja itu sudah dapat dia sentuh keberadaanya,bukan bayangan mimpi yang menghantuinya tiap malam.Apa yang menarik dari wanita ini?dia hampir tidak punya kelebihan apapun.Dandanannya biasa saja,bahkan selalu terkesan formal.Tinggi badannya juga hanya sebatas pundaknya,berbeda dari Shinta yang walau sama-sama orang Asia,namun dia tergolong tinggi semampai.Tapi kenapa hatinya terasa hampa saat wanita ini pergi darinya?


"sampai kapan kau akan terus memandanginya Nic." tanya Willy diambang pintu.Sahabat karibnya itu menyandarkan dirinya disana dengan raut lelah.Mereka memang seperti tidak punya jeda untuk istirahat.Tertidur beberap jam tadi juga belum mengembalikan stamina mereka seratus persen.


"Lihat wajahmu yang berseri bodoh!kau seperti pijaran lilin di kegelapan.Itu yang kau namakan perasaan biasa saja?" ejeknya lagi.Nico menghentikan elusannya lalu duduk di tepi ranjang.Dia hanya melirik Willy sekilas lalu kembali menatap Erika.


"aku masih belum tahu Will." desahnya penuh penyesalan.Seumur hidup dia hanya tau pengabdian dan kesetiaan.Dunianya hanya bekerja.Pikirannya kembali melayang pada sang majikan.Bagaimana Michael berubah dari waktu ke waktu hanya karena seorang wanita biasa yang tidak ada apa-apanya dibanding tuan mudanya itu.Pria itu bahkan menjadi bucin akut saat ini.Willy juga selalu menatap Stephanie penuh cinta.Ahh...dia belum berada dalam fase itu.


"Belum tau,tapi rela menempuh perjalanan panjang hanya karena seorang wanita.Itu bukan sifatmu Nic."


"Itu karena...."


"dia istrimu!aku sudah hafal jawabanmu." potong Willy cepat.Berkumpul bersama dengan Nico sejak masih kecil membuatnya tau jika orang seperti Nico memang minim ekspresi.Dia pribadi tertutup yang tidak ingin berbagi,atau parasaanya diketahui orang lain.Willy juga tidak pernah Nico pernah tertarik atau jatuh cinta pada siapapun.Membayangkan sekretaris itu jadi bucin seperti dirinya dan Michael saja sudah membuatnya geli.Alangkah anehnya tingkah sahabatnya itu.


"kenapa kau senyum-senyum sendiri Will?"


"Aku hanya berpikir jangan-jangan kalian belum....." Willy menggantung kalimatnya,namun tangannya membentuk kode saling membelit dengan ekspesi lucu.


"bukan urusanmu!" sentak Nico kesal.Disaat seperti ini Willy masih sempat menggodanya.

__ADS_1


"hmmmm baiklah,aku hanya mengingatkanmu jika beberapa menit lagi kita mendarat.Win lee akan segera di bawa ke rumah sakit karena wajahnya memucat Nic.Aku takut gadis kecil ini kenapa-napa.Tentang Erika....semua terserah padamu,mau dibawa pulang,atau kerumah sakit.Tapi kak papa mertua sepertinya ingin kau mampir ke rumah besar dulu." Nico hanya mengangguk.Sebenarnya dia ingin membawa Erika pulang,namun mengabaikan permintaan tuan Abraham terasa sangat tidak sopan baginya.Papa angkat yang juga majikannya itu terlalu baik untuk diabaikan.Biarlah,dia kesana dulu hingga Erika stabil nanti,baru mengajaknya pulang.


Jet pribadi itu mendarat sesuai prediksi Willy.Nico kembali mengangkat tubuh Erika yang lunglai,disusul seorang anak buah mereka yang menggendong Win lee.Sebuah limosin mewah berhenti di depan mereka.Willy berinisiatif masuk ke pintu depan,mengabaikan Nico yang sedikit kesulitan karena menopang tubuh istrinya.Percuma berusaha membantu,sekretaris dingin itu pasti menolak jika istrinya disentuh orang lain.Untuk yang ini,dia dan Michael punya kesamaan hakiki.


Tiba di kediaman Maverich,mereka disambut suka cita oleh seluruh penghuni rumah.Sephanie seperti anak kecil yang menghambur kepelukan ayahnya saat Willy tiba.


"Kak,kau kusut sekali.Cepatlah mandi,sebentar lagi kita makan malam." katanya seraya menggandeng lengan sang suami mesra.Dia bahkan menyandarkan kepalanya dibahu Willy tanpa sungkan pada siapapun.Sifat manjanya kumat lagi.Abraham dan Mischa sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya.


"Bawa istrimu masuk Nic,aku akan memanggilkan dokter." kata Abraham kemudian.Nico mengangguk.


"Baik tuan besar." jawabnya patuh.Dia mengangguk hormat pada Michael dan Shinta yang berdiri di sisi kanan papanya.


"katakan padaku jika kau butuh sesuatu." Michael yang lama terdiam,akhirnya mengeluarkan suara.


"Istrihatlah.Jika kau capek dan tidak ingin meninggalkan Erika,makan malammu akan diantar ke kamar.Tapi kami berharap kau mau makan bersama kami Nic." Shinta yang melihat Nico terlihat capek menjadi tidak tega.


"Sepertinya saya akan makan malam di kamar saja nyonya muda."


"Baiklah.Nanti pelayan akan membawanya ke kamarmu.Tunggu dokternya datang Nic,kita akan sama-sama tau kondisi Erika."


"baik nyonya,saya permisi." Nico membungkukkan badannya lalu pergi ke kamarnya.Untung saja tubuh Erika terbilang mungil hingga sama sekali tidak menyulitkannya.Jika postur Erika seperti Stephanie yang bule,mungkin tangannya akan kebas saat ini.Kembali di tatapnya wajah kuyu istrinya,lalu membaringkannya ke ranjang.

__ADS_1


Nico bergegas membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower agar lebih cepat menyelesaikan sesi mandinya.Sebentar lagi,pasti dokter pribadi keluarga Maverich akan datang ke kamarnya.Benar saja,usai mandi dan berganti baju,pintu kamarnya di ketuk dari luar.Saat dia membuka pintu,dokter itu sudah datang.Di belakangnya,Michael dan Shinta berdiri lalu mengikuti sang dokter masuk ke kamar.Dengan sigap dia memeriksa Erika.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Nico tidak sabar begitu pria paruh baya itu selesai dengan tugasnya.


"Dokter Erika hanya terkena obat bius dosis tinggi.Kenapa dia bisa begini?Dia bisa over dosis." keluh dokter itu.Tidak ada jawaban dari siapapun.Dokter itu menyuntikkan sesuatu di lengan Erika.


"Beberapa saat lagi dia akan sadar tuan."


"Apa dia akan mengalami sesuatu saat sadar nanti?" tanya Michael hati-hati.


"Tidak tuan muda.Dokter Erika akan bisa mengurus dirinya sendiri saat sadar nanti."


"Baiklah,kau boleh pergi dokter." perintah Michael datar.Dokter itu segera mengangguk hormat,lalu meninggalkan ruangan itu.


"Nic,tunggui Erika dulu hingga dia sadar.Dia membutuhkanmu.Nanti pelayan akan mengantar makananmu kesini." ujar Shinta lirih.Dia duduk di tepi tempat tidur dan membelai kepala Erika penuh kasih.Erika sudah seperti kakak baginya.


"Sayang,ayo kita turun.Saatnya makan malam." ungkap Michael kemudian diangguki oleh Shinta.


"Terimakasih tuan muda."


"Jangan sungkan Nic.Kami turun dulu,semoga Erika cepat siuman."

__ADS_1


"Sekali lagi terimakasih tuan muda." Nico membungkukkan badannya hormat,kemudian mengantar pasangan itu keluar dan menutup pintu.Hatinya menghangat.Keluarga adalah impian terbesarnya saat dia merasa sebatang kara saat di panti asuhan dulu.Namun sekarang,Tuhan maha baik dengan mengirimkan mereka semua padanya.Perhatian dan empati tanpa henti pada dirinya.


__ADS_2