Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Misca


__ADS_3

Ujung jari Abraham bergerak lemah namun gerakannya tertangkao mata Stephanie yang terus berjaga disamping brankar ayahnya.Mata gadis itu membola.


"Kak Mic....kaaakk" Michael yang setengah tidur disofa langsung melonjak bangun mendengar teriakan Stephanie.


"Panggil dokter kak,dad sadar" sontak Michael berteriak pada Nico dan Willy yang ada diluar ruangan untuk memanggilkan dokter jaga.


"M..Misca....Misca..." Stephanie dan Michael berpandangan.


"Siapa Misca itu kak?kenapa dad menyebut namanya?"


"Aku juga tidak tau Steve,semoga dad bisa cepat bangun agar kita bisa menanyakan semuanya padanya" Stephanie mengangguk setuju.


Dokter jaga datang bersama seorang perawat,dia memeriksa kondisi Abraham lalu menyuntikkan sesuatu pada cairan infus pria tua itu.


"Beberapa menit lalu dia sudah sadar tapi belum sempurna tuan,Tunggu beberapa menit lagi untuk hasil maksimal.Tolong jangan buat dia schock."


"Baik dokter"


"Semuanya sudah stabil.Sebentar lagi pasien bisa dipindahkan keruang perawatan.saya permisi" lalu dokter itu keluar.


Bermenit kemudian Abraham membuka matanya.Pria yang masih terlihat gagah diusia senjanya itu mengerjapkan matanya.Senyum stephanie langsung terbit,gadis itu memeluk dadynya dengan kebahagiaan dan rasa syukur.Michael juga mengelus lengan Abraham lembut.


"dimana aku?"


"Ini rumah sakit dad,kau baru saja menjalani operasi kemarin."


"kapan kau datang Mic?"


"kemarin dad" jawab Michael penuh haru.


"Kau meninggalkan istri dan calon cucu dad disana sendirian? Michael mengangguk ragu.Dia tidak ingin ayahnya marah karena Abraham yang terlalu berharap bisa bertemu Shinta dan calon cucunya jika ada kesempatan.


"Fisik Shinta tidak begitu kuat akhir-akhir ini dad.Aku kasihan pada calon bayi kami,jadi kutinggalkan dia dirumah"jelas Mic.Abraham mengangguk pasrah.


" Dad harus banyak istirahat agar cepat pulih dan kembali kerumah" Lagi-lagi Abraham hanya menganggukkan kepalanya.


"Mic,jangan pergi...kemarilah." Michael yang hendak keluar ruangan untuk mengangkat telephon dari Shinta mengurungkan niatnya lalu mendekati tempat tidur pasien milik Abraham.


"Apa dad membutuhkan sesuatu?" Abraham terdiam,pandangannya menerawang hingga Stephanie menyentuh pipinya.

__ADS_1


"Sudah waktunya kalian tau yang sebenarnya,aku takut hidupku tidak lama lagi nak"


"Jangan bicara seperti itu dad,kau akan panjang umur,cucumu akan segera lahir." Stephanie terisak lirih sambil mengenggam tangan ayahnya.Michael masih duduk dikursi samping brankar tanpa emosi.


"Laura bukan ibu kalian"


"Aku sudah tau dad,bahkan Stephanie juga sudah tau" balas Mic datar.Abraham memalingkan wajahnya.


"Siapa ibu kandung kami dad?orang yang sudah kau buang untuk ambisi sesaatmu?"


"kak...jangan memojokkan dad"desis Stephanie,tapi Michael tidak peduli.Dia tetap fokus pada tujuan utamanya,mengetahui ibu kandungnya.Ibu yang sudah dia selidiki setahun lalu,tapi selalu menemukan jalan buntu.


" Dia Misca."


"dimana dia sekarang dad?" Abraham menggelengkan kepalanya.


"Dua puluh lima tahun mencarinya,tapi dad tidak pernah tau dimana dia berada Mic,dia menghilang bagai ditelan bumi setelah melahirkan Stephanie."


"Setelah dia tau kalau dad berselingkuh dengan Laura?" Tukas Mic tajam.Kali.ini wajahnya memerah menahan amarah.Abraham mengangguk pelan untuk kesekian kalinya.Pria tua yang pasrah mengakui kesalahannya dimasa lampau.


"Dimana dad terakhir kali bertemu dengan ibu kami?" kali ini Stephanie yang bertanya dengan sangat hati-hati.Dia tidak ingin kesehatan ayahnya terganggu karena rasa bersalah dan nada bicara Michael yang terkesan menahan marah.Abraham masih diam.


"Dosa dad terlalu besar pada Misca.Dad hanya minta pertemukan dad dengan momy kalian sebelum dad dipanggil yang maha kuasa" suara lemah Abraham nyaris seperti bisikan.


"Dimana kami bisa menemukannya,jika dad saja tidak bisa mencarinya?kami bahkan tidak tau wajahnya." Nada Mic ikut melemah melihat kondisi ayahnya.


"Laura sudah menghapus semua jejak momy kalian" Abraham mendengus kesal.


"Tapi aku masih menyimpan foto pernikahan kami Mic,satu-satunya" Michel dan Stephanie yang semula lemas putus asa jadi begitu antusias.Masih ada harapan menemukan ibu kandung mereka lewat pelacakan.


"Dimana foto itu dad?"


"Pada pengacaraku Mic,karena aku sudah memberikan separuh sahamku pada momy kalian,jika dia ditemukan.Maafkan dad yang tidak memberitahukan ini pada kalian sebelumnya." Wajah Abraham dipenuhi penyesalan.Tapi pria itu begitu terkejut saat tangan besar dan hangat putranya menggenggam tangan keriputnya dengan semangat.


"Aku pasti menemukannya dad!" Mic tersenyum hangat.


"Dad pasti akan bertemu mom,itu janjiku.Tapi dad harus berjanji untuk segera pulih dan menjaga kesehatan.Dad dan mom harus membesarkan anak-anakku dan Stephanie"


Abraham mencoba tersenyum walau terasa hambar.Dia lalu mengangguk samar sebelum Michael pergi keluar kamar.Stephanie masih setia menungguinya hingga dia kembali terlelap.

__ADS_1


Michael membuka pintu kamar saat duo tampan serentak berdiri seperti dikomando.


"Kita ketempat pengacara dad sekarang"


"baik tuan".Mic berjalan lebih dulu,diikuti duo ganteng yang berjalan dengan gagah dibelakang tuannya.Jika dilihat dari kejauhan,mereka seolah model yang sedang berjalan diatas catewalk.


*******


Gedung pengacara berlantai lima itu berdiri kokoh di pusat kota.Pengacara ayahnya memang bukan sembarang orang.Banyak klien yang bekerjasama dengannya.


Michael berjalan masuk seorang diri setelah Willy membukakan pintu.Dua asistennya itu memang diperintahkan menunggu diluar karena dia ingin bicara empat mata saja dengan sang pengacara.


" Silahkan duduk tuan Maverich,ada perlu apa anda kemari?" Pengacara itu sudah hafal sifat Michael yang tidak suka basa-basi.


"Dad menyuruhku mengambil foto Momyku." Pengacara itu mengetukkan pena ditangannya diatas meja,seperti sedang berpikir.


"Saat ini dad dalam perawatan pasca operasi jantung dan dia menginginkan mom"


"lalu nyonya Laura?"


"Kalau kau membicarakan dia lagi dihadapanku...kupastikan kau akan tinggal nama sama seperti Laura."Sang pengacara mengangguk.


" Berikan saat aku minta baik-baik padamu pengacara Kim" Walau bernada pelan,tapi pengacara Kim tau perkataan itu sarat ancaman.Dia sudah terlalu hafal gaya menekan dan mengancam dari klan Maverich dan mereka tidak pernah bercanda atau main-main dengan ucapannya.


Bergegas pengacara itu membuka almari dan mencari-cari berkas tuan besar Maverich.Beberapa lama mencari akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya.


"ini fotonya tuan" tangan itu terulur memberikan selembar foto yang sedikit lamur dimakan usia.


"Tuan abraham sudah lama mencarinya"


"Berikan datanya"


"namanya Mislianawati.Misca adalah nama yang diberikan grandma kalian karena dulu nyonya Misca adalah pelayan dirumah itu"


"Mislianawati.....namanya seperti nama orang Indonesia" gumam Michael.


"Ini biodata nyonya Misca" Michael membaca dengan cermat hingga matanya melirik foto itu sekilas.


"oohh ya Tuhan.." Mata pria tampan itu terbelalak kaget,berulang kali membandingkan foto itu dengan ingatannya pada seseorang.

__ADS_1


__ADS_2