
Dokter Adrian tiba di lobi sesaat setelah Shinta keluar dari pantry.Dia memberi isyarat agar Shinta mengikutinya.Asistennya bergerak membuka pintu mobil untuknya dan Shinta.Bisik-bisik terdengar dikalangan karyawan yang kebetulan berlalu lalang dilobi Rumah sakit itu.Shinta sudah tidak peduli.Toh ini hari terakhirnya bekerja ditempat ini.
Sepanjang jalan mereka hanya terdiam.Hanya sesekali Adrian menanyakan sesuatu pada asistennya.Dibelokan menuju rumah Shinta mereka berpapasan dengan Stephanie yang mengendarai motornya berboncengan dengan Rio.sepertinya dia baru menjemput Rio pulang dari sekolahnya.Shinta menarik nafas dalam.Stephanie sudah berubah total dan menjalani hidupnya dengan senang hati.Adaptasi yang sempurna,dari seorang nona muda yang manja jadi gadis dari kalangan biasa yang harus banting tulang untuk menghidupi keluarga.
"Dia adikmu?"
"iya pak,dia satu-satunya saudara kandung saya.Stephanie adalah adik mantan suami saya"
"aku tau,dia sendiri yang cerita padaku"
Saat berhenti didepan rumah,ayah duduk diteras dengan sweater tebalnya.Perkembangan kesehatan Pramudya memang lumayan membaik karena Stephanie yang terus mendorong pengobatan dan mengurusnya bersama Rio.Nona muda itu sangat antusias dan dengan lapang hati mengakui mereka sebagai satu keluarga.
"Asalamualaikum" Adrian turun lebih dulu,memberi salam dan mencium tangan pramudya.Pria paruh baya itu tersenyum,membalas tatapan teduh Adrian yang berdiri didepannya.
"walaikumsalam,silahkan duduk nak"
"ayah,ini atasan Shinta.Pemilik rumah sakit tempat Shinta bekerja yah"
Pramudya manggut-manggut.Kedua pria dewasa itu saling sapa dan mengobrol ringan.Sesaat kemudian Stephanie datang membawa dua gelas teh lalu ikut nimbrung bersama mereka.Kembali ngobrol ngalor ngidul menceritakan banyak hal.Tawa ringan selalu memenuhi beranda itu.Shinta berulang kali melirik Adrian yang bersikap sangat manis pada pramudya.Ternyata pria itu sangat berpengalaman menghadapi orang lain.
"saya dengar dulu om pengusaha perabotan dari kayu dan mebel?
" iya nak,tapi sudah bangkrut.Sekarang sudah tua,sakit-sakitan dan jadi beban anak-anak" kekeh Pramudya.
"om,kedatangan saya kemari untuk melamar Shinta untuk jadi istri saya"
deg....deg...deg....
Semua terdiam.Pramudya memegang erat sandaran kursinya,Shinta meremas tangannya karena gugup,dan Stephanie yang harap-harap cemas mendengar keputusan pramudya.Pria tua itu menarik nafas dalam lalu menatap lurus mata Adrian.
"nak Adrian tau,Shinta sedang hamil?"
"saya tau om,tapi saya tetap akan menikahi Shinta karena anak itu butuh seorang ayah"
__ADS_1
"apa nak Adrian juga tau,menikahi wanita hamil itu tidak diperkenankan oleh agama?harus menunggu bayi itu lahir duluan.baru pernikahan ini sah"
"saya tau om.Tuhan tau saya melalukakannya atas nama kemanusiaan.Walaupun sekarang pernikahan kami tidak sah dimuka agama,tapi itu bukan dosa om.Kami akan akad nikah ulang setelah bayi itu lahir".
" lalu keluarga nak Adrian sudah tau?"
"saya tidak memberitahu mereka kalau Shinta hamil om,biarlah ini jadi rahasia diantara kita.mama papa saya sama sekali tidak akan menentang keputusan saya selagi itu untuk kebaikan saya om"
"kalau ternyata mereka menentang?"
"saya tetap akan menikahi Shinta apapun resikonya"
"om hanya menyarankan,lebih baik jujurlah dari pada nanti jadi beban dikemudian hari"
"saya akan mencari waktu yang tepat om.Walau bayi itu bukan anak kandung saya,tapi saya berjanji akan menyayanginya seperti anak saya sendiri"
Adrian menjawab semua pertanyaan Pramudya dengan tegas.Ayah Shinta masih diam dalam bimbang.Disatu sisi dia sangat tidak ingin Shinta tersakiti lagi demi sebuah status,disisi lain ada cucunya yang ada dalam kandungan Shinta yang juga butuh status.pandangannya beralih pada Shinta.
"nduk,apa kamu bersedia menerima nak Adrian sebagai suamimu?
" aku nurut ayah saja"
"lho yang mau nikah kan kamu nduk?kamu yang akan menjalani.Ayah itu cuma bisa memberi doa dan restu saja"
Masih bimbang.
"Ta,kenapa masih mikir lagi?kakakku sudah move on,kamu juga harus move on" sahut Stephanie dengan nada greget.Ia sudah tidak sabar mendengar jawaban Shinta.
"iya,aku bersedia ayah"
"Baiklah kalau tekat nak Adrian sudah bulat dan Shinta sudah setuju.Tapi saat suatu saat nak Adrian sudah bosan atau tidak bisa lagi melanjutkan pernikahan denga anak saya,tolong jangan sakiti dia.Cukup kembalikan dia pada saya.Saya akan sangat berterimakasih"
Shinta terisak,Adrian meliriknya.Sesaat kemudian pandangannya kembali bertemu dengan sang ayah.
__ADS_1
"kalau saya menyakitinya,om bisa ambil nyawa saya" sahutnya mantap
"apa kau mencintai anak saya?
" saat ini belum om,tapi saya berjanji akan selalu membuatnya bahagia"
"baiklah.om pegang janji dan kata-katamu"
"lusa mama papa saya sampai disini dan melamar Shinta.Kalau bisa kami akan menikah secepatnya mumpung mama papa ada disini"
"kenapa tiba-tiba?kami belum mempersipkan apapun" potong Shinta.Kepalanya berpikir keras dari tadi.Pasti akan membutuhkan biaya lagi kalau mereka menggelar pernikahan.Apalagi dia pihak perempuan.Sedangkan sekarang mereka sama sekali tidak memegang uang.Hanya menggantungkan hidup pada Stephanie.
"aku yang akan mempersiapkan semuanya" tukas Adrian cepat.Shinta jadi heran,kenapa pria itu begitu yakin ingin menikahinya?Padahal mereka baru saling kenal.Dia juga dalam kondisi hamil anak orang lain.Hanya Stephanie dan Rio yang bersorak senang.Mereka berdiri berpelukan dengan bahagianya.
"kalau begitu saya pamit dulu om,saya harus kembali kerumah sakit" Adrian berdiri,kembali mencium tangan Pramudya untuk berpamitan.Ayah Shinta mengusap kepala calon menantunya lalu mempersilahkan pulang.
Saat mobil Adrian menghilang dari pandangan,semua duduk dan tersenyum lega.Hanya Shibta yang masih terpaku ditempatnya.Mengelus perut ratanya sambil sesekali menghela nafas.
"Ayah yakin nak Adrian itu pria yang baik Ta"
"Shinta tau ayah.Dia selalu nolongin Shinta"
"lalu apa yang membuatmu bimbang?cinta?"
"Shinta masih trauma yah"
"lupakan semuanya.Orang jawa bilang witing tresno jalaran soko kulino,itu juga bisa berlaku untukmu nduk.Jalani saja,Gusti Allah tau yang terbaik untuk kita"
"iya ayah"
"sekarang istirahatlah"
"iya Ta,uncle benar.kamu harus banyak istirahat.Biar aku yang nyiapin semuanya.kamu tau beres ajaaa" pekik Stephanie masih dengan nada riangnya.Kalau Stephanie sudah memaksa maka Shinta tidak akan punya kata-kata untuk melawan.lebih baik menurut,maka masalah selesai.
__ADS_1
"Aku jadi ingin melihat wajah kak Mic sialan itu saat tau kau juga move on,dapat dokter tampan lagi ha..haa...."
"tapi kakakmu juga dapat super model,anak orang kaya lagi" ujar Shinta sambil berjalan masuk rumah.Dia tidak menghiraukan Stephanie yang berteriak protes dibelakangnya.