Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Godaan


__ADS_3

Michael menghampiri Shinta dan memeluk istri tercintanya dari belakang.Dia menaruh dagunya dipundak Shinta dan mengecup leher jenjang istrinya.Shinta tetap tidak bereaksi.


"Sayang,kau marah padaku?" bisik Michael ditelinga istrinya.Shinta membelai lengan Mic yang melingkar dipinggangnya.


"Mas,kenapa Stephanie harus menikah dengan Jonathan?" suara lirih Shinta sarat akan kesedihan.Bagaimanapun Stephanie adalah sahabatnya dan juga adiknya sekarang.Mic membalikkan tubuh Shinta dan menenggelamkan tubuh mungil itu dalam pelukan hangatnya.


"Sayang,dad tau yang terbaik untuk anaknya.Tidak ada orang tua yang ingin anaknya tidak bahagia"


"Tapi mas tau kan kalau Willy sangat mencintai Steve?akan ada banyak hati yang terluka mas." sergah Shinta masih bertahan diopininya.Mic membelai wajah cantik istrinya lalu menatapnya penuh cinta.


"Apa menurutmu dad tipe ayah matrealistis?dia bahkan tidak pernah menentang hubungan kita sayang.Dia juga tidak malu menikahi bunda yang hanya pembantu grand ma,dia ayah yang baik sayang.Kau jangan meragukan itu."


"Tapi dad bilang..." Mic menempelkan jari telunjuknya di bibir Shinta.


"Itu bukan kemauan dad sayang.Steve sendiri yang menginginkan pria kaya yang sepadan dengan dirinya."


"tapi kenapa harus Jonathan mas?"


"Karena Jonathan cinta pertama Steve.Sudahlah,jangan pikirkan Steve lagi.Kau pikirkan saja baby Mic dalam perutmu ini." tukas Mic yang selalu mengelus perut Shinta.


"Maa,aku tidak tega pada Steve" rengek Shinta.


"Kau harus percaya pada suamimu ini sayang" desis Mic lalu melabuhkan sebuah ciuman singkat dibibir Shinta yang akan melayangkan protes lagi.Michael kembali memeluknya erat.


*********


Pagi yang cerah saat Stephanie keluar dari pintu utama.Sesuai arahan Abraham,hari ini dia harus fitting baju penganti dibutik terkenal tengah kota.Wajah gadis itu lesu tak bersemangat sambil menyeret tas kecilnya.Flat shoes yang dipakainya juga tidak senada dengan gaun pendek hijau tosca motif polkadot yang dikenakannya.

__ADS_1


Dia terlonjak kaget saat Willy keluar dari dalam mobil dan membuka pintu belakang untuknya.Kenapa harus Willy yang mengatarnya?kenapa bukan Albert sopir dadynya?Ahh...disaat seperti ini dady dan kakaknya masih juga mempermainkan perasaanya.Ia menatap jengah lalu melewati pintu itu dan membuka pintu depan.


Willy segera berputar kepintu lain dan duduk dibelakang kemudi tanpa suara.Suasana canggung kembali terasa.Mereka sama sekali tidak ingin saling menatap satu sama lain.


Satu jam kemudian mereka sampai dibutik besar dan mewah itu.Willy buru-buru membuka pintu setelah menepikan mobilnya.Stephanie yang keluar dari mobil langsung melingkarkan tangannya pada lengan kokoh pria tampan itu.Willy berjingkit kaget.


"Apa yang anda lakukan nona?" Stephanie menahan tangan Willy yang ingin menepisnya.


"Anggap saja ini permintaan seorang sahabat sebelum dia menikah kak" Wajah memelas Stephanie membuat wajah asisten itu berubah-ubah.Segera diraihnya kaca mata hitam disaku dalam jasnya lalu memakainya.Dia membiarkan gadis itu tetap diposisi tadi sambil berjalan memasuki butik.


Seluruh karyawan dan manager butik mengangguk hormat pada mereka.


"hey,lihat mereka pasangan yang sangat serasi ya...calon menantu baru keluarga Maverich seperti aktor" bisik-bisik pengunjung butik yang ramai hari itu terdengar jelas ditelinga Steve maupun Willy,tapi mereka tetap diam seribu bahasa.


Beberapa pelayan membantu Stephanie mengganti bajunya dan memasangkan gaun pengantin yang terkesan simpel namun anggun itu.Abraham dan Misca sendiri yang memilihkan gaun itu untuknya.Dalam hati Stephanie menangis.Andai saja Willy yang akan menikahinya...mungkin tidak begini ceritanya.Dia menyeka air mata dengan ujung tangannya.Seorang pelayan yang membantunya menatapnya.


"kenapa nona menangis?calon suami nona sangat tampan.Anda sangat beruntung mendapatkannya.Sekarang,pasanglah senyum terbaik anda dan temui dia nona."


"Anda terlihat luar biasa nona" sahutnya.


Ragu-ragu Stephanie melangkah keluar dari ruang ganti.Ujung matanya melihat Willy yang sibuk membalas pesan dari smartphone nya.Steve berdehem kecil untuk mengalihkan perhatian Willy padanya.Asisten itu menengadahkan wajah dan tak berkedip memandangnya.Sekejap kemudian saat dia tersadar,dia buru-buru mengalihkan pandangannya kearah lain sambil berdehem pula.


"Apa ini cocok buatku" tanya Steve ragu-ragu.


"iya nona" tidak ada lagi pembicaraan setelah itu.Mereka saling diam hingga dua pelayan tadi membawa Stephanie masuk kembali.Dada Willy bergemuruh.Besok dia akan kehilangan gadis itu selamanya.Mulai sekarang dia harus menata hatinya untuk sebuah kehilangan kembali dalam hidupnya.Dia harus dengan rela menyaksikan pernikahan itu karena bisa dipastikan Michael tidak akan memberinya libur.Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanya merelakan dan menghibur diri sendiri.


Stephanie sudah mengganti bajunya dengan gaun tadi dan kembali merangkul lengan Willy dan mengajaknya keluar.

__ADS_1


"Kak,bisakah kau mengantarkan aku ke apartemenku?ada sesuatu yang ingin kuambil disana"


"baik nona"


"hari ini tolong jangan memanggilku nona.Aku mohon kak." Willy mengangguk lalu menunggu Stephanie masuk kemobil.


Butuh beberapa menit untuk sampai kesana dalam keadaan macet seperti sekarang.


Willy memencet tombol 5 saat masuk lift.Tak ada yang berubah.Tetap saling membisu.Saat pintu lift terbuka mereka berjalan menuju kediaman Stephanie.Gadis itu memasukkan pasword lalu mengajak Willy masuk.


"Sebaiknya saya menunggu disini saja"


"Kak,lebih baik kau masuk agar sekalian bisa istirahat sebentar.Aku agak lama mengemas pakaianku." Mau tidak mau Willy masuk,mendaratkan pantatnya kesofa dan meregangkan badanya yang terasa kaku.Stephanie meletakkan minuman dingin dimeja lalu beranjak masuk kekamar.Gemericik air menandakan gadis itu sedang mandi didalam sana.


Willy menekan remote televisi dan menyandarkan kepalanya agar lebih rileks.Dia terlonjak saat mendengar suara berdebum dari dalam kamar.Dia sedikit berlari masuk kekamar ,takut terjadi sesuatu pada Stephanie.


Asisten tampan itu tertegun.Didepannya Stephanie berdiri dengan bathrope putih diatas lurut yang memamerkan paha mulus yang sempurna dan rambut basahnya yang terkesan seksi.Pria itu meneguk ludahnya kasar.


"apa kau baik-baik saja?" Stephanie menghampirinya cepat dan mengalungkam tangannya dileher Willy.Kakinya sedikit berjinjit untuk menggapai bibir pria tampan didepannya.Aroma sabun yang menguar dari tubuh Stephanie membuat pria itu mabuk dan membalas ciuman sang nona muda dengan ganas.Lengan kekarnya membopong tubuh gadis itu hingga setinggi dirinya dan memperdalam ciuman panas itu.


Willy hampir saja lupa diri kalau saja smartphone nya tidak bergetar.Pria itu buru-buru melepaskan tubuh Stephanie lalu mengeluarkan hpnya.Stephanie bergerak cepat merampas benda itu,mematikannya dan membuangnya kekasur.Gadis itu juga dengan cepat melepaskan bathrope yang melekat ditubuhnya hingga menyisakan pakaian dalamnya saja.Mata Willy meredup.


"Sentuh aku kak!" perintahnya.Namun Willy tidak menggubrisnya dan memilih mengambil hpnya di atas ranjang.Stephanie masih memburunya dan memaksa agar tangan Willy menyentuh tubuhnya.Tapi pria itu menepis halus tangan itu.Stephanie manangis keras.


"katakan kau mencintaiku kak!" teriaknya putus asa.Willy tidak menanggapi,tangannya menarik selimut tebal untuk membungkus tubuh Stephanie.


"Jagalah tubuhmu ini untuk suamimu nanti" ucapnya lirih.

__ADS_1


"Baiklah kalau kakak tidak menyukai aku.Lebih baik aku mati dari pada menikah dengan Jonathan brengsek itu." Steve berlari kearah jendela lalu berniat melompat dari sana.Refleks Willy yang sangat terlatih menjangkau tubuh itu dan membantingnya kelantai.Stephanie menangis dalam sunyi.Willy mendekatinya lalu memeluk tubuh polos gadis cantik itu.


"Dengar Steve...aku mencintaimu,tapi bukan begini caranya." lalu pria itu membawa Stephanie yang masih menangis menuju sofa,mengambilkan pakaiannya dan menyuruh gadis itu memakainya kembali.


__ADS_2