
Tak terasa sudah sebulan pernikahan Michael dan Shinta.Tidak ada hari tanpa kemesraan dan kehangatan dirumah itu.Semua pekerja disana juga menjadi hangat,seperti keluarga.Kediaman Maverich jadi makin hidup dan menarik.Tidak ada lagi sepi,jenuh,formalitas dan rutinitas hidup.Semua terjadi dengan spontan.
Pagi itu,Shinta berlari kecil menuruni tangga.Ia ingin menyusul Michael yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"sayang,ponselmu ketinggalan" ujarnya.Baru saja sampai di samping suaminya,dia melihat seorang wanita paruh baya berpakaian formal yang masih sangat cantik diusianya.Wanita itu memandang lekat kearah Shinta dari atas kebawah.
"oohh...jadi ini pembantu itu Mic" Hati Shinta sedikit teriris mendengar nada bicaranya sangat ketus dan tidak bersahabat dari mulut wanita itu.Apalagi dia sengaja menekan kata 'pembantu' dan menatap sinis kearahnya.
"dia istriku mom"
"Setelah jauh-jauh bersekolah ke Amerika,dan jadi pewaris kekayaan keluarga Maverich...kau hanya menikahi pembantu migran biasa seperti dia?nasibmu sangat menyedihkan Mic" hardik wanita itu.
"tidak ada yang salah dalam diri Shinta mom,dan aku akan menikah dengan siapapun yang kuinginkan"
"Tapi mom tidak setuju"
"aku tidak butuh persetujuanmu dan dad.Aku sudah cukup dewasa untuk memilih mom" jawab Michael mantap.Shinta baru sadar kalau wanita itu ibu Michael,yang berarti juga adalah ibu mertuanya.Dia membungkukkan sedikit badannya sebagai salam hormat.Bukanya diterima,dia langsung dibalas dengan ejekan oleh mertuanya.
"Lihat Mic,sekali pembantu akan tetap pembantu.Dia tidak bisa hidup dikalangan kita"
Hati Shinta memanas.Namun cekalan tangan Michael menguatkan dia.Dia menggenggam telapak tangannya hangat,memberi keteduhan dan kekuatan pada Shinta yang tersulut emosi.
"Aku akan membawanya keluar dari sini jika mom tidak menyukai istriku" sahut Michael tenang.
"tidak,sebelum kau menemui Dad dan membantunya menyelesaikan ketegangan dengan rival bisnisnya disana." tolak sang ibu tegas.Michael terdiam,dia memang tidak mungkin membiarkan ayahnya berjuang sendirian.Sudah seminggu ini bisnis ayahnya bermasalah.Nico sudah bolak balik menerima telepon dari sekretaris ayahnya dan melaporkannya pada mIchael.
"tapi aku juga punya tanggung jawab di Luxio mom,aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama"
"Ada Nico yang akan menggantikanmu"
"itu tidak mungkin.Mom tau,Nico akan tetap disampingku"
"tunjuk saja Willy.Apa fungsinya dia kalau kau selalu mengurus masalahmu sendiri"
"kurasa Willy juga tidak akan bisa menanganinya terlalu lama.aku hanya akan membantu Dad hingga kondisi terkendali saja"
"terserah kau" putus nyonya Abraham.Dia sadar Michael juga punya tanggung jawab pada Luxio yang mempekerjakan ribuan orang disuruh anak cabang perusahaan propertinya.Luxio juga sedang berkembang pesat dengan prospek diatas rata-rata.Ia memang sangat mengagumi putranya yang terlahir jenius dan dengan sangat berbakat mengembangkan dua perusahaan sekaligus ditangan dinginnya.
"baiklah kalau itu mau mom" Michael menyerah.tidak ada gunanya berdebat dengan ibunya.
"apa mom berjanji jika aku menyelesaikannya,mom akan menerima Shinta?"
__ADS_1
"tentu saja"
"baiklah.besok aku akan menyusul Dad."
"itu lebih baik." sahut wanita itu nyaris seperti perintah.
"Aku dan Shinta akan sampai disana secepatnya"
"bukan kalian,tapi kau saja Mic"
"maksutmu,Shinta akan tetap dirumah ini sementara aku disana?
" kau terlalu pintar untuk bertanya Mic.istrimu ini akan merepotkanmu disana.Jadi biarkan dia dirumah,aku akan mengajarinya untuk menjadi nyonya golongan atas"
"itu tidak perlu mom,Shinta akan hidup dengan kemauannya"
"orang yang akan menjadi menantuku bukan orang biasa Mic"
"yang menikah aku,bukan kamu atau dad mom.jadi tolong hargailah pilihanku"
Nyonya Abraham terkesiap.Sejak kecil Michael memang keras kepala dan susah diatur.Semakin dia keras,maka putranya itu akan makin membangkang.
"mooooommm..." pekiknya girang.Tapi wanita itu menepis tangannya dan menghardik keras.
"singkirkan tangan kotormu dari tubuhku" Shinta dan Stephanie terkesiap.Michael yang sudah biasa melihat hal itu hanya menatap jengah.Dua tahun tidak bertemu,tetap tidak bisa merubah kelakuan ibunya.Dia tetap terkesan tidak ramah dan diktator pada anak-anaknya,terutama Stephanie.
Sudut mata gadis itu berair,hidungnya merah mau menangis,tapi sang ibu malah memalingkan pandangannya tidak peduli.Sejak kecil memang hanya Michael yang diperlakukan lebih baik.Stephanie hanya sendiri menikmati masa kecilnya dengan berbagai hardikan dan tatapan dingin ibunya.Hingga suatu hari Tuan besar Abraham membawa pulang dua anak yatim piatu dari panti asuhan yang seusia putra mereka,Michael.Sejak itu Stephanie punya teman walau secara diam-diam.Gadis itu kesepian dalam hidupnya.
"cepatlah berangkat kekantor Mic,selesaikan tugasmu karena besok dad menunggumu" kata nyonya Abraham sedikit melunak.Tangannya terulur untuk membelai pipi putranya.Dia membiarkan Stephanie yang menundukkan wajahnya.
"Kau putraku satu-satunya Mic,jadi buatlah ibumu ini bangga"
"Steve juga putrimu mom"
"diam!!" bentak Nyonya abraham.Stephanie berlari kekamarnya dan menangis sejadi-jadinya.Michael berpamitan lalu diantar Shinta kepintu utama.
"sayang,jangan lupa sarapan ya"
"moodku sudah hilang"
Michael membelai pipi Shinta dan menciumnya sejenak.
__ADS_1
"jangan dengarkan omongan mom,ok?aku suamimu,kau hanya perlu mendengarkan aku"
Shinta menganggukkan kepalanya,mencium tangan Michael.
"aku tau,berangkatlah"
Sekretaris Nico datang tergopoh.Willy yang adan dibelakangnya menunggu instruksi sempat melongok kedalam rumah dan melihat bayangan nyonya abraham
"nenek sihir pulang kerumah" desisnya tapi masih sempat didengar Shinta yang tergelak.Panggilan nenek sihir memang cocok untuk mertuanya.Kalau saja dia bukan ibu suaminya,tentu dia sudah memanggilnya nenek lampir.
**********
Shinta menyusul Stephanie kekamar.Gadis itu menelungkupkan badanya dikasur,masih menangis sesenggukan.Shinta membelai kepalanya.
"sabarlah Fan,semua akan baik-baik saja"
Stephanie bangkit dan memeluk Shinta erat.Bertahun-tahun,hanya Shinta dan Michael yang peduli dengan dirinya.Ayahnya memang pria yang ramah dan sangat baik padanya,tapi mereka sangat jarang bertemu.Abraham terlalu sibuk dengan bisnisnya diluar negeri.
"kadang aku ragu Ta,apa dia benar-benar ibuku?"
"kau jangan bicara begitu Fan,bagaimanapun dia ibumu.aku malah sudah kehilangan ibuku"
"lebih baik nenek sihir itu hilang sekalian Ta"
"husstt....kau ini"
"kau tidak tau perlakuannya padaku sejak kecil.Dia juga selalu membawa dad menjauh dariku."
"sudahlah,sekarang ayo kita sarapan" Stephanie menggeleng enggan.
"moodku sudah hilang"
"ha..haa...haa...."
"kenapa kau tertawa?"
"Tadi suamiku juga bilang begitu.kalian benar-benar punya ikatan batin yang kuat"
"karena aku dan kak Michael sudah melewatinya bertahun-tahun tanpa perubahan"
"tapi sekarang ada aku,ayo kita perbaiki mood lalu makan seperti biasa" ajak Shinta bersemangat.Stephanie menganggukkan kepalanya.
__ADS_1