Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Obat pereda nyeri


__ADS_3

Erika berjinjit menuju kamarnya,ia tidak bisa berlama-lama diruang tamu karena merasa tidak nyaman dengan pakaiannya.Erika ingin mandi dan memakai baju santai.Gadis itu hendak melangkah saat tiba-tiba dia terhuyung dan hampir jatuh.Nico dengan sigap berdiri dari duduknya menahan tubuh istrinya sejenak lalu membantunya berdiri kembali.


"Kau tidak hati-hati sekali.Ekor gaunmu sangat panjang dan kau akan kerepotan." bisik Nico.Mama papanya tersenyum melihat keributan kecil keduanya.Bibi Aida yang dari tadi terus menguap berpamitan tidur lebih dulu,disusul mama papanya Erika yang seakan tau diri untuk tidak menganggu anak dan menantunya.


Sesaat mereka berpandangan,hingga Nico menyadari sesuatu.Disibakkannya ujung gaun Erika dan melihat kaki telanjang sang istri yang tanpa sepatu sedari tadi.


"Ya Tuhan kakimu bengkak Erika." pekik Nico saat menyingkap gaun panjang Erika lebih tinggi lagi.Pria itu berjongkok dan memeriksa kaki itu.Tubuh Erika merinding saat tangan halus Nico mengusap tumitnya yang memang membengkak.


''Tidak apa-apa mas,nanti aku ambil salep atau minum obat juga bentar lagi mendingan." ujat Erika sambil mengernyit menahan sakit.


"Kau yakin tidak perlu ke dokter?"


"Aku juga dokter mas.Apa kau lupa?."


"ya,bahkan aku lupa profesimu saat sedang panik."


Erika masih mencoba kembali berjalan saat Nico yang tidak sabaran menggendong tubuh mungilnya naik kekamar mereka dilantai dua.


"Mas turunkan,aku bisa sendiri." Erika risih melihat dua maid yang menundukkan kepalanya didekat pintu.Ada rasa malu dalam dirinya.Tapi Nico yang keras kepala tidak menghiraukannya dan lebih memilih mempercepat langkahnya.Pilihan satu-satunya adalah menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nico.


"Apa kau menggodaku Erika?" Pertanyaan yang sederhana namun sontak membuat Erika gelagapan dan menjauhi dada Nico yang hangat.


"Turunkan mas.Aku mau mandi dulu.Badanku lengket semua." Nico menurut saja dan menurunkan istrinya.


"Cepatlah." Sedikit terpincang Erika menuju kamar mandi namun gaun pengantin itu lagi-lagi membuatnya hampir jatuh dan Nico harus bersusah payah menolongnya kembali.


"Lepas disini saja Erika." katanya geram.

__ADS_1


"tapi..." Tanpa bertanya Nico sudah membalikkan badan mungilnya dan menurunkan resleting gaun itu hingga jatuh teronggok ke lantai.Erika memekik kaget lalu tangannya berusaha menutupi dadanya.Untunglah dia masih memakai lapisan rok transparan yang menutupi bagian intinya,setidaknya bagian itu sedikit terlindungi.Nico hanya menatap tanpa ekspresi.Tangannya dengan cekatan menggendong Erika ke kamar mandi dan meletakkannya ke bathtub.Dia mengatur air agar hangat dan meninggalkan Erika sendiri.


"Kau ini sangat lamban sekali." gerutunya lalu pergi setelah menutup pintu kamar mandi.Erika yang bengong menepuk pipinya,menyingkirkan pakaian dalam yang tersisa,lalu memulai mandi.Air hangat dan aroma sabun arematherapi yang dituangkan Nico tadi begitu menyegarkan tubuhnya.


Nico membuka almari lalu mengambil piyama mandinya,dia menuju ke kamar mandi dilantai satu.Terlalu lama jika menunggu Erika selesai mandi,sedangkan tubuhnya sudah lengket dan penat sekali.Mau tidak mau dia harus cepat mandi di bawah.


Saat Nico sampai lagi ke kamar Erika masih dikamar mandi seperti dugaanya.Dia membaringkan tubuhnya di ranjang sambil membuka layar hpnya.Sesaat kemudian pintu kamar mandi terbuka.Kepala Erika saja yang keluar seperti mengamati suasana.


"Apa?" tanya Nico acuh.


"Kak,bisa minta tolong ambilkan bajuku?aku lupa tidak membawa baju ganti." Namun Nico pura-pura tidak mendengar dan hanya memainkan hpnya.Merasa tidak digubris,Erika melilitkan handuk yang hanya menutupi dada dan separuh pahanya lalu berjalan tertatih menuju lemari pakaian.Bergegas dia mengambil baju tidur dan akan kembali ke kamar mandi saat Nico sudah berada di belakangnya tanpa dia sadari.


"k..kau..."


"Untuk apa pakai baju?"


"sini aku obati dulu." ujar Nico lalu manarik tubuhnya ke ranjang lalu mendudukkannya.Erika dengan cepat meraih selimut lalu menutupi tubunnya.Nico mengambilkan tas obatnya lalu menyuruh Erika memilih obat apa yang harus dia oleskan.


Tangan erika gemetar saat menyerahkan salep anti nyeri otot pada Nico.Pria itu menyingkap selimut bawahnya dan mulai mengolesnya dengan sedikit memberi pijatan-pijatan lembut yang membuat Erika merasa nyaman.Ternyata dibalik tampang ice mannya Nico sangat lihai memijit.Kakinya yang tadinya bengkak berangsur membaik.


"sudah mas,segini aja.Aku sudah baikan sekarang." Erika tidak enak hati menyuruh Nico terus memijatnya karena mereka sama-sama capek hari itu.Tapi kalau mau jujur,sebenarnya dia masih ingin Nico memijit lebih lama lagi.


"Ototmu masih kaku Erika.Diamlah." Dan Erika hanya bisa pasrah dengan perlakuan lembut suami barunya.Setelah dirasa cukup,Nico bergegas mencuci tangannya.


"Apa kau perlu minum obat?"


"engg...kurasa tidak mas.ohh ya..terimakasih."

__ADS_1


"cuma itu?"


"ma..maksudnya apa mas?" tanya Erika dengan wajah bingung.Tiba-tiba saja sekretaris dingin itu tersenyum smirk.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini dokter." desisnya pelan.


"A..pa..maksudmu mas?" Sekarang Erika yang terlihat ketakutan dengan tubuh bergetar.


"Apa aku perlu menjelaskannya dokter?" Erika menelan ludahnya dengan susah payah.Kerongkongannya terasa tercekat,apalagi Nico memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.Erika menundukkan wajahnya,takut bersitatap dengan wajah dingin Nico.


Nico yang gemas meraih dagunya.Dia mengisyaratkan pada Erika agar menatap wajahnya,namun Erika bersikeras tidak menurutinya.gadis itu masih terlihat gemetaran.Seumur hidup Erika memang belum pernah dekat dengan lelaki manapun selain papa dan saudaranya.Jangankan pacaran,teman laki-lakinya bisa dihitung dengan jari.Jadi wajar kalau sekarang dia begitu salah tingkah.


"m..mas,aku butuh minum pereda nyeri."


katanya masih tergagap untuk mencairkan suasana tegang diantara keduanya.


"untuk apa?aku akan melakukannya dengan pelan,kau bahkan tidak akan nyeri sedikitpun Erika."


"un...untuk kakiku mas." Tanpa berkata Nico meninggalkan tempatnya dan mengambil segelas air putih untuk meminum obat pada Erika.


"sekarang apa lagi?" desak Nico setelah menaruh gelas itu di meja kecil samping kirinya.Dengan gerakan cepat dia memepet Erika di sandaran tempat tidur lalu ******* bibirnya lembut.Nico begitu gemas karena Erika tidak membalas ciumannya.Digigitnya bibir bawah Erika hingga gadis itu berteriak tertahan dan membuka mulutnya,saat yang dinantikan oleh Nico untuk menerjang masuk dan membelit lidah Erika hingga ciuman itu semakin dalam.


"oouuhh." Lenguhan Erika terdengar sangat seksi ditelinga Nico yang sudah kesulitan mengatur nafasnya karena dorongan ***** yang menyala.Ciuman bibir itu sudah berubah menjadi kecupan-kecupan ringan di leher dan belakang telinga Erika,tak jarang menimbulkan bekas disana.


"Apa ini yang pertama juga bagimu?" tanya Nico dengan suara seraknya.Erika mengangguk samar karena tangan Nico sudah membelai dan mengecupi dadanya.Sesekali malah mengulum ujung dadanya lembut.Erika semakin menggelinjang dibuai *****.Nafas keduanya sudah tidak beraturan.


"pe..pelan mas" desis Erika saat Nico memulai penyatuan mereka.Sang Ice man segera membungkam bibir mungil itu dengan ciuman panjang hingga Erika terbuai dan lupa segalanya.

__ADS_1


.


__ADS_2