
"uhuk...uhukk..." Nico terjaga dari tidur sesaatnya saat mendengar suara batuk Erika.
"Kau sudah bangun?" tanyanya.Erika hanya menatapnya lemah.
"Aku haus.." jawab dokter cantik itu lemah,Nico meraih gelas berisi air putih di atas meja kecil samping ranjang.Dia membantu Erika duduk lalu memberinya minum.Sedikit bergetar Erika meminumnya.Sehari semalam tidak makan dan minum membuat tubuhnya lemas.
"Tolong ambilkan aku minuman manis." Nico meraih ponsel didalam sakunya lalu menghubungi kepala pelayan agar membawakan istrinya teh hangat.Erika membuang pandagan saat mata mereka saling tatap.Nico hendak bertanya,namun urung karena melihat keadaan Erika yang masih lemah tak bertenaga.Saat dia mencoba membawa Erika kedalam pelukannya,wanita itu menjauh.Dia memilih kembali rebah di ranjang dan menutup matanya.
Tak berapa lama,pelayan datang membawakan teh manis pesanannya.Nico akan mendudukkan Erika lagi,namun istrnya sudah memberi isyarat pada pelayan itu untuk mendekat.Dia bangkit sendiri,meraih gelas lalu meminumnya.
"Terimakasih bi." katanya kemudian.Pelayan itu mengangguk lalu pergi.Lagi-lagi Erika merebahkan diri dan berbaring memunggungi Nico.Sekretaris itu mulai bertanya-tanya.
"Erika,kita harus bicara." Nico meraih pundaknya lembut lalu membalikkan tubuh istrinya.Erika menatapnya dingin.
"Ada apa tuan seketaris?" Nico terpaku ditempatnya.Apa dia tidak salah dengar?kenapa Erika memanggilnya begitu formal,sama seperti saat mereka pertama kali bertemu.Guratan kekecewaan tampak nyata pada wajah tampannya.
"Kau...memanggilku apa tadi?" tanyanya tidak percaya.Matanya menatap tajam bola mata hitam legam Erika.Namun mata itu bergerak dingin tanpa emosi.
"Apa yang perlu kita bicarakan tuan Nico?" tegas Erika lagi.Nico menengkeram seprei dengan kuat.Erika benar-benar menguji kesabarannya.
"Panggil aku seperti biasa kau memanggilku Erika." desisnya dekat di wajah Erika,namun wanita itu memalingkan wajahnya.
"Maaf,panggilan itu sudah tidak berlaku."
"kenapa?aku suamimu!"
"bukan lagi tuan Nicholas Kendrich." sentak Erika dingin.Nico terbeliak kaget.Bukan karena sentakan Erika barusan,tapi karena wajah datar di depannya berkilat penuh amarah.Di tidak pernah melihat istrinya dalam fase ini.
"Kita masih suami istri Erika.Pengadilan belum memutuskan perceraian kita." Nico menatap lekat istrinya,tidak ada lagi penyagkalan dari bibir tipisnya.
"Pengadilan hanya memberi kita sehelai surat pengakuan.Tidak semua hubungan bisa dipisahkan juga ditautkan dengan hanya sehelai surat tuan Nicholas." balasnya datar.Nico seperti melihat dirinya sendiri di dalam tubuh Erika.Sekarang dia tau seberapa menyebalkan dirinya dimata orang lain.
__ADS_1
"Kau masih istriku.Aku sudah menarik semua berkas gugatanmu dari pengadilan." katanya kukuh sambil mencengkeram lengan istrinya.Erika tertawa sumbang terlihat seperti mengejeknya.
"Kau tarik atau tidak itu tida akan mengubah apa-apa tuan.Secara agama kau sudah bukan lagi suamiku sejak terakhir kita bertemu di Latanza."
"Aku bersumpah tidak melakukan apapun pada Ayya."
"aku tidak butuh sumpahmu.Aku hanya ingin kau ingat kejadian saat aku menyerahkan cincin kawinku padamu." Nico mengendurkan cengkeramannya karena melihat Erika mengrenyit kesakitan.Amarah membuatnya lupa banyak hal.
Ingatan Nico melayang pada Latanza hotel.Tempat Erika dan Aira menangkap basah dirinya dan Ayya yang bercumbu di kamar hotel.Istrinya bahkan bertindak sangat anggun dan dewasa saat itu.
"*Erika jangan pergi!" perintahnya saat dokter cantik itu melangkah kepintu setelah menyerahkan cincin pernikahan mereka.Bukannya berhenti,wanita itu malah berjalan makin cepat.Sekali lagi Nico berteriak padanya.
"Diam di tempatmu.Jika selangkah saja kau keluar dari pintu itu,maka aku tidak akan segan untuk berpisah denganmu." ancamnya lagi.Tapi Erika tetap membuka pintu tanpa ragu hingga Nico kehilangan kesabarannya.
"Baik,mulai sekarang kau bukan istriku lagi!" lalu bayangan Erika menghilang*.
"kau sudah menjatuhkan talak padaku tuan." tukas Erika terdengar sarat akan sakit hati yang mendalam.Seketika Nico terdiam.Sekarang dia menyadari satu hal,dialah orang yang paling bersalah atas kepergian Erika.Dengan menjatuhkan talak,berarti ia sudah mengusir Erika dari kediamannya.
"Maafkan aku...tapi aku benar-benar tidak sadar pada perkataanku Erika.Kembalilah padaku.Kita akan menata kembali rumah tangga ini."
"Ta,boleh aku minta tolong?" suara Erika bergetar.Lututnya tak begitu mampu menopang berat badannya hingga terlihat sempoyongan.Rasa pusing masih bertengger di kepalanya.
"iya.katakan."
"Antarkan aku ke rumah kontrakanku."
"Tapi ini sudah malam Erika.Sebaiknya kau istirahat dulu.Besok pagi aku akan menyuruh orang mengantarmu." Shinta memegang kedua bahu sahabatnya itu.
"Tolong aku sekali ini saja.Seumur hidup aku akan berhutang padamu.Kumohon..demi persahabatan kita." Shinta menoleh pada Michael bimbang.Suaminya itu malah memandang Nico yang seperti orang ling lung.Belum habis rasa terkejutnya,Erika sudah menjatuhkan diri,memeluk kakinya.Shinta mundur....
"Apa yang kau lakukan Erika?" pekiknya.
__ADS_1
"Anggap saja aku memohon pertolongan Tuhan melewati dirimu Ta." Tergesa Shinta meraih tubuh Erika lalu memeluknya.Dia merasakan bahu Erika terguncang.Wanita itu menahan tangisnya dalam diam.Shinta baru menyadari,Erika begitu terluka.
"Ayo!" Tanpa menunggu persetujuan Michael yang diam mematung,Shinta menuntun Erika turun ke bawah.Stephanie yang akan naik ke kamarnya terkejut.
"Kalian mau kemana?"
"Mengantar Erika pulang."
"Mana sekrearis Nico,kenapa bukan dia yang mengantar Erika?" Shinta tidak menjawab.
"Shinta!" Suara bariton Mic membuatnya menoleh.
"Sayang,biarkan Nico yang mengantar Erika pulang."
"tapi mas...."
"Sayang." Shinta terdiam di tempatnya,tidak berani menjawab lagi.Nico bergerak cepat menggendong tubuh lunglai Erika.
"Kami permisi tuan muda." Mic mengangguk.Nico mempererat pelukannya karena merasakan tubuh Erika yang gemetaran dalam gendongannya.
"Aku mau pulang." keluh Erika lemah.
"Kita akan pulang." tegas Nico sambil memasuki mobil.
"Aku mau ke kontrakanku."
"Erika dengar....selama pengadilan belum memutuskan perceraian kita,kau akan tetap berada di rumahku.Jika kau tidak ingin sekamar atau melihatku,maka aku akan menhindarimu.Aku berjanji untuk itu." Tidak ada jawaban.Mobil terus melaju.
"Aku membencimu Nicholas." ucapnya lagi dengan suara lemah.
"Erika,tenanglah." ucap Nico lembut seraya mengusap kepalanya lembut.
__ADS_1
Erika memejamkan matanya.Setelah itu dia kembali tidak sadarkan diri.Shock berat begitu mengguncang dirinya.Nico mengecup keningnya,lalu menyandarkan kepala Erika dalam pelukannya.Dadanya bergemuruh antara perasaan aneh dan takut kehilangan yang berbaur menjadi satu.
"Aku tidak akan melepaskanmu Erika.Apapun yang akan terjadi." bisiknya kemudian.