Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
the reason


__ADS_3

Keesokan paginya Shinta tetap bekerja seperti biasa.Mbak Tika berulang kali mengingatkan agar dia tidak terlalu capek karena baru dirawat.Alhasil dia yang mengepel lantai dan Shinta hanya disuruh ngelap kaca dan perabotan diruangan itu.Mbak tika memang baik.Shinta sudah menganggapnya sebagai kakak.


Pekerjaan sudah selesai saat Lift terbuka.Adrian berhenti sejenak untuk menatap Shinta.Bukankah kemarin dia memberikan libur seminggu untuk gadis itu?kenapa pagi ini dia tetap masuk dengan kondisi lemah?benar-benar gadis keras kepala.


"kau,ikut keruanganku" perintahnya sambil berlalu.seorang asisten mengikutinya dari belakang.Mbak Tika memegang tangan Shinta yang gemetaran.


"ada masalah apa pak bos memanggilmu Ta?"


"Aku juga tidak tau mbak".


" kalau begitu cepatlah masuk.Pak bos bukan tipe orang sabar.Semoga Tuhan melindungimu Ta.cari aku begitu urusanmu selesai,kita ngopi bersama dibawah" Shinta mengangguk.Mereka berpisah arah.Shinta mengikuti Adrian,sedang mbak Tika masuk lift untuk turun kebawah.


Adrian sudah duduk disofa panjang saat Shinta masuk keruangannya.


"bukankah aku sudah menyuruhmu libur?"


"maafkan saya pak.Tapi bolehkah saya bertanya sesuatu pada anda?"


"duduklah" Adrian menepuk tempat kosong disampingnya.Ragu-ragu Shinta duduk disana.Suasana canggung begitu terasa.


"apa yang ingin kau tanyakan?"


"apa alasan anda ingin menikahi saya pak?" Adrian terdiam.Dia seperti memikirkan sesuatu.


"apa itu perlu?seberapa penting jawaban itu untukmu?"


Shinta meremas tangannya sendiri.Dia begitu gugup sekarang.


"tentu saja pak.Saya takut...."


"aku tau.Harap kau tau,aku menikahimu untuk sebuah status.Orang tuaku begitu menginginkan aku menikah lagi setelah kepergian istriku.Tapi aku tidak pernah bisa melupakannya.Dia cinta pertama dan terakhirku" Mata Adrian berkaca.Pria itu tampak begitu sedih saat mengenang mendiang istrinya.Shinta jadi merasa santa bersalah.


"maafkan saya pak"


"Sama sepertimu,aku juga terluka.Bisa dikatakan pernikahan ini formalitas.Tapi aku menikahimu secara sah.Semua hakmu sebagai istri akan aku penuhi,kecuali nafkah batin.Aku tidak bisa memberikannya.Kita akan membesarkan calon anakmu bersama.Dia juga akan menyandang nama wijaya dibelakang namanya.Dan aku berjanji akan jadi sahabat bagimu,juga jadi ayah terbaik baginya."


Sekarang Shinta yang kehabisan kata-kata.Dia menatap dalam pada mata Adrian,mencoba mencari kebohongan disana.Tapi pria itu benar-benar tulus.


"kita sama-sama terluka.Anggap saja ini terapi penyembuh luka,atau simbiosis mutualisme"


Dalam hati Shinta membenarkan perkataan Adrian.Dia juga tidak mungkin menerima cinta yang baru diwaktu sekarang,tapi dia juga tidak bisa egois dan tidak memikirkan calon bayinya.Mumpung kandungannya masih qlberusia beberapa minggu,dia harus segera mengambil keputusan.

__ADS_1


"saya menerimanya pak" sahut shinta tegas.Adrian tersenyum lega.Akhirnya gadis didepannya menyerah.Dia bisa cepat menikah dan kembali kejakarta.Menemui orang tuanya dan kembali bekerja seperti dulu kala.Dia akan memulai hidup baru dan membuat mama papanya tersenyum.


Sejak Adrian depresi,kedua orang tuanya selalu merasa khawatir.Bagaimanapun Adrian putra mereka satu-satunya,harapan besar bergantung padanya.Bayangan hari tua yang menyenangkan,menimang cucu dan keluarga yang hangat seolah menghilang.Tapi mereka tak patah arang.Tuan Wijaya tetap menyemangati Adrian untuk bangkit.


"a..apa ada syarat lainnya pak?" Adrian menoleh,tersadar dari lamunannya.


"ini bukan pernikahan kontrak seperti dalam cerita novel nona.kita tidak perlu syarat apapun.Biarkan semua mengalir seperti air.Jika Tuhan berkehendak,maka itu yang terjadi.Kita hanya akan melakukan kewajiban masing-masing"


"baiklah pak.saya setuju."


"Hari ini aku akan menelepon mama dan papa untuk segera melamarmu.Kita akan menikah secepatnya.Tapi tolong,rahasiakan kehamilanmu" Shinta mengangguk paham lalu permisi hendak kebawah.


"tunggu"


"iya pak"


"ini hari terakhirmu bekerja disini.Ini gaji dan pesangonmu" kata Adrian sambil meletakkan amplop coklat diatas meja.Shinta terperanjat.


"anda memecat saya pak?


" iya!" sahut Adrian tegas.Air mata Shinta meleleh seketika.


"kenapa kau menangis?kau tidak perlu bekerja setelah jadi istriku."


"pulang dan persiapkan dirimu dengan baik.besok orang tuaku akan datang kerumahmu"


"baik pak"


"tunggu dilobi.aku akan mengantarmu pulang"


"sa...saya bisa pulang sendiri pak"


"Aku harus tau tempat tinggalmu,dan lagi aku ingin bertemu dengan orang tuamu.Bukankah akan terlihat lucu kalau tiba-tiba mama papaku datang duluan melamar sedangkan aku belum bertemu ayahmu?"


kenapa semua begitu tiba-tiba Tuhan?aku seperti tidak bisa bernafas.Semua terjadi begitu cepat hingga aku bingung harus bagaimana?


"Tapi saya akan kepantry dulu untuk bertemu mbak Tika pak.tadi saya ada janji dengannya."


"oke.Satu jam lagi kita bertemu di lobi"


"baik pak,saya permisi" pamit Shinta lalu berbalik membuka pintu.Disembunyiakannya amplop pemberian Adrian didalam bajunya.lalu masuk lift turun kelantai dasar.

__ADS_1


Mbak Tika masih sibuk mencatat beberapa hal saat Shinta masuk keruangannya.


"ehh . .kau sudah kembali Ta?"


"iya mbak.apa aku terlalu lama?" Sahut shinta sambil mendaratkan pantatnya dikursi.Mbak Tika menggeleng.


"memangnya ada apa pak bos memanggilmu?"


"aku dipecat mbak"


"astaghfirullahaladzim..ya ampun Shinta....yang sabar ya dhek" Shinta mengangguk.


"memangnya kau ada salah apa ya?seingatku kau pekerja yang baik.kenapa pak bos tega memecatmu ya?" Mbak tika berpikir keras mencari jawaban.


"aku akan menikah dengan pak Adrian mbak"


"APA??!!!" mbak Tika langsung berdiri kaget.Shinta buru-buru ikut berdiri dan memberi isyarat agar mbak Tika tidak histeris.


"bukan seperti anggapanmu mbak.Aku akan menceritakan semuanya"


"eehh tunggu..aku bikin kopi dulu.bukanya aku mengundangmu minum kopi hari ini? Tanpa menunggu jawaban wanita itu mengambil cangkir dan membuat dua gelas kopi untuk dirinya dan Shinta.


" sekarang ceritakan semuanya Ta."


Shinta menceritakan semua jalan hidupnya dari awal hingga sekarang sambil sesekali menyesap kopinya.Tidak ada yang dia tutupi dari mbk Tika.Wanita yang sudah menjadi kakak baginya itu mendengarkan dengan seksama.Tika menggelengkan kepalanya,dia trenyuh mendengar penuturan Shinta.


"semoga kau bahagia Dhek.Aku akan mendoakan dedek bayi dalam perutmu agar dia jadi anak sholeh dikemudian hari" sahut mbak tika sambil mengelus permukaan perut Shinta yang masih rata.


"terimakasih mbk"


"jangan lupa mengundangku dan teman-teman saat kalian menikah nanti" ujar mbk Tika riang


"tentu saja mbak.Kalian sangat baik padaku juga seperti keluarga bagiku."


"baiklah...satu jam mu sudah hampir berakhir.cepatlah bersiap menemui dokter Adrian di lobi."


"iya mbak.jangan lupakan aku ya" mbak Tika tergelak dari duduknya.


"harusnya aku yang bilang begitu.Secara kau menikah dengan pak bos.kau kan mau jadi nyonya bos.takutnya ntar lupa trus pura-pura nggak kenal"


"hiiss...mbak Tika apaan sih?aku bukan tipe seperti itu ya!"

__ADS_1


"iya aku tau nyonya bos.sekarang cepetan pergi." Mereka kembali tertawa hingga Shinta pamit pulang.


__ADS_2