Cinderella Gila

Cinderella Gila
Isn't it sad?


__ADS_3

"Hanya diam melihat tanaman seperti ini, beliau bisa merasakan sebuah kehidupan." Ucap seorang pria yang berjongkok di depan sebuah tanaman hijau di tengah kebun bunga.


"Gua bener-bener ga paham sama ibu lo."


"Begitukah?"


Pria itu hanya tertawa lembut. Di tangan kanannya, terlihat sebuah bunga krisan kuning yang masih tergenggam erat seperti barang berharga. Di sampingnya, berdiri seorang wanita cantik berambut pirang dengan setelan pakaian layaknya seorang laki-laki.


"Yeah. She's so cool, she keeps me wondering."


Ditatapnya wanita itu kemudian oleh Daryl, wanita yang juga sedang memperhatikan tanaman di hadapannya.


Jika diperhatikan baik-baik, posisi kedua orang itu sedikit terasa seperti tertukar.


"Benar, nonamu sama sekali tidak feminin." Ucap seorang pria berambut pirang yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan.


"Tuanmu juga terlihat meragukan." Jawab laki-laki berseragam kesatria yang ikut masuk ke taman itu bersamanya.


Setelah mempertimbangkan kepentingan masing-masing, Will dan Alais pun memilih untuk bersama-sama mengamati kencan kedua orang tersebut.


Berpindah dari taman bunga ke sebuah galeri lukisan, kedua 'pengawas' tersebut juga masih terus mengikuti mereka.

__ADS_1


Berkeliling melihat ratusan bingkai berisi goresan-goresan warna yang menyimpan sebuah cerita, tidak ada satu pun gambar yang mampu Ashley pahami maknanya.


Daryl mengatakan kepadanya mengenai kesan, ekspresi, dan cerita yang terkandung dalam sebuah lukisan. Ia berkata, tidak semua lukisan memiliki makna, namun setiap lukisan menyimpan sebuah perasaan.


Sama halnya dengan melihat seseorang. Setiap kesan yang ditunjukan orang itu, menyimpan ceritanya sendiri-sendiri. Lalu cerita tersebut tersimpan sebagai memori yang hanya dimiliki oleh orang yang bersangkutan.


Caramu melihat sebuah lukisan, adalah caramu melihat memori tersebut, karena benda 'bisu' itu jugs memiliki caranya sendiri untuk berbicara.


Awalnya Ashley tidak mengerti dengan hal yang diucapkan Daryl. Wanita itu tidak memahami seni, sehingga lukisan yang ia lihat hanya terlihat seperti imajinasi atau usaha seseorang menirukan sesuatu. Ia benar-benar melihat lukisan dengan sebelah mata namun ia tetap mahir dalam membaca sifat seseorang.


Bukankah ucapan pria itulah yang terlalu dilebih-lebihkan?


Hingga langkahnya terhenti saat melihat sebuah lukisan besar dengan warna dominan coklat.


Berlatar di sebuah tempat yang dikelilingi tebing curam, seorang pria berdiri seorang diri di bawah derasnya hujan dengan badan penuh luka dan darah. Menampakkan bagian punggungnya, dapat dilihat beberapa jasad yang tergeletak di sekitar pria tersebut.


Pada bagian bingkai, deretan huruf-huruf berjajar membentuk tulisan 'La Victoire'. Sebuah judul yang memberi kesan megah dan berjaya. Namun 'memori' yang tersimpan di sana justru mengatakan hal yang sebaliknya.


Rasa sakit dan kesedihan mendalam.


"Kau baik-baik saja?"

__ADS_1


Melihat Ashley yang tiba-tiba tidak bergerak sama sekali sambil memasang ekspresi rumit telah membuat Daryl kebingungan. Wanita itu bahkan tidak berkedip, memperhatikan setiap detail yang tergambar di sana. Untuk sesaat, ia bisa merasakan perasaan yang dimiliki oleh orang dalam lukisan tersebut. Perasaan yang terasa begitu jelas dan nyata hingga sulit untuk disembunyikan.


"Isn't it sad? To be the last man standing?" Ucap wanita itu saat ekspresi wajahnya telah kembali menjadi lebih tenang.


Daryl pun menoleh, melihat lukisan yang sama yang tengah dipandangi oleh Ashley. Meski tidak sekuat yang dirasakan oleh wanita itu, namun Daryl juga paham akan hal itu.


"Gua bisa liat, gimana mereka berjuang mati-matian."


"Gimana mereka mulai kehilangan temen satu persatu."


"Suara pedang, ujan, teriakan, komando, rasa sakit, darah, air mata, amarah, rasa bersalah-"


Mendengar perkataan Ashley, Daryl kini ikut merasakannya dengan lebih jelas. Rasa sedih yang begitu menyayat hati.


Dilihatnya sekali lagi wanita di sampingnya yang selalu menyimpan sejuta misteri tersebut.


Wajah sedih yang ia lihat saat itu terasa berkali-kali lebih menyakitkan dari yang Daryl perkirakan. Bukan hanya membayangkan, Ashley lebih terlihat seperti orang yang benar-benar pernah mengalami hal itu.


"Nona Midgraff, apakah kau..."


"Datang dari dunia lain?"

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2