
Bersembunyi di balik air mancur besar di tengah plaza, Ashley yang tak bersenjata, posisinya diketahui oleh salah satu musuhnya yang berusaha menyelinap ke sisi kiri.
Sambil bersembunyi dari arah bidikan Kenny, orang itu menodongkan senjatanya ke arah Ashley berniat mengambil buruan besar mereka sendirian.
Suara tembakan terdengar dari sisi kiri plaza. Dalam sepersekian detik itu ia gagal menarik pelatuknya untuk membunuh Ashley. Ia tidak menyadari jika Kenny juga berpindah tempat saat Ashley maju ke depan. Saat ia pikir ia sudah terlindung dari tembakan Kenny, ia justru terlihat jelas dalam area bidikan laki-laki itu.
Sebelum sempat bertindak, nyawa orang itu telah direnggut darinya.
Bukan kebetulan. Itu memang rencana Ashley.
Seseorang berteriak memanggil nama orang yang tidak Ashley kenal. Hampir saja orang itu menerobos keluar dari persembunyiannya dan terkena tembakan Joan. Umpatannya terdengar dari sela suara tembakan.
Bagaimanapun itu, mereka tetaplah manusia yang memiliki teman dan keluarga. Namun, orang yang siap merenggut, juga harus siap direnggut.
Ashley berlari mendekati jasad orang yang baru saja hendak menembaknya. Joan dan Kenny pun melindunginya dari kejauhan.
Meski hanya sekitar 5 meter namun itu mampu membuat perut Ashley terasa sangat nyeri sampai ia tidak bisa bergerak selama beberapa detik. Kenny yang melihatnya, merasa sangat kebingungan. Ia ingin menghampiri bosnya itu namun ia juga harus menjaga sisi kiri agar tidak ada yang mendekati Ashley.
Kini Joan dan Kenny memiliki titik jaganya masih-masing. Mereka tidak bisa lagi saling bergantian menembak musuh. Karena itu, setiap mereka berhenti menembak, orang-orang itu bergerak menyebar berniat mengepung.
"Yellow!" Teriak Joan memberi tanda.
Kode kuning berarti mag terakhir, yang artinya Joan tidak memiliki cadangan peluru lagi. Sedangkan, ada tiga orang yang berusaha mengepungnya.
Jika Joan fokus menembak satu orang, maka dua orang yang lain akan berlari mencari posisi untuk menembak wanita itu. Mengalahkan 3 orang berbekal senjata api memang sudah mustahil. Namun Joan sejak awal sudah menerima kematiannya. Setidaknya, ia ingin meringankan beban Ashley dan Kenny.
"Lo bisa lari secepet peluru?" Tanya Ashley saat pertama bertemu dengan Joan.
"Tidak. Tapi saya bisa mengalahkan kecepatan Anda." Jawab wanita itu.
Joan merunduk dan mulai berlari ke sisi kanan.
Sangat cepat. Meski membawa senapan tapi kecepatan larinya masih begitu cepat.
Salah satu dari musuhnya yang melihat Joan berlari langsung menembakan tembakannya. Namun peluru-peluru itu sama sekali tidak mengenainya, karena setiap kali ia hampir tertembak, Joan sudah sampai ke tempat berlindung berikutnya.
__ADS_1
Itulah wanita yang mampu mengalahkan kecepatan lari Ashley.
Joan berniat menggagalkan rencana pengepungan mereka dengan berlari ke arah yang sama. Namun kini ia justru membuka peluang bagi mereka untuk masuk di antara Ashley dan dirinya.
Pada akhirnya, ia tetap terkepung.
Ia tersenyum. Dengan 50 peluru terakhirnya ia berlari ke samping lalu menembak orang yang bersembunyi di sana, membiarkan pertahanannya terbuka lebar.
Hidupnya telah ia dedikasikan untuk mengikuti Ashley. Tidak ada penyesalan sama sekali dalam dirinya jika harus mati di sana.
"Don't f*ck with me." Ucap Ashley lirih melihat Joan berlari maju tanpa keraguan meski ada orang yang mengintainya dari belakang.
Suara tembakan kemudian terdengar dari arah belakang Joan.
Masih ingin mencoba peruntungan, ia berlari menuju tempat musuhnya bersembunyi tadi.
Ia sedikit kebingungan karena ia berhasil selamat. Seharusnya tembakan itu mengenainya, mengingat ia hanya berlari lurus.
Meleset?
Wanita itu pun menunjukan ujung senapannya, sebelum menariknya kembali. Ia berniat mengetes apakah orang itu masih berada di sana, namun tidak ada tembakan yang diarahkan kepadanya sama sekali.
Setelah memastikan orang yang ke-3 tidak terlihat di sekitar sana, ia kemudian mengintip perlahan.
Bukan musuh yang ia lihat, melainkan Kenny yang tengah berdiri melihat ke arahnya sambil memapah Ashley.
Ia tertegun menyadari tubuh orang yang hendak membunuhnya kini telah tergeletak tak bernyawa.
Matanya bersinar. Setelah sekian lama, hatinya dibuat berdebar-debar lagi oleh bosnya. Tindakan-tindakan penuh adrenalin, ditambah keahlian Ashley yang tidak perlu dipertanyakan, membuatnya cukup bahagia dapat hidup bersama kelompok Ashley.
Itulah bossnya, yang masih mampu menembaknya dengan tembakan yang hanya berisi 1 peluru karet, meski ia berlari sekuat tenaga.
Saat Kenny mengurus sisi kiri, Ashley menghabisi dua orang yang terlihat di kanan karena fosmasinya dikacaukan oleh Joan yang tiba-tiba berlari.
Dengan ini, berakhirlah baku tembak tersebut. Kejadian yang memakan 6 korban jiwa, dan seluruhnya adalah pihak musuh.
__ADS_1
Namun bukan berarti krisis mereka berakhir.
Ashley yang sudah kehilangan banyak darah kini tidak kuat lagi berdiri. Joan pun membantu memapah Ashley sambil menekan perutnya. Mereka kemudian berjalan perlahan ke tempat yang lebih luas.
Matanya terasa sangat berat hingga sudah tertutup setengah. Kesadaran dirinya sudah berada diambang batas.
"Jangan tidur bos! Kita masih punya banyak tugas!" Teriak Joan meyakinkan Ashley untuk tetap menjaga kesaadarannya.
"Sebentar saja. Tolong tunggu sebentar lagi." Ucap Kenny yang tahu betul Ashley tidak suka menunggu.
Sebenarnya, Ashley jauh lebih takut daripada mereka. Takut akan kehilangan kesadarannya, dan kembali ke dunia Ashelia. Takut jika yang ia perjuangkan saat itu ternyata hanyalah sebuah mimpi dan ia akan terbangun di dunia yang ia benci tanpa adanya perubahan.
Mereka masih terus mengajaknya berbicara namun wanita itu sudah tidak mampu fokus mendengar apa yang mereka bicarakan. Ia bahkan mulai berhalusinasi mendengar suara sirine.
Bukan halusinasi.
Sebuah ambulan tiba dan berhenti di depan mereka. Dengan sigap para petugas itu langsung memberikan pertolongan kepada wanita tersebut. Saat diberi oksigen, Ashley mencoba duduk namun petugas rumah sakit itu langsung menahan pundaknya dan menyuruhnya untuk tidak bergerak.
Ashley melirik ke arahnya. Ia hanya mengumpat dalam hati jika ia akan memotong tangan orang itu kalau dirinya tidak dalam kondisi seperti itu.
Tidak ada salahnya untuk pingsan. Agar dapat mengistirahatkan tubuh yang sudah mencapai batas, atau menghindar dari tekanan yang dapat membahayakan diri.
Satu-satunya yang salah adalah takdirnya yang membuatnya tidak mengijinkan dirinya untuk beristirahat, meksi hanya setengah tidur. Dalam keadaan seperti itu, bolehkan seseorang menyalahkan takdir? Tanpa mengetahui tujuan dan makna yang dapat diambil dari takdirnya?
Masih terus menahan diri, ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar. Bahkan saat sampai di rumah sakit dan perutnya di jahit.
Suasana di rumah sakit pun menjadi sedikit tegang, karena mereka semua tahu siapa Ashley. Mereka memang melakukan yang terbaik, namun mereka lupa jika itu memang kewajiban mereka.
Karena rasa takutnya, mereka lupa jika prioritas mereka seharusnya untuk 'menyelamatkan Ashley' dan bukan 'menyelamatkan diri' mereka sendiri.
Berbeda dengan di rumah sakit yang bahkan pasiennya pun ikut merasa tegang, saat sampai di markasnya, anak buahnya justru terlihat begitu santai dan seenaknya.
"Hai Ash, udah balik?" Sapa salah satu dari mereka.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1