Cinderella Gila

Cinderella Gila
No, sir!!!


__ADS_3

Berhasil menerobos masuk dan 'melumpuhkan' seluruh orang di gedung tempat Ashley tersekap, para bawahan wanita itu berhasil sampai tepat waktu. Di bawah pengawasan snipernya, tidak ada yang bisa mendekati Ashley hingga anggota mereka datang menyelamatkannya.


Meninggalkan gedung yang telah porak poranda tersebut, Ashley dan seluruh anggotanya pun kembali ke markas.


Dalam perjalanan, Ashley membandingkan kejadian perpindahannya yang sekarang dengan yang sebelumnya. Meski berbeda, ada beberapa kesamaan yang terlihat jelas, yaitu listrik dan keadaan krisis. Entah itu karena tubuhnya atau karena nyawa Ashelia yang terancam.


Berbeda dengan ritual yang diceritakan Bellena, mungkin karena bukannya memanggil Dewi yang sebenarnya dan justru bertukar tubuh dengan orang lain, maka nyawa Ashelia masih diprioritaskan? Fakta yang membuat Ashley justru merasa seperti terkena kutukan.


Terlepas dari itu, jika Ashley tidak ingin kembali ke sana lagi, mulai sekarang ia harus berhati-hati dengan aliran listrik sekecil apa pun.


Berada dalam satu mobil bersama Kenny yang sudah menyadari bosnya telah 'kembali', Ashley pun menanyakan keadaan mereka saat ini.


Seperti 'biasa', orang yang mengincar Ashley masih terus berdatangan, dari dalam maupun luar organisasinya. Hanya bedanya, Ashelia tertangkap kali ini. Selain hal itu, tidak ada lagi. Hal yang sejujurnya sangat mengejutkan Ashley.


Untuk pertama kalinya, wanita itu benar-benar merasa lega atas sesuatu.


"Kalo dia aneh-aneh, langsung pukul." Ucap Ashley yang sangat ingin melakukan itu dengan tangannya sendiri.


Namun Kenny yang masih seorang bawahannya mana bisa asal memukulnya seperti itu. Bisa-bisa ia dihajar oleh anggota yang lain.


"Apa itu akan mengembalikan Anda?" Tanya pria yang akan melakukan apa pun untuk melindungi Ashley tersebut.


"Ya. Kalo lo pukul sampe mau mati."


Menyadari hal yang baru saja diucapkannya, Ashley pun berpikir jika itu juga bukanlah ide yang buruk. Ia bisa langsung kembali dan Ashelia tidak akan sempat mengacau.


Di sisi lain, Kenny juga akhirnya yakin jika solusi itu tidak perlu ia pikirkan lebih lanjut. Ia kadang dibuat bingung kapan bosnya serius dan kapan bercanda. Yang ia tahu, Ashley sepertinya benar-benar memiliki kepribadian ganda dan sangat membenci kepribadiannya yang kedua.


"Mau seperti apa pun Anda, selama Anda adalah Ashley Miller,"


"Saya akan mengikuti kemana pun Anda pergi." Ucap Kenny kemudian.

__ADS_1


Ashley terdiam saat mendengar kata-kata yang juga baru saja didengarnya di tempat lain itu. Ucapan Kenny telah mengingatkannya kepada Daryl, dan bukan lagi Daryl yang mengingatkannya terhadap Kenny kali ini. Lucu baginya, membayangkan hal itu bisa terbalik sekarang.


Hal yang hendak disampaikan oleh Kenny adalah, meski Ashley berubah, dan memiliki sejuta kepribadian, selama mereka semua masih dan bagian dari diri Ashley, ia akan terus mengikutinya. Tentu wanita itu sadar betul akan hal tersebut, tapi justru karena itulah ia tidak bisa terima. Seseorang yang jelas-jelas bukan dirinya berani memanfaatkan 'keluarganya' yang berharga.


Ditepuknya kepala Kenny kemudian, layaknya memperlakukan anak-anak.


Sebagai anggota yang terbilang muda, Kenny sebenarnya paling tidak suka jika ada yang memperlakukannya seperti anak kecil. Namun jika orang yang melakukannya adalah Ashley, ia sama sekali tidak keberatan.


Sesampainya di markas, naiklah mereka ke lantai paling atas gedung. Karena wanita yang sedang bersama dengannya itu bukanlah Ashelia, ia hanya mengantar sampai depan pintu.


Di dalam kamarnya, Ashley melihat ke sekeliling. Diperhatikannya tatanan ruangan bernuansa modern tersebut, yang terasa sangat berbeda dengan gaya elegan abad pertengahan yang biasa ia lihat hampir 2 minggu terakhir ini.


Dibandingkan sebelumnya, kali ini ia kembali lebih cepat. Namun anehnya justru terasa lebih lama. Ruangan kamar yang selalu ia tinggali itu kini memberikan rasa nostalgia di dalam dirinya.


Diliriknya kemudian sebuah buku tebal yang tergeletak di atas meja di samping ranjangnya. Tentu saja Ashelia tidak akan pernah membiarkan kitab suci itu dibuang sebelum ia menghafal seluruh kejadian yang ada di dalamnya.


Diambilnya kemudian buku novel tersebut dan diperhatikannya sejenak. Bak sebuah dongeng, buku karangan manusia itu kini terlihat seperti buku sihir di matanya. Buku yang menyimpan sebuah kehidupan, bahkan dari orang-orang yang jarang atau tidak disinggung sama sekali di dalamnya, seperti Marion, Bellena, Harun dan kelompoknya, Alais, informan, si penjual bunga, Kalia, dan juga Daryl.


Mengambil sebuah ponsel yang berada di sebelah buku tersebut, Ashley pun membuka kuncinya dengan sidik jari. Dengan identifikasi sidik jari, tentu Ashelia pasti juga bisa membukanya.


Sambil terkekeh membayangkan Ashelia yang pasti sangat terkagum-kagum seperti orang gua, Ashley kemudian mengganti pengaturan kuncinya dengan kata sandi agar gadis itu tidak bisa mengaksesnya lagi.


Mengecek memorinya, Ashley mendapati jumlah gambar di galerinya telah berubah menjadi ribuan. Begitu dibuka, wajahnya langsung berubah datar penuh dengan kesan malas.


Sudah pasti, tidak perlu ditanyakan lagi, isinya hanya foto Kenny yang diambil Ashelia setiap saat. Ashley heran kenapa saat dengan Daryl sikap Ashelia tidak seterang-terangan ini?


Tentu karena Daryl menyikapinya dengan dingin, sedangkan Kenny sangat perhatian kepada 'Ashley'.


Saat tengah sibuk menghapus jejak 'kejahatan' tersebut dari ponselnya, ia mendapat sebuah panggilan masuk dari nomor yang bertuliskan 'Sasha'.


Ia adalah salah satu orang yang dekat dengan Anthony dan menyimpan banyak rahasia. Lalu hal itulah yang membuat Ashley tidak menyukainya. Wanita itu terlalu misterius untuk bisa dipercaya.

__ADS_1


Karenanya, tidak mungkin Ashley menyimpan nomer tersebut. Yang artinya, Ashelia telah bertemu dengannya. Entah apa yang sudah mereka bicarakan, Ashley tetap tidak berniat berhubungan baik dengan wanita itu.


Namun dimatikan berkali kali pun, Sasha masih terus meneleponnya seperti orang kelewat posesif. Ashley yang merasa terus terganggu karena kegiatannya menghapus foto terus terhalangi, akhirnya mengangkat telepon tersebut.


Dengan amarah menggebu-gebu, Ashley melontarkan semua kekesalannya lewat kata-kata.


"Ba**ngan! Lo ga punya kerjaan, ***ing!? Gausah telpon-telpon! Gua ba**r lo!"


Namun di luar dugaan,


"...is that so?" Sahut seseorang yang berada di sisi lain sambungan tersebut.


Suara yang keluar dari sana bukanlah suara wanita, melainkan laki-laki, dan terlebih lagi sangat familiar di telinga Ashley.


Spontan, mendengar suara ayahnya dan bukannya Sasha, Ashley yang semula berbaring pun langsung bangun.


"No, sir!!!"


Mengingat hal apa yang baru saja dikatakannya terhadap Anthony, Ashley pun berniat menjelaskan. Sayang, bagaikan sebuah kutukan, semua tidak pernah berjalan lancar saat kau panik.


Ponsel yang digenggamnya tiba-tiba mati karena baterainya habis.


Buru-buru mengambil pengisi daya, ia berusaha secepat mungkin menyambungkan kabel tersebut ke lubang di ponselnya setelah menancapkannya ke stopkontak.


Ashley lupa, arus listrik sekecil apa pun sangat mempengaruhi hidupnya.


Tidak sengaja menyentuh bagian logam di ujung kabel tersebut, ia langsung terlempar kembali ke dalam tubuh Ashelia.


Sebuah teriakan penuh amarah pun terdengar begitu keras di tengah malam di kediaman keluarga Midgraff.


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2