
Dengan tiba-tiba, Daryl menggendong Ashley layaknya seorang putri. Didekapnya tubuh wanita itu tanpa memikirkan resiko yang akan diterimanya.
Hanya memiliki 1 kaki untuk tumpuan, terlebih lagi tongkat kayunya juga patah, membuat pergerakan Ashley benar-benar terbatas. Mengetahui akan berbahaya jika ia memaksa melepaskan diri, Ashley spontan menarik rambut Daryl ke belakang dan menodongkan ujung kayunya tepat di bawah dagu laki-laki tersebut.
Sambil menahan nyeri yang luar biasa di lengannya, wanita itu bertanya,
"Ngapain bang***?"
Bellena langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut dengan kejadian yang ia saksikan tepat di depan matanya. Bukan terpukau atau semacamnya, ia terkejut karena Daryl berani- bukan hanya menyentuh, namun menggendong wanita bringas tersebut.
Sedangkan kesatria keluarga Derius dibuat sama terkejutnya namun dengan alasan yang berbeda. Ia yang meyakini jika mereka berdua sedang dalam masa pendekatan pun dibuat bingung karena Ashley justru tiba-tiba mengancam nyawa Daryl sekali lagi.
Akan tetapi, respon yang diberikan laki-laki di hadapannya semakin membuatnya tidak paham dengan hubungan kedua orang tersebut.
Dalam posisi mendongak dan dagu yang terancam berlubang, Daryl tersenyum dengan polosnya dan menjawab,
"Menjadi calon suami yang baik?"
Ashley mengernyitkan dahinya seraya menekankan ujung kayunya lebih dalam dan menahan belakang kepala laki-laki itu agar tidak bergerak.
Tindakan wanita tersebut membuat Daryl teringat akan sambutan yang diberikan Ashley saat di kasino. Ia tertawa kecil membayangkan jika Ashley membawa 'pedang berkedok tongkat'nya mungkin pertemuan mereka kali ini akan sedikit tragis.
Ashley saat itu memang hanya bisa mengancam Daryl karena ada saksi mata- kesatria keluarga Derius di sana. Selain itu, ia juga berada dalam posisi yang tidak memungkinkan untuk pergi dari TKP dengan cepat.
"Aku tidak akan melakukan apa pun, jadi tolong biarkan tanganmu istirahat."
Tidak seperti di kasino, kini Daryl berbicara dengan bahasa formal terhadap Ashley untuk menunjukkan statusnya yang berada di atas wanita itu. Tidak bermaksud sombong, ia hanya ingin memamerkan jika ia sebenarnya adalah orang yang hebat.
Sayangnya, Ashley yang tidak memahami budaya mereka sama sekali tidak menyadari niat Daryl.
Saat pria itu mulai melangkahkan kakinya sambil menggendong Ashley, wanita itu kembali menarik rambut Daryl ke belakang. Namun, seakan terhibur dengan tingkah wanita tersebut, ia justru tertawa.
"Bisa tolong berhenti? Aku tidak bisa melihat jalan." Ucap Daryl yang kini terdongak sepenuhnya.
Ashley sedikit melonggarkan genggamannya dari rambut pria yang membawanya, dan membiarkan laki-laki itu kembali berjalan. Sambil kembali menekan ujung patahan tongkat kayu yang ia bawa ke dagu pria itu, Ashley berkata,
"One s*itty movement and there'll be a hole here."
__ADS_1
Karena tidak bisa menggerakan kedua tangannya, Daryl tidak bisa memaksa wanita itu untuk berhenti menggunakan tangan kanannya yang cidera.
"Aku berjanji tidak akan melakukan apa-apa. Kesatria Derius juga tidak akan tinggal diam jika aku melakukan hal buruk kepadamu."
"Jadi tolong istirahatkan tanganmu." Lanjut Daryl sambil melirik ke arah Ashley.
Wanita itu sedikit tertegun. Mendengar omelan Daryl membuatnya teringat dengan Kenny. Hanya dia satu-satunya orang yang berani mengomeli wanita tersebut. Namun kini ada orang asing yang juga berani melakukan hal beresiko itu.
Entah karena sikapnya yang mirip dengan anak buahnya atau bukan, Ashley tidak merasa tersinggung sama sekali.
"Setidaknya sampai kau mendapatkan perawatan." Tambah laki-laki itu.
Mempertimbangkan ucapan Daryl yang ada benarnya, Ashley pun menurunkan tongkatnya dan mengistirahatkan lengannya di perut.
"Nona Bellena."
"Ya!?" Jawab gadis itu terkejut bukan hanya karena Daryl mengetahui namanya, namun juga karena laki-laki itu memanggilnya dengan sopan.
"Bisa tolong bawakan kayu yang Nona Ashelia bawa?"
Bukan mengambil, bukan menyingkirkan, tapi membawakan, seolah potongan kayu tersebut sangat berharga bagi Ashley hingga ia tidak meminta Bellena untuk membuangnya.
"Lo siapa nyuruh-nyuruh orang gua?"
Seperti tak terpengaruh dengan intimidasi Ashley, Daryl yang masih belum puas dengan hasil omelannya, mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak bisa menggerakan tanganku, jadi aku meminta tolong padanya. Bagaimana tanganmu bisa istirahat jika kau terus menggenggam itu?"
Bukan hanya Bellena yang dibuat bingung oleh sikap Daryl yang seolah tidak terpengaruh aura jahat Ashley. Bos mafia itu pun dibuat sangat tidak habis pikir.
Ia kemudian mulai berasumsi. Mungkinkah yang berada di dalam tubuh laki-laki itu memang anak buahnya, Kenny? Sikap mereka sangatlah mirip. Meski mengesalkan, namun Ashley selalu menurutinya.
Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, itu tidak mungkin. Kenny bukan orang yang murah senyum sepertinya. Terlebih lagi saat Ashley mengancamnya. Kepribadian laki-laki yang menggendongnya itu memang kelewat normal.
Padahal Ashley pun sama saja.
Daryl sebenarnya dikenal sebagai orang yang dingin dan tidak ramah sama sekali. Ia tidak pernah terlihat tersenyum, apalagi tertawa. Namun di depan Ashley, ia selalu terlihat senang. Hal itu juga yang membuat kesatria keluarga Derius dan juga Bellena terus mencuri pandang ke arahnya, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
__ADS_1
Menuruti kemauan pria itu, Ashley akhirnya membiarkan Bellena mengambil tongkatnya.
Selanjutnya tidak ada percakapan apa pun di antara mereka. Saat wajah Daryl terlihat begitu bersinar layaknya orang yang baru saja menang lotre, wajah Ashley justru terlihat agak murung.
Setelah teringat dengan Kenny, kini wanita itu teringat dengan anak buahnya yang lain. Ratusan orang yang ia tinggalkan dibawah pengawasan gadis tidak berguna, Ashelia.
Ia baru saja meyakinkan Carlos jika ia tidak akan meninggalkan mereka, namun kini ia telah pergi jauh ke tempat yang tidak dapat mereka raih. Carlos mungkin satu-satunya yang berani bertindak seperti itu, namun Ashley tahu jika pria itu bukanlah satu-satunya yang berpikir demikian.
Ia hanya bisa berharap Ashelia tidak mengacau lebih dari kemarin. Ia tidak akan bisa memaafkan gadis itu jika terjadi sesuatu kepada anak buahnya.
Memangnya kenapa jika tidak bisa memaafkan Ashelia?
Pada akhirnya, ia tetap tidak akan bisa menemui gadis itu untuk membalasnya.
Memikirkan hal itu, kebenciannya menyeruak seiring dengan rasa tidak berdaya yang mengekangnya kuat.
"Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja." Ucap Daryl tiba-tiba memecah lamunannya.
"Masalah kadang justru membuatmu merasa hidup."
"Selama kau masih terus mencari cara untuk menyelesaikannya, aku yakin kau pasti akan melihat jalan keluarnya."
Bagi Daryl, yang sudah merasa kehilangan rasa 'hidup' dalam dirinya, berpikir jika kehidupan bukanlah sekedar memenuhi peran dan kewajiban. Rutinitas yang tidak memberinya kesan apa pun selain rasa bosan itu membuatnya haus akan sesuatu yang lain.
Saat itulah ia bertemu dengan wanita yang bisa memberinya rasa kagum sekaligus takut di saat bersamaan. Kepribadiannya yang sangat menentang itu membuatnya tertarik. Seolah melihat sesuatu yang akan menjadi pusat permasalahan, Daryl pun mengikutinya.
Hingga di sinilah ia sekarang, mendekap 'pusat permasalahan' itu dengan kedua tangannya.
Mungkin hanya orang sepertinya yang paham dengan kata 'mencintai permasalahan'.
Petuah dadakan itu membuat Ashley sedikit merasa aneh. Ia tidak mengerti kenapa Daryl tiba-tiba berkata seperti itu. Apa mungkin karena raut wajahnya baru saja terbaca dengan jelas?
Ia pun menata kembali hatinya, karena tidak seharusnya ia membiarkan apa yang ia pikirkan tergambar jelas di wajahnya. Terlepas dari itu, hal yang diucapkan Daryl memang ada benarnya. Membuatnya teringat dengan kata-kata ayahnya.
Hanya orang yang mampu bertahan hidup hingga akhirlah yang akan jadi pemenangnya.
Ia tidak perlu terlalu mengkhawatirkan anak buahnya karena mereka pasti juga sedang mencari cara mengatasi Ashelia. Saat ini, ia hanya perlu mencari tahu siapa para kandidat yang akan menjadi targetnya.
__ADS_1
Mempelajari cara pikir Ashelia, gadis itu pasti juga menulis buku harian. Itulah yang perlu ia cari setelah ini.
^^^Bersambung...^^^