
Memasuki sebuah toko dari seorang pandai besi, Ashley dan kedua pengikutnya datang untuk mengambil pesanan.
Mendapat informasi dari Bellena, orang yang menerima pesanan tersebut adalah kakak perempuan dari si Pembuat Tongkat. Lalu dengan sedikit 'memaksa', dibuatkanlah benda-benda yang diinginkan Ashley.
Sama halnya dengan sang adik, awalnya ia juga terpana dengan pesona yang dipancarkan oleh Ashley. Namun setelah melihat tongkat yang wanita cantik itu bawa, kesan Ashley langsung berubah.
Suaminyalah yang membuatkan ornamen tersebut, tidak mungkin ia salah mengenali karyanya. Bukan hanya isi tongkat, namun kaki palsu Ashley juga adalah hasil campur tangannya bersama sang adik. Jelas ia tahu hal gila apa yang tersembunyi di sana.
Melihat seorang wanita cantik yang mencoba melawan keterbatasan fisiknya memang sangatlah menarik perhatian. Akan tetapi, dua pisau tajam yang ia sembunyikan, ditambah dengan barang-barang yang ia pesan, mampu mengungkap siapa dirinya. Orang yang tidak seharusnya dikasihani, dan sebisa mungkin dijauhi.
Meski biasanya ramah, kali ini ia tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama pelanggan barunya tersebut. Dikeluarkanlah pesanan Ashley kemudian.
Saat wanita bangsawan lain memesan sebuah kalung dengan hiasan permata, Ashley justru menginginkan sebuah kalung dengan pisau di dalamnya. Bentuknya yang menyerupai jangkar memang cukup mengelabuhi mata.
Tidak cukup memiliki 3 pisau tersembunyi, ia juga memesan sebuah karambit dan membeli belati yang terpajang di toko tersebut.
Melirik ke arah Alais, Ashley hendak membelikannya senjata tersembunyi seperti pisau. Namun hal itu mungkin akan menyakiti harga dirinya sebagai kesatria berjiwa luhur.
Ashley yang lebih suka mengelabuhi lawan dan menyembunyikan kartunya, sangat tidak sejalan dengan Alais yang akan menghadapi musuhnya dengan rasa hormat.
Langsung memakai kalung barunya dan memasang kedua pisaunya di pinggang, wanita itu pun berniat pergi melanjutkan jadwal kegiatannya. Diserahkanlah kotak terakhir yang berisi stempel kepada Bellena, memintanya mengurus pembayaran lalu mengantarkan stempel tersebut kepada Harun.
Kali ini Ashley pergi tanpa membuat keributan. Karena terlalu normal, Bellena sampai dibuatnya ragu untuk pergi.
Bersama Alais mendatangi tempat yang diberi tahukan oleh informan itu tadi pagi, sampailah mereka di sebuah toko roti yang berada cukup jauh dari pusat kota.
Diinstruksikan untuk menemui orang tersebut di belakang toko, masuklah mereka berdua ke dalam gang di sekitar sana untuk mencari jalan.
Sayangnya, setelah berputar-putar mencari, tidak ada satu jalan pun yang mengarah ke sisi belakang toko roti tersebut. Toko itu benar-benar dikelilingi bangungan dan tak bercelah.
Tidak memiliki cara lain, Ashley pun menerobos masuk ke dalam toko. Berjalan menghampiri salah satu pegawai, tanpa basa basi ia langsung bertanya,
__ADS_1
"Mana pintu belakang?"
Anehnya, pegawai tersebut tidak terlihat bingung, curiga, ataupun berdalih sama sekali. Sambil tersenyum ia menunjuk ke arah di mana pintu itu berada. Hal yang justru membuat Ashley dan Alais harus meningkatkan kewaspadaannya.
Melewati lorong menuju toilet, mereka dipertemukan dengan dua pintu yang berada di ujung. Satunya adalah pintu samping dapur, dan satunya lagi bertuliskan gudang. Sengaja ditulis bukan untuk pegawai tapi untuk memberitahu pengunjung usil jika tidak ada apa-apa di sana selain tepung dan bahan lainnya.
Dibukalah pintu gudang tersebut oleh Ashley karena tidak ada benda bertuliskan 'pintu belakang' di sana. Berjalan masuk sambil berjaga-jaga jika ada serangan tiba-tiba, mereka kemudian melihat adanya pintu di samping sebuah rak besar.
Bersembunyi di balik dinding kemudian membuka pintu tersebut tanpa menunjukan diri, mereka berdua mengetes apakah ada serangan yang sudah menanti kedatangan mereka. Lalu, karena tidak ada sedikit pun tanda-tanda bahaya, Ashley pun keluar melewati pintu tersebut.
Bukan dikejutkan oleh sesuatu yang mengancam nyawa, wanita itu justru dikejutkan oleh siapa orang yang telah menunggunya.
Di ruang terbuka seluas 4x4 meter beratapkan langit dan dikelilingi dinding tersebut, seorang anak laki-laki yang sangat identik dengan informan kenalan Ashley tengah berdiri di sana.
Ditatapnya anak itu oleh Ashley dan Alais selama beberapa detik sebelum kedua orang tersebut saling melirik. Tertawa, anak laki-laki yang juga sama cerianya itu kemudian berkata,
"Adikku sudah memberi tahuku kalian akan datang."
"Ahh. Twins is the setup."
Ashley sempat terkejut karena ia tidak mengerti kenapa informan cilik itu harus repot-repot pergi sejauh ini saat anak tersebut bisa mengatakannya langsung, tapi kini Ashley paham. Ini adalah cara informan itu menyamarkan jejak.
Tidak melanjutkan ucapannya, anak itu berbalik dibuat terkejut oleh Ashley. Beda halnya dengan Alais yang malah dibuat semakin bingung karena tidak mengetahui fakta tersebut.
Kembali anak itu dibuatnya tertawa oleh Ashley. Ia merasa kagum wanita itu bisa mengetahui hal yang selama ini berhasil menipu banyak orang hanya dengan sekali lihat.
"Nona Koin Emas, dari semua berita tentangmu, kehebatanmu memang yang paling tidak bisa disangkal."
Setelah mendengar anak itu secara tidak langsung telah mengakui kebohongannya, Alais baru sadar jika anak itu memanglah orang yang sama dan bukannya kembar.
"Jadi kenapa mencari Far? Apa kau berpihak pada keadilan sekarang? Atau ingin bekerja sama?"
__ADS_1
Wow. Say what?
Ashley dibuat tidak bisa berkata-kata. Ia memang wanita bengis yang tidak pernah peduli dengan yang namanya keadilan. Namun mendengarnya langsung dari mulut anak yang begitu ceria rasanya sedikit aneh.
"...gua denger dia lagi ngerencanain sesuatu."
"Cuma mau mastiin dia musuh gua atau bukan." Lanjutnya.
Menyimpan harapan bahwa Far bukanlah musuh Ashley, anak itu juga tidak bisa berharap kedua orang tersebut menjadi sekutu. Entah apa yang akan terjadi nanti.
Ia tidak mengetahui banyak hal mengenai siapa Far, apa saja yang dilakukannya, dan siapa saja orang yang terlibat dengannya. Namun setahunya, area hiburan malam kini memang telah dimonopoli oleh pria tersebut. Kemudian, operasi terbesarnya yang cukup meresahkan adalah dalam perdagangan obat-obatan terlarang.
"Aku tidak tahu hal apa yang akan membuatnya menjadi musuhmu, tapi setahuku, otoritas setempat juga mendukungnya."
Ia masih belum yakin apakah Vincent juga terlibat atau tidak, jadi ia tidak bisa berkata jika Count wilayah Lozan itu benar-benar bersih.
Diliriknya putri tunggal Vincent itu oleh Alais. Tidak mengatakan atau menunjukan ekspresi apa pun, Ashley hanya diam. Mengingat betapa sensitifnya wanita itu jika menyangkut Vincent, Alais yakin saat ini Ashley pasti sedang berusaha bersikap netral.
Sementara ini, hanya itu yang informan tersebut ketahui. Karena Far memang sangat waspada terhadap penyebaran informasi, anak itu pun hanya mengetahui beberapa hal saja.
Tidak pernah benar-benar mencari tahu mengenai Far, anak itu kemudian meminta Ashley memberinya waktu seminggu untuk mencari info lebih lanjut. Yang tentu saja langsung disetujui oleh Ashley.
Memperhitungkan resikonya, seminggu sebenarnya adalah waktu yang terlalu singkat. Namun, karena anak itu sendiri yang mengatakannya, ia pasti sudah memiliki cara.
Sebelum berpisah, anak laki-laki tersebut juga memberi sebuah saran kepada Ashley. ia menyarankan untuk berhati-hati terhadap Far, karena pria itu tidak menyukai wanita. Teringat dengan ucapan Eva yang juga pernah mengatakan hal yang sama, Ashley menjadi sedikit bingung. Memangnya kenapa kalau dia lebih suka laki-laki?
Bukan itu, tentu saja. Rasa tidak suka Far terhadap wanita lebih ke arah merendahkan dan diskriminasi.
"Jika ada wanita yang mengusiknya, mereka akan langsung dibunuh. Tidak peduli status apa yang wanita itu miliki."
Terdiam, pikiran Ashley kemudian pergi ke tempat di mana Eva berada. Apakah Eva akan baik-baik saja? Wanita itu bahkan berada di dalam wilayah kekuasaan Far.
__ADS_1
.................. Bersambung .................