
Tidak sempat memperbaiki kesalahannya tepat waktu karena kekacauan lain yang disebabkan oleh Ashelia, total 16 pukulan kini harus diterima Ashley karena kegagalan 3 operasinya.
"Now, masih ada 9 lagi."
Ashley berjalan mendekati ayahnya. Langkahnya terasa berat namun ia berusaha menunjukan jika ia berjalan seperti biasa.
Setelah wanita itu menghentikan langkahnya dan berdiri tegap di depan Anthony, pria itu langsung melayangkan kembali tinjunya.
Tidak ada rasa takut sama sekali yang terlihat dari wajah wanita itu. Ia terlihat begitu siap dan teguh dengan konsekuensi hukuman yang harus ia tanggung. Tidak peduli sesakit apa, atau bagaimanapun kondisinya pada saat itu, Ashley siap menerima konsekuensi atas kesalahan anak buahnya. Meski ia sebenarnya tidak terlibat.
Putrinya sama sekali tidak bergeming meski ia melayangkan pukulannya tanpa ragu. Tanpa diduga, kepalan tangannya tidak jadi menyentuh perut yang sudah berlumur darah tersebut.
Anthony menghentikan pukulannya tepat sebelum mengenai perut Ashley.
Ashley menatap ayahnya karena pria itu tidak jadi memukulnya. Akan tetapi ia juga masih mengantisipasi jika Anthony memukulnya lagi dengan tiba-tiba.
Karena sudah mendapatkan jawaban yang ia inginkan, tidak ada alasan lagi bagi pria itu untuk melanjutkan hal tersebut. Dalam keadaan Ashley saat ini, menerima setengah dari hukuman yang seharusnya, sudah cukup.
"Pas di situ?" Tanyanya sambil melihat darah Ashley yang menempel di tangannya.
"Ya, Pak." Jawab putrinya langsung, mengetahui apa yang ia maksud.
Ya, tentu Anthony sudah tahu sejak awal, mengenai luka di perut Ashley.
Karena itulah, ia terus mengarahkan pukulannya pada luka tersebut, mencoba memberinya rasa sakit berkali-kali lipat untuk melihat sikap yang Ashley ambil dalam keadaan tidak menguntungkan.
"Sakit?" Tanya Anthony dengan tatapan dingin ke arah Ashley.
"Tidak, Pak."
"No. Jawab jujur."
Matanya kini melihat ke bawah, dan berhenti pada bagian perut putrinya. Kemeja hitam yang Ashley kenakan itu, kini terlihat basah karena darah yang keluar dari lukanya.
Wanita itu masih tidak juga menjawab. Ia tidak tahu harus mejawab apa meski Anthony sudah memintanya untuk jujur.
Rasa sakit, adalah hal yang tidak pernah ia akui sejak ia kecil, setelah menetapkan hatinya. Sesakit apa pun, ia akan terus menahannya dan berkata tidak sakit.
Bukan karena tidak ingin membuat orang lain khawatir, ia hanya tidak ingin dikalahkan oleh rasa sakit itu. Harga diri dan arogansinyalah yang mendorongnya untuk menang melawan rasa sakitnya.
"I-it's no big deal, sir." Jawab Ashley saat mata Anthony bertemu dengannya.
__ADS_1
Pria itu tidak memberikan respon tambahan. Ia hanya menatap Ashley sejenak, sebelum melihat ke sisi lain sambil menghisap cerutunya.
Pria itu sengaja mengurangi satu pukulannya bukan karena hubungan darah, namun karena Ashley belum pernah gagal.
Bukan benar-benar tidak pernah gagal, hanya saja, wanita itu selalu mempunyai cara untuk menyelesaikan kembali misinya yang sempat gagal. Karena itu, hukuman yang menunggunya tidak pernah datang karena sudah terselesaikan.
Sifat Ashley yang tidak menyukai kekalahan kadang juga berimbas baik padanya.
Puas setelah ekspektasinya terpenuhi, Anthony pun mengakhiri kunjungannya. Ashley berniat mengantarnya turun namun Anthony menolaknya. Ia berkata ia ingin masuk dan keluar gedung dengan normal sesekali.
Wanita itu pun hanya bisa mengikuti kemauan ayahnya tanpa mengirim orang lain untuk mengantarnya turun. Ia lalu menundukkan kepalanya dan memberi salam, yang kemudian diikuti oleh seluruh anak buahnya.
"Aram." Panggil Anthony sebelum memasuki lift.
Seorang wanita yang terlihat sangat muda itu pun menghentikan langkahnya mengikuti Anthony.
"Siap, Pak." Jawabnya yang mengerti keinginan pria tersebut tanpa harus dikatakan dengan rinci.
Ia membungkukkan badannya hingga pintu lift di depannya tertutup, sebelum akhirnya membalikan badan dan tersenyum ke arah Ashley. Namun senyuman itu hanya dibalas tatapan dingin oleh wanita itu.
...****************...
Ia adalah seorang tenaga medis yang sangat ahli namun memiliki watak yang menyimpang. Ia juga sudah lama mengenal Ashley dan mengetahui jika Ashley sangat tidak menyukainya.
Bukannya Ashley tidak memiliki dokter di dalam anggotanya, namun Aram memang dikenal sebagai dokter muda dengan kemampuan yang sangat unggul. Mungkin bisa dibilang terbaik.
Wanita itu duduk di samping Ashley membelakangi Kenny yang berdiri mengawasinya.
"Lu punya orang yang sa~ngat pemberani."
Ashley haya diam, bahkan tidak melihat ke arah mereka berdua. Dari dulu, ia tidak menyukai setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu.
"Atau mungkin, t*lol." Lanjut Aram sinis sambil melirik ke belekang.
Kenny yang juga menyadari kesalahannya, hanya diam menatap punggung wanita yang menghinanya.
"Gue gatau siapa yang nolong siapa di sini, tapi lu bisa mati kalo bos lu ga turun tangan."
Tanpa perlu dijelaskan, Kenny sudah menyadarinya. Saat di mana Ashley memukulnya, Kenny langsung paham jika tindakan bosnya bertujuan untuk menolongnya dari Anthony.
Aram memang suka memancing amarah seseorang. Namun kedua orang di sana sama sekali tidak merespon ucapannya.
__ADS_1
Ia pun kembali pada tugasnya, menjahit ulang luka Ashley yang menjadi berantakan akibat sentuhan lembut dari ayahnya.
Dengan begitu mahir ia menusukkan jarum jahitnya ke dalam kulit Ashley, sama seperti para ahli pada umumnya. Bedanya, ia tidak pernah menggunakan bius atau pereda rasa sakit lainnya.
Ia sangat menyukai ekspresi pasiennya saat menunjukan rasa sakit. Kadang, ia bahkan memperparah luka pasiennya terlebih dahulu sebelum menyembuhkannya.
Itulah yang membuatnya dimasukan ke dalam daftar hitam kedokteran dan mendekam di penjara.
Ia kemudian bertemu dengan salah satu anak buah Anthony dan diajak masuk ke dalam organisasi mereka.
Sayangnya, Ashley- pasiennya kali ini, tidak pernah menunjukan ekspresi sakit dan ia pun sadar akan hal itu. Karenanya, ia sengaja menarik benangnya dengan kuat, yang kemudian mengagetkan Ashley.
"Oops." Ucapnya sambil tersenyum, terang-terangan menunjukan jika ia sengaja malakukannya.
Ia memang suka bermain-main dengan siapa pun. Meski orang itu adalah orang yang berbahaya sekalipun.
Ditambah, ia juga merasa lebih superior daripada mereka berdua. Menjadi bagian dari kelompok inti yang bekerja langsung di bawah Anthony membuatnya sangat percaya diri. Ia yakin jika tidak ada orang gila yang berani menyentuh anggota inti Anthony.
Berbeda dengan Ashley yang tidak memberi respon apa pun dan langsung kembali memalingkan wajahnya, pistol Kenny menempel pada bagian belakang kepala Aram setelah itu. Hal tersebut membuat wanita itu terdiam sejenak. Bukan terancam, ia hanya tidak habis pikir.
"Keknya lu masi perlu belajar banyak."
"Bukan ngelindungin, lu malah ngebahayain bos lu." Ucap Aram dengan suara rendah.
Ia tidak lagi berbicara dengan nada bermain-main seperti sebelumnya. Kini wanita itu terlihat serius dengan apa yang ia ucakan. Sikap yang ditunjukan Kenny kepadanya memang membuat wanita itu tersinggung.
Mengerti akan maksud dari ucapan Aram, Kenny pun menurunkan pistolnya.
"Poor our little Ash."
Meski sangat ingin menghajar wanita di depannya, laki-laki itu harus menahan diri demi bosnya. Kenny tidak ingin Ashley mendapatkan masalah lebih dari ini. Bahkan bosnya pun hanya diam menerima perlakuan Aram.
Salah.
Mereka berdua salah paham. Tidak mungkin Ashley takut dengan orang lain selain Anthony. Bukannya takut atau menerima, ia hanya menunggu jahitannya selesai.
Dokter gila itu tiba-tiba dibuat terkejut saat sesuatu yang sangat keras menghantam wajahnya.
Kepalan tangan Ashley.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1