Cinderella Gila

Cinderella Gila
Lo lagi ngetes gua?


__ADS_3

Orang yang ada di sebelah.


Kalimat tersebut sudah cukup membuktikan bahwa Ashley mengetahui hal yang seharusnya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.


Memandang gadis di depannya dengan penuh kecirugan, salah satu pegawai Guilherme itu kemudian melangkah mendekati Ashley. Namun tidak sampai dua langkah, kesatria wanita tersebut langsung menghadangnya, tidak membiarkan siapa pun mendekati nona bangsawan di sana.


Berdiri berhadapan dengan tugas dan tujuan masing-masing, kedua pria itu saling melempar tatapan menantang.


Suara tawa pun terdengar di sela-sela ketengangan tersebut. Saat pegawai itu beralih melihat ke arah sumber suara, Alais masih terus menatapnya, tidak membiarkan pergerakan sekecil apa pun dilakukan tanpa sepengetahuannya.


Dilihatnya orang yang baru saja tertawa tersebut oleh si Pegawai, wanita yang kini tersenyum sinis sambil menoleh ke arahnya.


"Sensi banget si."


Berjalan perlahan menuju pintu keluar melewati mereka berdua, Ashley melanjutkan ucapannya.


"Gua udah buat janji sama bos lo."


"Niatnya gua mau mampir ke sini dulu tapi Eva ga ada."


Berhenti tepat di ambang pintu, wanita itu kemudian menoleh ke belakang.


"Bisa tunjukin jalannya? Gua males jelasin ke tiap orang yang gua temuin."


Tidak seperti tadi, ekspresi wanita tersebut telah berubah serius. Dengan pandangan sayu, Ashley secara tidak langsung menunjukan bahwa kejadian ini juga telah ia prediksi. Raut wajah yang juga mampu sedikit meyakinkan pegawai tersebut jika Ashley memang hendak menemui bosnya.


Namun, mengetahui cara kerja dunia yang ia tinggali, pegawai itu tidak bisa langsung mempercayai orang asing begitu saja.


"Siapa nama dan divisi orang yang hendak Anda temui?"

__ADS_1


Jika benar mereka telah membuat janji, seharusnya Ashley mengetahui siapa orang yang hendak ia temui. Akan tetapi kasus wanita itu sedikit berbeda.


Saat ia membuat janji melalui orang lain, ia tidak bisa mengetahui ciri dan identitas orang yang akan ditemuinya. Sejujurnya, Ashley memang sedikit terburu-buru hingga ia tidak mengantisipasi hal seperti ini.


Meskipun begitu, itu bukan masalah.


Orang yang melontarkan pertanyaan tersebut bukanlah orang penting yang akan mempengaruhi kelangsungan operasinya. Yang perlu ia lakukan hanya mengelak dengan sedikit gertakan.


Mengubah sorot matanya menjadi lebih mengintimidasi, Ashley kemudian berucap,


"Lo lagi ngetes gua?"


Hanya dari sorot mata dan penekanan pada nada suaranya saja, wanita itu mampu membuat pegawai tersebut sedikit goyah.


"Lo pikir siapa yang bakal kena sial waktu gua ketemu sama bos lo?"


Masih diam sambil mencoba tidak terpengaruh, pegawai tersebut memaksa Ashley untuk melanjutkan bualannya.


"Atau lo yang asal nuduh klien bos lo dan ngerusak kerja sama gua sama dia?"


Bagian terakhir kalimat tersebut tepat mengenai sasaran.


Merusak bisnis bosnya bukan hanya sebatas membuat orang yang satu tingkat di atasnya menjadi marah. Sama halnya seperti menghancurkan peluang bisnis sebuah perusahaan ternama, resiko yang ia tanggung tidak main-main. Far, sebagai pemimpin tertinggi di sana, adalah momok terbesar yang tidak berani mereka usik sama sekali.


Terlebih lagi, jika Ashley memang seorang penyusup, memasuki kandang musuh seperti itu adalah tindakan yang sangat konyol.


Seperti itulah, permasalahan sepele tersebut teratasi dengan mulus dan tidak memakan waktu lebih dari 2 menit.


Diantarkanlah Ashley dan kedua bawahannya kemudian, menuju bangunan yang terletak di samping rumah bordil Guilherme.

__ADS_1


Tepat sebelum wanita itu melewati lorong menuju pintu depan, meninggalkan tempat kerja Eva, Ashley melihat seorang pria berbadan besar tengah menatapnya dari lantai atas. Pria yang selalu ramah itu kini terlihat dingin. Tidak ada sedikit pun garis senyum di bibirnya.


Mungkin karena Eva, salah satu 'keluarga'nya telah tertangkap.


Memasuki rumah hiburan tempat Ashley akan menemui calon mitranya, mereka di hadang oleh beberapa orang seperti yang wanita itu perkirakan. Saat itulah, kehadiran pegawai Guilherme mempersingkat kejadian tersebut.


Meski telah diterima dan diperlakukan sopan karena menyandang gelar 'tamu bos', Ashley masih bisa merasakan tatapan mengintai dari para pekerja di sana.


Berjalan dan terus berjalan tanpa sempat menikmati pemandangan, sampailah mereka di depan sebuah pintu besar dengan ukiran indah. Tempat pertemuan antara dua orang tersebut akan diadakan.


Sesaat setelah salah seorang penjaga masuk dan memberi tahukan tentang kedatangan Ashley, terdengar suara seorang laki-laki dari dalam. Dari yang terdengar, orang itu seperti telah lama menunggu kehadirannya dan tidak sabar ingin bertemu.


Melirik pegawai Guilherme, Ashley menyeringai. Senyuman itu terlihat sangat kekanakan dan penuh dengan kesan meledek.


Sejujurnya, ia sendiri tidak menyangka akan disambut dengan 'riang'. Alhasil, hal itu cukup untuk menyingkirkan seluruh kecurigaan yang didapatnya dari para bawahan orang tersebut.


Entah apa yang dikatakan oleh si kurir sampai-sampai orang itu sangat ingin menemui Ashley.


Baru berjalan satu langkah melewati pintu, Ashley tiba-tiba berhenti lalu berbalik melihat ke belakang. Bukan ingin melarikan diri, namun karena ia mendengar kedua bawahannya tidak diijinkan masuk.


Pertemuan dua orang?


Bawahan setia biasanya tetap diijinkan hadir jika bukan permintaan bertemu secara empat mata. Akan tetapi, bukankah ini sedikit tidak seimbang?


Melihat ke arah laki-laki yang tengah duduk di kursi besar di tengah ruangan tersebut, Ashley mengerti jika itu memang niatnya sejak awal.


Kurir yang menjadi penyalur mereka berdiri di sisi kanan belakang pria tersebut. Ditemani 5 anak buahnya yang lain, ada total 7 orang menempati ruangan tersebut tidak termasuk Ashley.


Sedari awal, mereka hanya menerima kedatangan 'Ashley.'

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2