
"Kalau begitu coba mainkan satu lagu."
"Aku ingin dengar bagaimana jika ahlinya yang bermain."
Mendengar apa yang diinginkan oleh putri Duke tersebut, pria yang sedari tadi memainkan piano itu pun beranjak dan mempersilahkan Ashley sambil membungkukkan badannya.
Membalas lirikan Kalia, Ashley menampakkan senyumannya. Meski Kalia berani menyela perkataan wanita itu, rasa kesalnya langsung terobati hanya dengan mendengar kata 'ahlinya'.
Kesombongan Ashley memang telah mengubahnya menjadi orang yang kelewat narsis.
Ashelia palsu itu kemudian berdiri dari kursinya dan berkata,
"Lo ga perlu semaksa itu cuma buat dengerin gua maen."
Kalia yang tahu betul jika Ashelia tidak bisa bermain piano, merasa sedikit aneh melihat respon yang diberikan Ashley. Apakah mungkin gadis itu kini bisa memainkannya?
"Apa si yang engga buat temen gua? Langsung aja minta, gua turutin." Jawab Ashley angkuh sambil berjalan menuju panggung kecil yang berada tidak jauh dari sana.
Melihat wanita itu berjalan ke sana tanpa keraguan sedikit pun dan penuh percaya diri, Bellena tersenyum, ikut merasa bangga atas kemampuan Ashley. Ia yakin nonanya kali ini pasti akan membuat Kalia sangat terkejut, karena ia bukanlah Ashelia, melainkan sang Dewi dengan segala kemahirannya.
Duduklah wanita itu di sana. Semua mata para pengunjung hingga pekerja kafe tertuju hanya kepadanya, sedangkan pandangan gadis itu terfokus pada deretan tuts yang ada di hadapannya.
Perlahan ia mengangkat kedua tangannya, merenggangkan jemari lentiknya agar jatuh di posisi yang tepat. Ashley sengaja memberi jeda untuk meningkatkan rasa tidak sabar para penontonnya, sebelum akhirnya ia mulai menekan tuts berwana hitam putih tersebut.
Dengan lihai wanita itu memainkan jari-jarinya, sambil sedikit menahan rasa sakit di lengannya setiap kali ia menekan tuts tesebut.
Lalu, sama seperti yang Bellena pikirkan, suara yang terdengar dari piano itu sangat mengagetkan seluruh orang yang ada di sana. Tidak terkecuali orang yang berpikiran demikian, Bellena.
Dengan wajah penuh percaya diri Ashley masih terus memainkan piano itu, tidak menghiraukan orang-orang yang mulai tertawa. Begitu pula Kalia, yang tertawa sinis sambil mengerutkan dahinya. Hampir saja ia percaya jika Ashelia bisa bermain piano.
Ya, Ashley memang hanya asal menekan.
__ADS_1
Suara yang tercipta dari permainannya sangat berantakan dan tidak harmonis. Orang-orang pun mulai meledek wanita itu namun tetap ia abaikan. Tanpa peduli pendapat mereka Ashley terus melanjutkan melodi rusak tersebut.
Mereka yang awalnya menertawakan Ashley pun lama-kelamaan mulai diam.
Bukan karena permainan wanita itu membaik, namun karena mereka sudah mulai terganggu.
Wajah orang-orang di sana pun mulai berubah dari wajah menghina menjadi raut wajah kesal. Pekerja kafe yang khawatir akan terkena imbasnya jika para pelanggan mereka pergi pun mulai gelisah. Mereka yang hanya rakyat biasa tidak berani melawan bangsawan, takut jika hidupnya akan dipersulit kelak.
Tidak tahan lagi terus mendengar alunan musik yang merusak gendang telinga tersebut, Kalia pun berteriak.
"Hentikan! Kau mau merusak telingaku!?"
Ashley seketika berhenti dan menatap Kalia dengan senyuman kecil. Ia memang hanya merespon jika itu Kalia yang mengatakannya.
"Kau bilang kau ahli, tapi permainanmu sangat berisik, mengganggu, dan tidak jelas." Lanjut Kalia sinis.
Setelah itu, dengan memasang wajah polosnya, Ashley bertanya,
"Pfft."
Kalia melirik ke sisi kanannya saat mendengar seseorang tengah menahan tawa mereka. Meski tidak lagi mengeluarkan suara, wajah mereka terlihat seperti tengah menertawakannya. Begitu pula orang-orang di meja lainnya. Jika bukan karena kakak ke-2 Kalia, mereka pasti sudah menertawakan gadis itu secara terang-terangan.
Niatnya yang ingin mempermalukan Ashley justru anehnya berbalik kepadanya.
"Yah, mau gimana lagi kalo ga suka?" Ucap Ashley sambil berdiri kemudian berjalan kembali ke meja Kalia.
Ditatapnya wajah gadis yang terlihat sangat kesal karena ledekannya barusan.
"Jangan tersinggung. Gua cuma pengen temenan."
Mendengar perkataan Ashley, entah mengapa Kalia justru terlihat semakin marah. Sambil menatap Ashley dengan penuh kebencian, Kalia menjawab,
__ADS_1
"Lucu sekali mendengarnya keluar darimu."
Merasa tidak ingin terus berada di sana lagi dan melihat orang yang membuatnya sangat kesal, gadis itu pun melangkahkan kakinya pergi. Ditabraknya dengan kuat pundak kiri Ashley saat Kalia berjalan melewatinya.
Tidak ingin menunda waktu lagi, Ashley pun menahan lengan Kalia tepat setelah gadis itu menabraknya. Ia sudah terlebih dahulu melihat ke arah Kalia saat gadis yang ia tahan tersebut menoleh kebelakang. Dengan wajah serius ia menatap gadis yang menatapnya balik dengan penuh amarah itu.
"Gua serius. Gua ga pengen, punya masalah apa-apa sama lo." Ucap Ashley yang sebenarnya hampir berkata 'urusan', dan langsung menggantinya dengan kata 'bersalah'.
Mendengar perkataan Ashley yang diucapkan dengan begitu serius, membuat Bellena merasa asing. Hal yang ia lihat saat ini, sangat berbeda dengan sifat yang biasa nonanya tunjukan. Kini ia pun paham dengan apa yang sedang direncanakan Ashley. Ia juga baru paham betapa tersudutnya wanita itu, hingga tidak menggunakan trik lain dan langsung berterus terang.
Akan tetapi, respon yang diberikan Kalia tidak sesuai dengan apa yang Ashley harapkan. Gadis itu justru memberi pertanyaan lain di benak Ashley yang tidak akan bisa ia jawab karena tidak tertulis di buku Ashelia.
Ditepisnya tangan wanita itu sebelum menjawab perkataan Ashley dengan wajah yang tidak kalah seriusnya.
"Kau pikir kau bisa berkata seenaknya dan berbuat seenaknya?"
"Kau pikir dengan berubah bertindak gila, semuanya akan kembali?"
Kalia kemudian menarik baju Ashley sambil mendekatkam wajahnya. Dengan mata yang mulai memerah karena menahan air mata, gadis itu mentap Ashley dan mengancamnya.
"Sengsaralah Ashelia. Sengsaralah atau aku tidak akan memaafkanmu."
Dalam diam Ashley setuju dengan ucapan Kalia. Namun bukan itu permasalahannya sekarang. Ada sesuatu yang sangat mengganjal dari perkataan dan sorot mata Kalia. Sesuatu yang terasa seperti rasa kecewa yang teramat dalam.
Gadis itu kemudian melepaskan genggamannya dari baju Ashley dan langsung pergi meninggalkannya. Orang-orang yang mengamati mereka sedari tadi pun mulai berbisik. Akan tetapi, tidak ada yang dapat menjawab rasa penasaran mereka mengenai hubungan Ashley dan Kalia yang kini tidak lagi terlihat seperti perundungan itu.
Ashley berdiri diam di antara belasan pasang mata yang mencuri pandang karena masih penasaran dengannya. Diliriknya pelayan pribadinya itu, meminta penjelasan mengenai apa yang terjadi antara kedua gadis tersebut.
Hal yang membuat Kalia begitu membenci Ashelia hingga terus menerus merundungnya. Hal yang sebenarnya akan diceritakan oleh Bellena jika ia mengetahui rencana Ashley sejak awal adalah untuk 'berteman' dengan Kalia.
Hal yang akan menjadi penghambat dari operasi 'berteman' Ashley.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^