
Bersama Daryl, Ashley pergi menuju ruangan yang telah disewa oleh pria itu.
Setiap langkah Ashley penuh dengan kewaspadaan. Ia membuka lebar-lebar indera pendengarannya. Mendengarkan segala macam suara, mencari informasi yang berkaitan dengan rencana laki-laki di sampingnya.
Matanya mengarah ke depan, namun secara diam-diam ia memperhatikan setiap orang yang hendak ia lewati.
Ashley mulai meningkatkan kewaspadaannya terhadap Daryl sejak Ashley meminta syarat tanpa saksi mata, dan Daryl langsung menyanggupinya tanpa pikir panjang. Akan jauh lebih baik bagi si 'penyerang' jika tidak ada saksi mata di sekitarnya.
Ashley memintanya untuk keuntungannya sendiri, namun hal itu juga berlaku bagi laki-laki yang ia curigai itu.
Bukan hanya itu, Daryl juga jelas-jelas mengerti ucapan Ashley menggunakan bahasa asing. Berbeda dengan wanita anggota geng yang ia temui kemarin, Daryl bahkan tidak berusaha menyembunyikannya dan justru menggunakan bahasa yang sama.
Tangan Ashley menggenggam erat pegangan tongkatnya, siap menangkis sewaktu-waktu.
Tidak selang beberapa lama, mereka berdua memasuki sebuah ruangan dengan dua orang pegawai kasino yang sudah berada di dalam sana. Salah satu dari mereka bertugas mengawasi, sedangkan satunya lagi bertugas menyampaikan informasi jika ingin memperpanjang waktu atau menyiapkan hal-hal yang diperlukan dalam permainan mereka.
Karena Daryl berniat hanya memainkan satu permainan, yaitu permainan yang sama dengan yang dimainkan Ashley sebelumnya, petugas kasino itu hanya membawa satu set kartu yang kemudian ia letakan di atas meja.
Ashley masuk ke ruangan itu setelah Daryl. Kemudian ditutupnya pintu yang ada di belakang punggungnya. Bukan sesuatu yang aneh memang, karena ruangan itu bisa dibuat terbuka untuk umum atau tertutup.
Daryl tidak menoleh setelah mendengar pintunya tertutup, namun ia menghentikan langkahnya saat tiba-tiba sebuah pedang dengan panjang lebih dari 50 senti menyentuh kulit lehernya.
"Jangan ada yang gerak atau leher dia putus."
"Tunggu-, tunggu, mereka orang asing. Mereka tidak akan peduli denganku!" Protes Daryl tanpa bergerak sedikit pun.
"Then, convince them."
Salah satu dari kedua petugas itu terlihat sangat gugup, ia terlihat sedang mencari celah untuk melarikan diri. Satu-satunya orang yang Daryl khawatirkan, karena jelas akan bergerak meski nyawa laki-laki itu berada di tangan Ashley.
"Hey, kau. Tetaplah di sana, yang terancam itu nyawaku bukan nyawamu. Aku tidak ingin mati karenamu."
__ADS_1
Wanita itu terlihat lebih tenang namun masih tetap mengkhawatirkan. Seperti seseorang yang memaksakan diri untuk tenang namun bisa kalap kapan saja jika ada sesuatu yang mengejutkannya.
Saat wanita itu telah berhenti bergerak, justru pegawai kasino yang bertugas sebagai pengawaslah yang melangkahkan kakinya maju. Ia memang dibekali dengan kemampuan bertarung, membuatnya berpikir mampu melumpuhkan wanita kurus di belakang Daryl dengan mudah.
Ashley mengintip dari balik punggung Daryl dan berkata,
"Gua ga masalah ngurus satu dua orang."
Tugas laki-laki itu sebagai pengawas memang bertujuan untuk menangkap orang-orang berbahaya atau yang melanggar aturan. Ia tidak terlalu peduli dengan adanya korban, karena pemilik kasinolah yang akan mengurusnya. Mereka hanya diminta untuk fokus kepada pelanggar aturan.
"Dia bilang diam ditempat, s*alan!" Bentak Daryl.
"Kau pikir Bertus akan melepaskanmu jika sesuatu terjadi padaku?" Lanjutnya membuat laki-laki itu tiba-tiba berhenti berjalan mendekati mereka.
Ashley tidak mengetahui nama yang baru saja Daryl bawa. Meski sudah jelas Ashley tidak akan tahu, namun nama Bertus juga tidak banyak dikenal orang-orang di sana. Itu adalah nama panggilan pemilik kasino yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu, termasuk para anak buahnya.
Ashley pun semakin berpikir jika mereka memang memiliki koneksi satu sama lain. Namun ia membiarkannya karena Daryl berhasil menghentikan orang itu.
Tidak akan mudah keluar dari tempat itu diam-diam tanpa membunuh mereka bertiga. Di sisi lain, untuk membunuh mereka bertiga tanpa di ketahui orang lain juga akan sulit. Karena itu, Ashley hanya akan memutuskan tindakannya setelah melihat situasi.
Ashley menyeringai mendengar kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki di depannya. Ancaman yang akan di lontarkan para pejabat saat nyawa mereka terancam.
"Jadi lo orang penting?" Tanyanya meledek.
"Bukan bermaksud sombong, tapi benar. Sebaiknya Anda juga menurunkan pedang Anda jika tidak ingin mendapat masalah, Nona."
"Y'know that 'no witness' ain't for nothin', right?" Jelas wanita itu, membuat Daryl tersadar.
Daryl tidak menjawabnya. Sejujurnya, ia hanya berpikir bahwa Ashley meminta hal itu hanya karena tidak ingin ada orang lain yang mengetahui namanya.
Ia tahu Ashley adalah orang yang berbahaya, namun ia tidak bisa menepis kesalahan yang terus ia perbuat karena melupakan sifat Ashley dan hanya fokus mengejar rasa penasarannya.
__ADS_1
Daryl bukanlah orang yang ceroboh. Namun orang yang biasanya berhati-hati seperti dirinya juga bisa dibutakan oleh emosinya. Menyadari hal itu, ia pun merasa seperti orang bodoh.
"Lo siapa, dan siapa yang nyuruh lo?" Tanya Ashley menekan mata pedangnya ke leher Daryl.
Spontan, Daryl menjauhkan lehernya sedikit, meski pedang Ashley tetap berhasil mengiris kulit lehernya.
"Daryl. Aku datang atas kemauanku sendiri."
"Aku tidak tahu apa yang kau khawatirkan, tapi aku tidak datang dengan maksud buruk."
Ashley masih tidak bergeming. Ia tidak bisa mempercayai ucapan seseorang begitu saja. Terlebih lagi, orang yang baru ia temui.
"Bisa tolong jauhkan sedikit?" Ucap Daryl merasakan perih di kulit lehernya.
Ia hendak mendorong pedang Ashley sedikit menjauh dengan menggunakan tangannya, namun hal itu justru membuat Ashley menekan pedangnya lebih dalam. Daryl langsung mengangkat tangannya, mengisyaratkan ia tidak akan melawan atau berusaha melakukan apapun.
Karena berada pada jalur darah, Ashley sedikit menahan diri agar tidak berakhir membunuhnya sebelum mendapat jawaban yang ia inginkan.
"Kenapa lo ngawasin gua dari awal gua main?"
Ashley mengetahui Daryl bukan mengamati permainan mereka namun tengah mengumpulkan informasi tentang dirinya melalui pengamatannya secara langsung. Wanita itu juga sudah berencana untuk menginterogasinya sejak awal ia menerima tawaran Daryl.
Namun laki-laki itu bahkan tidak mengetahui jika Ashley baru saja mulai bermain saat ia tiba di sana. Terlebih lagi, bagaimana Ashley menyadari bahwa Daryl sedang memperhatikannya dan bukan permainannya? Padahal wanita itu juga masih harus fokus bermain.
Ashley bahkan berada dalam posisi dimana ia akan menjadi salah satu pusat perhatian. Bagaimana ia membedakan semua mata itu?
Dalam keadaan berbahaya seperti itu pun, bukannya merasa semakin terancam, Daryl justru semakin kagum.
Wanita itu bahkan tidak takut saat mengetahui Daryl bukanlah 'orang biasa'.
Setelah sekian lama, akhirnya Daryl bisa merasakan sensasi yang sudah tidak pernah ia rasakan lagi. Rasa tertarik berlebih yang membuatnya merasa hidup.
__ADS_1
"Jawab. Atau gua buat lo ga bisa ngomong." Ancam Ashley setelah menunggu beberapa detik dan Daryl tidak juga memberinya jawaban.
^^^Bersambung...^^^