Cinderella Gila

Cinderella Gila
Terutama lo


__ADS_3

Sebuah kereta kuda dengan lambang keluarga Midgraff melaju melewati pusat kota Vinnas menuju ke arah barat. Diiringi seorang kesatria yang menunggangi kuda cokelat di sebelah kiri, kehadirannya cukup menyita perhatian.


Ashley sengaja membiarkan tirai jendelanya terbuka kali ini. Ia ingin melihat keadaan kota yang sebenarnya masih tidak ada perubahan tersebut.


Sambil meluruskan kedua kakinya pada bangku yang ada di depannya, Ashley menikmati 7 sate seharga 2 koin emas miliknya.


Awalnya anak itu menolak pembayaran tersebut, berkata Ashley telah memberinya banyak tempo hari. Namun wanita itu memaksa, karena merasa anak itu memang pantas mendapatkannya. Ia berkata bahwa tergantung dari situasinya, hal sepele bisa bernilai besar.


Dengan keluarnya sifat bijak Ashley, ketiga orang di sana pun dibuat tidak bisa berkata-kata. Ia juga menjelaskan bahwa orang yang berhasil adalah orang yang bisa membaca situasi, tahu apa yang harus dilakukan, dan berani melakukannya.


Karena sejatinya, 'berhasil' berarti 'membuahkan hasil', terlepas dari terpenuhinya atau tidak harapan mereka.


Ashley sebenarnya bukanlah seorang perfeksionis yang menuntut sebuah 'keberhasilan' mutlak, namun konsekuensi atas kegagalan di setiap hal yang dilakukannya sangatlah besar, membuat wanita itu mau tidak mau harus berhasil memenuhi ekspektasi.


Melihat sisi lain Ashley, kedua bawahannya memberikan tatapan yang berbeda dari biasanya. Sebuah tatapan yang sedikit memiliki arti. Hal yang membuat mereka merasa bahwa pikiran dan alasan tindakan Ashley mungkin jauh lebih dalam dari apa yang bisa mereka mengerti.


Seperti sekarang.


Memang kedua bawahannya tidak berpikiran bahwa Ashley akan benar-benar berbagi makanan tersebut dengan mereka. Namun mereka tidak mengerti kenapa wanita itu tetap ingin pergi ke sana bahkan setelah menghabiskan semua satenya?


Lagipula, kenapa harus ke bagian barat kota hanya untuk makan sate yang sudah dibeli?


Setelah melihat bangunan yang pernah ia lihat sebelumnya, Ashley menyuruh kusir kereta kudanya untuk berhenti secara mendadak. Terkejut karena perintah tanpa aba-aba dari nonanya, ditariklah kuat tali kekang yang ada di kedua tangannya dengan tiba-tiba, menyalurkan rasa terkejut yang sama kepada kedua kuda di depannya.


Terguncanglah kereta kuda tersebut, yang kemudian membuat wajah si kusir dan petugas pembuka pintu menjadi pucat. Dibukalah pintu kereta itu setelahnya oleh Ashley, mendahului bawahannya. Melihat wajah wanita itu yang biasa saja, membuat kusir dan partner kerjanya bernapas lega.


Meski guncangan tersebut memang salah Ashley, namun siapa yang tahu apa yang akan dilakukan nona pemarah itu. Mengikutinya dari belakang, Bellena pun keluar dengan wajah yang masih terlihat kaget.


Saat kusir kereta kuda Ashley berniat menepi, kesatria pengawal wanita itu pun turun dan menyerahkan kudanya kepada si pembuka pintu.

__ADS_1


Masuklah mereka bertiga ke sebuah gang yang sebenarnya masih cukup besar dilalui dua kereta kuda. Gang di mana Ashley mengawali pelariannya bersama Kalia minggu lalu.


Berbeda dengan saat itu, masih terlihat adanya orang yang berlalu lalang di sana. Siapa sangka tempat itu akan menjadi sarang preman saat malam hari?


Membingungkan awalnya, melihat Kalia yang hanya datang ke Vinnas untuk bersantai atau mencari hiburan, justru melintang jauh ke sisi barat kota. Namun setelah mendengar lokasi yang diberikan informan tersebut, Ashley pun paham.


Karena ia mengacaukan pertemuan Kalia dengan tunangannya di restoran, Kalia datang untuk menemui Joseph.


Terus menelusuri tempat itu, Ashley mencari apakan ada sebuah penginapan besar di sana. Penginapan yang cukup besar untuk menampung ego dan harga diri Joseph sebagai seorang pangeran.


Setelah berjalan cukup jauh, mereka tidak menemukan penginapan lain selain yang mereka temukan di awal tadi. Penginapan yang cukup kecil dan tersembunyi dengan lingkungan rawan kejahatan.


Ashley tertawa sinis. Membayangkan alasan mengapa pangeran ketujuh dari sebuah kerajaan kaya raya harus menetap di tempat seperti itu.


Kembalilah mereka, berjalan menuju lokasi penginapan tersebut sekali lagi.


Kedua bawahan Ashley yang tidak mengerti dengan alasan dan tujuan nonanya berjalan kaki mengelilingi wilayah itu, hanya bisa mengikuti ke mana wanita tersebut pergi.


Melihat gadis malang di sebelahnya sangat kesulitan melawan rasa lelah, pengawal baru Ashley pun angkat bicara.


"Kaki anda baru saja pulih, Nona. Tidakkah sebaiknya Anda istirahat sebentar?"


Ashley pun berhenti dan menoleh ke belakang. Didapatinya Bellena yang terengah karena perjalanan jauh tanpa henti tersebut. Hal yang kemudian membuat Ashley paham jika kesatria itu berkata demikian untuk menolong Bellena.


Menunjukan kebaikan, hah?


Terkesan menutupi namun sebenarnya sengaja ditunjukan, adalah yang biasa Ashley lakukan. Apakah pria itu sedang melakukan hal yang sama?


Merespon hal itu, Ashley pun memberikan sikap yang sebaliknya. Dengan sedikit mengangkat dagunya, wanita itu menatap ke bawah dengan sorot mata yang begitu dingin.

__ADS_1


"Ga kuat? Balik aja. Gua juga ga terlalu butuh lo hari ini."


Pria itu pun sedikit mengerutkan dahinya, melihat nona yang harus ia jaga menunjukan sikap yang sangat tidak terpuji. Namun tidak seperti dugaannya, Bellena memiliki keteguhan yang kuat.


Selama ini melayani seorang Dewi Kehancuran yang dingin, kejam, culas, dan suka melakukan hal gila telah membuatnya menjadi pribadi yang kuat. Jika ia tidak ingin mati, dihukum, atau mendapatkan hal sial lainnya, ia harus bertahan.


"Tidak Nona, saya baik-baik saja." Ucap Bellena yang kembali menegapkan badannya.


"Saya merasa saya melewatkan terlalu banyak hal saat sedang tidak bersama Anda."


Tentu saja bukan karena memang ingin mendampingi wanita itu. Bellena hanya khawatir jika suatu saat ia akan disalahkan tanpa tahu apa-apa. Setidaknya dengan mengikuti nonanya, ia tahu apa yang akan ia hadapi.


Melihat Bellena tidak memihak pada pria itu membuat senyuman tersungging di salah satu sudut bibir Ashley. Masih dengan wajah sinisnya, wanita itu pun memberi peringatan kepada pelayannya jika ini mungkin tidak akan berakhir menyenangkan.


Sambil menelan ludahnya, Bellena mempertimbangkan kembali keputusannya. Selama ini, ia belum pernah melihat adegan berdarah yang dilakukan oleh Ashley secara langsung. Ia tidak yakin ia mampu mengatasi hal tersebut.


Meskipun begitu, ia harus.


Siap tidak siap, cepat atau lambat, ia pasti akan menjumpainya. Dengan membulatkan tekad, Bellena pun memutuskan untuk tetap mengikuti ke mana pun Ashley pergi.


Mendekatlah wanita menakutkan itu satu langkah ke depan. Setelah itu, diletakkannya tangan kiri Ashley di pundak pelayan pribadinya tersebut. Dengan nada bicara yang terasa sangat mengintimidasi, Ashley berkata,


"Kalo gitu jangan ngehambat gua."


Kepala Ashley kemudian menoleh ke samping, melihat pengawal barunya dengan tatapan mata yang jauh lebih menekan.


"Terutama lo."


Ashley memiliki urusan yang harus ia selesaikan dengan orang-orang yang sedang mencari dirinya. Bukan untuk sekedar bermain-main, wanita itu memang memiliki alasan dan tujuannya sendiri. Ditambah lagi, lawannya bukanlah orang tanpa identitas dan tanpa teman atau sanak saudara.

__ADS_1


Ia tidak ingin mendapat masalah hanya karena ulah pengawal barunya.


.................. Bersambung .................


__ADS_2