Cinderella Gila

Cinderella Gila
The point


__ADS_3

Berniat menakut-nakuti Ashley agar dapat menyelamatkan diri dari maut, Joseph berkata jika tindakan Ashley dapat mengakibatkan terjadinya perang antara dua kerajaan. Namun bukannya takut, wanita itu justru yang menunjukan senyuman yang membuat orang lain takut.


Dengan suara lihir yang hanya cukup didengar oleh Joseph dan kesatria wanita di sampingnya saja, Ashley membalas,


"Like he'd care 'bout you."


Merinding. Tiba-tiba Joseph merasakan hawa dingin yang menjalar naik di sekujur tubuhnya. Suara hinaan seorang laki-laki yang sangat sering ia dengar pun kembali menggema dalam pikirannya. Sorot mata dingin sekaligus meremehkan yang ia lihat di mata wanita itu, sangat identik dengan milik seseorang yang sangat ia benci. Orang yang tidak ia sukai karena begitu menakutkan baginya.


"Too bad. No one wants you around."


"Not even your dad." Ucap Ashley melanjutkan, yang langsung tepat mengenai sasaran dan melubangi hati seorang anak.


Xavier, pria jenius dengan kepribadian yang tidak berbeda jauh dengan Ashley adalah ayah kandung Joseph.


Sama halnya dengan putranya, salah satu teman Klaus si tokoh utama novel itu juga sangat membenci Joseph. Di mata Xavier, Joseph terlihat layaknya hama, anak tidak berguna yang tidak pernah ia akui statusnya. Meski hubungannya dengan keenam anaknya yang lain juga tidak normal, namun jelas sekali bahwa Joseph adalah satu-satunya yang tidak pernah ia akui sebagai keturunannya.


Setelah dinobatkan menjadi raja atas aksi gilanya menyingkirkan raja sebelumnya, Xavier langsung mengusir pangeran ketujuh keluar dari istananya. Hal yang kemudian membuat Joseph akhirnya menetap di kerajaan Durman untuk beberapa saat dan tinggal di penginapan tua karena tidak memiliki uang.


Dengan menyembunyikan identitasnya dan hanya menunjukannya di beberapa kesempatan, Joseph tengah mencoba peruntungan di kota Vinnas. Ia ingin mengejutkan Xavier dengan pencapaiannya kelak, yaitu dengan mencari koneksi di dunia gelap. Ayahnya bukanlah orang yang akan terpukau oleh hal-hal umum.


Terlepas dari semua itu, fakta bahwa Joseph diusir dan dibenci oleh Xavier seharusnya tidak diketahui siapa pun kecuali orang istana. Bukan hanya bingung bagaimana Ashley bisa mengetahui hal itu, namun Joseph juga dibuat bingung dengan bagaimana cara meloloskan diri sekarang.


Digunakanlah cara negosiasi yang sering ia lakukan saat dihadapkan dengan keadaan genting. Dengan menggunakan hal yang akhir-akhir ini ia tekuni, tentu saja.


"I-i know something that might be useful."


Sebuah informasi yang tidak banyak diketahui dan berhubungan erat dengan target bicaranya.

__ADS_1


"It's related to Lord Midgraff." Bisik Joseph yang kemudian berhasil mendapatkan perhatian Ashley.


Dimintalah ia untuk bangkit oleh wanita itu kemudian. Sambil sedikit mengangkat pedangnya dan membuat Joseph kembali terdongak, Ashley meminta sebuah pembicaraan empat mata dengannya di tempat lain. Tempat yang setidaknya cukup aman dari telinga orang ketiga.


Melihat hal tersebut, tentu saja kesatria Joseph menentangnya. Ia sama sekali tidak bisa mempercayai seseorang yang menyembunyikan sebuah pedang di dalam tongkatnya.


Namun Ashley tidak meminta ijin darinya. Dengan ekspresi wajah yang menunjukan dengan jelas sifatnya yang berdarah dingin, Ashley berkata ia bisa saja mengakhiri hidup Joseph saat itu juga. Tergantung dari apa yang laki-laki itu katakan, mungkin saja ia masih memiliki kesempatan.


Mungkin. Ashley sendiri tidak pernah menjamin Joseph akan kembali hidup-hidup meski telah memberi informasi yang memuaskan.


Setelah memasuki gang kecil lain yang tidak jauh dari sana dan memastikan tempat itu aman, disampaikanlah informasi dengan bayaran nyawa tersebut. Masih terus menempelkan mata pedangnya di leher Joseph, Ashley mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut pria di hadapannya.


"Have you heard the name Far?"


"Faraway?" Jawab wanita itu spontan setelah mendengar nama yang cukup aneh baginya.


Dijelaskanlah kepada Ashley mengenai siapa pemilik nama tersebut. Jika di depan publik Vincent adalah penguasa yang sah di wilayah Lozan, maka Far adalah penguasa dunia gelap di wilayah tersebut.


Joseph hendak mengatakan jika Far sebenarnya terkesan lebih seperti penguasa yang sesungguhnya ketimbang Vincent, namun setelah mempertimbangkannya, ia tidak jadi mengucapkan hal itu. Katakan yang penting-penting saja. Joseph merasa Ashley akan langsung menggorok lehernya jika ia berani meremehkan 'ayah' wanita itu.


"Many don't know his name. But for those who do, they know best of how dangerous he can be."


Tidak tertarik sama sekali mendengar perkenalan dramatis yang Joseph berikan, Ashley kembali menekan pedangnya, memberi ancaman yang cukup jelas untuk dimengerti.


"The point." Ucap wanita itu singkat sambil mendekati wajah Joseph.


Paham akan hal yang diinginkan Ashley, pria itu langsung loncat pada inti pembicaraannya. Ia mengatakan jika Far kemungkinan sedang merencanakan sesuatu yang juga berkaitan dengan keluarga Midgraff. Entah apa itu, namun ia yakin bahwa setidaknya kepala keluarga Midgraff akan ikut merasakan dampaknya.

__ADS_1


Sebagai bukti atas teorinya, ia kemudian menyebutkan jika hal itu merujuk pada seorang kesatria.


Seseorang yang Joseph kenal berkata bahwa orang itu mengetahui seorang pria yang dulunya adalah pembunuh bayaran. Lalu sekarang, mantan pembunuh bayaran itu sedang bekerja di bawah orang bernama Far tersebut.


"And he looks like the one who's always seen with Lady Marion."


Ashley hanya menatapnya diam. Wanita itu tidak bisa mempercayai sebuah informasi yang tidak jelas asal usulnya begitu saja. Terutama hal yang tidak datang dari narasumber itu sendiri.


Akan tetapi, karena hal ini menyangkut Marion, maka informasi tersebut layak untuk diselidiki lebih lanjut. Mungkin saja Far yang Joseph maksud memanglah orang yang mengutus Marion masuk ke dalam keluarga Ashelia.


Bukan berniat menyelamatkan keluarga, namun siapa pun yang membuat nyawa Ashelia terancam, adalah target Ashley yang sebenarnya.


Mendapatkan sebuah informasi yang cukup memuaskan, Ashley pun kembali melihat ke arah orang yang memberinya informasi tersebut.


Pria itu sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Ashley memiliki orang yang lebih terpercaya jika menyangkut tentang informasi. Dari awal Ashley juga masih berpikiran untuk membunuh Joseph.


Melihat wanita itu menatapnya tanpa mengatakan sepatah kata pun, membuat Joseph semakin gugup. Jika ini adalah situasi normal, mungkin ia akan merasa gugup karena kecantikan Ashelia. Namun secantik apa pun wanita itu, jika tabiatnya seperti Ashley, tentu hanya akan membuat orang yang ditatapnya merasa terancam.


Wanita tersebut kemudian menekan bilah pedang itu sekali lagi membuat Joseph berpikir jika negosiasi yang ia lakukan telah gagal. Namun Ashley kemudian berhenti dan menampakkan sebuah senyuman puas.


"Well done." Ucapnya sambil menjauhkan pedangnya dari leher Joseph.


Sebuah bunga seolah tiba-tiba mekar di dalam hati Ashley. Akhirnya, ia kembali mendapatkan sebuah petunjuk. Hal yang membuatnya selangkah maju mendekati pintu kepulangannya ke dunia asal wanita tersebut.


Tidak pernah terbayangkan baginya, jika masa depan yang telah menantinya ternyata begitu menyakitkan.


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2