Cinderella Gila

Cinderella Gila
Saya lebih baik mati daripada harus melawan Anda


__ADS_3

Berniat mengakhiri hidupnya dengan menggunakan pisau yang sama yang ia gunakan untuk mebunuh bosnya, si Kurir menunggu Ashley keluar dari ruangan.


Mengetahui rencana tersebut, Ashley tidak terlalu peduli. Ia tidak menghalangi ataupun melarang pria itu. Ia kemudian pergi meninggalkan si Kurir, tanpa berterimakasih atas semua usaha dan kebohongan yang pria tersebut lakukan untuk membantunya hingga akhir.


Namun sebelum membuka satu-satunya pintu di sana, Ashley berhenti.


"Gua bakal ngerusak organisasi lo. Dan kalo Far emang orang yang gua cari,"


"Kepalanya jadi target gua."


Tertawa lembut pria itu, setelah mendengar deklarasi perang yang umumnya terdengar mustahil, namun entah mengapa kini terasa sangat memungkinkan. Lalu, saat si Kurir membuka mulutnya hendak menanggapi ucapan Ashley, wanita itu menyela.


"The winner is the one who survives."


"If you wanna be part of the winners, that's it."


Tanpa menoleh, Ashley kemudian membuka pintu di depannya dan melangkah pergi.


Pria yang ia beri pesan, hanya diam memikirkan ucapan yang baru saja didengarnya. Kalimat itu terdengar dingin dan tak berperasaan. Namun pada saat-saat tertentu, kalimat seperti itulah yang akan lebih 'didengar'.


Di luar ruangan, Ashley disuguhkan oleh 2 jenazah yang tergeletak di depan pintu. Tak jauh dari sana, 2 tubuh tak bernyawa lainnya juga menghiasi lantai.


Tidak jauh berbeda dengan keadaan di dalam, bagian luar juga sudah dibuat berantakan oleh Alais dan para penjaga. Furnitur dan hiasan yang ada di sekitaran sana, telah tersebar ke mana-mana. Pecahan kaca dan cat merah alami yang berasal dari dalam tubuh manusia, juga menghiasi lorong itu dan membuatnya jauh dari kata indah.


Mendengar suara pintu terbuka, Alais yang tengah sibuk menghalau seseorang pun langsung memalingkan wajahnya melihat ke arah sumber suara. Wajah terkejutnya seketika berubah lega saat ia mendapati seorang wanita berambut pirang berdiri di sana.


Namun ekspresi leganya kembali menegang saat Ashley tiba-tiba berlari ke arahnya dengan pedang terbuka, siap menyerang siapa saja.


Seseorang yang hendak menyerang Alais diam-diam, setelah bertatapan mata dengan Ashley, langsung mempercepat langkahnya. Jaraknya yang lebih dekat dengan kesatria tersebut membuatnya tidak ingin mundur dan melewatkan kesempatan itu.


Alais yang menyadari nonanya berlari karena melihat musuh, kemudian menoleh ke samping dan mendapati seorang laki-laki tengah mencoba menusuk tubuhnya dengan pedang.

__ADS_1


Hampir saja terlambat, Ashley memukul pedang tersebut ke samping dengan tongkatnya lalu menusukkan pedangnya ke perut orang itu hingga tertembus.


Sengaja berdiam diri, Alais sangat yakin nonanya pasti bisa sampai tepat waktu. Jika ia mencoba melakukan sesuatu, mungkin itu justru akan menghalangi Ashley untuk bertindak bebas.


"Jangan meleng." Ucap Ashley sambil menarik kembali pedangnya.


Memanfaatkan lawannya yang lengah karena temannya hampir berhasi, Alais kemudian menarik lengan orang itu ke samping dengan tangan kiri. Saat tangan kanannya masih beradu kekuatan pedang dengan musuhnya, kakinya menyepak pergelangan kaki orang tersebut. Berhasil menjatuhkan musuhnya ke lantai, pedang Alais pun menyusul dan menancap dalam pada dada korbannya.


"Anda keluar terlalu cepat, saya kira Anda tertangkap." Jawab pria itu yang hanya direspon dengan senyuman meledek oleh nonanya.


Tersenyum lembut sambil menutup mata, Alais kemudian menundukkan badannya.


"Saya pantas dihukum karena meragukan Anda."


Ditepuknya punggung pria itu kemudian, sebagai isyarat menyuruhnya kembali menegapkan badan. Ashley tidak keberatan dengan kata 'meragukan' yang bawahannya ucapkan. Melihat Alais yang tetap diam saat pria itu juga memiliki reflek yang bagus, membuat Ashley sadar bahwa kesatria tersebut memang sudah mempercayai kemampuannya. Terlepas dari sikap over protective yang selalu ditunjukkan pria itu, Alais sama sekali tidak meragukan nonanya.


Melihat sebuah pedang yang tergeletak di dekat kakinya, Ashley kemudian membersihkan cairan merah di pedangnya yang mulai mengering. Dimasukkanlah pedang tersebut kembali ke sarungnya, sebelum wanita itu mengambil senjata yang baru saja dirampasnya dari laki-laki tak bernyawa di sana.


Dibandingkan pedang kebanyakan, milik Ashley sedikit lebih kecil. Genggamannya pun tidak bisa disamakan dengan pedang biasa. Jadi jika harus memilih, saat ia berada di posisi tidak perlu sembunyi-sembunyi, maka Ashley pasti lebih memilih pedang biasa.


"Mereka mengincar nyawa Anda, dan mereka semua bersenjata." Jawab Alais membenarkan perbuatannya, bersamaan dengan munculnya beberapa orang lain yang berniat menyerang mereka.


"Saya harus memprioritaskan keselamatan Nona." Lanjut pria itu tanpa merasa kewalahan menghadapi musuh yang mulai berdatangan.


Terus menangkis lalu menyerang, menghindar lalu menyerang, bertukar posisi lalu menyerang, kedua orang itu dapat mengatasi situasi tersebut dengan baik.


"Jadi kalo gua ngelawan Raja lo juga bakal mrioritasin gua?" Sahut Ashley melanjutkan percakapan mereka di tengah pertarungan.


1, 2, 3, 4... seakan tiada habisnya, bala bantuan musuh mereka terus berdatangan. Dari yang awalnya muncul satu persatu, lalu bertambah menjadi regu demi regu.


Sambil mencari pintu belakang, mereka bertarung dan bergerak perlahan.

__ADS_1


"Tolong jangan melawan anggota kerajaan, Nona."


"Sumpah saya berdasar pada kesatria kerajaan."


Mendengar jawaban tersebut, Ashley tiba-tiba menurunkan kedua tangannya dan berdiam diri. Layaknya orang yang tidak mempedulikan bahaya yang mengepung mereka, wanita itu merajuk.


"Ha, gua jadi agak kecewa."


Menendang orang yang mendekati Ashley hingga terdorong menghantam kerumunan yang lain, lalu menebaskan pedangnya tanpa ampun kepada orang yang hampir menusuk nonanya, Alais menjawab,


"Saya lebih baik mati daripada harus melawan Anda."


Layaknya seorang kakak, kesatria itu begitu sabar dan tanpa mengeluh menghadapi wanita pembuat onar tersebut.


Menusukkan pedangnya lurus melewati pinggang Alais, kemudian menangkis pedang yang terarah ke belakang kepala kesatria tersebut, Ashley seolah-olah sedang memeluk pria itu.


"...don't die." Ucapnya kemudian.


Melanjutkan kemistri pertarungan mereka, kedua orang itu berhasil keluar dari gedung tersebut dengan selamat.


Keadaan di dalam sana sebenarnya sangat menegangkan. Dua orang pria dan wanita melawan puluhan orang tentu tidak semudah diucapkan dengan kata-kata. Hanya saja, kedua manusia itu terlalu tidak normal untuk menganggap serius keadaan hidup dan mati.


Masih menyisihkan selusin bawahan yang baru saja mengetahui kematian bos mereka, Ashley dan Alais dikejar hingga keluar gedung. Akan tetapi bukan hanya mereka, wanita pirang itu juga sejak awal tidak berniat menyisakan sebatang hidung pun orang yang berani melawannya bernapas.


Lalu, saat jumlah selusin itu mulai berkurang, sosok laki-laki berbadan kekar yang begitu familiar bagi Ashley, muncul dari dalam gedung yang baru saja ia tinggalkan. Alais yang dibuat terkejut dengan kedatangan orang tersebut, kemudian melangkah maju, berniat menghadapinya menggantikan Ashley.


Namun tangan wanita itu terbentang menahannya. Ia merasa yang satu ini harus ia hadapi seorang diri.


"You don't like my guts, now?"


"Gui?"

__ADS_1


Sebagai teman ataupun musuh.


.................. Bersambung .................


__ADS_2